
Episode 28
Kala itu Nesa dan Chia mengobrol ;
"Chia! boleh gak sih kalau aku cerita sesuatu sama kamu? Oya kamu jangan panggil aku mbak dong, kita seumuran kok, terus bahasanya aku kamu aja biar lebih akrab. Kalau pake bahasa 'saya' gitu kayaknya formal banget." Ujar Nesa.
"Boleh banget dong, mau cerita apa? oke aku panggil kamu Nesa aja." Jawab Chia memberikan senyuman hangatnya.
"Jadi aku mau bilang...!" Nesa terdiam untuk beberapa saat, mengumpulkan keberanian untuk menceritakan hal yang paling melukai hati dan perasaannya itu pada Chia.
"Apa?" Tanya Chia yang sudah siap mendengarkan keluh kesah Nesa. Orang yang dengan lapang dada ia terima sebagai teman, meski pengalaman tidak mengenakkan tentang Nesa pernah Chia alami.
"Dio pergi ninggalin aku dan juga memutuskan hubungannya dengan aku. Walaupun aku tahu hubunganku dengan Dio hanya bertepuk sebelah tangan, Dio melakukannya hanya karena sebuah tuntutan dari paman dan bibinya, juga atas permintaan orang tuaku. Tapi menerima keputusan Dari Dio, walau semua itu masuk akal, tetap saja aku merasa hancur. Hatiku belum sanggup menerima kenyataan ini Chia." Tutur Nesa berkisah.
Air mata Nesa mengalir deras membasahi pipinya, kali ini ia sudah tidak memperdulikan gengsinya lagi. Ia benar-benar meluapkan kesedihannya didepan Chia.
Chia menyimak cerita Nesa dengan seksama. Sebagai sesama wanita, Chia paham betul bagaimana perasaan Nesa. Chiapun memegang tangan Nesa yang masih terus menangis, tanpa bersuara sepatah kata pun.
Chia hanya menatap iba dan turut berempati pada wanita malang itu.
Nesa memeluk Chia dan tersedu dipundak Chia. Chiapun membalas pelukan Nesa dan mengusap punggung Nesa untuk menenangkannya.
Setelah Nesa merasa lebih tenang dan lega, ia pun melepaskan pelukannya pada Chia. Chia memberi senyum yang mengisyaratkan Nesa untuk tetap kuat menerima kenyataan pahit ini.
"Terkadang, kita memang harus merasakan sakit terlebih dulu, untuk kemudian mendapatkan kebahagiaan asalkan kita mau bersabar.
Apa yang kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah dan juga sebaliknya." Tutur Chia berharap Nesa akan lebih ikhlas dan berhenti mengejar sesuatu yang membuat dirinya semakin terluka.
Kemudian Chia mengutip salah satu makna ayat dalam kitab suci Al-Quran.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Al-Baqarah 2 : 216)."
Hati Nesa tersentuh mendengar apa yang Chia sampaikan.
__ADS_1
"Jangan pernah putus asa dari Rahmat dan pertolongan Allah. Dia punya jawaban dan jalan keluar terbaik dari setiap masalah yang kita hadapi" lanjut Chia lagi.
Entah ada keajaiban apa? tapi mendengarkan apa yang Chia sampaikan, membuat hati Nesa jauh lebih tenang.
"Jadi menutur kamu aku harus gimana?" Tanya Nesa meminta saran dari Chia.
"Aku gak punya solusi apapun tentang ini." Jawab Chia yang membuat Nesa menunduk mengerutkan kening tanda kecewa.
"Tapi Allah punya!" Lanjut Chia lagi, dan membuat Nesa mengangkat wajahnya menatap Chia.
"Serahkan segala hal yang tidak mampu kita jangkau, hanya kepada Allah. Karena semua yang dalam genggaman Allah, mustahil akan terlepas." Ucapan Chia ini sangatlah benar. Selama ini Nesa menyadari bahwa dirinya telah sangat jauh berpaling.
"Aku gak bermaksud menggurui kamu. Tapi sebagai sesama wanita, aku paham apa yang kamu rasakan, dan aku hanya bisa mengingatkan kamu, Karena dengan izin Allah juga akhirnya kita berteman." Tutur Chia yang khawatir Nesa akan tersinggung dan merasa digurui.
