Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Pertemuan kembali Nesa dengan Chia, Dio dan Jamal disatu tempat yang sama.


__ADS_3

Episode 44


"Assalamu'alaykum kak Chia, maaf ya kak baru ngabarin. Jadi gini kak, besok suamiku (Dio) akan mengisi sebuah acara kajian, beliau jadi salah satu pemateri, kalau bisa kak Chia sama kak Jamal dateng ya, sekalian aku mau ketemu kakak, kangen juga udah lama gak ketemu kakak. "


Sebuah pesan singkat dari Bunga, yang diterima Chia pada jam 09.00. Malam.


Dengan tersenyum senang, Chia membalas pesan singkat dari Bunga, dan mengiyakan undangannya.


Tak lupa Chia juga meminta agar Bunga membagikan lokasi tempat kajian berlangsung nanti.


"Kakak!" Chia berteriak memanggil Jamal yang sedang minum teh, dan menunjukkan isi pesan singkat dari Bunga tersebut pada Jamal.


"Kakak udah tau." Jawab Jamal singkat, seraya menaruh cangkir tehnya.


Chia menekuk wajahnya kecewa.


"Jadi kakak berkirim pesan juga sama Bunga?" Dengan nada lemas, Chia menanyakan hal itu pada Jamal.


Jamal tertawa dengan gelak tawanya yang khas.


"Kok ketawa sih? gak lucu!" Ucap Chia ketus.


"Lagian kamu aneh." Jawab Jamal singkat.


"Yang aneh tuh kakak, kakak aja cemburu dan ngelarang aku buat berhubungan sama laki-laki lain, tapi kakak sendiri malah bales-balesan pesan sama Bunga. Wanita yang jelas-jelas pernah suka bahkan terang-terangan minta kakak nikahin. Ini gak adil buat aku." Gerutu Chia panjang kali lebar.


"Terus biar adil kamu mau berhubungan lagi gitu, sama mantan kamu?" Jawab Jamal.


"Ya nggak juga sih, emangnya aku cewek apaan." Jawab Chia dengan bibir yang maju lima centi.


"Sayang, kenapa sih gak mau nyimak dulu, harusnya kamu nanya dulu. Kakak bisa tau itu dari siapa? Kata Jamal membelai kepala Chia.


"Dari Bunga kan pasti?" Jawab Chia ketus.


"Inget, menduga-duga itu sifatnya setan." Kata Jamal menggoda Chia.


"Ya udah kasih tau dari siapa?" Kata Chia penasaran.


"Tadi siang Dio ngabarin kakak." Terang Jamal.


"Oooh." Ucap Chia lega.


"Oh doang?" Kata Jamal meledek.


"Iyalah kak, terus aku harus apa? masa harus jungkir balik sambil bilang wow gitu?" Kata Chia yang membuat Jamal tertawa.


"Cie ada yang cemburu nih?" Ledek Jamal.


Wajah Chia langsung merah padam dan jadi salah tingkah.


"Gak usah malu gitu kali sayang, kakak seneng kok dicemburuin, itu tandanya kamu beneran gak mau kehilangan kakak." Ucap Jamal menghibur Chia.

__ADS_1


Chia tersenyum malu-malu.


"Jadi kita kesana kan kak?" Tanya Chia memastikan.


"Iya dong sayang, tapi awas ya kalau kamu kepincut lagi sama mantan kamu." Ucap Jamal memberi ultimatum.


"Ih kakak, apaan sih?" Jawab Chia sembari memukul-mukul pelan dada Jamal.


Jamal tergelitik tawa dan menyudahi cengkeramanya dengan sebuah kecupan dikening Chia.


Keesokan harinya...


Chia dan Jamal hadir ke sebuah Masjid bernama Al-Muthmainnah, yang menjadi lokasi kajian.


Disana sudah nampak Bunga yang berada dibarisan para perempuan, menunggu untuk menyaksikan dan menyimak materi yang akan dibawakan oleh suaminya sendiri yakni Dio.


"Assalamu'alaykum sayang." Kata Chia mengucap salam pada Bunga, yang sebelumnya tak menyadari kehadiran Chia.


"Wa'alaykumsalam Warahmatullah, kak Chia." Jawab bunga yang langsung menghambur memeluk Chia.


Tapi ada yang berbeda pada tubuh Bunga, perutnya terlihat lebih berisi dan menyembul ke depan.


Chia menyentuh dan mengelus perut Bunga,


"Ini calon ponakan aku?" Kata Chia bertanya.


"Iya kak, ini calon ponakan kakak yang akan lahir beberapa bulan lagi." Jawab bunga sembari merekahkan senyumnya pada Chia.


Mata Chia menyapukan pandangan ke sekelilingnya mencari keberadaan Jamal, dan pandangan Chia berhenti saat matanya tertuju ke arah pemateri yang akan membawakan dakwahnya.


Tentu saja Jamal sudah ada disana, duduk berebelahan dengan Dio.


Chia menarik nafas lega.


"Kenapa kak? takut kak Jamal hilang ya?" Ledek Bunga yang memperhatikan Chia.


"Hehe, nngak bukan gitu juga." Kata Chia tersipu.


"Masa sih kak? kalau aku takut banget lho suamiku hilang." Tutur Bunga polos.


Chia pun tertawa geli mendengar hal itu keluar dari mulut Bunga.


