Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Misi yang gagal


__ADS_3

Episode 36


Saat Nesa hendak melepas kancing terakhir bajunya, Jamal mengaduh kesakitan, hal itu membuat fokus Nesa teralih.


"Kenapa sayang? ada yang sakit ya" Tanya Nesa yang mendengar Jamal mengaduh.


Jamal hanya mengangguk dan menggerak-gerakan tangannya, bermaksud memberi Nesa kode, supaya Nesa melepaskan ikatan tangan Jamal.


Tanpa curiga Nesa segera berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Jamal itu.


Saat tali mulai terlepas, Jamal segera meraih lakban yang ditaruh didekatnya, rupanya anak buah Nesa melakukan kecerobohan, dengan tidak menyimpan lakban itu dengan hati-hati.


Perlahan Jamal memegang tangan Nesa, dan membuat Nesa terduduk di kursi yang semula Jamal duduki.


Nesa yang mengira Jamal akan memberikan cumbuan mesra padanya, menurut saja saat tangannya ditarik perlahan oleh Jamal.


"Ya Allah, maafkan, aku terpaksa melakukan hal ini pada Nesa. Semoga Engkau ampuni aku dan juga dia." Doa Jamal lirih dalam hatinya.


Saat Nesa memejamkan matanya, mengharap belaian kasih dari Jamal, tanpa Nesa  sadari Jamal telah mengikat kedua tangan Nesa, persis seperti posisi Jamal sebelumnya.


Kemudian Jamal mengambil pakaian Nesa yang tercecer dilantai dan menutupkannya ke tubuh Nesa, termasuk menutupkan hijab yang Nesa lepaskan dari kepalanya.


Menyadari dirinya tak juga dicumbu oleh Jamal, Nesa membuka matanya yang terpejam, dan mendapati dirinya sudah seperti seorang tawanan.


Dengan sigap Jamal segera merekatkan lakban ke mulut Nesa, yang sudah mulai akan berteriak.


"Maaf ya Nes, aku harus melakukan ini. Karena kali ini kamu sudah sangat keterlaluan, aku tidak kenal siapa kamu sebelumnya, kecuali sebagai teman istriku Chiara. Tapi hari ini, aku berhasil mengenali kamu. Bukan sebagai teman apalagi sahabat, melainkan sebagai musuh besar dalam rumah tanggaku dan Chia." Tutur Jamal, saat merekatkan lakban di mulut Nesa.


Nesa sudah tidak berdaya kini, selain raganya yang tertawan, hati Nesa pun turut berdesir nyeri, mendengar penuturan Jamal.


Lagi-lagi bukan cinta yang Nesa dapatkan, melainkan harga diri yang semakin rendah dan terinjak oleh ulah kejinya sendiri.


Jamal melangkah keluar dengan langkah ringan, tentu saja Jamal menyadari masih ada dua rintangan yang harus ia taklukkan, yaitu kedua anak buah Nesa, yang menjaga pintu diluar.


Krek, krek ,krek.


Suara pintu rumah tua itu terdengar, saat Jamal mulai mbukanya.


Tanpa takut dan ragu, Jamal mendekati kedua penjaga itu.


"Eh mau kemana loe?" Tanya salah satu anak buah Nesa tersebut.


"Santai bro, bos kalian aja udah bebasin saya, masa kalian mau nahan saya." Kata Jamal dengan santainya.

__ADS_1


"Oh iya juga ya." Ucap salah seorang dari mereka.


"Bro, loe abis mantap-mantap ya, sama bos kita?" Celetuk salah seorang anak buah Nesa.


Jamal tersenyum pada orang itu, dan mengangkat sebelah alisnya, seolah mengiyakan pertanyaannya itu.


Dengan bodoh dan ceroboh, kedua anak buah Nesa itu malah sibuk menanyai Jamal, mengenai hal-hal yang tidak penting.


Tanpa menyadari bahwa di dalam, ada bosnya yang sudah terikat seperti seorang tawanan.


"Bro, kata bos kalian, kalian suruh antar saya ke mobil saya dulu. Setelah itu, kalian boleh balik lagi kesini." Tutur Jamal mengelabuhi dua penjahat amatiran itu.


"Yang bener loe?" Bentak salah seorang dari mereka.


"Eits, santai dong bro, gak mungkinlah saya bohong. Kan habis itu tadi." Jamal mengerlingkan matanya.


