
Episode 17
Tiba hari dimana Chia akan dilamar oleh lelaki pilihan ayahnya. Sempat tak terbayang oleh Chia, bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan laki-laki yang tidak ia kenal sebelumnya.
Namun beberapa kekecewaan yang diterimanya melalui hubungannya dengan Dio, akhirnya mengubah persepsi Chiara.
Kalau orang yang sudah lama ia kenal saja bisa membuatnya terluka berulang kali, mengapa tidak mungkin kebahagiaan akan datang justru dari orang yang baru ia kenal.
Dengan balutan kebaya bernuansa krem dan warna kerudung yang senada Chia tampak anggun dan pesona ayunya semakin memancar.
Ibu dan ayah kompak mengenakan pakaian yang dihadiahkan Chia untuk mereka. Chia tak menyangka bahwa pakaian itu akan menjadi saksi dihari pentingnya.
Beberapa saudara seperti paman dan bibi juga tampak hadir disana, namun kakek dan nenek tak nampak karena mereka memang telah lama berpulang ke hadirat Allah yang maha kuasa.
Chia tak bertanya. Siapakah kira-kira laki-laki yang menjadi pilihan ayahnya, berasal dari mana dan seperti apa rupanya.
Bukan karena tidak ingin mengetahuinya, tapi Chia khawatir bila jawabannya tidak seperti yang ia harapkan justru akan membuat dirinya merubah keputusan untuk menuruti permintaan ayahnya.
Chia hanya meyakinkan dirinya. Bahwa ayah yang begitu menyanginya itu, tidak mungkin sembarangan memberikan anak gadisnya pada laki-laki yang tidak baik.
Chia percaya pilihan ayahnya pasti yang terbaik dan tidak akan mengecewakan, setidaknya laki-laki itu mencintai dirinya ketimbang ia mencintai laki-laki tapi selalu merasakan kecewa.
Saat-saat mendebarkan itupun telah tiba, rombongan dari calon besan dan calon suaminya sudah datang.
Disana pula nampak ustadz Hasan dan juga Ibu Aisyah istrinya. juga seorang laki-laki muda dan tampan yang diperkirakan sebagai laki-laki yang akan melamar Chia.
Dengan ucapan salam dari rombongan calon suami Chia. Keluarga Chia memberikan sambutan dengan menjawab salam dan segala hal yang lumrah dilakukan sebagai sambutan terhadap tamu.
Semua hal termasuk hal yang inti mulai dibicarakan. Awalnya Chia menjadi ragu karena melihat laki-laki yang datang bersama rombongan itu adalah Zaky, anak ustadz Hasan yang kedua yang juga adik kelas Chia.
Sebelum akhirnya keraguannya terjawab.
"Mohon maaf, dari tadi Zaky perhatikan, sepertinya kak Chia kelihatan bingung." ucap Zaky menebak.
"Emm...hehe, ya bisa dibilang gitu sih" kata Chia mengiyakan.
"Jadi apa yang membuat ananda Chia bingung." tanya ustadz Hasan.
__ADS_1
"Begini ustadz, sebelumnya Chia mohon maaf sekali. Jadi Zaky itu kan adik kelas Chia...hehe, menurut ustadz lucu gak kalo Chia nikah sama adik kelas." tanya Chia yang disambut gelak tawa oleh orang-orang yang hadir.
"Maa syaAllah, ternyata gadis ini gak pernah berubah ya, tetap dengan gayanya yang lucu." ustadz Hasan melanjutkan.
"Maaf kak, sebenarnya bukan Zaky yang akan melamar kakak tapi...." Ucapan Zaky terpotong oleh kehadiran seseorang.
"Assalamu'alaykum"...seorang tamu hadir.
"Wa'alaykumsalam warahmatullah..." semuanya serempak menjawab.
Terlihat seorang lelaki gagah berwibawa, hadir dengan pakaian rapi, menggunakan jas dan peci.
Meski terlihat malu-malu namun tak mengurangi sedikitpun ketampanannya.
"Nah ini dia calon mempelai pria nya..." ustadz Hasan memberi tahu.
dan lagi-lagi, lelaki itu pun bukan sosok yang asing bagi Chia. Sebab Chia pun telah lama kenal dengannya begitupun sebaliknya.
Laki-laki itu adalah Jamal.
Laki-laki yang telah lama memiliki perasaan cinta pada Chia. Namun ia tak jua berani mengutarakannya, sebelum akhirnya takdir membawanya pada cinta yang ia impikan.
