Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Mengerjai Chia


__ADS_3

Episode 43


Pagi itu sangat cerah, dengan sinar mentari yang menyengat dengan tegas, menyilaukan mata kala memandangnya.


Jamal sedang mengerjai istrinya, dengan tidak mengajak Chia berbicara, atau memberikan perlakuan mesra seperti biasanya.


Dengan posisi kaki berselonjor di sebuah sofa, jamal sibuk mengotak-atik ponselnya.


Chia hanya mengincang dan tidak mengatakan sepatah katapun, karena Jamal terlihat tidak ingin diajak berbicara oleh Chia.


"Huh, kalau siomay sih enak dikacangin, tapi kan aku bukan siomay." Gerutu Chia sembari mengerutkan dahi dan memanyunkan bibirnya.


Jamal terus berpura-pura tidak melihat ataupun mendengarnya.


"Chia bangkit dari duduknya dan mulai melakukan hal konyol untuk menarik perhatian Jamal yang sedang asik dengan ponselnya itu.


"Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bersikap dingin pada wanita lain, namun penuh kehangatan terhadap istrinya. Bukan malah sebaliknya." Kata Chia dengan suara dilantang-lantangkan, agar perhatian Jamal teralih kepadanya.


Jamal menurunkan posisi ponsel yang semula diangkat sejajar dengan wajahnya, kemudian melihat ke arah Chia, Chia pun tersenyum pada Jamal, namun Jamal hanya memasang wajah datar.


Chia segera mencari ide lain, untuk mendapatkan perhatian Jamal yang kembali fokus pada ponselnya.


Chia mengambil bantal sofa, kemudian ia jadikan samsak tinju dan mulai menghantamnya dengan kedua kepalan lengannya bergantian.


Sambil mengintip dari sisi ponselnnya, Jamal menahan tawa melihat ulah konyol istrinya itu.


Lama-lama Chia merasa lelah juga karena latihan tinju dadakan itu. Chia pergi ke kamar, dan entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Mau ngapain lagi itu si ratu konyol." Gumam Jamal yang dengan setia menanti, pertunjukkan apa lagi yang akan dimainkan oleh istrinya.


Beberapa menit kemudian, Chia keluar dari kamar, dan alangkah terkejutnya Jamal. Chia memakai sepatu berhak tinggi, dan mengenkan pakaian yang sangat minim, sebuah minidress seksi dengan bagian dada yang terbuka dan sedikit transparan, sehingga bra penutup gunung kembar miliknya dapat terlihat.


Tak tanggung-tanggung Chia pun memakai tas selempang, seolah ia hendak pergi.


"Eh mau kemana sayang? kok pake baju haram kayak gitu? mau ganti gak?" Tanya Jamal yang langsung berdiri dan sedikit mengancam, agar Chia mengganti pakiannya.


Kali ini Chia membalas sikap Jamal dengan hanya diam, Chia juga mengambil segelas air putih dan meminumnya dengan posisi berdiri.


"Ya ampun sayang, duduk minumnya. Gak baik minum sambil berdiri kecuali kamu gak nemu tempat duduk." Ceramah Jamal.


Namun Chia tetap acuh dan berpura-pura tidak mendengar.


Chia bergerak ke arah pintu keluar, tapi Jamal segera berlari dan menghadang Chia, tampak Jamal yang mulai panik.


"Sayang jangan dong sayang, mau kemana sih?" Tutur Jamal dengan napas yang tak beraturan.

__ADS_1


"Mau cari perhatian, disini gak dapet perhatian dari suami." Tutur Chia tegas.


"Ya tapi masa pake baju kurang bahan gini sih sayang? nanti orang-orang lihat dong, itukan cuma buat kakak." Rajuk Jamal.


"Suruh siapa nyuekin aku." Ucap Chia ketus.


"Maaf sayang, kakak cuma mau ngerjain kamu, kakak lagi kangen aja sama kekonyolan kamu." Terang Jamal.


"Oh gitu?" Kata Chia masih dengan nada sedikit ngegas.


"Iya sayang." Kata Jamal yang masih terus memegangi pintu agar Chia tidak keluar.


"Ya udah, anggap aja aku lagi ngobatin rasa kangen kakak, aku keluar nih." Kata Chia sambil memaksa hendak membuka pintu.


"Sayang jangan gitu dong. Iya kakak minta maaf, gak lagi-lagi dech usilin kamu kayak tadi." Ucap Jamal yang memohon agar Chia tidak pergi dengan mengenakan pakaian yang haram dilihat oleh laki-laki lain yang bukan mahromnya.


