
Episode 38
"Selamat pagi sayang." Ucap Jamal seraya memeluk Chia dari belakang, lalu mendaratkan kecupan dikening Chia.
"Pagi." Kata Chia menjawab sapaan Jamal, sembari tangannya memotong bolu pisang yang akan Chia suguhkan untuk teman ngeteh mereka.
Jamal lalu mengambil sepotong bolu pisang itu dan menggigitnya, separuh lagi ia siapkan pada istri kesayangannya itu.
"Ih kakak, duduk dong makannya." Kata Chia dalam keadaan mulut mengunyah bolu, yang disupkan oleh Jamal.
"Hehe! maaf sayang, habisnya bolu pisangnya enak banget sih." Kata Jamal tersenyum, lalu beranjak duduk membawa dua cangkir teh yang sudah Chia buatkan untuk mereka berdua.
Lalu Chia pun menyusul duduk, dengan membawa piring yang berisi beberapa potongan bolu pisang tersebut.
Saat tengah menikmati waktu santai, sembari ngeteh dan makan bolu pisang, tiba-tiba air mata Chia membias membasahi pipinya.
Jamal langsung menyeka air mata istrinya itu, dengan usapan lembut dari kedua tangannya.
Chia tersenyum dalam tangisnya itu.
"Kenapa sayang? kangen ayah ya?" Tanya Jamal dengan lembut.
"Kok kakak tau." Jawab Chia sembari menatap suaminya itu.
"Tau dong, bolu pisang ini kan kesukaan ayah. Waktu ayah sakit dulu, beliau selalu aja minta dibawain bolu pisang, padahal kata dokter suruh dikurangi dulu makan yang manis, khawatir gulanya tinggi." Tutur Jamal mengenang.
"Oya? terus ayah gimana pas diingetin sama dokter kayak gitu?" Tanya Chia penasaran.
"Kata ayah, bolu pisang ini tidak akan menyakiti ayah, karena bolu pisang ini selalu menemani indahnya kebersamaan bersama istri dan anak gadis yang paling ayah sayangi." Lanjut Jamal lagi.
"Haha ayah...ayah, ada-ada aja." Kata Chia yang mendengar cerita dari Jamal.
"Iya, ayah keren. dokter aja cuma bisa geleng kepala dengernya." Kata Jamal yang juga tertawa mengenang kelakuan ayah mertuanya dulu.
"Makasih ya kak, sudah rawat ayah waktu Chia gak ada dulu." Chia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Jamal.
"Sama-sama sayang, cuma itu yang bisa kakak lakukan, itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan jasa ayah, yang telah menjaga dan merawat kamu, sampai akhirnya jadi tuan putri yang paling cantik dan baik hati kayak gini." Kata Jamal sambil mencubit manja hidung Chia.
"Tuh kan kakak, ujung-ujungnya pasti gombal." Kata Chia sambil tertawa.
__ADS_1
"Gak apa-apa dong, dari pada ujung-ujungnya duit." canda Jamal lagi.
Mereka berdua bercengkerama, ditemani secangkir teh hangat yang mulai surut dan sepiring bolu pisang yang tinggal beberapa potong saja.
Perlakuan Jamal pada Chia, selalu berhasil membuat Chia melupakan kesedihan apapun yang sedang dialaminya. Lalu bagaimana tidak, Cinta Chia semakin tumbuh dan berkembang didalam sanubarinya.
Melihat keadaan di pondok pesantren pakde, dimana ternyata Dio berada disana.
"Bro, kamu di panggil tuh sama pak Kyai." Kata Hendra menyampaikan pesan guru mereka tersebut.
"Waduh, gue salah apa ya bro? perasaan gue gak ada ngelakuin kesalahan dech." Kata Dio sembari menggaruk pada kepala yang tidak gatal.
"Hayo, paling kamu mau dijodohkan." Ledek Hendra sembari tertawa.
"Ah loe bro, ada-ada aja." Jawab Dio ketus, yang membuat Hendra semakin tertawa.
Dio pun segera bergegas, untuk menghadap sang guru.
Dengan santun dan penuh adab, Dio duduk dan menundukkan kepalanya.
"Mohon maaf pak Kyai, tadi memanggil saya." Kata Dio dengan sangat hati-hati.
