Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Kecelakaan


__ADS_3

Episode 48


Jalanan yang semula sepi dan hanya dilewati beberapa kendaraan saja, mendadak menjadi ramai dan mengakibatkan kemacetan. Bunyi sirine dari mobil petugas kepolisianpun tedengar sangat jelas.


Dengan peralatan yang ada, para petugas dari kepolisian itu mengevakuasi dua korban kecelakaan tunggal itu.


"Sepertinya nyawa korban laki-lakinya sudah tidak bisa diselamatkan." Ucap salah seorang pengendara yang turut berhenti untuk melihat korban kecelakaan itu, Hingga kemacetanpun semakin padat dan tidak terelakkan lagi.


Kedua korban kecelakaan lalu lintas itu langsung dibawa ke sebuah rumah sakit terdekat, segera setelah kedua korban berhasil dievakuasi.


Dan benar saja, nyawa laki-laki korban kecelakaan itu memang sudah tidak bisa diselamatkan, diduga benturan yang sangat keras dibagian kepala korban, menjadi penyebab paling mungkin yang mengakibatkan meninggalnya korban ditempat kejadian.


Sementara korban kecelakaan yang adalah seorang wanita masih bernapas, namun mengalami luka yang cukup parah dibagian tubuh sebelah kiri dan juga wajahnya.


Pihak rumah sakit kemudian mencoba menghubungi pihak keluarga dari para korban kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu korbannya itu. Namun tidak menemukan petunjuk apapun kecuali hanya kartu identitas saja, diketahui ponsel dari kedua korban itu ikut remuk bersama mobil mereka.


"Maaf dok, bagaimana keadaan korban?" Tanya Jamal yang bangkit dari kursi tunggu didepan UGD.


"Apa anda keluarganya?" Tanya sang dokter.


"Kami yang ada disana saat kecelakaan itu terjadi dok, kebetulan mobil itu melaju dengan cepat dari arah belakang dan melesat kedepan menghalangi jalan kami." Sahut Chia yang juga ada disamping jamal.


Syukurlah saat itu Jamal dengan cepat mengerem mobilnya, sehingga mereka bisa selamat, dan tentu saja atas perlindungan dari-Nya.


"Baiklah, kalau begitu jika kalian bersedia, kami anggap bahwa bapak dan ibu adalah kerabat dari korban." lanjut sang dokter.


Jamal dan Chia saling menatap, kemudian mereka mengganggukkan kepalanya.


"Baik pak, bu kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun suami dari korban nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sementara istrinya mengalami luka yang cukup parah." dokter itu memaparkan keadaan kedua korban kecelakaan tersebut.


"Innalillahi wa innailahi roji'un." Ucap Chia dan Jamal.


Tiba-tiba air mata Chia jatuh tanpa ia sadari, Chia membayangkan bagaimana hancurnya perasaan istri yang ditinggalkan suaminya dalam kecelakaan tragis itu andai istrinya masih terus bertahan hidup.


Jamal yang melihat Chia menangis, segera menyeka air mata istrinya itu dan merangkulnya.


"Kita doakan yang terbaik ya sayang." Ucap Jamal lembut.


Untuk beberapa jam lamanya, Chia dan Jamal mau tak mau harus menjaga si korban wanita tersebut di rumah sakit, sembari terus berdoa dan berharap akan ada anggota keluarga yang akan menjemput korban.


Walau Chia dan Jamal harus melawan rasa lelahnya demi menegakkan rasa kemanusiaan meski untuk orang yang tidak mereka kenal.


Dengan harap-harap cemas Chia dan Jamal tetap sabar menunggu kabar baik.


"Permisi, kalian yang nungguin adik saya?" Kata seorang laki-laki bertubuh kekar yang menghampiri Chia dan Jamal.


Jamal dan Chiapun bingung bercampur lega, karena akhirnya ada juga anggota keluarga yang mendatangi korban.


"Maaf sebelumnya, kalau saya membuat kalian bingung kenalkan saya Irwan, saya kakak dari korban kecelakaan." Kata laki-laki yang mengaku bernama Irwan tersebut.


"Terimakaih karena kalian sudah bersedia menjaga adik saya." Lanjut pria itu lagi.


Setelah saling berkenalan, Irwan dan Jamal saling bertukar nomor handphone, dan karena si korban kini telah ada keluarga yang menjaganya, maka Jamal dan Chia langsung bergegas untuk pulang.

__ADS_1


Dengan kaki gontai Chia berjalan menuju ke mobilnya, masih terdengar jelas oleh Chia, bunyi ringsekan mobil dari kecelakaan itu dan juga suara sirine yang terus mengiang ditelinganya.


Setelah masuk dan duduk didalam mobil, Jamal menoleh ke arah Chia dan mendapati isrtinya itu sangat pucat dan lesu.


"Sudah sayang, semua ini merupakan suratan takdir Allah. Gelar kita hanyalah sebagai hamba yang tidak memiliki daya dan upaya, kita doakan saja yang terbaik buat mereka." Tutur lembut Jamal.


"Aku gak bisa bayangin kalau aku ada diposisi mereka kak." Kata Chia dengan air mata yang terus terurai membasahi pipinya.


"Stttt! kamu gak boleh bilang gitu sayang. Semuanya gak akan terjadi tanpa seizin-Nya." Ucap Jamal sembari menutup bibir Chia dengan jari telunjuknya.


"Katakanlah Qadarulluh Wamaa Syaa-a Fa’ala


Artinya: Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat." Ucap Jamal memberi sedikit pelukan pada Chia.


