Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Perubahan sikap


__ADS_3

Episode 24


Terkadang, manusia bisa dengan mudah menuruti ego ketimbang meredamnya, mungkin itu juga yang dialami Nesa sebelum akhirnya Nesa menyadari bahwa apa yang ia lakukan tidaklah tepat dan memutuskan untuk meminta maaf sebagai sebuah pengakuan.


Siapa yang menyangka?


Dada yang bergemuruh penuh nafsu dan pikiran yang menggebu-gebu, selalu ingin meraih apapun yang ia inginkan tanpa berpikir konsekuensi apa yang akan didapat, kini luluh dengan sebuah kata maaf.


Tentu saja, bekas luka tak semudah itu sembuh dan terhapus, namun hati yang gigih memahami dan berpegang pada keyakinan bahwa setiap hal yang terjadi merupakan suratan takdir-Nya maka serumit apapun masalah, akan lebih mudah untuk dilalui.


Pelajaran itulah yang berusaha selalu Chia ingat, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, jika daun yang jatuh saja sudah ditentukan waktunya, bagaimana mungkin makhluk seberharga manusia diciptakan tanpa sebuah ketentuan dari-Nya.


Musuh bisa menjadi teman jika kita mampu bersabar dan membalas kejahatan itu dengan kebaikan, itulah yang Chia lakukan pada Nesa.


Setelah mengantar Chia pulang, Nesa kembali menemui Dio yang masih dalam keadaan yang sama, seperti tak ada gaidah hidup.


Tok tok tok!


Pintu kamar diketuk, Nesa langsung masuk saja karena tahu Dio tidak akan mungkin membukakan pintu untuknya.


"Hai Dio, gimana keadaan kamu?" Nesa berbasa-basi.


"Aku bawain bubur buat kamu, makan ya biar aku suapin." Tanpa menunggu persetujuan Dio, Nesa langsung saja menyiapkan bubur yang ia bawa untuk diberikan pada Dio.


"Kerasukan apa lagi wanita ini, tumben sikapnya gak ugal-ugalan." Batin Dio.


"Aa...buka mulutnya" Nesa menyendok bubur dan menyuapkannya pada Dio.


Dio yang sudah lelah menghadapi Nesa dengan emosi pun, kali ini hanya diam dan menurut saja, suapan demi suapan pun Dio lahap tanpa protes.


Setelah makanannya habis, Nesa memeriksa dosis obat yang diberikan dokter pada Dio, dan menyiapkan beberapa butir untuk diminumkan pada Dio. tentu saja sesuai dosis yang dianjurkan.


"Aku minta maaf untuk semua sikap buruk aku selama ini." kata Nesa sambil membenahi selimut ke badan Dio.


"Aku sadar semua itu kesalahan yang fatal" Nesa berkaca-kaca.


Dio hanya mendengarkan saja semua yang dibicarakan Nesa, kali ini Dio benar-benar merasa lelah untuk marah dan memilih diam tanpa sepatah kata.


"Dio! sekarang aku tahu kenapa kamu sangat mencintai Chia dan gak mudah ngelupain dia, memang gak akan semudah itu melupakan orang sebaik dia. Kamu benar Dio, kalau dibandingin sama aku Chia jauh lebih baik dalam segala hal."

__ADS_1


Dio yang semula malas bicara, mendengar nama Chia membuatnya terpancing untuk membuka suara.


"Aneh banget ya? rasanya baru kemarin kamu berkata buruk tentang dia, sekarang kamu malah muji dia. kayak sanjungan palsu gak sih" celetuk Dio sembari menyeringai heran.


"Aku tahu Dio, semua yang aku lakuin ke Chia dan tentang apapun itu perbuatan yang gak seharusnya aku lakuin mungkin akan sulit dipercaya kalau sekarang aku berbalik mengagumi sosok Chia." Jawab Nesa dengan emosi yang tertahan dan air mata yang mulai meleleh dipipinya.


"Jadi gak salah dong kalau aku gak percaya." Ujar Dio tanpa beban.


"Oh iya dong, semua yang kamu lakukan itu wajar kecuali aku, semua perbuatan kamu juga wajar kecuali perbuatan aku" Nesa tak kuat menahan sesak, ia mengatakan semua itu sambil menangis.


Perasaan yang tak pernah terbalaskan oleh Dio dan sikap baik Chia seolah membanting Nesa dengan keras dari ketinggian.


Lagi-lagi Nesa merasa kalah, entah harus maju atau menyerah, Nesa kini dalam dilema.


"Sadar Nesa, gak ada cinta buat kamu" Nesa menggumam sembari melenguh seakan menahan sakit yang teramat sangat.


Dio yang melihat keanehan sikap Nesa yang tak seperti biasanya, ingin percaya namun ragu. tapi melihat seoarang wanita yang menangis tak bisa dipungkiri bahwa Dio merasa iba pada Nesa.


