
Episode 16
Sebuah pesan masuk tertera di layar ponsel Chia. Chia membukanya, sebuah pesan dari nomer yang tidak dikenal.
Antara ingin menangis namun juga keyakinan baru datang dari diri Chia setelah membuka pesan tersebut.
Hari ketiga di kota, artinya Chia harus bersiap untuk kembali ke desa sesuai waktu yang ditentukan ayah.
Ingin sedih namun Chia merasa untuk apa bersedih dengan sesuatu yang tidak perlu ia sedihkan, justru sebaliknya seharusnya Chia bersyukur dengan semua ini.
flasback :
Malam itu Dio telah rapi bersiap untuk menemui Chia seperti yang telah ia janjikan di kafe tempat mereka biasa bertemu, saat ia hendak masuk ke dalam mobil, Nesa datang menghampiri dan menyodorkan secangkir kopi.
Nesa berjanji tidak akan mengganggu acara Dio malam ini bila Dio mau meminum kopi buatan Nesa tersebut.
Dengan segala pertimbangan Dio meminumnya, meski awalnya ada sedikit kecurigaan, mengingat apa yang ditawarkan Nesa cukup membuat Dio lega dengan tidak akan mengganggu acara Dio malam itu. Okelah apa salahnya pikir Dio.
kopi pun mulai diteguk Dio, tak disangka setelah beberapa tegukan, Dio merasa kepala nya pusing tak tertahankan, akhirnya ia pun terjatuh karena hilang kesadaran.
Rupanya Nesa telah mencampur kopi itu dengan sesautu yang membuat Dio hilang kesadaran.
Dengan keadaan Dio yang seperti itu, tentu saja ini adalah hal yang menguntungkan bagi Nesa karena Dio tidak mungkin bisa pergi dengan kondisi mabuk berat seperti itu.
Nesa memapah Dio ke kamarnya, dan terjadilah seperti yang sudah terjadi.
Saat Dio tertidur pulas, Nesa sudah mengatur rencana lain, selain membuat Dio gagal menemui Chia, Nesa pun mengambil ponsel Dio dan mencari nomer Chia melalui percakapan pesan Dio.
Setelah mendapat apa yang diperlukan dan puas melakukan aksi liarnya terhadap Dio, Nesa pergi meninggalkan Dio yang tanpa pakaian dan hanya menyelimutinya.
Keesokan harinya, Nesa mengirimkan pesan pada Chia yang berisi beberapa potret dirinya dan Dio sedang bercumbu mesra.
Kembali pada keadaan di rumah kos Chiara.
Terlihat semuanya sudah siap, Chia kemudian mandi dan segera bergegas untuk bertolak menuju kampung halamannya.
Dikamarnya, Dio tersadar dan merasakan seluruh badannya pegal-pegal. dan alangkah terkejutnya ia saat menyadari tubuhnya tanpa pakaian.
Iya mendesis kesal dan memegangi kepala dengan kedua tangannya. ia meningat-ingat lagi kejadian semalam saat Ingin pergi dan Nesa datang memberi secangkir kopi.
Dio merasa bodoh karena masih saja mempercayai perkataan perempuan licik itu.
__ADS_1
Sekarang rasa bersalah Dio pada Chia sudah memuncak, bahkan Dio sudah tidak menaruh harap lagi bahwa Chia akan memaafkan kesalahannya yang terbilang fatal.
Chia dalam perjalanan ke kampung halaman, terdengar dering ponselnya berbunyi...mengetahui panggilan masuk itu dari Dio , awalnya Chia tidak ingin mengangkatnya, karena rasanya tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Tapi setelah dipikir ulang Chiapun akhirnya menerima nya.
"Halo, Assalamu'alaykum" (Chia dengan suara pelan).
"Wa'alaykumsalam...emm Chia" (Dio dengan nada gugup).
"Iya...kenapa? (jawab Chia singkat).
"Kamu semalam datang ke kafe?" (tanya Dio).
"Menurut kamu? gini ya Dio...aku bukan kamu yang suka ingkar janji, jadi ya pasti aku datang.
Aku nungguin kamu sampai kafenya tutup, dan kamu tahu apa yang paling menyedihkan? bukan ketidak hadiran kamu disana, tapi semua mata yang menatap iba sama aku." (Omel Chia tanpa memberi celah Dio untuk bicara).