Chia menumpahkan tangisnya dalam dekapan Jamal. Setelah Chia mulai tenang Jamal melepas pelukannya dan segera melajukan mobilnya kembali.


Satu jam kemudian merekapun sampai di rumahnya. Mereka duduk beberapa saat untuk melepas lelah, kemudian mereka mandi untuk membersihkan diri dan tidur.


Atas kecelakaan maut yang terjadi dihadapannya, Chia tak lantas bisa tidur dengan nyenyak malam itu. Seperti ada ketakutan yang terus menghantui dirinya.


Namun Jamal yang sangat kelelahan, tertidur denga lelap sembari memeluk tubuh Chia, dengan posisi Chia yang membelakanginya.


Chia membalikkan tubuhnya ke arah Jamal, perlahan disentuhnya dahi dan pipi jamal dengan lembut kemudian Chia menatap dalam wajah suaminya yang sedang terlelap itu.


"Jangan tinggalin aku ya kak!" Ucap Chia lirih dengan sedu sedan seolah menahan sesak yang teramat sangat didalam dadanya.


Tangisan Chia itupun membuat tidur Jamal terusik.


"Sayang, kok belum tidur?" Ucap Jamal seraya membuka matanya perlahan-lahan.


Chia hanya menggelengkan kepalanya tanpa bicara.


"Terus kenapa? kok nangis sih sayangnya kakak." Tutur Jamal sangat lembut.


Tangis Chia justru semakin pecah saat mendengar pertanyaan-pertanyaan kecil, yang menunjukkan sebuah perhatian dari Jamal.


"Sini." Kata Jamal yang akhirnya duduk dan langsung memeluk istrinya itu.


"Cerita sama kakak, ada apa sih?" Kata Jamal membelai lembut rambut Chia.


"Chia takut kakak tinggalin." Ucap Chia sembari terisak.


"Rupanya istriku ini sangat mencintaiku." Batin Jamal, ada rasa haru namun Jamal juga tak kuasa menahan senyuman senangnya.


"Maa sya Allah, masa kakak ninggalin kamu, ya nggak dong sayang!" Ucap Jamal menenangkan istrinya.


"Kamu ketakutan karena kejadian tadi ya?" Tanya Jamal.


Chia mengangguk dan memohon pada Jamal untuk berjanji, bahwa Jamal takkan pernah meninggalkan dirinya.


Tentu saja Jamal menyetujui janji yang dipinta istrinya itu, setelah itu barulah Chia merasa lega dan akhinya bisa tidur juga.


"Ya Rab, tentu saja kami tak dapat menghindar dari sesuatu yang sudah menjadi ketetapan-Mu, tapi jika boleh aku meminta, tetapkanlah kami diatas takdir yang indah beriring rahmat dan keridhaan atas-Mu." Jamal bermunajat dalam hatinya, dan tidur kembali.

__ADS_1


Malam telah usai dan kini sampai dipenghujungnya, udara pagi menyambut mereka dengan kesegaran alam yang nyata.


Kring kring kring!


Dering telepone Chia berbunyi, Chia meraih ponselnya dan menjawab telepon itu.


"Halo assalmu'alaykum." Ucap Chia mengangkat teleponnya.


"Chia, hari ini aku boleh ke rumah kamu gak?" Kata seorang wanita ditelepon itu.


"Maaf ini siapa ya?" Tanya Chia.


"Oh iya, ini aku Nesa, maaf aku ganti nomor sekarang." Jawab wanita yang ternyata adalah Nesa.


"Em...tapi aku gak mau ganggu kamu kok, kalaupun kamu gak izinin aku gak apa-apa." Lanjut Nesa sebelum Chia sempat Menjawab.


Chia memberikan kode pada Jamal sebagai pertanyaan.


"Siapa?" Bisik Jamal pelan.


"Nesa." Jawab Chia yang hampir tak terdengar, namun Jamal mengerti dari gerakan bibir istrinya itu.


"Em Nes, bentar ya nanti aku telepon balik." Kata Chia.


Dan merekapun mengakhiri obrolan teleponnya.


"Gimana kak? Nesa mau kesini kalau boleh." Ujar Chia.


"Kalau kamu ngerasa was-was dan risih sama kedatangan Nesa, lebih baik jangan." Kata Jamal memberi saran.


"Lagian masa ceritanya tentang Nesa terus, kasian kan nanti yang baca jadi bosen." Lanjut Jamal.


"Oh iya hehe, oke dech kak. Nanti aku kabarin Nesa, biar lain kali aja kesininya, aku mau me time dulu." Balas Chia.


"Ya udah, kamu hati-hati di rumah ya sayang, kakak berangkat kerja dulu." Jamal mendaratkan kecupan dikening istrinya dan pergi untuk bekerja.


Chia mengantarkan Jamal sampai ke depan rumah.


"Kakaaaaak!" Teriak Chia pada Jamal, yang sudah hendak melajukan mobilnya.


"Apalagi sayang?" Tanya Jamal dari balik kaca jendela mobil yang terbuka.


"Pulangnya jangan malem-malem ya." Pinta Chia.


"Oke sayang, kalau gitu kakak pulang pagi aja." Canda Jamal.


"Ah kakak!" Chia mengerutkan dahinya.


"Haha! iya sayang, pokoknya begitu selesai kakak langsung pulang ya." Kata Jamal dengan wajah puas.


Chiapun tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Hati-hati kak." Teriak Chia lagi.

__ADS_1


Jamal melajukan mobilnya penuh kemenangan.


"Rupanya dia sudah mulai meleleh berkat jurus pemikat andalanku." Batin Jamal.


__ADS_2