Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Sembuhnya Nesa


__ADS_3

Eposode 41


Enam bulan berlalu, keadaan Nesa kini sudah jauh lebih baik. Dengan segenap perhatian dan kasih sayang yang tercurah dari kedua orangtua nya, yang kini fokus dalam merawat dirinya.


Saat itu Nesa telah menyelesaikan makan malamnya, disuapi sang mama.


"Ma, makasih ya." Ucap Nesa, setelah waktu yang lama, akhirnya mama Nesa mendengar lagi ucapan manis dari anaknya itu.


Diketahui Nesa tak pernah lagi mau bicara dengan cara yang baik, sejak kedua orangtuanya selalu sibuk dengan bisnis mereka dan tak pernah meluangkan waktu untuknya.


Kini berkat perjuangan yang gigih, usaha dan doa yang tak pernah putus dari kedua orangtua Nesa, akhirnya Nesa kembali menjadi anak yang manis, diawali dengan kaliamat sederhana "Terimakasih ma".


"Segar jiwaku, setiap kali kau basuh dengan cinta, harapan, dan pengampunan. Memudar sudah perih siksa yang nyaris saja mengikis keyakinan, kini ku harap tangisku ini bukan lagi duka, melainkan rasa lega. Labirin hati yang sempat berserakan terkoyak derita, kini menjelma seolah aku tuan putri yang paling bahagia." Gumam Nesa dalam hatinya.


"Ma, mana kerudung Nesa. Nesa mau pakai lagi." Ucap Nesa pada mamanya.


"Tunggu sebentar ya sayang, biar mama ambilkan." Mama Nesa kemudian bergegas mengambil kerudung instan milik Nesa, agar mudah untuk Nesa kenakan.


Meski sampai saat ini, mama Nesa sendiri belum mengenakan hijab untuk menutup rambutnya, Namun ia merasa senang melihat Nesa yang mau mengenakan hijab.


"Ini sayang, biar mama pakein ya." Kata mama seraya memakaikan kerudung di kepala anak semata wayangnya itu, air mata mama Nesa tak kuasa bertahan untuk tidak jatuh, akhirnya tangisnya tumpah juga membasahi pipinya.


"Mama." Ucap Nesa lembut.


"Iya sayang." Jawab mama sembari terisak.


"Jangan nangis." Kata Nesa seraya memeluk mamanya itu.


Bukan berhenti, tangis mama justru semakin pecah. Mama Nesa membalas pelukan anaknya itu dengan erat.


Papa Nesa yang diam-diam mengintip mereka dari pintu luar kamar Nesa, juga turut menangis karena tak kuasa membendung rasa harunya.


"Terimakasih ya Allah, putriku telah kembali." Ucap papa Nesa.


Malam itupun menjadi awal kesembuhan Nesa dari sakit batin yang ia derita.


Kini setiap hari Nesa minta diantar ibunya, untuk mengikuti beberapa kajian ilmu yang diadakan di masjid-masjid atau majelis ilmu lainnya.


Mama Nesa pun kini mulai belajar mengenakan hijab, dengan dukungan putri tercinta yang sudah lebih dulu memakainya, tentu saja mama Nesa semakin semangat lagi untuk terus belajar.


Tak nampak seperti ibu dan anak, mereka kini lebih mirip seperti kakak beradik.

__ADS_1


Mama Nesa kini memutuskan untuk benar-benar mundur dari keterlibatannya mengurus bisnis, ia kini semakin memfokuskan diri lagi untuk menemani putrinya berproses, menjadi pribadi yang lebih baik dan bahagia.


Mama Nesa juga turut serta belajar mengaji bersama Nesa dan tim hijrah mereka.


Kini Nesa masuk dalam lingkaran pertemanan yang jauh lebih baik dan memiliki nilai-nilai positif.


Hingar binar dunia malam yang penuh kerumitan kini mulai Nesa tinggalkan.


"Wahai Allah Tuhanku, bedakan saja aku, bila memang sama tak membuat cinta-Mu datang kepadaku. Penuhi saja hatiku ini dengan cinta dari-Mu dan cinta kepada-Mu, agar aku berhenti mengejar cinta yang lain. Dekatkan aku dengan apa-apa yang membuat-Mu ridho kepadaku. Sungguh aku lemah tanpa pertolongan dari-Mu." Nesa memanjatkan sebuah doa, di pertengahan malam sebelum tidurnya.


"Makasih ya ma, atas kegigihan mama merawat putri kita, sekarang papa senang melihat perubahan yang baik pada Nesa dan juga mama." Ucap papa Nesa seraya menggenggam tangan istrinya yang kini mulai mengenakan hijab itu.


"Sama-sama pa, atas kerjasama papa juga. Akhirnya mama benar-benar merasakan hidup yang berisi dan penuh makna sekarang." Balas mama.


