Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Bunga cinta untuk Chia


__ADS_3

Episode 31


Dalam perjalanan pulang dari pondok pesantren pakdenya Jamal, tampak Chia yang tertidur pulas didalam mobil, sesekali kepala Chia bergeser miring ke arah kursi kemudi yang diduduki oleh Jamal.


Jamal membelai lembut wajah istrinya itu dengan sebelah tangannya, menatap indah wajah wanita yang teramat ia kasihi itu. Tiba-tiba Jamal menepikan mobilnya saat melihat toko yang menjual berbagai bunga.


Jamal memarkirkan mobil tanpa mematikan mesinnya dan turun untuk masuk ke toko bunga tersebut.


"Selamat sore pak ada yang bisa saya bantu." Sapa ramah sang penjual bunga.


"Sore mbak, saya mau beli bunga untuk istri saya, kira-kira mana ya yang bagus?" Tanya Jamal pada penjual bunga itu.


Sang penjual bunga itupun tersenyum, seraya mengambil bunga mawar berwarna merah dan merah muda.


"Mawar merah untuk cinta yang kuat, penuh gairah dan tanpa batas. Sedangkan mawar yang berwarna merah muda melambangkan keanggunan, kelembutan dan kebahagiaan." Tutur pedagang bunga yang membuat Jamal takjub itu.


"Wah ada maknanya juga ya mbak." Tanya Jamal yang baru mengetahui bahwa setiap warna pada bunga mengandung makna.


"Tentu saja pak." Jawak si penjual bunga sembari tersenyum.


"Kalau gitu tolong rangkaian untuk saya dua-dua nya ya mbak."


Sang penjual bunga pun merangkaikan beberapa tangkai bunga dengan memadukan dua warna tersebut.


Setelah mendapat dan membayar bunganya, Jamal kembali ke mobil dan melihat istrinya yang masih juga tertidur.


Jamal menaruh bunga yang ia beli tadi, tepat didepan kursi Chia.


"Seindah dan secantik apapun bunga ini, tetap saja istriku lebih menawan." Gumam Jamal yang terus memandangi wajah Chia dengan begitu dalam.


Jamal memberi kecupan di kening Chia yang membuat Chia terbangun dari tidur lelapnya.


Perlahan Chia membuka matanya dan melenguh.


"Kakak kita udah sampe mana?" Tanya Chia yang kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.


"Kita masih dijalan sayang." Jawab Jamal.


"Kenapa? istri kakak kecapekan ya? maaf ya, sebentar lagi kita sampe kok." Tutur Jamal kembali melajukan mobilnya.


Chia menggangguk dengan pandangan mata yang mengarah ke wajah Jamal. Lalu saat Chia menoleh ke depan, ia terkejut melihat ada sebuah rangkaian bunga yang sangat indah.


Pandangan itupun langsung mengembalikan kesadaran Chia sepenuhnya. Chia tersenyum dan meraih bunga tersebut kemudian menghirup aromanya.


Jamal yang melihat ekspresi senang di wajah istrinya pun ikut tersenyum.


"Gimana, suka gak bunganya? " Tanya Jamal sembari tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Sukaaaaaaaa banget." Kata Chia, yang dengan spontan mendaratkan ciuman di pipi kiri Jamal yang sedang mengemudi.


"Makasih ya suamiku sayang." Ucap Chia dengan wajah gembira.


"Sama-sama istriku yang paling cantik." Jawab Jamal yang tak kalah senang mendapat ciuman dari bidadarinya itu.

__ADS_1


"Kamu laper gak sayang?" Tanya Jamal yang baru ingat kalau mereka belum makan lagi.


"Laper sih kak." Jawab Chia manja.


"Lho, kok laper sih jawabnya. Jadi mau makan apa? mau berhenti dulu cari makan?" Jamal menawarkan.


"Boleh dech kak" Jawab Chia.


Merekapun berhenti disebuah kafe tenda yang menjual aneka seafood dan pecel ayam.


Chia memesan pecel ayam dan nasi putih, sedangkan Jamal memesan ikan goreng dan juga cah kangkung dengan satu nasi putih juga. untuk minumnya mereka memesan dua gelas jeruk hangat.


Ketika hendak duduk, Chia melihat seseorang yang ia kenali, sedang makan di kafe tenda yang sama.


"Assalamu'alaykum." Ucap Chia yang membuat seseorang itu menghentikan sejenak suapannya.


"Wa'alaykumsalam, eh Chia! kamu dari mana?" Jawab seseorang yang ternyata adalah Nesa.


"Dunia ini sempit ya, aku udah jauh-jauh main. Eh ketemunya sama kamu lagi." Ucap Chia bercanda, yang disambut dengan tawa oleh Nesa.


