
Episode 11
Hari ini, tepat dua minggu setelah Dio membuat janji untuk menemui Chia.
Chia dan Dio memilih sebuah kafe untuk melakukan pertemuan.
Pukul 20.00. malam di Kafe.
Chia memesan secangkir coklat panas kesukaannya, sementara Dio memesan orange juice sebagai teman ngobrol mereka dan memesan beberapa menu makanan juga.
"Kamu kelihatan cantik dengan kerudung itu" puji Dio.
"Ahh biasa aja." Jawab Chia singkat dengan ekspresi datar.
"Sebenarnya...."
Chia dan Dio bicara berbarengan.
"Eh kok barengan?!" kata Dio.
"Ya udah kamu dulu" Chia mempersilakan.
"Gak apa-apa kamu dulu aja, ladies firs" lanjut Dio.
Chia menarik napas dalam.
"Dio, kamu tahu kan dari dulu aku orangnya gak suka banyak basa-basi, sebenarnya aku mau tanya sesuatu. boleh?" Tanya Chia.
"Tentu saja tuan putri" goda Dio.
"Jangankan hanya untuk bertanya, untuk mengambil jantungku sekalipun aku persilakan." Dio mengeluarkan jurus gombalnya.
"Jangan sampai mengundang pukulan..."Kata Chia dengan gaya konyolnya mengepalkan kedua tangan.
"Ampun...ampun!" Dio mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.
"Ternyata kamu gak pernah berubah ya" kata Dio.
Namun sebelum Chia menjawab celotehan Dio. Dio sudah lebih dulu menirukan jawaban Chia;
"Memangnya aku seperhero bisa berubah segala" Dio menirukan gaya Chia.
Keduanyapun tertawa, terkenang masa-masa saat kelulusan sekolah dulu.
"Jangan kaku gitu dong Chia, jadi mau tanya apa?" Kata Dio mencairkan suasana.
"Kamu ingetkan waktu ditelpon. Aku cerita tentang seorang wanita yang tiba-tiba nyiram aku?" Kata Chia mencoba mengingatkan Dio
"Iya, dia kenapa?" Tanya Dio mengerutkan dahi.
"Dia siapa? Parasnya cantik, body aduhay, rambutnya panjang, seksi. Tapi sayang gak bisa bedain mana orang mana tanaman." Chia bicara diiringi gerakan tangannya.
Dio tertawa mendengar penuturan Chia yang menurutnya lucu.
"Ada yang lucu?" tanya Chia menatap dingin.
"Eh enggak, cuma aku bingung aja. Kamu nanya tentang wanita itu tapi kamu udah tahu lho, kalau dia gak bisa bedain orang sama tanaman."
Dio menahan tawa
"Iya dong Dio, dia datang-datang nyiram aku pakai air sebotol! memangnya dia kira aku ini orang atau tanaman main siram siram aja?! Chia cemberut.
Dio semakin tertawa.
"Mungkin dia itu lihat kamu mulai layu kali, mangkanya disiram!" ledek Dio ssmbil menahan tawanya, yang membuat Chia semakin kesal.
"Ih aku serius lho Dio, kamu belum pernah lihat kepalan tangan mendarat di pipi ya?" Chia mengepalkan tangan lagi seoalh bersiap untuk memukul.
"Oh nggak! ampun. Iya iya aku jawab, jangan galak-galak tuan putri." Ujar Dio.
"Ehem...oke" Chia menurunkan kepalan tangannya.
"Jadi namanya Nesa, dia satu kerjaan sama aku. Aku gak paham sih, kenapa dia bersikap gitu sama kamu, dan aku minta maaf atas peristiwa yang menimpamu beberapa waktu lalu." Kata Dio.
__ADS_1
"Terlebih alasan di lakuinnya itu karena aku, aku juga gak nyangka kalau Nesa akan senekad itu." Lanjut Dio.
"Apa dia gak tahu ya, kalau tuan putri ini dengar-dengar jago bela diri." Sindir Dio pada Chia yang jago bela diri.
Dio sempat mendengar cerita dari ayah dan ibu Chia di Desa tentang Chia yang sempat ikut berlatih bela diri.
"Padahal aku berani bersumpah, aku gak pernah ada hubungan apapun sama dia, selain sebagai partner satu kerjaan." Terang Dio.
Chia mendengarkan!
"Sampai detik ini, belum ada seorangpun yang bisa gantiin posisi kamu disini Chia" Dio meletakan tangan di dadanya.
Chia tertunduk,
"Oke...kalau gitu alasan yang paling mungkin kenapa wanita itu menyerangku. Bisa jadi karena diam-diam dia suka sama kamu," Chia menebak.
"Wah soal itu aku gak paham dech. sesadarku, aku bersikap sewajarnya aja gak pernah berlebihan." Jelas Dio.
"Ya itu kan sesadar kamu, kalau ternyata banyak gak sadarnya gimana?" kata Chia sambil menaikkan alisnya tanda tak percaya.
"Gak bisa gitu dong. Tapi serius Chia aku gak ada hubungan apa-apa selain sekedar partner kerja." Kata Dio meyakinkan Chia.
"Hey mas bro...santai dong hehe, biasa aja kali ekspresinya." Chia meledek.
"Baik tuan putri Chiara..." Ucap Dio.
