
Episode 26
Ketika cinta telah bertutur mengucap satu nama. Membisikan doa-doa dalam setiap ruku dan sujud.
Menetapkan pilihan adalah hak setiap hati, namun menentukan takdir adalah kuasa Ilahi.
Sekuat apapun diri berusaha memaksa. Jika garis tangan telah ditetapkan, maka tetaplah sudah. Kaya mu takkan bisa membeli, kuatmu takkan mampu menopang. Sebab yang kau hadapi bukanlah lawan, melainkan takdir Tuhan.
Memaksakan perasaan tidaklah adil bagi diri sendiri dan orang lain. Hal itu juga yang Dio pikirkan saat ini.
Melihat usaha Nesa yang terlalu memaksakan diri. Membuat Dio iba, namun Dio tidak ingin berpura-pura dalam mencintai seseorang. Dio khawatir hal itu justru akan semakin menyakitkan bagi Nesa.
Bilapun harus bersama dengan Nesa, dalam bahtera cinta yang agung yakni pernikahan. Biarlah semua itu terjadi karena dilandasi rasa cinta, bukan karena sebuah keterpaksaan atau kepentingan bisnis semata.
Sebab perasaan bukanlah sebuah permainan yang bisa dimulai sesuka hati dan diakhiri kapan saja. Percayalah memiliki raga seseorang tanpa memiliki hatinya, lebih menyakitkan dari pada sebuah penolakan.
Setelah keadaan Dio membaik. Ia mengajak Nesa untuk berbicara dari hati ke hati, karena selama ini diantara mereka tidak pernah terjalin hubungan yang benar-benar sehat. Selalu saja ada drama pertengkaran yang melelahkan hati dan perasaan.
Tapi untuk kali ini, Dio ingin mereka bicara layaknya orang yang normal. Nesa merasa bahagia mendengar hal itu keluar dari mulut Dio, saat Dio mengabarinya lewat obrolan telepon.
Malam itu, Dio mengajak Nesa bertemu disebuah kafe, nuansa nya cukup nyaman untuk mengobrol. Dio datang lebih awal sebelum Nesa. Pokoknya Dio ingin membuat kesan yang baik setidaknya untuk saat ini.
Sepuluh menit kemudian. Nesa datang dengan penampilan menawan, mengenakan mini dress dengan ukuran dibawah lutut, berwarna biru muda dan berlengan panjang. Tampak lebih sopan walau tak sepenuhnya tertutup, ini penampilan yang lumayan baik Dimata Dio. Karena biasanya Nesa mengenakan pakaian yang sangat minim.
"Hai, udah lama nunggu?" Ucap Nesa menyapa Dio yang sudah duduk sedari tadi.
"Hey, belum lama kok! Baru belasan menit yang lalu." Jawab Dio.
"Kamu udah pesan minum atau makan?" Nesa membolak-balik buku menu.
"Belum, aku nunggu kamu datang." Kata Dio tersenyum.
"Oh gitu. Tadinya pesen aja duluan gak apa-apa." Kata Nesa masih memilih menu yang akan dipesan.
"Aku pesen kopi aja dech kayaknya, sama dessert nya tiramisu slice aja." Kata Nesa menyebutkan menu yang dipesan pada seorang pelayan.
__ADS_1
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Nesa pada Dio.
"Kali ini samain aja dech sama kamu." Jawab Dio.
"Oh oke. kalau gitu pesen kopinya dua, dan tiramisu slice nya dua ya mas." Ujar Nesa pada sang pelayan.
"Baik kak. saya ulang ya pesanannya, dua kopi dan dua tiramisu." Kata pelayan itu memastikan.
"Ya betul." Nesa tersenyum dan mengembalikan buku menu pada sang pelayan.
"Baik kak, mohon ditunggu pesanannya ya." Pelayan kafe itu meninggalkan meja Nesa dan Dio.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang.
Sembari menikmati kopinya, Dio dan Nesa mengorol ringan. Malam ini mereka benar-benar terlihat seperti manusia dengan perilaku normal.
Sampai disatu kesempatan, saat Dio merasa bahwa waktunya sudah tepat. Ia pun mencoba masuk pada obrolan yang lebih serius.
"Nes, kayaknya sekarang waktu yang tepat buat aku bilang ini sama kamu." Dio menyatukan kedua tangannya menopang dagu.