Mama dan papa Nesa pun tertidur dengan pikiran yang teramat tenang tak seperti hari-hari biasanya.


Setiap kita bisa jadi siapa saja dimata manusia. Mungkin mulia atau hina, mungkin tinggi atau rendah, mungkin kaya atau miskin, mungkin dicintai atau bahkan dibenci, mungkin dirangkul atau dipukul, mungkin diingat atau dilupakan. Tapi satu hal yang pasti, tak satu makhlukpun di dunia ini yang berhak menghakimi jalan takdir orang lain, yang sudah ditentukan oleh Allah SWT.


Waktu berputar dan segera mendekati masuknya waktu shubuh.


Nesa terbangun dan menyiapkan dirinya untuk Sholat.


Setelah selesai sholat ia bergegas ke dapur.


"Bi Minah, pagi ini biar Nesa yang bikin sarapan ya." Pinta Nesa yang dengan cekatan menyiapkan bahan-bahan masakan yang ia perlukan untuk membuat sarapan.


"Tapi non, nanti bi Minah kena marah mama." Kata sang asisten rumah tangga yang biasa dipanggil bi Minah tersebut.


"Nggak bi, bi Minah tenang aja kalau mama marahin bibi nanti Nesa belain." Jawab Nesa menenangkan bi Minah


"Ya sudah non kalau non maksa, bi Minah bisa berbuat apa?" Kata bi Minah menyerah pada Nesa.


Nesa tersenyum pada bi Minah yang sedang cemas.


"Ya Allah, mudah-mudahan non Nesa tetap sehat dan jadi orang yang lebih baik lagi." Bi Minah bersemoga dalam hatinya.


Kurang lebih satu jam lamanya, waktu yang Nesa habiskan selama bergelut di dapur untuk memasak menu sarapan.


Bi Minah yang melihat perubahan baik pada Nesa itupun merasa senang.


"Nah bi, sekarang bibi orang pertama yang harus cobain masakan aku." Kata Nesa memberikan satu piring nasi goreng seafood dengan telur mata sapi diatasnya.

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapi." Kata Nesa memotong bi Minah yang akan mulai mengatakan kata tapi.


"Ya ampun non, bi Minah jadi nda enak sama non Nesa." Kata bi Minah seraya menerima piring makanan yang Nesa berikan padanya.


"Em Non, Maa sya Allah! Ini enak banget non." Kata bi Minah saat mencoba suapan pertamanya.


"Serius bi?" Ucap Nesa memastikan.


"Bener non, bibi nda bohong. Non Nesa belajar masak dimana? sama siapa non? kok bisa enak gini." Lanjut bi Minah sembari terus melahap nasi gorengnya.


"Ada dech bi, seseorang yang baaaaik banget." Ucap Nesa seraya mengenang seseorang.


"Chia, aku kangen masak bareng kamu." Batin Nesa.


"Lho non, kok malah melamun? ayo bi Minah bantu bawain masakannya ke meja." Kata bi Minah membuyarkan lamunan Nesa.


"Eh, iya bi." Kata Nesa.


Mereka pun menyiapkan menu sarapan yang Nesa masak itu, dan memanggil kedua orangtua Nesa untuk segera sarapan.


"Wah bi Minah, tumben nih tampilan makanannya cantik banget." Kata mama Nesa.


"Oh iya dong bu, siapa dulu yang menyiapkan semuanya." Kata bi Minah.


"Memangnya siapa bi? bukannya biasanya bi Minah kan? Tanya Mama Nesa.


"Haduh piye tho bu, ini yang masak dan menyiapkan sarapan pagi ini, adalah non Nesa bu." Terang bi Minah antusias.


Pernyataan bi Minah sontak membuat mama dan papa Nesa saling menatap, seolah tak percaya, bahwa putrinya yang sangat manja itu bisa memasak.


"Ah yang bener bi? bener sayang, kamu yang masak?" Ucap mama Nesa.


Nesa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya ma, pa. Cobain dong masakan aku." Kata Nesa.


"Emm...ini nasi goreng terenak yang pernah papa makan." Kata papa Nesa saat merasakan suapan pertama dimulutnya.


"Wah maa syaa Allah, bener pa, enak banget. Mama gak percaya anak kita bisa masak pa." Timpal mama Nesa.


Pagi itu menjadi suasana sarapan terhangat bagi Nesa dan kedua orangtuanya, setelah sekian lama mereka berada didinginnya sikap satu sama lain.

__ADS_1


"Ya Allah, senengnya lihat keluarga majikanku bahagia lagi." Tutur bi Minah yang menyaksikan kebahagiaan dipagi hari itu.


Meski Nesa masih berhutang maaf dan pengampunan dari Chia dan Jamal atas perlakuannya yang telah lalu. Namun Nesa tetap optimis, suatu hari saat waktunya sudah tepat. Nesa akan datang dengan sebenar-benar maaf pada mereka.


__ADS_2