Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Chia kecewa lagi


__ADS_3

Episode 15


Selama satu Minggu masa persiapan yang diberikan oleh ayah pada Chia. Chia meminta izin untuk kembali ke kota selama beberapa hari, guna menyelesaikan segala sesuatu yang berkenaan dengan usaha nya di kedai kue.


Dan juga tujuan lain yang tak Chia sampaikan pada ayah dan ibu, yakni bertemu dengan Dio. sebelum Chia memutuskan menerima pinangan laki-laki pilihan ayahnya, Chia ingin memantapkan hatinya bahwa tidak ada yang perlu disesali nantinya bila perjodohan itu benar-benar terjadi.


Ayah dan ibupun mengizinkan Chia, dan memberi waktu tiga dari tujuh hari dalam seminggu masa persiapan, untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


Perjalanan pun ditempuh Chia dan akhirnya Chia sampai di rumah kosnya di kota.


Chia merapikan semua barang-barangnya yang mungkin akan ia perlukan, Chia juga mengurus penyerahan kepengurusan usaha kedai kue nya pada salah seoarang yang ia anggap mampu membantu Chia menangani para pelanggan yang sudah bawel bertanya kapan kedai kue dibuka. Sebab mereka sudah sangat rindu untuk menikmati kue kesukaan mereka.


Chia mempercayakan amanah itu pada istri pak Heru, dan juga anak gadisnya.


"Bu Heni, karena Chia ada urusan yang perlu Chia selesaikan di kampung halaman Chia, Chia amanahkan semua urusan kedai ke ibu dan Lala ya, mungkin sekitar satu minggu atau lebih, Chia juga belum tahu pasti sih." Tutur Chia.


"Chia tetap memantau ibu dan Lala kok, jadi kalau ada kesulitan ibu dan Lala bisa hubungi Chia lewat telepon atau pesan singkat" jelas Chia panjang.


"Oya, kalau khawatir akan kewalahan kalau mengurus hanya berdua saja, ibu boleh minta bantuan siapa saja yang ibu percaya mungkin dua atau tiga orang yang penting mereka jujur dan amanah."


Selama Chia di kampung ibu dan Lala gak perlu buka kedai, ibu hanya perlu membuatkan pesanan pelanggan yang masuk dan menghubungi mereka setelah pesanan selesai, supaya mereka bisa pick up pesanannya." Ucap Chia memberi tahu.


"Chia juga udah umumkan sama para pelanggan, kalau kita gak bisa antar. Jadi begitu siap ibu dan Lala langsung hubungi mereka ingatkan untuk segera ambil pesanan kuenya." terang Chia.


"Satu lagi bu, untuk pembayaran kuenya gak perlu khawatir, karena mereka langsung transfer ke Chia, kalau misalnya bayar tunai berarti mereka akan bayar di waktu pengambilan kuenya ya bu. Modal nya ada di laci kasir" lanjut Chia menerangkan.


"Soalnya Chia gak enak, baru tiga hari tutup aja mereka udah ramai tanya kapan kedai buka." Chia menjelaskan alasannya.


Ibu Heni dan Lala menyimak semua arahan dan penjelasan yang Chia sampaikan.


"Baik neng, ibu paham...insyaAllah semuanya beres! hihi" Jawab ibu Heni sumringah.


"Alhamdulillah, sebelumnya terimakasih banyak ya bu sudah mau bantu Chia" Ucap Chia lagi.


"Ibu yang makasih neng, neng udah kasih ibu dan Lala kepercayaan, pantes si bapak (pak Heru) selalu ceritain kemurahan hati neng Chia" balas bu Heni.


"Ah pak Heru suka berlebihan. Sebenernya bukan Chia yang pemurah tapi Allah bu, dan juga pak Heru yang selalu bantu Chia dengan tulus dan ikhlas." Chia tersenyum.


"Alhamdulillah...semoga semuanya berkah ya neng" kata bu Heni lagi.


"Aamiin bu" Chia memberikan senyuman terbaiknya.


Urusan kedai kue sudah beres, sekarang Chia ingin menyelesaikan urusan hatinya. Dengan perasaan yang sempat kacau, perlahan Chia mencoba lebih tegar dan memastikan sekali lagi apa yang sebenarnya terjadi pada Dio tempo hari adalah suatu kesadaran atau kekhilafan.


"Assalamu'alaykum, Dio aku sudah kembali dari Desa, bisa kita ketemu?" (Chia mengirim pesan singkat pada Dio).

__ADS_1


Layar ponsel Dio bergetar...


Ia pun membaca sebuah pesan masuk yang ternyata dari Chia.


"Wa'alaykumsalam, akhirnya kamu kabarin aku juga, aku selalu nungguin. Aku kira kamu udah lupa sama aku" (balas Dio).


"Aku gak punya banyak waktu untuk basa-basi lewat pesan, mungkin aku lebih lega kalau nanti cerita pas kita ketemu" (tegas Chia membalas lagi).