"Gini Nes! aku tahu dan kamupun pasti tahu kalau hubungan kita selama ini adalah sesuatu yang dipaksakan. bukannya aku gak mau menerima kamu untuk hidup berdampingan sama aku." Suasana yang semula hangat seketika menjadi hening.
"Tapi aku lebih gak mau lagi kalau hidup dalam kepura-puraan karena memaksakan perasaan. Aku gak mau kamu terluka lebih dalam nantinya." Lanjut Dio.
Nesa tertunduk. Perasaan Nesa bagai ditampar dengan keras oleh kata-kata Dio, semula Nesa sangat senang sebab Dio kali ini bersikap baik padanya. Tapi kemudian Nesa seperti dibuat terbang keawan lalu dijatuhkan tanpa perasaan.
Saat itu Nesa merasa hancur berkeping-keping. Ditolak dengan kata-kata kasar oleh Dio, rasanya lebih baik dibandingkan saat ini. Saat dimana Dio bertutur dengan lembut untuk menyampaikan hal yang tak Nesa harapkan.
Petir disiang bolong tentu lebih mengagetkan bukan! ketimbang petir yang terjadi saat hujan badai. kurang lebih situasi itulah yang sedang berlangsung pada Nesa.
Melihat Nesa yang terdiam tak bicara, Dio mencoba mengerti. Namun dengan berat hati, sekarang atau nanti mau tidak mau, Dio harus mengatakan yang sejujurnya.
"Nes! Kamu gak apa-apa?" Dio menyiratkan keraguan diwajahnya.
"Eh iya, aku baik-baik aja kok. I'm okay Dio." Jawab Nesa memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Ada lagi yang mau disampaikan?" tanya Nesa menyembunyikan getir dalam hatinya.
"Itu aja, semoga kamu bisa terima ya. Kalaupun aku harus sama kamu suatu saat nanti, aku mau semua itu bukan karena terpaksa ataupun karena kepentingan lain." Jelas Dio lagi.
"Bukan maksudku untuk melukai perasaan mu Nes, tapi aku ingin segera mengakhiri penderitaan kamu, yang juga jadi penderitaan buat aku sendiri!" Kata Dio melanjutkan.
"Kamu berhak bahagia Nes, kamu berhak dicintai. Semoga kamu bisa menemukan apa yang kamu cari." Dio menunduk.
"Tapi yang aku cari adalah kamu Dio. Mau aku pergi ke ujung dunia sekalipun, semuanya percuma! hanya ada kosong dan hampa kecuali ada kamu disana" Bathin Nesa meratap.
Seperti pepatah, sakit namun tak berdarah. begitulah hati Nesa saat ini.
Nesa menjaga gengsi untuk tidak menangis dihadapan Dio. Sekuat tenaga ia menyembunyikan dan menahan air matanya agar tidak jatuh.
Dan itu terasa ngilu didada Nesa. Ingin rasanya menjerit untuk melampiaskan kecewanya, Namun apa mau dikata. Jika dipikir dengan logika, apa yang dikatakan Dio ada benarnya juga.
Semakin Nesa memaksakan cintanya pada Dio, maka semakin dalam dan perih juga luka yang ia rasakan.
"Ah..." Terdengar lenguhan dari mulut Chia yang tidak sengaja keluar karena menahan tangis.
Dio menyadari hal ini pasti akan sangat melukai hati Nesa, tapi Dio tak punya pilihan lain. Apalagi mengingat Kesucian Nesa yang sudah ia berikan pada Dio, meski Nesa menyerahkannya dengan suka rela, namun saat itu Dio dalam keadaan mabuk dan tidak sadar.
Nesa tak punya pilihan selain menerima keputusan Dio. Berat dan sangat menyakitkan memang, tapi Nesa mencoba untuk kuat. Setidaknya dihadapan Dio saat ini ia tidak menangis.
"Kita pulang ya." Ajak Dio.
"Kamu duluan aja, aku bawa mobil sendiri kok." Ucap Nesa menatap nanar dan menyunggingkan senyuman getirnya pada Dio.
"Kamu yakin?." Kata Dio memastikan.
Nesa hanya menganggukan kepala.
"Kalau gitu aku pulang ya! Jaga dirimu baik-baik." Kata Dio sambil berdiri dan menepuk-nepuk pelan bahu Nesa.
Diopun meninggalkan Nesa yang masih duduk termangu.
__ADS_1