"Kena kamu kak." Batin Chia puas, karena berhasil mengalihkan perhatian Jamal padanya.


"Maafin kakak ya sayang, kamu jangan keluar kayak gitu ya, gak boleh. Nanti kakak harus jawab apa kalau dapet pertanyaan dari malaikat, kenapa kakak biarin istri kakak mengumbar aurat?" Kata Jamal mulai berceramah.


Chia tertawa geli mendengar penuturan Jamal, Ia pun melepas sepatu dan menaruh tasnya.


"Ya gak mungkin lah aku keluar dengan baju kurang bahan gini, emang aku udah gak waras apa?" Ucap Chia sembari membantingkan tubuhnya ke sofa.


Akhirnya Jamal menarik nafas lega, meski begitu tubuh Jamal menjadi lemas, ia khawatir Chia akan benar-benar nekad.


"Enak dikerjain?" Kata Chia sambil menoleh ke arah Jamal.


"Ampun sayang, gak lagi-lagi dech." Kata Jamal tersengal.


"Kakak beneran takut banget ya?" Kata Chia.


"Iyalah sayang, lagian suami mana yang rela istrinya mempertontonkan keseksian tubuhnya ke orang lain." Jawab Jamal.


"Berarti aku seksi?" Tanya Cha.


"Iyalah sayang." Jawab Jamal singkat, namun berhasil membuat Chia senyum-senyum sendiri.


"Kalau sama suami sendiri boleh kan?" Tanya Chia yang langsung duduk menindih tubuh Jamal.


Tak dipungkiri Chia memang sangat seksi dan menggoda saat itu.


Jamal tak sanggup berkata-kata lagi, ia langsung memagutkan bibirnya pada bibir Chia, lalu beranjak dan membopong Chia ke kamar.


Merekapun melakukan aktifitas yang tak asing bagi sepasang suami istri. Bahkan mereka melakukannya berkali-kali.

__ADS_1


"Kamu udah mulai pinter ya nyenengin suami." Puji Jamal sembari tersenyum menatap Chia.


Wajah Chia memerah karena malu mendengar kata-kata Jamal.


"Kalau kayak gini, kakak jadi ketagihan nih dikerjain sama kamu." Canda Jamal.


"Ah kakak, nanti aku kerjain nangis lagi." Jawab Chia.


Merekapun sama-sama tertawa geli.


"Ternyata seru juga ya sayang, perang disiang hari." Ucap Jamal.


"Ih apaan sih kak, nyebelin dech." Kata Chia salah tingkah.


"Mau lagi." Kata Jamal.


"Nggak ah, aku capek." Kata Chia seraya tertawa dan berlari menuju Kamar mandi.


"Eh sayang, mau kemana kamu?" Jamalpun ikut berlari dan menangkap Chia.


Akhirnya meraka berdua masuk kamar mandi, namun tidak benar-benar mandi. Mereka melakukanny lagi sampai benar-benar mengakhirinya.


Sudah hampir dua tahun menikah, namun Jamal dan Chia masih seperti sepasang pengantin baru, meski belum dikarunia momongan, Chia dan Jamal tetap bahagia dan menikmati masa-masa pacarannya setelah menikah.


Chia tidak menunda kehamilannya, namun mereka juga tidak terburu-buru. Baik Chia maupun Jamal, mereka sama-sama mengikuti alur saja soal momongan. Tidak menunda namun tidak juga terburu-buru.


Masa-masa berdua ini memang benar-benar mereka manfaatkan untuk menjalin ikatan kasih yang lebih erat lagi, sebelum hadirnya buah hati sebagai tali yang akan memperkuat ikatan perkawinan mereka.


"Kakak, hari ini aku mau makan kepiting saus padang, boleh ya! " Kata Chia manja.


"Boleh dong sayang, nanti biar kakak pesenin ya." Jawab Jamal sembari tersenyum.


"Ok kak." Chia mengacungkan ibu jarinya.


Hamal dan Chia duduk santai di sofa, setelah mandi dan menikmati sisa-sisa lelahnya.


Seperti biasa, Chia menaruh kepalanya didada bidang Jamal, sambil sesekali bercerita dan saling bercanda.


Tiga puluh menit kemudian, pesanan merekapun datang diantar oleh driver ojek dari aplikasi online.


Jamal bergegas keluar untuk mengambil dan membayar pesanannya. Tidak lupa juga, Jamal memberikan uang tip pada sang driver.


Dengan antusias Chia segera menyiapkan nasi, dan merekapun makan ditemani lauk kepiting saus padang seperti yang Chia inginkan.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

__ADS_1


Hari ini tak kalah indah dari hari-hari biasanya.


__ADS_2