"hemm...dingin banget sikap kamu, oke di cafe biasa jam delapan malam nanti." (balas Dio).


"Itu hanya sebuah ketikan pesan Dio, bukan sikap! Oke fix ya,kita ketemu nanti malam." (Chia mengakhiri balasan pesan).


Membaca pesan balasan itu Dio tersenyum sendiri.


"Salah satu alasan kenapa aku mengagumi kamu adalah sikap kamu yang tetap sama tanpa basa-basi, tapi justru itu yang membuat kamu berbeda dengan gadis lainn?" Dio membatin.


"Chiara..." sebut Dio Lirih.


Malam pun menjelang...


Tepat jam delapan malam di sebuah cafe tempat Chia dan Dio biasa bertemu, Chia sudah duduk menunggu Dio.


Chia menyapukan pandangan ke seluruh cafe, tapi sepertinya batang hidung Dio belum juga nampak.


Chia tetap berbaik sangka, mungkin saja Dio terhalang kemacetan atau hal lain yang membuatnya terlamabat datang.


"Gimana mbak mau pesan apa?" tanya nya ramah.


"Ee saya masih nunggu teman mbak" kata Chia menjawab.


"Oh baik mbak, kalau begitu silakan menunggu, mungkin bisa sambil melihat-lihat buku menunya " kata sang pelayan lagi.


"Makasih banyak ya mbak" Chia menyunggingkan senyum.


"Sama-sama mbak, kalau begitu saya permisi" sang pelayan beranjak meninggalkan Chia.


Waktu terus berjalan, jam sudah menunjuk ke angka sembilan tapi yang Chia tunggu belum juga datang.


Seorang pelayan kembali menghampiri Chia. karena Chia merasa tidak enak kalau hanya duduk, akhirnya Chia memesan satu cup coklat hangat dan juga hidangan pembuka yang tersedia di cafe tersebut.


Setelah pesanan datang Chiapun menikmatinya, sembari harap-harap cemas menunggu Dio.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Dio tak juga hadir menemui Chia.


"Mohon maaf mbak kita sudah last order, apa ada yang mau dipesan lagi?" seorang pelayan bertanya pada Chia.

__ADS_1


Chia menggeleng..."Gak ada mbak, terimakasih" jawab Chia singkat dengan wajah lesu.


Karena kafe akan segera tutup, akhirnya Chia memutuskan untuk pulang.


Langkah kakinya tertatih...badannya lemas bagai tak bertulang.


Bukan sekedar karena menunggu Dio yang tak kunjung datang, tapi tatapan para pelayan di kafe yang seolah iba pada dirinya. Membuat perasaan Chia tak karuan, marah, malu dan juga khawatir menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Chia saat ini.


Chia merasa bodoh karena selalu percaya pada Dio.


Chia terus berjalan disepinya malam. Tiba-tiba hujan mengguyur tanpa memberi aba-aba.


Derasnya membuat Chia merasa leluasa menumpahkan tangisnya. Ia meluapkan kekesalan dan kesedihannya ditengah derasnya guyuran air hujan itu.


Di sebuah kamar.


Seorang laki-laki tampan tengah mabuk karena pengaruh minuman beralkohol hingga tak sadarkan diri, disana ia bersama seorang wanita yang berusaha untuk terus mencumbunya.


Tidak salah lagi, mereka adalah Dio dan Nesa.


Wanita itu membaringkan tubuh Dio diatas ranjang tidur, membuka kancing kemeja Dio satu persatu...dari atas menuju kancing paling bawah.


Wanita itu juga semakin liar, ia mulai membuka resleting celana Jeans yang dikenakan Dio.


Dio menggeliat sambil memanggil nama seseorang.


"Chiara..." katanya dalam kondisi mabuknya.


Dio melihat wajah wanita itu seolah adalah Chia, sang pujaan hatinya.


Dio tertawa menikmati geli ditubuhnya, karena ulah wanita yang dia anggap adalah Chiara. Dengan agresif wanita itu terus mencumbu Dio tanpa ampun.


Merasa bahwa Nesa adalah Chiara, maka Dio membiarkan saja apapun yang dilakukan Nesa padanya.


termasuk melakukan hubungan terlarang itu.


Puas berbuat dan melakukannya berulang kali, Nesapun pergi meninggalkan Dio dalam keadaan tanpa sehelai benang dan Nesa hanya menutupinya dengan selimut.


di rumah kos Chia.


Chia pulang ke rumah kosnya dalam keadaan basah kuyup terguyur hujan.


Ia segera membersihkan diri dan mngganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Ingin rasanya Chia terlelap dan melupakan semuanya, namun lagi-lagi ia tak bisa.

__ADS_1


Chia akhirnya tertidur berselimut patah dan kecewa yang tebal.


__ADS_2