
Episode 21
Sejak malam itu, tak seharipun dilewatkan oleh Dio tanpa mengingat Chia. meski ia memaksa melupakan segala hal tentang Chia, penyesalan itu semakin menghantuinya.
Semua itu membuat Dio kerap kehilangan semangat bahkan ia tak pernah berpikir lagi untuk benar-benar menyerahkan hatinya pada seorang wanita.
Lalu bagaimana dengan Nesa?
Selama ini Dio dipaksa oleh keadaan, dimana ia harus melayani Nesa yang setengah mati ingin memiliki Dio seutuhnya, namun cintanya selalu bertepuk sebelah tangan.
Dio menjalani hubungan dengan Nesa hanya karena sebuah kepentingan, ia dipaksa menerima kehadiran Nesa oleh paman dan bibi yang mengurusnya sejak ayah dan ibunya tiada, demi kelanggengan bisnis mereka.
Nesa adalah anak dari partner bisnis paman dan bibinya, yang dengan pertimbangan keuntungan bisnis yang akan mereka raih, mereka lalu mencoba memperkuat kekerabatan mereka dengan menjodohkan Dio sebagai keponakannya dengan Nesa yang seorang putri partner bisnisnya.
Nesa yang ternyata jatuh hati sungguhan pada Dio, selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan cinta Dio, bahkan tak jarang ia menjebak Dio dengan mencekoki obat ataupun minuman yang membuat Dio hilang kesadaran dan melakukan tindakan tidak senonoh dengannya.
Disisi lain ada Dio yang terpaksa pada hubungannya, namun dilain keadaan ada Nesa yang tak pernah menyerah pada penolakkan Dio.
Nesa yang selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya, tumbuh menjadi pribadi yang egois dan tak terbiasa dengan sebuah penolakkan, karena itu meski Dio selalu menolaknya, ia justru semakin menggila mendekati Dio, tak perduli bahkan jika ia harus menggunakan cara-cara yang keji.
Kembali ke sebuah kamar, dimana ada Chia yang sedang menyisir rambutnya dihadapan cermin rias, ia duduk dan memandangi bayangannya dalam pantulan cermin.
Jamal menghampiri dan memeluk istri yang sangat ia cintai itu.
"Sudah cantik sayang." Ucap Jamal sambil mengecup kening dan mencium leher Chia.
Chia terpejam, ia tak berkutik menerima ciuman yang diberikan Jamal secara bertubi-tubi, Jamal lalu menggendong Chia dan membawanya ke tempat tidur dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Gelora cinta yang menggebu didada Jamal, membuatnya enggan menghentikan cumbuannya pada Chia, namun melihat Chia yang sudah lemas Jamal pun tak tega dan memilih berhenti.
Jamal beranjak untuk mandi dan ia lupa membawa handuknya, Jamal memanggil Chia meminta tolong untuk memberikannya handuk.
"Dek...tolong bawain handuk dong sayang" Ucap Jamal sambil sedikit membuka pintu kamarandi.
Chia yang masih lemas pun mengambil handuk dan mengantarkannya pada Jamal.
"Nih kak handuknya." dengan nada lemas.
__ADS_1
Alih-alih mengambil handuk, Jamal malah menarik tangan dan tubuh Chia ke dalam kamar mandi.
"Kakak lepasin kak." Chia meronta saat Jamal memaksa menarik tangannya.
"Oh nggak bisa, kamu harus mandi sayang, kan kita mau pergi." Kekeh Jamal dambil menggoda Chia.
Akhirnya Chia menyerah dan mandi bersama dengan Jamal.
Setelah selesai mandi, Jamal dan Chia bersiap untuk pergi melihat-lihat beberapa rumah yang akan mereka beli untuk ditinggali.
Tabungan Chia dan Jamal dari usahanya masing-masing saat sebelum menikah, rasanya sudah cukup untuk membeli satu unit rumah meski hanya rumah yang sederhana.
Mereka pun pergi mendatangi sebuah kantor pemasaran untuk melihat-lihat beberapa rumah di sebuah komplek perumahan yang berada tidak jauh dari rumah kos Chia.