"Nggak Chia, aku gak merasa digurui kok. Aku justru seneng dan merasa diperdulikan, semua yang kamu bilang itu bener Chia. Aku terlalu egois mempertahankan sesuatu yang seharusnya aku lepaskan, akhirnya aku terluka oleh cengkraman ku sendiri." Nesa tersenyum sembari menghela napas dalam.
"Jangan sedih lagi ya! kalau Allah membuat hati kita patah, mungkin Allah sedang cemburu sama kita karena maksiat yang kita lakukan atau karena kita terlalu banyak mengingat manusia dibanding mengingat Allah." Chia menambahkan sembari tersenyum melihat Nesa yang kini mulai menerima.
"Makasih ya Chia. Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah bunuh diri karena gak kuat nanggung semua ini." Kata Nesa tersenyum.
Chia pun menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Udah ah nangis terus dari tadi." Kata Chia menggoda Nesa, dan Merekapun tertawa.
Dari percakapan itu membuat Nesa dan Chia semakin akrab seperti layaknya sahabat yang sudah lama kenal.
"Laper gak habis nangis?" Tanya Chia masih dengan nada meledek.
"Hehe, iya laper juga ya kebanyakan nangis." Ucap Nesa mengiyakan sambil tertawa kecil.
"Biar aku tebak, pasti kamu belum makan kan dari kemarin?" Chia meledek Nesa sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Nesa, dan mengangkat alis mengerlingkan matanya.
"Hahaha ah kamu ledekin aku terus, tapi bener sih aku emang belum makan." Jawab Nesa.
"Nah kan bener, ya udah gimana kalau kita masak?" Chia megajak Nesa memasak.
__ADS_1
Dengan antusias Nesapun menyetujuinya. Mereka memasak ayam goreng, sayur sup dan sambal. Chia mengajari Nesa yang memang tidak bisa dan belum pernah memasak.
Kegiatan itu membuat Nesa melupakan sejenak rasa sakit hatinya, sesekali Chia menertwakan Nesa yang takut terciprat minyak panas saat belajar menggoreng ayam.
Sungguh menyenangkan. Ternyata selama ini Nesa terlalu terpaku mengejar cinta Dio yang justru semakin menjauh. Hingga ia lupa bahwa ada hal lain yang juga menyenangkan dalam hidup ini.
Hal yang tak perlu menjadikan hati dan persaan Nesa hancur, luluh berserakan.
Selesai memasak, Chia mencuci perkakas yang kotor, sedangkan Nesa membawa dan menata makanan yang sudah mereka masak diatas meja makan.
Setelah itu Chia dan Nesa menyantap makanan hasil masakan mereka berdua.
"Emm enak banget" Ujar Nesa saat mencicipi makanannya.
"Enak kan? makan yang kenyang biar senang". Tutur Chia yang melihat ekspresi bahagia diwajah Nesa.
Tanpa sungkan Nesa melahap makanannya dengan cepat, Chia tertawa geli melihat Nesa.
"Pelan-pelan nanti kamu tersedak" Ujar Chia sembari tertawa.
"Hehe, habisnya enak banget sih." Kata Nesa sambil terus makan.
"Makanan yang enak dan keadaan perut yang lapar, emang klop banget sih" Kata Chia yang disambut tawa oleh Nesa.
Makan pun selesai mereka lakukan.
"Alhamdulillah kenyang banget" Ucap Chia sembari menumpuk piring kotor dan hendak ia taruh di dapur.
"Eh biar aku yang cuci." Kata Nesa menahan Chia.
"Gak usah ah, masa tamu disuruh cuci piring " Kata Chia melarang.
"Please, boleh ya! kan kamu gak nyuruh, tapi aku mau belajar" ucap Nesa memohon.
" Ya udah dech kalau kamu maksa, jadi enak aku haha" Celetuk Chia.
__ADS_1
Hari itu menjadi hari yang cukup berbeda bagi Nesa. Ia senang mengenal Chia yang ternyata menjadi satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesah Nesa saat itu.