Mengetahui hal itu, perasaan Chia sedikit campur aduk. Ia bingung apakah harus merasa senang atau entahlah! yang jelas akhirnya Chia mengetahui siapa laki-laki pilihan ayah yang akan menjadi pendamping hidupnya.
"Jadi bagaimana apakah Chia menerima pinangan dari ananda Jamal" Ustadz Hasan memastikan.
Jantung Jamal dag dig dug tak menentu menunggu jawaban apa yang kira-kira akan keluar dari mulut Chia.
Beberapa menit situasi menjadi hening sebelum akhirnya....
"Em bismillah, dengan restu ayah dan ibu dan juga melihat bagaimana wajah kak Jamal yang sangat gugup, insyaAllah dengan ini Chia terima." Jawaban Chia itu lagi-lagi mengundang tawa semua yang hadir.
Mendengar jawaban Chia, kini Jamal pun tak lagi gugup, ia merasa lega dan bersyukur bahagia bahwa sebentar lagi buah dari doa-doanya akan terwujud. Memperisrti gadis yang dicintai adalah impian setiap laki-laki.
"Baik, jadi kapan kiranya pernikahan kedua putra dan putri kita ini akan dilaksanakan?" kata Ustadz Hasan.
"Sebagai pihak perempuan kami sih manut saja, tapi mungkin lebih cepat akan lebih baik." ayah Chia menjawab.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu satu bulan dari sekarang, bagaimana? " ustadz Hasan menawarkan.
"Saya sih sangat setuju..."kata ayah Chia.
"Bagaimana dengan yang lain?" lanjut ustadz Hasan.
Semuanya menganggukkan kepala tanda setuju.
"Alhamdulillah akhirnya semuanya berjalan lancar tanpa kendala ya, di ritual khitbah ini." Ustadz Hasan menyampaikan rasa leganya.
Alhamdulillah...ucap semua orang.
Langsung saja keluarga Chia, mempersilakan semua orang yang hadir untuk menyantap hidangan yang tersedia.
Acarapun berjalan sesuai harapan. Setelah menikmati hidangan yang disediakan keluarga Chia, merekapun memutuskan untuk pulang dan melakukan persiapan yang mungkin dilakukan untuk satu bulan menjelang pernikahan Chia dan Jamal.
Saat ayah dan ibu bertanya pernikahan seperti apa yang Chia inginkan, Chia tak banyak meminta asalkan ada ayah dan ibu walaupun harus digelar secara sederhana Chia tak keberatan.
Yang penting bagi Chia adalah kehidupan setelah pernikahan, soal bagaimana acara pernikahannya diselenggarakan, selama tidak melanggar norma-norma yang ada, Chia tak mempermasalahkan.
Jawaban Chia yang dirasa sangat dewasa itu membuat kedua orangtuanya meneteskan air mata haru.
Tak disangka putri kecilnya yang manja itu kini menjelma menjadi gadis dewasa, bijaksana dan penuh pengertian.
Dilain ruang dalam waktu bersamaan, ibu Aisyah sedang menasehati Jamal.
"Bersyukur ya nak, ternyata cinta yang dijatuhkan pada orang yang kamu inginkan dapat Allah kabulkan." katanya pada Jamal.
Jamalpun menganggukkan kepala dan memberi pelukan pada ibu yang sangat ia sayangi itu.
"Terimakasih bu, tanpa doa dari ibu, semua keinginan Jamal belum tentu Allah wujudkan." Ucap Jamal.
"Satu pesan ibu nak, nanti kalau sudah ada dalam ikatan pernikahan. Jaga baik-baik istri kamu, ingat ya nak, orang tuanya telah memilih kamu sebagai laki-laki yang dipercaya untuk bisa menjaga putri kesayangannya. Jadi jangan sampai kamu mengecewakan mereka" Nasehat ibu Aisyah.
"InsyaAllah bu, apapun yang terjadi Jamal akan terus menjaga dan menyayangi istri Jamal seperti seharusnya." Jawab Jamal.
"Aamiin ya robbala'lamin" balas bu Aisyah lagi.
__ADS_1
"Setelah ini tanggung jawabmu bukan lagi tentang dirimu dan keluargamu saja, tapi juga istrimu dan juga keluarganya, ibu juga berdoa semoga kamu dapat mengemban amanah ini dengan baik." Ibu Aisyah melanjutkan.
"Terimakasih bu..." Jamal memeluk ibunya lagi.