Ditemani agency yang bertugas memperlihatkan unit-unit rumah yang mereka pasarkan, Chia dan Jamal melihat sekitar tiga unit rumah sebagai opsi.
Akhirnya mereka menjatuhkan pilihan pada salah satu diantara ketiga rumah yang mereka lihat, mereka segera mengurus segala keperluan perihal jual beli yang akan disepakati.
Jamal dan Chia pun bersyukur segala urusannya dipermudah, mereka segera mengabari keluarga mereka di kampung halaman.
Dan semua anggota keluarga mereka turut senang mendengar kabar baik ini.
Raut bahagia tampak diwajah Chia dan Jamal, meski rumah itu dibeli dengan hasil tabungan berdua, namun Jamal memutuskan untuk mengatas namakan Chia sebagai pemilik rumah tersebut.
Chia yang semula merasa tak enak akhirnya setuju berkat upaya Jamal yang terus meyakinkannya.
"Kakak! beneran gak apa-apa kalau rumahnya atas nama aku?" tanya Chia.
"Gak apa-apa dong sayang, malah kakak minta maaf karena seharusnya Kakak gak pakai uang tabungan kamu untuk tambahin beli rumahnya, cuma karena uang kakak belum cukup, jadi uang kamu dipake dulu ya! gak apa-apa kan?" balas Jamal sambil mengelus-elus bahu istrinya.
"Gak apa-apa dong kak, sama aja...kan yang tinggal kita berdua juga ihh, kakak berlebihan dech." Ucap Chia diiringi tawa mereka berdua.
"Makasih ya sayang" lanjut Jamal lagi.
"Makasih buat apa kak? harusnya kan Chia yang berterimakasih, kan rumahnya atas nama aku." Kata Chia sambil membalikkan badan nya menghadap Jamal.
"Ya makasih karena kamu bersedia memahami keadaan kakak." Jawab Jamal.
__ADS_1
Chia hanya melemparkan senyuman konyolnya yang khas sambil berkata.
"Baik pak suami".
Sesampainya di rumah kos, Chia memberi tahu pemilik kos bahwa ia akan segera pindah ke rumah barunya.
Si pemilik kos pun memberikan selamat pada Chia atas pernikahan dan rumah barunya.
Chia menyewa jasa mobil untuk mengangkut barang-barang ke rumah barunya.
"Yeay Alhamdulillah akhirnya di rumah juga."celetuk Chia.
"Iya sayang, Alhamdulillah! kamu seneng?" kata Jamal sambil mengelus kepala Chia.
Chia mengangguk tersenyum dengan binar mata yang sangat bahagia.
"Mungkin kita akan butuh waktu beberapa hari kak, buat nata semua barang-barang kita." Kata Chia sambil membawa beberapa perabot rumah tangga ke dapur baru rumahnya.
"Iya dek, gak masalah nanti kita kerjain bareng ya." kata Jamal sambil membawa beberapa barang yang lain.
Mereka berdua sibuk membereskan rumah dan menata barang-barang pada tempatnya, sampai melewatkan makan siang mereka.
Saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 17: 00. mereka kaget dan segera bergegas untuk mandi bergantian.
"Kak laper gak?" Tanya Chia manja.
"Iya nih kita lupa makan siang dek." jawab Jamal.
"Hehe iya, maaf ya kak! tapi gak ada apa-apa, soalnya kita belum sempat belanja." jelas Chia.
"Gak apa-apa sayang, nanti kita beli makanan siap saji aja." Kata Jamal sambil memberikan segelas air putih pada Chia.
"Apa kak, aku gak haus." tolak Chia lembut.
"Iya, tapi kamu harus minum banyak air putih, biar sehat." kata Jamal sedikit memaksa.
"Hehe...siap pak suami." canda Chia seraya meneguk air putihnya.
__ADS_1
Jamal memesan beberapa makanan lewat aplikasi online di ponselnya, dan mereka pun makan setelah makanannya tiba.
Hari ini cukup melelahkan, tapi juga sangat membahagiakan.