
Episode 47
Pagi telah hadir dengan sejuta keramahannya, dipenuhi hangat cengkerama dari empat insan yang kini penuh bahagia.
Jamal dan Chia pergi bersama mengantarkan Dio dan Bunga, tentu saja setelah pesanan kue yang Chia tunggu dari kedai kuenya datang.
"Bunga, kamu harus cobain yang ini." Kata Chia memberikan sepotong kue pada Bunga, sembari menikmati perjalanan mereka.
"Ini namanya kue apa kak?" Tanya Bunga sembari mengambil sepotong kue tersebut.
"Ini rainbow chese bolu, hehe. Rasanya unik karena ada potongan buah-buahan juga di dalamnya." Jawab Chia.
"Ih namanya bagus kak, kuenya juga cantik seperti kakak, rasanya juga enak banget." Bunga memberi komentar sembari menyuapkan kue pada mulutnya.
Chia tersanjung mendengar komentar Bunga.
"Hey bapak-bapak! Kalian sepi banget didepan. Mau coba kue gak?" Tanya Chia membuyarkan fokus Jamal dan Dio.
"Haha! kakak nih ada-ada aja." Tutur Bunga tertawa geli.
"Ya bolehlah ibu-ibu, suaminya disuapin dong." Jawab Jamal menimpali.
Sementara Dio hanya tersenyum saja.
Ketika melihat Chia menyuapkan kue ke mulut Jamal, Dio tertegun sejenak.
"Mungkin begitulah gambaranku dengan Chia andai kami jadi menikah." Batin Dio.
"Ehem!" Kata Bunga membuyar lamunan Dio.
"Buka mulutnya aa..." Bunga menyodorkan kue ke mulut Dio.
Dio pun membuka mulutnya dan melahap kue tersebut.
"Makasih sayang." Ucap Dio pada Bunga.
Bukan sedang memamerkan kemesraan masing-masing, tapi kedua pasangan suami istri itu, sedang sekuat tenaga menjaga, agar jangan sampai rasa yang pernah ada sebelum mereka menikah dengan pasangan masing-masing, tumbuh kembali dan berpotensi menimbulkan kisruh dalam rumah tangga mereka yang adem ayem.
Tak terasa perjalanan menuju ke pondok pesantrenpun sudah semakin dekat.
"Oya, nanti kalau si baby udah lahir, kabarin kita ya." Kata Chia pada Bunga dan Dio.
"Insya Allah, pasti kita kabarin kak Chia dan kak Jamal kok, iya kan sayang?" Jawab Bunga yang langsung melemparkan tanya pada Dio.
"Iya dong sayang, insya Allah nanti kita kabarin kalian." Timpal Dio.
"Sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua, siap-siap aja." Ledek Jamal.
"Siap-siap apa bro?" Tanya Jamal penasaran.
"Tau ih kakak, siap-siap apa? dipanggil ayah bunda? umma abi, mama papa atau ibu bapak?" Tanya Chia.
Dan mereka semua tertawa.
"Ngagetin aja kak Jamal." Kata Bunga.
"Kak Chia gak mau punya baby juga?" Tanya Bunga lagi.
"Bukan gak mau sih, tepatnya belum dikasih kepercayaan aja sama Allah, hehe. Mungkin biar aku sama kak Jamal merasakan masa-masa berduaan lebih lama lagi." Jawab Chia sembari tersenyum.
"Cie cie...so sweet banget." Balas Bunga.
Jamal hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya itu.
"Betapa beruntungnya Jamal punya kamu Chia." Batin Dio.
"Dan kalian sangat beruntung, karena Allah kasih kalian amanah yang begitu besar ini tanpa harus menunggu waktu yang lama." Tutur Jamal seolah mendengar apa yang ada didalam hati Dio.
"Astaghfirullah, dari tadi aku sibuk melihat nikmat orang lain." Batin Dio tersadar.
"Alhamdulillah bro, doakan saja kami." Ucap Dio setelah kata-kata Jamal menyadarkannya.
__ADS_1
Jamal pun mengaminkannya.
Obrolan mereka di dalam mobil, membuat waktu yang panjang terasa lebih cepat berlalu.
Mereka kini telah sampai di tempat tujuan mereka, yaitu Pondok pesantren tempat pakde, tempat Dio berdedikasi.
"Mereka segera turun dari mobil, dan masuk untuk menemui pakde dan budenya Jamal, tak lupa membawa serta oleh-oleh yang mereka bawa dari kota.
"Oya kak, bisa panggil beberapa santri gak ya? soalnya kuenya kan aku bawa banyak, sengaja biar para santri dan santriwati juga ikut nyobain." Kata Chia.
Kemudian Jamal menyampaikan hal itu pada Dio, segera setelah itu, Dio memanggil Hendra yang kini sudah menjadi ustadz juga seperti dirinya, untuk membantu memanggilkan beberapa santri.
Hendra lebih dulu menemui jamal, sebelum nantinya kembali melakukan aktifitasnya.
"Wah pak ustadz." Ucap Jamal pada Hendra.
"Apa kabar bos?" Ledek Hendra.
"Alhamdulillah baik bro." Jawab Jamal sembari memeluk sahabatnya itu.
"Jadi gimana keadaan pondok sekarang?" Tanya Jamal pada Hendra.
"Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan, ya seperti yang kamu lihat." Jawab Hendra.
"Harus itu bro." Kata Jamal menyemangati.
"Ngomong-ngomong, ini kuenya banyak sekali, memangnya ada yang mau menikah lagi?" Kata Hendra.
"Haha, gini nih kalau jomblo, yang ada dipikirannya cuma nikah melulu." Kata Jamal menertawakan sahabatnya.
