
Episode 6
Tik tik Tik...
Bunyi jarum jam menunjuk tepat diangka 22.00. Malam itu hening sekali, memang kalau di Desa jam 9 malam saja sudah sepi, karena orang-orang sangat disiplin dan sangat menjaga kualitas tidurnya, supaya bisa bangun awal dipagi hari untuk bekerja, sekolah atau aktifitas lain.
Chiara termenung, sesekali ia berusaha memejamkan matanya namun tak jua bisa benar-benar terlelap. Tak seperti biasanya.
Chia teringat masa-masa bersama sahabatnya yang begitu menyenangkan.
Meski begitu, ia tetap dengan pendiriannya, berkumpul bersama ayah dan ibu sebelum waktu dimana mungkin nanti Chia yang tiada atau orangtuanya yang tiada.
Terkadang umur manusia tak seorangpun tahu, pikir Chia.
Larut dalam lamunan, Chia membayangkan kesakitan terbesar dalam hidup yang mungkin saja terjadi padanya ataupun orang lain.
Chia sadar bahwa hidup tak mungkin selamanya dalam dekapan ayah dan ibunya, suatu saat mungkin ia akan melepaskan dekapan itu atau mungkin orangtua nya yang akan melepaskannya.
Kecamuk dikepala Chia mulai tidak beraturan.
"Ah serumit inikah beranjak dewasa?" katanya dalam hati.
Tiba-tiba ada suara yang memecah hening, membuyarkan lamunan Chia. Mungkin itu suara burung hantu atau mungkin suara hewan-hewan yang memang beraktifitas dimalam hari dan tidur disiang harinya atau disebut nokturnal.
"Hem! apakah aku seperti hewan nokturnal juga kalau tidak tidur malam-malam begini?!" Chia tergelitik tawa oleh pikiran konyolnya sendiri.
"Apalagi ya? nangis sudah, tertawa juga sudah.
"Hoam!" Ia pun menguap dan tangan kirinya segera menutup mulut yang menguap itu.Tak terasa Chiarapun terlelap diiringi kemelut dalam pikirannya.
Keesokan paginya...
Masih dengan rindu yang sama, masih dengan pelajaran yang sepertinya akan memakan waktu lama untuk diselesaikan, atau mungkin bisa saja memakan waktu seumur hidup.
Karena pelajaran hidup tak seperti mata pelajaran di sekolah, yang bisa dikerjakan dan dikumpulkan setelah selesai untuk dikoreksi oleh guru kemuadian diberi nilai.
"Emm manis, lembut, enak sekali." Gumam Chia sambil memakan bolu pisang buatan ibu. Maklum saja, ayah sangat suka bolu pisang. Jadi ibupun sering membuatnya sendiri ketimbang harus membeli diluar, rasanya yang memang enak sepertinya memang pantas membuat siapa saja menyukainya.
"Ibu, ayah sudah pergi ke kebun?" Tanya Chia yang di jawab ibunya dengan lembut dan penuh senyum hangat.
"Sudah sayang, Chia gak bosan dirumah terus?" tanya ibu.
"Emm enggak kok bu, seumur hidup Chia gak akan bosan kalau sama ayah dan ibu," tutur Chia.
__ADS_1
"Ah anak ibu ini, bisa saja bikin hati ibu tersanjung."
Chia memeluk ibunya yang sedang merapikan dapur dengan manja.
"Tapi nak, tidak sekarang mungkin suatu saat, kita berada di situasi dimana harus merelakan satu sama lain. Kamu harus terima dengan lapang dada ya, karena cepat atau Lambat masa itu akan datang, mau tidak mau waktu itu akan terjadi." Kata ibu menasehati Chiara.
"Ibu... tapi Chia gak mau pisah sama ayah dan ibu." Rengek Chia sambil bergelayut dipelukan ibunya.
"Anak ibu harus kuat dan tangguh menghadapi badai apapun yang akan menerjang." Lanjut ibu membesarkan hati Chia.
Ibu pergi ke kamar mengambil sesuatu, lalu ia memberikan sesuatu itu pada Chia. Diraihnya tangan putri kesayangannya itu dan diletakkan dalam genggaman Chia.
"Apa ini bu?" Tanya Chia penasaran.
"Bukalah nak!" Kata ibu. Chiapun membuka genggamannya dan melihat sebuah kalung dengan liontin. Chia membuka liontin yang ternyata didalamnya ada foto ayah, ibu dan Chia saat bayi.
"Kalau suatu saat Chia rindu ayah ibu, berdoa ya nak. Semoga saja pemilik jagad raya ini mendengar doa doa kita untuk selalu berkumpul sampai di surganya nanti." Ibu berpesan.
"Iya bu." Kata Chia lirih.
