Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Hari pernikahan


__ADS_3

Episode 19


Hari ini genap satu bulan penantian, Chia dan Jamal akhirnya menikah.


Berbalut busana pengantin yang senada Chia dan Jamal tampak serasi, meski pesta pernikahan digelar sederhana, tak mengurangi rasa bahagia Kedua keluarga.


Kedua belah pihak keluarga sangat bersyukur akhirnya mereka bisa mempererat tali silaturrahim dengan terikatnya kedua putra putri mereka dalam ikatan suci pernikahan.


Semuanya berjalan lancar dan penuh khidmat, Kamar pengantin yang telah didekorasi selayak mungkin, kini dimasuki oleh kedua raja dsn ratu sehari itu.


Chia masih tidak menyangka bahwa sekarang dirinya telah sampai dititik ini, menjadi istri seseorang.


Meski sudah saling mengenal, mereka berdua masih tampak canggung dan malu-malu.


Seteleh membersihkan diri dari riasan dan berganti pakaian mereka pun duduk di tepi ranjang namun tak saling hadap-hadapan.


Jamal mencoba memahami sikap istrinya yang belum terbiasa dengan kehadiran dirinya dalam satu kamar.


Jamalpun mencoba membuka pembicaraan;


"Em dek! kamu..." Jamal tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa kak?" tanya Chia.


"Itu..." Jamal mengarahkan pandangan ke kepala Chia.


"Ih kakak yang jelas dong jangan ambigu gitu" Chia tertawa kecil.


"Gak mau buka kerudungnya?" kata Jamal sambil tertunduk.


"Maaf ya kak, tapi Chia belum siap" kata Chia membalas.


"Oh...oke gak apa" Jamal menjawab singkat.


"Kakak gak marah kan?" Chia bertanya ragu.


"Nggak kok." jawab Jamal lagi.


"Kamu gak bahagia ya nikah sama kakak?" tanya Jamal.


"Em kok kakak ngomong gitu? pernikahan kita aja baru dimulai kak, jadi aku belum bisa menyimpulkan. Tapi aku bersyukur akhirnya bisa mewujudkan impian ayah dan ibu." balas Chia.


"Oh bukan impian kamu?" kata Jamal sedikit kecewa.


"Nggak gitu kak, maksud Chia impian orangtuaku ya impian aku juga" Chia segera meluruskan.


Jamal menganggukkan kepala.


"Kalau kakak gimana?" tanya Chia.


"Kakak merasa jadi laki-laki paling beruntung, bisa menikah dengan gadis pilihan kakak yang ternyata juga impian kedua orang tua kakak." Lanjut Jamal lagi.


Chia tersipu malu.


Keduanya merasa begitu kaku sampai akhirnya,

__ADS_1


ceklek...


Lampu mati dan Chia menjerit, tidak disadari secara repleks ia memeluk Jamal, sebenarnya Chia tidak takut gelap hanya terkejut karena keadaannya secara tiba-tiba.


Jamalpun dengan sigap membalas memeluk istrinya itu dan mencoba menenangkannya.


Tiba-tiba suasana menjadi hening dan...bibir Jamal mulai mengecup kening, pipi dan berakhir dibibir Chia.


Bagi keduanya ciuman itu adalah yang pertama. Meski sempat risih akhirnya Chia menerima saja ciuman dari kekasih halalnya itu.


Jantung Chia berdebar kencang, napasnya pun sudah tak beraturan karena gerogi, sementara Jamal menyembunyikan senyumnya sambil berbunga-bunga.


Perlahan Jamal menyentuh kepala Chia, sambil memegang kerudung yang dikenakan Chia.


"Dek apa boleh?" tanya Jamal memberi isyarat untuk membuka kerudungnya.


Chia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda memberi izin.


Meski keadaannya masih gelap karena mati lampu, namun perlahan mereka bisa saling melihat wajah mereka.


Bret....


Lampu pun akhirnya menyala. Jamal terpukau melihat kecantikan istrinya, kini tanpa hijab dengan rambut yang terurai panjang.


Chia menarik dirinya karena merasa malu, namun tangan Jamal dengan cepat meraih tangan Chia dan menuntunnya ke dalam pelukan.


Jamal membelai rambut istrinya yang panjang dan berbau harum, ia memeluk erat tubuh istrinya sambil terus mengucap syukur dalam hatinya.


Chia hanya bisa pasrah saja, menerima pelukan dan belaian dari laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu.


Jamal menatap dalam-dalam wajah wanita yang disayanginya itu, Ia tersenyum melihat polosnya wajah Chia yang sedang terlelap.