Dan kedua penjahat berotak ngeres itu langsung menjawab.


"Mantap-mantap! Hahaha." Mereka tertawa.


"Oke, jebakan berhasil." Kata Jamal dalam hatinya.


Benar saja, setelah percakapan tidak berarti itu, kedua anak buah Nesa mengantarkan Jamal ke mobil yang terparkir di sebuah jalan, dimana mereka menghadang Jamal dan membawanya ke tempat penyekapan.


Jamal segera mengemudikan mobilnya itu, dengan kecepatan lumayan tinggi. Hari ini ia putuskan untuk pulang saja  menemui istrinya.


Jamal khawatir terjadi apa-apa juga dengan Chia di rumah, mengingat ulah nekad Nesa, yang mungkin saja terjadi pada Chia.


Sesampainya di rumah, Jamal segera masuk, dan mendapati istrinya yang tampak resah dengan sebuah ponsel dalam genggamannya.


Tanpa berkata-kata, Jamal langsung memeluk Chia dengan erat, begitupun Chia yang membalas pelukan suaminya itu sama eratnya.


Sampai beberapa menit lamanya mereka saling memeluk, barulah setelah mereka saling melepas pelukannya, Chia mulai kritis menanyai Jamal.


"Kakak kemana? Orang kantor tadi telepon aku, katanya kakak belum sampe disana?" Tanya Chia menunjukkan kekhawatirannya.


"Ceritanya panjang sayang, kakak juga gak nyangka bakalan ada peristiwa sekonyol ini." Kata Jamal.


Mereka mulai duduk di sofa ruang tamu untuk mengobrol.


"Lebih baik kakak kabarin orang kantor dulu dech kak, kasihan kayaknya mereka juga khawatir. Soalnya kan kakak gak ada izin atau mengirimkan pesan sebelumnya." Lanjut Chia.


"Oke sayang, kakak kabarin kantor dulu." Ucap Jamal.

__ADS_1


Jamalpun segera mengabari kantornya, bahwa hari ini ia tidak masuk kerja, karena ada kendala dengan mobilnya saat ia dijalan. Dan kantornya pun mengiyakan.


Kembali pada obrolan Chia dan Jamal.


Jamal menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya hari ini pada Chia, tanpa sedikitpun terlewat.


Chia yang memgetahui hal itu, merasa geram sekaligus tak habis pikir pada Nesa.


Namun dengan sangat Jamal memohon, untuk tetap hati-hati pada Chia, dan juga menjaga jarak dengan Nesa. Karena Jamal khawatir wanitu itu akan semakin nekad lagi.


Kembali pada keadaan di gedung tua, dimana Nesa kini tertawan.


Kedua anak buah Nesa itu masuk dan terkejut melihat kedua tangan bosnya kini terikat, dan mulutnya tertutup lakban.


"Emh emh" kata Nesa yang tak bisa bicara sebab mulutnya terkunci lakban.


"Bos? kok bisa begini sih, bukannya habis mantap-mantap?" Ucap salah seorang anak buah Nesa.


"Eh itu bukain dulu dungu." Kata seorang temannya.


"Hehe iya, lupa gue bro." Kata si cecunguk itu.


Merekapun melepaskan ikatan dan juga lakban yang merekat di mulut Nesa dengan hati-hati.


"Dasar bodoh kalian." Maki Nesa pada kedua nak buahnya itu.


"Maaf bos kirain kan bos lagi mantap-mantap, jadi kita gak mau ganggu." Jawab keduanya sambil saling menyenggol.


"Apanya yang mantap-mantap? dasar cecunguk. Gak bisa diandalkan." Nesa masih memaki anak buahnya dengan perasaan yang sangat kesal.


"Maafin kita bos." Ucap mereka.


"Ah! percuma aja ya saya udah bayar kalian mahal. Ngurus orang satu aja kalian gak becus." lanjut Nesa lagi.


Kedua anak buah Nesa itupun hanya tertunduk mendengarkan Nesa mengomel.


"Balik badan." Tegas Nesa singkat.


"Iya bos." Jawab mereka, seraya membalikkan badannya.


Nesapun segera membenahkan pakaian yang semula hanya menutup tubuhnya, tapi belum terpasang sempurna, karena Jamal hanya menutupkannya begitu saja.


"Sial!" Pekik Nesa dengan amarah yang sangat menggebu.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, misi Nesa gagal lagi.


__ADS_2