
Episode 46
"Kak..." Ucap Chia sembari mengarahkan pandangan pada suaminya dalam posisi berbaring di ranjang.
"Apa sayang?" Jawab jamal sembari tersenyum penuh kelembutan.
"Kakak gak penasaran, tentang obrolan aku sama Nesa tadi siang?" Tanya Chia sembari meletakkan tangan dipipi Jamal.
"Penasaran sih, tapi kalau ternyata pembicaraan itu tentang hal yang sangat rahasia, dan gak boleh diceritain, gak mungkin kan kakak maksa kamu buat cerita." Ucap Jamal sembari membelai lembut pipi Chia.
"Hmm...manis banget suami aku." Kata Chia menggoda Jamal sembari tertawa kecil.
Jamal tersenyum dan merasa geli sendiri
"Tapi ini justru tentang amanah yang harus aku sampaikan kak." Lanjut Chia.
"Oya? coba kakak mau denger." Kata Jamal sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Chia.
"Kakaknya jangan deket-deket, aku gak bisa konsentrasi ceritanya." Protes Chia.
"Oke kakak jauh-jauh dech." Kata Jamal sembari bergeser beberapa jarak.
"Ya jangan jauh-jauh juga kak, ih kakak nyebelin banget dech. Aku serius lho kak." Tutur Chia.
"Iya sayang kakak becanda, oke sekarang serius." Kata Jamal membenarkan posisinya dan siap mendengarkan cerita dari Chia.
"Beberapa bulan setelah kejadian itu, kejadian saat Nesa melakukan penyekapan terhadap kakak, Nesa frustasi, ia mendapatkan tekanan batin dan guncangan jiwa yang hebat." Kata Chia memulai ceritanya.
"Lantas, kok bisa?" Timpal jamal.
"Kata Nesa, saat itu ia merasa ditolak berkali-kali oleh laki-laki yang mungkin sebenarnya gak dia cinta kak, tapi lebih ke obsesi untuk memiliki, dan kata Nesa lagi, saat itu dia merasa iri sama aku, makanya dia berusaha merebut kamu, setelah sebelumnya merusak hubunganku dengan Dio." Lanjut Chia bercerita.
"Dengan Dio?" Tanya Jamal.
"Itu hanya masa yang lalu kak, dan aku gak marah tentang itu, karena dulu aku dan Dio memang belum terikat hubungan secara resmi atau halal." Jawab Chia, yang mulai mencium gelagat cemburu dari Jamal.
"Oya? tapi perasaan kamu sempet sakit dong pasti." Kata Jamal.
"Ya manusiawi, sedikit sakit sih kak, banyaknya aku bersyukur." Kata Chia lagi.
"Bersyukur? atas apa?" Tanya Jamal.
"Karena patah hati yang aku alamai saat itu, mengantarkan aku pada takdir cinta yang lain, takdir yang membimbing hatiku untuk memilih kakak sebagai imamku di dunia, dan insyaAllah sampai Jannah-Nya." Jelas Chia.
Jamal pun terkesan mendengar penuturan Chia. Ia tersenyum lega, hatinya besar lagi setelah tadi sempat menyempit karena cemburu.
__ADS_1
"Hem, kalau gak digituin panjang urusannya." Batin Chia.
"Jadi aku boleh lanjut ceritanya gak?" Tanya Chia pada Jamal, yang masih senyum-senyum sendiri.
"Iya istriku yang paling cantik, lanjutin dong ceritanya, kasian juga kan sama readers, udah pada nungguin tuh." Jawab Jamal.
"Hehe bisa aja kakak." Kata Chia.
"Dari kejadian yang sangat menyayat dan memporak-porandakan diri, hati dan perasaannya itu, Nesa mendapat hikmah yang begitu luar biasa. Mama dan papa Nesa yang awalnya jarang bahkan hampir gak punya waktu buay Nesa, melihat Nesa yang sakit saat itu, mereka meluangkan banyak watunya untuk merawat Nesa, sampai-sampai mama Nesa memutuskan untuk mundur dari keturut sertaannya mengurus bisnis dan memilih merawat Nesa sampai Nesa bener-bener sembuh." Lanjut Chia.
"Nesa sadar, selama ini ulahnya mencari perhatian dari orang-orang, termasuk Dio dan kakak, adalah karena kurangnya peran dan kehadiran kedua orangtua dalam mendidik dan menyanyangi Nesa sebelumnya. Dan setelah semua perhatian dari kedua orangtuanya itu kembali pada Nesa, Nesa sekarang berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Tutur Chia.
"Alhamdulillah, kita doakan ya dek." Timpal Jamal.
"Iya kak, makanya maksud Nesa kemarin itu sebenernya buat nyampein maaf ke aku, kakak dan juga Dio. Tapi untuk menjaga perasaan Bunga yang gak tau apa-apa tentang masa kelam itu, jadilah Nesa mewakilkan permohonan maafnya melalui aku." Terang Chia.
"Ya...ya, kakak cukup paham, dan juga setuju dengan itu." Kata Jamal.