Hanya saja Dio tak ingin terlalu cepat menyimpulkan, apalagi Dio tahu persis bagaimana watak Nesa sebelum ini.


Dio merubah posisinya dari berbaring kini ia duduk, mengambil beberapa lembar tisu yang berada dekat meja disamping tempat tidurnya dan menyodorkannya pada Nesa.


Dengan tangan bergetar Nesa mengambil tisu itu dan menyeka air matanya.


Dio yang mendengar ucapan Nesa merasa bingung, apa yang harus ia lakukan.


"Mungkin sudah saatnya aku pergi dari hidup kamu, dan berhenti mengejar cinta kamu Dio." Nesa tersenyum getir.


"Aku harap setelah aku pergi, kamu bisa lebih bahagia, hidup tanpa gangguan dari aku, pasti kamu lebih tenang. jangan khawatir soal mama papa juga paman dan bibi, aku akan kasih pengertian dan aku pastikan gak akan mempengaruhi hubungan bisnisnya." terang Chia menebak kekhawatiran Dio.


Dio yang malang, bahkan untuk mengekspresikan bagaimana perasaannya saja ia tak bisa, ia tak mengerti mengapa dirinya begitu.


Dari sekian banyak hal yang disampaikan oleh Nesa, Dio hanya menanggapi dengan beberapa patah kata saja.


Mungkin menurut Dio itu biasa saja karena dirinya sendiripun tak tahu harus bagaimana dan melakukan apa, tapi bagi Nesa itu adalah sebuah kesakitan yang lain yang ia rasakan.


"Em Nes, aku gak tahu harus gimana dan bilang apa, ma...maaf kalau aku nyakitin perasaan kamu" Ucap Dio terbata.


Nesa menggelengkan kepalanya dan tersenyum, mencoba untuk baik-baik saja walau nyatanya hati Nesa koyak bak tersayat pisau yang tajam.

__ADS_1


Ada perasaan ingin dicegah atau setidaknya katakan sesuatu yang membuatnya lega, tapi ternyata lelaki yang dihadapannya itu bahkan tak mampu menjelaskan apa yang dirinya sendiri rasakan.


"Secepat itu ya?" ucap Dio nyaris tak terdengar.


"Apanya?" Kata Nesa bingung.


"Iya, secepat itu Allah membolak balikkan hati!" Dio masih tak percaya.


"Oya, aku boleh tahu kenapa tiba-tiba kamu berubah dari beracun jadi semanis madu gini?" Dio akhirnya penasaran dan menciptakan sebuah canda.


"Ya, awalnya aku ingin membuat hancur hidup Chia, tapi kemudian aku sadar tepatnya Tuhan membuka mata hatiku untuk menyadari, bahwa bukan salah Chia untuk dicintai kamu, bukan salah kamu juga kenapa kamu sangat mencintai dia." Nesa berkisah.


"Disini akulah yang salah karena memaksakan perasaan seseorang, bersyukur Chia masih Sudi maafin aku bahkan dia bersedia mendengar dan menerima semua penjelasan ku, setelah semua yang aku lakuin sama dia." Lanjut Nesa.


"Maksud nya?" Dio menatap heran.


"Sebelum kesini tadi aku nemuin Chia dan ngobrol, awalnya aku kira dia bakalan marah dan benci sama aku. tapi ternyata aku salah, dia justru memaafkan aku dengan tulus dan menerimaku sebagai teman tanpa dendam. pantas saja seoarang Diorana tergila-gila." Nesa menceritakan semuanya.


"Ya, memang begitulah Chia, dia itu pabriknya kasih sayang, tapi sayang kesempatan untuk bersama sudah pupus." Dio tertawa kecil mencoba menyembunyikan kesakitan dihatinya.


"Beruntung banget ya jadi Chia, gak perlu lelah ngejar cinta kamu." sindir Nesa pada Dio.


Dio terdiam sesaat.


"Nes! aku minta maaf kalau ternyata aku nggak seperti apa yang kamu harapkan, mungkin belum untuk saat ini." Kata Dio.


Pernyataan itu seperi membawa angin segar untuk Nesa.


"Kalau belum berarti bukan tidak mungkin akan segera." batin Nesa.


"Aku boleh istirahat gak ya? tadi habis minum obat kayaknya aku ngantuk" kata Dio lagi.


Nesa mengangguk dan kembali membenarkan selimut Dio.


"Kalau butuh apa-apa bilang aja." Nesa tersenyum.


"Makasih ya." jawab Dio.


Untuk pertama kalinya, akhirnya mereka bisa juga mengobrol dengan normal tanpa drama pertengkaran seperti sebelumnya.

__ADS_1


Nesa menarik napas lega dan meninggalkan Dio yang mulai tertidur karena efek samping obat yang ia minum.


Nesa merasa lebih lega setelah menumpahkan semua uneg-unegnya.


__ADS_2