"Akupun begitu, Bunga." Batin Chia, namun Chia gengsi untuk mengakuinya.


Dari kejauhan, di barisan yang nyaris paling belakang. Terlihat Nesa yang juga menghadiri kajian itu, tentu saja bukan karena Nesa mengetahui pematerinya adalah Dio, namun Nesa memang tengah rajin mengikuti kajian bersama tim hijrahnya, dimulai sejak ia pulih dari sakit batin yang mengguncang jiwanya.


"Ustadznya ganteng banget ya?" Kata seseorang yang duduk disamping Nesa, dan ditimpali oleh yang lainnya.


"Ya ampun loe, niat ikut kajian apa mau lihat ustadznya?" Kata teman mereka yang lain, dan merekapun tertawa.


Nesa hanya menyembunyikan senyumnya, mendengar celotehan para jamaah yang hadir disana.

__ADS_1


"Kak Fitri, emang siapa sih ustadznya? pada berisik banget." Tutur Nesa bertanya pada salah seorang tim hijrahnya.


Rupanya Nesa benar-benar belum mengetahui bahwa pematerinya adalah seorang lelaki yang bisa dibilang sangat ia kenal.


"Ih kamu masa gak baca sih, itu kan ada namanya, ustadz Diorana Halim." Kata teman Nesa yang bernama Fitri tersebut.


"Diorana Halim! Sepertinya aku mengenal nama itu, bahkan sangat mengenalnya." Batin Nesa.


"Kenapa Nes, kok kamu malah bengong?" Ujar Fitri.


"Eh nggak kok kak, cuma kayak familiar aja namanya." Jawab Nesa tersentak.


"Nah kalau yang itu istrinya, cantik banget ya! Beliau lagi mengandung anak pertamanya tau." Terang Fitri.


Mata Nesapun tertuju ke arah yang ditunjuk oleh Fitri. Tampak ada Bunga disana, ia tak henti-hentinya tersenyum, melihat ke arah suaminya dan sesekali mengajak bicara Chia yang ada didekatnya.


"Wanita disebelahnya itu? bukankah itu Chiara? apa aku gak salah lihat ya?" Batin Nesa bertanya-tanya.


Nesapun berpindah tempat dan mendekat ke arah dimana Bunga dan Chia berada, untuk memastikan apakah yang ia lihat itu benar Chia, atau bukan?.


Setelah sampai pada jarak yang lebih dekat, Nesa benar-benar bisa melihat dan memastikan, bahwa iti adalah Chia.


Nesa pun menujukan pandangannya ke arah pemateri, dan deg! Detak jantung Nesa seolah berhenti, bagaimana tidak? Nesa mendapati dua orang laki-laki yang pernah ia goda, yakni Dio dan Jamal.


"Gak mungkin, aku pasti cuma mimpi." Gumam Nesa sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.


Beberapa saat kemudian, acara kajianpun dimulai.


Semua orang hening dan tidak bising, demi dapat menyimak apa yang disampaikan oleh sang ustadz dengan baik.


Salah satu isi ceramah Dio adalah ;


Untuk tidak mengungkit kesalahan atau menyebut-nyebut dosa seseorang yang telah melakukan taubat dengan sungguh-sungguh.


Apa yang Dio sampaikan, sepertinya sangat mengena ke hati Nesa. Meski gejolak cintanya pada Dio masih tersisa, namun dengan bijak Nesa memilih untuk berhenti mengejar Dio, apalagi Nesa baru saja tahu menurut iformasi yang akurat, bahwa Dio kini telah menikah.


Nesa membesarkan kesadarannya untuk menerima kenyataan, bahwa mengejar sesuatu yang bukan takdirnya adalah hal yang sia-sia dan hanya akan membuat diri dan hatinya menjadi lelah.


Walau hati Nesa lebam membiru dan dadanya terasa ngilu, ia tetap memilih pasrah dan menyerahkan semua jalan takdirnya pada sang maha segalanya.


"Ya Allah, aku sudah pernah berlari begitu kencang, untuk mengejar dan berharap bisa meraih cinta yang aku impikan, namun ia semakin menjauh bahkan menghilang. Kini aku pasrahkan segalanya kepada-Mu ya Rab, segala ketentuan yang telah tergambar digaris tanganku. Kuatkan aku ya Allah, tabahkan hatiku." Air mata Nesa meleleh membasahi pipinya, kala ia melangitkan keluh dan harapnya didalam hati.


Satu jam sepuluh menit berlalu, acara kajianpun telah usai.


Para jamaah yang mengikuti kajian pun mulai bubar dari barisan, dan bergegas untuk pulang atau melanjutkan kegiatan yang lain.


Kini giliran Dio, Bunga, Chia dan Jamal yang masih terlihat akrab mengobrol, sembari berjalan menuju ke luar.


Nesa yang memperhatikan dari arah lain, mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menemui mereka. Orang-orang yang dengan sengaja pernah Nesa lukai hati dan perasaannya.


"Assalamu'alaykum." Ucap Nesa memberi salam pada keempat orang itu.

__ADS_1


Mereka pun menjawab salam Nesa dengan sedikit terkejut ketika melihat bahwa itu adalah Nesa. Kecuali Bunga, karena Bunga memang belum tahu ceritanya.


__ADS_2