"Aku dari pondok pesantren pakdenya suamiku Nes." Lanjut Chia menjawab pertanyaan Nesa.


"Oya kenalin ini kak Jamal, suamiku. Kak Jamal ini Nesa yang sering main ke rumah kita." Kata Chia memperkenalkan mereka berdua.


Saat Nesa memberikan tangan untuk berjabatan Jamal membalasnya dengan mengatupkan kedua tangan dan melipatnya didada, seraya membungkukkan badannya.


Hal itu membuat Nesa merasa malu.


"Semenjijikan itukah aku? sampai suami Chia gak mau salaman sama aku! " Kata Nesa dalam hati.


Chia yang memahami gelagat Nesapun langsung duduk dan mendekati Nesa.


"Kamu kenapa?" Tanya Chia sambil tersenyum.


Nesa hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba membalas senyuman Chia.


"Aku ngerti kok apa yang kamu pikirkan." Kata Chia menebak.


"Hah kok bisa." Kata Nesa kaget.


Chia mengangkat kedua alisnya, yang menunjukkan bahwa tebakannya benar.


"Itulah cara suamiku menghormati wanita yang bukan mahramnya." Jelas Chia pada Nesa.


"Jadi kamu jangan tersinggung ya, setiap lelaki beriman yang memahami hukum-hukum dalam agamanya dengan baik, pasti bersikap sama, yaitu menghindari bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya." Lanjut Chia lagi.


"Oh gitu, aku kira karena suami kamu jijik sama aku." Ujar Nesa yang kini mengerti, seraya menganggukan kepalanya.


"Ih nggak dong, masa jijik sih." Jawab Chia sambil menertawakan sahabatnya itu.


"Kamu pinter ya bisa tau semua itu." Tutur Nesa memuji Chia.


"Dulu aku belajar ngaji, dan sampai sekarang aku masih belajar. Suami aku selalu ngajarin aku juga." Kata Chia memberitahu.

__ADS_1


Nesa tersenyum sembari membatin. "Beruntung banget jadi Chia, bisa dinikahi oleh laki-laki yang sangat mencintai dan menyayanginya, terlebih dia juga paham perkara agama." Ujarnya.


Tak lama pesanan Chia dan Jamal pun datang.


"Eh aku makan dulu ya, pesanannya udah jadi." kata Chia.


"Iya iya...kamu makan aja, aku udah mau selesai." Jawab Nesa.


Chiapun kembali ke tempat duduknya semula, disamping Jamal yang dengan setia menunggunya.Merekapun segera menyantap makanannya.


Dari kursi tempat duduk Nesa yang berjarak tidak terlalu jauh dengan Chia dan Jamal, Nesa terus memperhatikan wajah Jamal dengan intens.


"Ganteng banget sih suaminya Chia." Gumamnya.


"Kenapa harus selalu Chia yang lebih beruntung? sedangkan nasibku kayak gini." Sepertinya setan mulai merasuki pikiran Chia dengan membersitkan rasa iri dihatinya.


Tak lama kemudian Nesa beranjak dari tempat duduknya dan membayar makanannya.


"Bang sekalian ya sama yang mereka pesan." Nesa menunjuk ke Chia dan Jamal yang sedang asik makan.


"Oh iya, baik mbak." Kata si pedagang.


"Semuanya seratus dua belas ribu rupiah mbak, sudah sama minumanya." lanjut pedagang lagi.


Nesapun membeyarkan sesuai jumlah nominal, dan memberi uang tips pada si pedagang.


"Makasih ya mbak." Ucap pedagang itu pada Nesa.


"Sama-sama." Jawab Nesa singkat.


"Chia aku pulang duluan ya." Teriak Nesa dari tempat ia membayar.


"Oke Nes, hati-hati ya." Sahut Chia.


Sedangkan Jamal tak menoleh sedikitpun.


Setelah selesai makan, Jamal bergegas untuk membayar makanannya, tapi kemudian si penjual memberi tahu, bahwa makanan mereka sudar dibayar oleh mbak yang tadi (Nesa).


"Oh gitu, oke bang makasih banyak ya." Tutur Jamal sembari memberikan uang tips pada pedagang tersebut.


"Lho mas, ini buat apa?" Tanya si pedangan yang merasa sudah diberi uang tips oleh Nesa.


"Gak apa-apa rejeki jangan ditolak." Kata Jamal pada si pedagang.


Pedagang itupun mengucapkan terimakasih pada Jamal.


"Kenapa kak?" Tanya Chia yang melihat wajah gusar Jamal.


"Itu teman kamu, dia bayarin makanan kita." Jawab Jamal datar.


"Ya ampun kirain aku kenapa, udah gak apa-apa nanti Chia yang bilang terimakasih sama Nesa." Jawab Chia.


Jamal pun mengangguk dan merekapun bergegas pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2