"Setuju sama yang mana kak?" Ucap Chia.
"Ya setuju, buat gak ngasih tau Bunga tentang apa yang terjadi diantara Nesa dan Dio dimasalalu, gak ada manfaat yang baik juga dari situ.." Jawab Jamal.
"Dari semua kejadian yang tidak menyenangkan, pasti ada hikmah yang begitu besar." Ujar Jamal.
"Tidak ada manusia biasa seperti kita, yang bersih dari dosa. Yang terpenting mau bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi kesalahannya lagi." Kata Jamal.
"Allah memberi petunjuk pada siapa yang Dia kehendaki." Lanjut Jamal.
"Semoga Nesa istiqomah dalam hijrahnya, meraih kebaikkan dan ridha Allah SWT." Ucap Jamal lagi.
"Aamiin ya Mujibassailin." Timpal Chia.
Malam pun semakin larut, Chia dan Jamal akhirnya terlelap dalam tidurnya yang nyaman.
Di bilik kamar tamu rumah Chia, rupanya Dio gelisah tak dapat tidur. Ia masih merasa aneh dengan pertemuannya dengan Nesa siang tadi,
namun Dio tetap berusaha untuk berprasangka baik.
"Semoga aja, jangan sampai ada hal yang akan membuat hubungan rumah tanggaku dengan Bunga menjadi tidak baik." Batin Dio bersemoga.
Kemudian, Dio menatap dalam pada wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu. Dio mengusap lembut perut Bunga, dan menitikkan air mata menyadari, bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
Gerakan tangan Dio diperut Bunga itu, rupanya membuat Bunga terbangun, Bunga membuka matanya dan mendapati pipi Dio yang basah karena lelehan air mata.
"Sayang..." Panggil Bunga lirih.
__ADS_1
"Eh kok kamu bangun?" Kata Dio terperanjat kaget.
"Kok gak tidur?" Tanya Bunga.
"Iya, tadi aku habis dari kamar mandi." Kata Dio berbohong.
"Oh gitu, pantesan pipi kamu basah gitu." Ucap Bunga pura-pura tidak tahu bahwa yang membasahi pipi suaminya itu adalah air mata.
"Masa sih?" Kata Dio heran.
"Lain kali siapin handuk atau tisu kalau habis dari kamar mandi." Ujar Bunga seraya menyeka pipi Dio dengan beberapa lembar tisu yang ia ambil dari sampingnya.
"Hehe, iya sayang aku lupa." Kata Dio ngeles lagi.
"Ya udah, tidur yuk." Ajak Bunga.
Dio menganggukkan kepala, meraih tangan Bunga kemudian menciumnya. Setelah itu mereka tidur dengan posisi tangan Dio yang memeluk tubuh Bunga.
Melihat ke situasi di dalam rumah Nesa.
Nesa sedang menangis, namun kali ini ia tidak meratapi nasibnya, melainkan ia menyesali perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri di masalalu.
Nesa hanya bisa terus berdoa memohon pengampunan dari Rabnya, dan berharap sebuah maaf akan didapat, dari orang-orang yang telah ia libatkan dalam pelampiasan hasrat kejinya dulu.
Untuk kesekian kalinya, Nesa menangis semalam suntuk, hingga tak terasa ia terlelap dengan tangis penyesalannya.
Andai waktu dapat diputar kembali, tentu Nesa tak akan pernah memilih untuk menjadi orang yang demikian berdosa.
Namun tahukah? Allah lebih menyukai tangisan seorang pendosa yang memohon ampunan, ketimbang sholatnya seorang yang sombong.
Tentang takdir seorang manusia, siapa yang ingin apalagi memilih jalan takdir yang tak mengenakkan? tentu saja tidak ada manusia yang menginginkan hal itu.
Meski sejatinya, setiap takdir Allah itu baik, tergantung kepada bagaimana kita menyikapinya, menerima dan pandai mensyukuri nikmat Allah yang sering kita lupakan.
Bukankah setiap tarikan napas kita adalah nikmat Allah yang tiada tara?
Bukankah Allah selalu menyampaikan rasa rindunya dengan cara yang luar biasa, ketika kita mulai berpaling jauh dari-Nya?
Lalu dengan cara apa lagi sebuah syukur harus melangit, kalau bukan dengan kesadaran diri yang penuh, bahwa nikmat Allah selalu menyertai disetiap detik hidup kita, tanpa perhitungan.
Andai kita harus membayar nikmat yang Allah berikan pada kita, tentulah kita tidak akan pernah sanggup.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ayat itu disebut berulang kali dalam surah Ar-rahman yang terdapat pada kitab suci Al-Quran.
__ADS_1
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa, tapi setiap orang berhak atas kesempatan kedua dan juga berhak atas takdir yang baik.
Adzan shubuh pun berkumandang, Jamal yang biasanya bangun lebih awal sebelum waktu shubuh, kali ini terbangun saat sudah mendengar adzan, begitupun dengan Dio. Nampaknya mereka memang sedang sedikit kelelahan.