"Hehe maklum bro, jodoh ana belum sampe, entah masih nyangkut dimana?" Kata Hendra sembari nyengir.
"Bercanda bro, kue-kue ini sengaja dibawa, buat dibagikan ke para santri dan santriwati, kata istriku biar mereka nyobain juga." Terang Jamal.
"Maa syaa Allah, ustadz nya gak dikasih juga bro?" Canda Hendra.
"Buat ustadznya ada bro, spesial nih." Kata Jamal seraya tertawa bersama Hendra.
"Oke bro, makasih." Kata Jamal.
"Oke ya bro, aku menghadap pakde dulu, nanti kalau udah beres, langsung nyusul aja ke dalam." tutur Jamal pada Hendra.
Hendra pun bergegas membantu para santri membawa kue-kuenya.
Sementara Dio dan Jamal masuk untuk menghadap pakde.
Jamal menyalami pakdenya itu dan memeluknya.
Kemudian Jamal melihat sekitar, dan tidak menemukan Chia disana.
"Apa yang dicari oleh mata mu itu nak?" Kata pakde seraya tersenyum.
"Hehe, nggak kok pakde." Jawab Jamal gerogi.
"Rupanya kamu tidak bisa berlama-lama jauh dari istrimu ya?" Ledek pakde diiringi tawa.
"Ah pakde bisa aja." Kata Jamal malu-malu.
"Silakan diminum tehnya." Ucap Chia yang muncul tiba-tiba dari arah dapur.
Rupanya Chia membantu bude dan Bunga yang sedang membuat beberapa cangkir teh untuk mereka, karena saat itu para santri dan santriwati sedang ada kegiatan lain dan sepertinya tidak perlu memanggil mereka untuk membantu membuatkan minuman.
Jamal tersenyum ketika melihat wajah istrinya.
Akhirnya mereka mengobrol dengan ditemani teh dan kue-kue lezat yang dibawa Chia dan Jamal.
Dio juga menceritakan pengalaman pertamanya menjadi seorang pemateri, dalam acara kajian pada sang guru.
Sang guru atau yang biasa Dio panggil pak Kyai itu, menyampaikan apresiasinya pada salah satu murid kesayangannya itu.
"Alhamdulillah, semoga kedepannya pondok yang kita cintai ini, dapat melahirkan lebih banyak lagi generasi yang amanah, yang akan melanjutkan perjuangan-perjuangan kita." Tutur pakde dan diamini oleh semua orang.
__ADS_1
"Nak Jamal dan nak Chia, pakde juga berterimakasih karena kalian sudah bersedia membantu Dio selama disana." Ucap pakde.
"Dengan senang hati pakde, hanya itu yang bisa kami lakukan." Jawab Jamal.
Chia tersenyum mengangguk.
"Itu sudah lebih dari cukup nak." Kata pakde lagi.
Setelah mengobrol kesana kemari, akhirnya Jamal dan Chia pamit pulang.
"Lho sudah mau pulang." Ucap Hendra yang baru datang.
"Ya, ustadz kita yang satu ini sangat sibuk rupanya pakde, sampai gak kebagian waktu buat ngumpul." Kata Jamal yang disambut riuh tawa oleh pakde dan semua yang ada disitu.
"Iya bro, besok aku udah harus kerja, insya Allah aku akan sering kesini." LanjutJamal.
Jamalpun berpamitan dengan menyalami dan memeluk pakde dan para sahabatnya.
Begitupun dengan Chia, yang memeluk manja budenya dan juga memberi pelukan pada Bunga yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Jangan lupa kabar-kabarin kita ya kak." Pinta Bunga.
"Iya dong, kamu juga ya." Jawab Chia.
Mereka semua mengantarkan Jamal dan Chia sampai ke area parkir mobil mereka.
"Hati-hati ya nak, jangan ngebut-ngebut." Pesan bude.
"Baik bude." Kata Jamal dan Chia.
"Assalamu'alaykum." Ucap Jamal dan Chia memberi salam dari kaca jendela mobil yang dibuka, sebelum melajukan kemudinya.
"Wa'alaykimsalam salam warahmatullah." Jawab semua orang.
"Bersabarlah, tidak ada yang terlambat atau terlalu cepat." Kata pakde yang melihat Hendra melamun memikirkan jodoh yang belum juga tiba.
"Eh pak Kyai, Hendra jadi malu." Kata Hendra salah tingkah.
Pakde menimpali muridnya itu dengan senyuman.
Kembali pada Chia dan Jamal.
"Gimana sayang? capek?" Kata Jamal mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Asalkan sama kakak, aku rela kok kecapekan." Jawab Chia menyunggingkan senyuman.
Jamal tersenyum sembari meraih tangan Chia dan menciumnya.
"Makasih tuan putriku sayang." Ucap Jamal.
Chia hanya memberi tatapan penuh cinta pada suaminya itu.
"Sayang..." Kata Jamal.
"Hemm..." Jawab Chia.
"Udah dong lihatin kakak dengan tatapan kayak gitunya." Protes Jamal.
"Emangnya kenapa?" kata Chia heran.
"Kakak bisa gak fokus nyetirnya." Jawab Jamal.
"Ih kakak, apaan banget dech." Ucap Chia sambil tertawa geli.
Sejauh apapun jarak yang ditempuh, selalu menyenangkan bila dilalui dengan orang yang kita cintai. Kerikil tajam bahkan batu yang terjal sekalipun, takkan jadi penghalang bagi kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Begitulah kira-kira perasaan Chia dan Jamal saat ini.
Dan, prak prak prak!
Suara sebuah mobil menabrak, dengan laju kecepatan yang sangat tinggi.
__ADS_1