Jamal beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah beberapa menit Jamalpun kembali ke tempat tidurnya dan mendapati istrinya tidak ada.


Ia dilanda kecemasan, kemanakah kiranya istri tercintanya itu?


Saat hendak membuka pintu! "huh" Jamal menarik napas lega, rupanya istrinya tidak hilang, Chia hanya ke dapur untuk mengambil air putih, karena ia terbiasa terbangun untuk minum.


Melihat ekspresi Jamal, Chia merasa heran.


"Kakak kenapa? kok mukanya panik gitu?" tanya Chia mengerutkan dahinya.


"Hehe...aku kira istriku hilang" jawabnya polos.


"Ya ampun kak, gak masuk akal dch..." kata Chia.


"Kakak belum tidur ya dari tadi?..." lanjut Chia.


"Belum dek, kakak masih belum puas mandangin wajah cantiknya istri kakak." Gombal Jamal.


"Ih kakak makin ngawur aja, Chia kan jadi malu." Ucap Chia tersipu.


"Lho kok ngawur? nggak dong dek, kan kamu memang cantik" sangkal Jamal.

__ADS_1


"Ya udah iya, terserah kakak aja dech." Chia kembali berbaring.


Jamal memeluk Chia dari belakang, dan tiba-tiba menghujani kening pipi dan bibir Chia dengan ciuman yang membuat Chia tak bisa berkutik.


Tangan Jamal perlahan meraba tubuh Chia dan akhirnya melepas satu persatu kancing piyama yang dikenakan Chia dan hujanpun turun seolah mendukung suasana malam pertama mereka.


"Kak pelan-pelan...aku gak bisa napas" kata Chia disela-sela cumbuan Jamal.


"Maaf sayang kakak gak bisa ngontrol..." Jamal menghentikan aksinya itu


"Oke sekarang pelan-pelan, apa boleh lagi? " tanya Jamal.


Chia diam menundukan pandangannya.


Diamnya Chia dianggap sebagai persetujuan oleh Jamal, akhirnya Jamal melanjutkan cumbuannya, namun kali ini dengan penuh kelembutan.


Malam semakin pekat, ditambah hujan yang menambah syahdu suasana di kamar pengantin itu.


Dan...


"Aaa..." Chia meringis kesakitan.


Jamal akhirnya menyesuaikan gerakannya agar istrinya tak kesakitan lagi.


Kamar dan seisinya pun menjadi saksi sempurnanya malam pertama perkawinan Chia dan Jamal.


Jamal merasa sangat bahagia mendapatkan apa yang diimpikan setiap laki-laki di malam pernikahannya.


Sementara Chia terbaring lemas, terkulai tidak berdaya karena ulah suaminya.


Chia terus bersembunyi di dalam selimut, ia merasa malu dan aneh.


Namun Jamal paham akan hal itu, Jamal pun memeluk lagi istrinya itu dengan erat dan berterima kasih karena istrinya sudah bersedia melayani suaminya untuk pertama kalinya.


Chia hanya terdiam seribu bahasa.


Keesokan paginya, saat shubuh menjelang. Tiba-tiba Jamal menginginkannya lagi, Chia yang menyadari kewajibannya pun akhirnya mempersilakan suaminya dengan suka rela.


Mereka melakukannya lagi dan lagi...Kali ini Chia sudah tidak terlalu k. Iapun turut menikmati percintaannya dengan pasangan halalnya itu.


Sampai berakhir di kamar mandi, mereka mandi bersama dan menunaikan kewajibannya sebagai hamba.


Untuk pertama kalinya mereka sholat berjamaah sebagai sepasang suami istri.


"Makasih ya sayang, akhirnya sekarang kamu menjadi miliku seutuhnya" ucap Jamal sambil memeluk istrinya seperti tak bosan-bosan.


Tak terasa waktu mengantarkan mereka pada penghujung malam yang sangat indah, rasanya aneh tapi semua ini terjadi.


Siklus hidup memang kadang seunik itu, ada yang datang dan pergi, singgah dan menetap. Apapun bagian kita hari ini, semoga dapat kita terima dengan ikhlas.


Seperti halnya Chia yang menyadari dengan penuh, bahwa menerima takdir mampu menjauhkan prasangka yang tak baik pada sang maha pencipta.


Dengan menerima takdir sebagai konsekuensi dari hidup dan bentuk ikhlas paling bermakna jelas hidup akan lebih mudah dilalui.


Hem...senangnya.

__ADS_1


__ADS_2