"Oya satu lagi, kamu gak perlu hubungin aku lagi atau menjelaskan apapun lagi, aku sudah cukup bodoh untuk percaya sama bualan kamu" (sambung Chia).
"Chia kasih aku kesempatan untuk ketemu kamu satu kali lagi" ucap Dio memohon.
"Gak perlu Dio...buat apa lagi? kalau cuma untuk minta maaf kamu gak perlu berlelah-lelah nemuin aku. Aku sudah maafin kamu Dio, dan aku sudah ikhlas kalaupun kamu harus pergi dari hidupku." (tegas Chia).
"Wassalamu'alaykum."
Belum juga Dio sempat menjawab salam, Chia sudah mengakhiri panggilannya.
Dio merasa kesal pada dirinya sendiri, dan menyadari bahwa apa yang disampaikan Chia itu semua wajar dan pantas ia terima.
Dio membanting ponselnya ke tempat tidur.
Berselang beberapa menit ada sebuah pesan masuk.
Ternyata dari Chia, ia merasa lega...tapi begitu ia buka, rasa lega nya berganti menjadi perasaan yang lebih kacau dari sebelumnya.
Chia meneruskan lagi semua pesan dari nomer yang tak dikenal itu pada Dio, yang ternyata itu adalah pesan dari Nesa.
Tentu saja Dio kaget bukan kepalang membayangkan Chia yang mengetahui aktifitas dirinya dan Nesa yang tanpa busana, semua itu sangat memalukan.
Sekarang Dio benar-benar sudah kehilangan harapan untuk meyakinkan Chia lagi.
__ADS_1
Setelah sekian jam, Chiapun sampai di rumah nya di desa, Ayah dan ibu menyambutnya dengan gembira.
Setelah duduk beristirahat dan makan, kali ini bukan ayah yang membahas tentang perjodohannya dengan laki-laki pilihan ayah.
Chia mengatakan pada ayah bahwa apapun dan siapapun laki-laki yang ayah pilihkan untuk dirinya, Chia telah siap menerimanya dengan hati terbuka.
Mendengar pernyataan Chia, kini giliran ayah dan ibu yang bingung dibuatnya...ada rasa tak percaya.
"Nak kamu gak main-main kan dengan perkataan kamu?" tanya ibu memastikan.
"Menurut ibu, apa Chia terlihat main-main?" Chia balik bertanya.
"Alhamdulillah...akhirnya ayah lega juga" sambung ayah penuh syukur.
"Oke, kalau gitu kapan calon suami Chia akan datang melamar yah?" kata Chia yang sontak membuat ayah dan ibu terkejut dan tertawa.
"Rupanya sudah gak sabar anak ayah ini" canda ayah.
"Dua hari lagi mereka datang kesini nak." jawab ayah.
"Oh oke." kata Chia singkat.
"Kalau gitu Chia istirahat dulu di kamar ya yah, bu." Chia pamit ke kamarnya.
"Iya nak, pokoknya anak ibu gak boleh kecapekan" kata ibu sambil tersenyum.
Chiapun bergegas ke kamarnya.
"Haduh yah kok rasanya ibu kayak mimpi ya." ucap ibu yang masih tak percaya.
"Sudah lah, sebenarnya ayah juga masih gak nyangka, yang paling pentingkan berarti ayah tidak perlu maksa lagi..." kata ayah sambil tertawa senang.
Di kamar Chia.
Iya duduk termenung...
"Ya Rab, kalau memang ini sebuah jalan menuju sesuatu yang Engkau ridhoi, berikan hati yang ikhlas dan dada yang lapang untukku menerima ketentuan-Mu dalam perjalanan takdirku." Chia berkata dalam hatinya.
Chia merasa lega karena walaupun ia memutuskan untuk meninggalkan Dio dengan pilihan ayahnya, Chia tidak perlu merasa bersalah pada Dio dengan semua yang sudah dilakukan Dio padanya.
Terkadang...sesuatu yang buruk memang harus dilepaskan, agar kebaikan mendapatkan jalannya untuk datang.
__ADS_1
Cinta tak seharusnya membuat kita bodoh dengan terus mempertahankan ego, tapi seharusnya cinta tahu, bahwa sesuatu yang terus dipaksakan akan melahirkan kesakitan-kesakitan yang mungkin akan terus menciptakan luka yang tidak perlu.