"Betul anakku, ada yang ingin bapak sampaikan kepadamu." Kata pakde dengan penuh kasih sayang terhadap muridnya itu.
Dio hanya diam, dan menyadari dengan sangat, bahwa apa yang disampaikan gurunya itu adalah benar.
"Tapi ini bukan tentang itu." Lanjut pakde lagi.
Jamal tersentak, karena semula ia mengira bahwa sang guru, menegurnya karena hal yang ia anggap sebagai kesalahan itu.
"Ada seorang gadis ayu dan insyaAllah Shalihah, dia mencari seorang laki-laki yang siap menikahinya." Tutur pakde yang adalah seorang Kyai pengasuh pondok pesantren itu.
"Mohon maaf pak Kyai, kiranya apa yang bisa saya lakukan." Jawab Dio dengan sopan.
"Begini nak, bapak bermaksud, menjodohkan kamu dengan dia. Namanya Bunga, dia adalah seorang santriwati juga." Terang pakde.
Dio merasa bingung, karena selama ini, pondok santri dan santriwati memang terpisah, jadi Dio tentu tidak pernah melihat wajah atau mendengar nama itu.
"Mohon maaf pak Kyai, sebenarnya saya malu mengatakan ini." Kata Dio semakin tertunduk.
__ADS_1
"Katakan saja anakku." Kata pakde.
"Sebenarnya saya pernah terjebak dalam sebuah hubungan, dan melakukan zina." Ucap Dio yang diiringi urai air mata.
"Apa nak Dio masih melakukannya sampai sekarang?" tanya pakde lembut.
Jamal menggelengkan kepala seraya menjawab "Tidak pak Kyai."
"Kalau Allah saja maha menerima taubat, lalu bagaimana mungkin seorang manusia akan merasa tinggi dengan memandang rendah pelaku dosa yang sudah bertaubat." Tutur sang guru.
"Bapak mengerti apa yang kamu pikirkan, tapi kamu juga tidak boleh terus terpuruk nak, teruslah bertaubat dan tetap berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosamu. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan dosa, Allah maha menerima taubat, dan seseorang dianggap telah gugur dosa-dosanya, apabila ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan tidak mengulanginya lagi." Pakde bertutur, bermaksud menyemangati muridnya itu, agar tidak putus asa dari Rahmat Allah SWT.
"Terima kasih pak Kyai, mohon ridhonya, agar saya istiqomah dalam melakukan amal-amal yang baik.
pakde menganggukkan kepalanya.
"Jadi bagaimana nak, apa kamu menerima perjodohan ini?" Tanya pakde.
"Apa yang menurut pak Kyai baik, insyaAllah saya menurut saja pak Kyai." Dio akhirnya mempercayakan takdirnya pada Allah dengan bimbingan guru yang sangat ia cintai itu.
Singkat cerita, pertemuan dengan keluarga Bunga pun dilakukan, keluarga Bunga tampakanya sangat senang pada Dio.
"Maa sya Allah, tampan sekali calon menantu saya ini." Ucap ibunya Bunga, yang membuat Dio tersipu malu.
Ayah dari bungapun tak keberatan bila anak gadisnya dinikahkan dengan Dio, yang merupakan pilihan dari pak Kyai, begitu mereka memanggil pakdenya Jamal.
Dari balik tirai, ada Bunga yang tersenyum, melihat bahwa orang yang akan menjadi suaminya itu adalah Dio, orang yang sekali waktu sempat Bunga lihat dan ia langsung jatuh hati.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Ucap Bunga lirih.
Pertemuan itupun berlangsung dengan penuh kehangatan, hari pernikahan pun telah mereka rencanakan.
"Sepertinya semakin cepat akan semakin baik pak Kyai, saya sudah tidak sabar untuk punya mantu." Kata Ayah Bunga. yang disambut renyah tawa dari orang-orang yang hadir.
"Ya ya, saya setuju pak." Kata pakde.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan calon mempelainya?" tanya pakde pada muridnya itu.
"Saya menurut saja pak Kyai." Jawab Dio.
__ADS_1
"Alhamdulillah" Ucap semua orang yang ada.
"Bismillah, ya Allah, jika ini adalah pilihan terbaik dalam jalan takdirku, aku ikhlas menerimanya ya Rab." Gumam Dio dalam hatinya.