"Bu! besok Chia mau ikut berlatih bela diri ya bu boleh kan?" Ucap Chia meminta izin.
"Memang nya berlatih dimana nak?" ibu ingin tahu
"Oke, yang penting Chia izin sama ayah juga ya!" balas ibu yang membuat Chia senang.
Setelah mendapat izin dari ayah dan ibu, keesokan harinya Chia pun pergi untuk mengikuti latihan bela diri di kampung sebelah, kali ini diantarkan ayah naik motor. sekalian ayah memastikan bahwa Chia benar-benar sampai ditempat latihan itu.
"Oke yah! sudah sampai, makasih ya yah." Kata Chia sambil menyalami tangan ayah.
"Sama-sama nak, hati-hati ya nanti pulangnya biar ayah jemput lagi." Sambung ayah.
"Gak perlu yah, pulangnya Chia naik ojek atau angkot saja, kasihan ayah capek, kan harus ke kebun lagi, Chia baik-baik saja kok yah." Lanjut Chia meyakinkan ayahnya.
"Okelah kalau begitu..." Sahut ayah.
Chia melangkah masuk ke tempat latihan bela diri, ia melihat sekiling, sambil tersenyum Chia merasa sangat antusias untuk segera mulai berlatih. Tak disangka pelatihnya bukanlah orang asing melainkan seseorang yang Chia kenal.
siapa kah dia?
*Jeng jeng jeng!
Ya, dia adalah seseorang yang sempat hadir dalam hidup Chia, bukan sebagai kekasih, cinta monyet dan lain sebagainya.
__ADS_1
Rupanya dia Jamal, anak ustadz Hasan yang juga guru ngaji Chia, dan keduanya memang sudah sama-sama kenal meski tidak begitu dekat, ya! kehadiran bukan berarti kedekatan kan? hehehe.
Saat bertemu pandang Jamal menyapa Chia dengan salam.
"Assalamu'alaikum..." Ucapnya seraya tersenyum.
"Wa'alaikumsalam, kak Jamal ya?" Kata Chia pura-pura menebak padahal memang sudah tahu.
"Iya tuan putri Chiara, saya Jamal." Kata pemuda itu. Chia pun tak bisa menahan tawa lepasnya, mendengar Jamal yang memang senang memanggil Chiara dengan sebutan tuan putri setiap bertemu.
Entah apa alasannya hampir setiap teman pria Chiara memanggilnya tuan putri. Mungkin wajah ayu, pembawaan yang ceria dan penuh kehangatan yang ada pada diri Chiara, atau mungkin saja hanya senjata para pria untuk menarik perhatiannya, huh entahlah. Hanya Jamal, Tuhan dan para pria itu yang tahu. Dasar pria!
Singkat cerita Chiara pun mulai berlatih setelah mendapat kostum bela diri yang diberikan Jamal. Dengan bimbingan dari Jamal Chiara terlihat antusias mengikuti setiap gerakan yang diajarkan padanya.
Jamal melihat memang ada potensi dalam diri Chiara untuk seni bela diri ini, hal itu terbukti dengan kelihaian Chia dan progres gerakan yang signifikan untuk pemula.
Beberapa jam berlalu, latihan pun selesai, semua orang bersiap untuk pulang termasuk Chiara. Saat hendak keluar menuju pintu, tiba tiba Jamal memanggil Chiara.
"Chia! semangat ya latihannya...nih minum." Jamal menyodorkan satu botol air mineral kemasan pada Chia. Dengan hanya tersenyum dan menganggukkan kepala Chiapun mengambil air mineral itu.
"Kamu pulang sama siapa? Tanya jamal.
"Emm tuh..." Chia menunjuk ke jalan yang ternyata ada angkot yang berhenti untuk menaikkan penumpang.
"Oh oke. Jadi gak mau kakak antar nih?" sambung Jamal.
"Ah nggak kak, mungkin bisa lain kali. Kasihan tuh Abang angkotnya sudah terlanjur berhenti." Balas Chia lagi.
"Oke kamu hati-hati" Kata Jamal perhatian.
"Oke kak terima kasih untuk hari ini, Chia pulang dulu ya."
"Assalamu'alaikum." Chia berpamitan.
"Wa'alakaikumsalam." Jamal menjawab.
Chia pulang diantarkan oleh sopir sejuta umat itu.
Jamal masih berdiri melihat ke arah angkot yang ditumpangi Chia sampai angkot itu luput dari pandangannya.
Tiba-tiba ada yang mendesak, rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi, ternyata Jamal sudah menahannya sejak tadi, ia pun segera berlari menuju toilet untuk membuang sesuatu itu. Ya, Jamal buang air kecil.
Hari yang menyenangkan.
__ADS_1