"Jadi masih mau berbelit-belit sama masalah itu nih?" tanya Dio memastikan.
"Ah aku gak berbelit-belit kok, dari tadi kan aku to the point. Mungkin kamu yang mengarang bebas haha." Chia tertawa.
Dio hanya menggelengkan kepala.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, kedua mata mereka saling bertemu tatap.
Dio menggerakkan tangannya bermaksud ingin meraih tangan Chia.
Tapi dengan cepat Chia menarik tangannya.
"Ehh apa nih? Jangan sampai ada pukulan nyasar ya." Kata Chia sambil guyonan walau sebenarnya Chia serius.
"Udah selesai kan makan nya? tanya Dio.
Udah kok!" chia menganguk.
"Mau langsung aku antar pulang atau masih mau jalan?" Dio lanjut bertanya.
Chia melihat jam! Saat itu jam 10.15 menit malam.
"Ah langsung pulang aja, besok aku harus datang awal ke kedai kuesoalnya" jawab Chia.
"Oke..."balas Dio.
Dalam perjalanan pulang;
Di mobil Dio, keduanya hanya terdiam, mungkin ada perasaan canggung atau gugup pada diri mereka.
Dio membuka pembicaraan,
"Kamu hebat ya, jujur aku masih gak nyangka lho, seorang Chiara yang anak mama ini, sekarang bisa tinggal jauh dari orangtua." Ucap Dio.
"Aku anak ibu, bukan anak mama." Kata Chia singkat.
"Ya, itu maksud aku." Sambil tetap fokus mengemudi, Diorana terus mencoba mengajak Chia mengobrol. Hingga tak terasa akhirnya mereka pun sampai di depan rumah kos Chia.
Dio turun mendahului Chia untuk membukakan pintu mobilnya.
"Aduh Dio kamu baik banget, aku bisa sendiri lho padahal." Chia merasa tak enak.
"Apa sih yang nggak buat orang spesial kayak kamu." Balas Dio menyunggingkan senyuman termanisnya.
"Sekarang kamu jago ngengombal ya, hati-hati lho nanti tanpa sadar banyak wanita yang terbawa perasaan sama kamu." Ultimatum Chia.
"Ya bukan apa-apa, aku cuma gak mau aja di kira tanaman lagi terus aku di siram dech pakai air satu ember." Kata Chia dengan gaya andalannya.
__ADS_1
"Oya Dio, makasih ya buat semuanya malam ini." Chia tersenyum.
"Walaupun aku juga gak tahu arah hubungan kita akan kemana, tapi aku tetap senang bisa menjalin silaturahim dengan kamu." tutur Chia.
Dio membatin "Apa perlakuanku masih kurang menunjukkan kalau sebenarnya aku mencintai Chiara? apa aku nyatakan sekarang ya?" katanya lagi dalam bimbangnya.
"Woy...kok malah bengong? Chia mengagetkan.
denger gak aku bilang apa?" Chia mengangkat alisnya.
Dio gugup.
"I...iyaa aku denger kok." Katanya sambil gemetar.
"Oke...Ya sudah aku masuk dulu ya!"
Chia berjalan beberapa langkah.
"Eh Chia," Dio memanggil dan membuat langkah menahan Chiara tertahan.
"Maaf ya aku hanya coba menebak, mungkin kamu merasa bahwa hubungan kita ini gak jelas." Ucap Dio.
"Em sebenarnya aku ingin memberi kepastian tapi, bukankah tidak ada kepastian dalam sebuah hubungan selain pernikahan?" tutur Dio.
"Dio..." Bibir Chia mendadak kelu.
Dio menatap Chia salah tingkah.
"Oke oke..."tarik napas pelan-pelan, Chia membimbing Dio.
Dio pun melakukannya,
"Udah?" kata Chia lagi.
"Iya udah" Dio mengatur napas.
"Mau ngomong apa sih? langsung aja, aku gak akan gigit kamu kok" Kata Chia mencairkan suasana.
"Maksud aku, aku memang ingin meresmikan hubungan kita. Tapi nanti di depan penghulu dan kedua orangtua kamu." Dio mengungkapkan.
"Soal waktunya, aku nunggu kamu siap aja." sambung Dio lagi.
Kali ini jantung Chiara yang berdebar kencang, berdetak tak beraturan.
"Ohh oke." kata Chia singkat.
"Gitu doang?" Dio ingin meyakinkan jawaban Chia.
"Jadi mau atau nggak?" Tanya Dio memastikan.
Chia malah berlari ke arah pintu rumah kosnya.
Dio merasa heran, dan berteriak memanggil,
"Chiaaa..."
"Jadi gimana?" teriak Dio.
Tiba-tiba Chia menoleh ke arah Dio sembari tersenyum, matanya berbinar.
dan menjawab,
"Sampai bertemu di depan penghulu dan ayah ibu." Ucapnya sambil sumringah.
Dio melompat kegirangan,
"Yes...alhmdulillah akhirnya." Dio mengekspresikan kebahagiaannya.
Chia tertawa melihat Dio yang terlihat sangat senang.
Dio pun kembali ke mobilnya untuk bergegas pulang.
Dua insan yang sedang dimabuk asmara, akhirnya mengakhiri pertemuan malam itu dengan sebuah perasaan yang luar biasa.
__ADS_1
Mereka sama-sama merasa bagaia.