
Episode 29
Bulan demi bulan berlalu, keakraban diantara Chia dan Nesa masih terus terjalin. Tak jarang Nesa datang ke rumah Chia atau mengajak Chia keluar dan meminta pada Chia, untuk mengajarinya tentang berbagai hal.
Bahkan Nesa mulai belajar bagaimana menutup aurat dan kini ia berpakaian lebih tertutup meski belum terpikir untuk mengenakan hijab atau kerudung untuk menutupi rambutnya.
Dret dret dret!
Bunyi ponsel Chia, yang ia setel dengan mode getar kala itu.
"Assalamu'alaykum Chia, hari ini aku ke rumah kamu ya. Kemarin mau bawain kamu sesuatu, tapi aku lupa bawa hehehe." Sebuah pesan singkat dari Nesa.
"Wa'alaykumsalam, wah apa tuh? boleh dong kamu dateng aja Nes, hari ini aku mau masak rendang." Balas Chia.
"Asiiik". Balas Nesa singkat.
Chia hanya tersenyum melihat balasan pesan dari Nesa.
Karena hari itu Jamal sedang libur kerja, maka Chia memberi tahu suaminya bahwa temannya akan datang.
"Kak! kakak...!" Chia memanggil Jamal sembari mencari-cari dimana keberadaannya.
"Iya sayang." Terdengar suara Jamal yang menjawab dari dapur.
Chia yang berada di ruang tamu itupun segera menuju ke dapur mendatangi Jamal.
"Kakak lagi apa." Chia memeluk Jamal dari belakang.
"Manja banget sih sayangnya kakak, Kaka lagi buat teh manis hangat. Kamu mau? Kata Jamal yang sedang melarutkan gula di cangkir tehnya.
"Kok gak minta bikinin aku?" Kata Chia bertanya sembari mengerutkan dahi dan bertutur dengan manja.
"Gak apa-apa sayang, tadi kakak lihat kamu lagi asik baca pesan di ponselmu." Ujar Jamal membalikan badan dan membalas pelukan Chia yang masih memeluk Jamal dari belakang. sekarang merekapun berpelukan dengan posisi berhadapan.
Jamal mendaratkan beberapa kecupan dikening dan pipi Chia.
"Tadi aku baca pesan dari Nesa kak, dia bilang mau kesini antar sesuatu buat aku." Kata Chia sambil tetap memeluk Jamal.
"Oh gitu, terus? " Kata Jamal yang mendengarkan dengan setia penuturan istri kesayangannya itu.
"Terus aku udah bilang boleh, sekarang mau minta izin sama kakak hehehe. Lanjut Chia.
"Kok kebalik sih sayang? seharusnya kamu minta izin ke kakak dulu, baru jawab temen kamu boleh atau nggaknya." Ucap Jamal dengan penuturan yang sangat lembut, sehingga tidak membuat istrinya tersinggung.
"Yaah. maapin Chia ya kak, tapi kakak gak marah kan? soalnya biasanya kan Nesa Dateng pas hari kerja kakak." Ujar Chia sembari melepaskan pelukannya.
Jamal tersenyum dan mengelus kepala Chia.
"Boleh sayang, gak apa-apa. Nanti kakak diam di kamar aja."Jawab Jamal membuat Chia senang.
"Makasih kakak sayang, cup" Chia mencium pipi kiri Jamal, kemudian Chia hendak berlari menuju ruang tamu, tapi tangan Jamal menahannya.
"Apa?" Kata Chia merasa heran.
__ADS_1
"Satu lagi dong kiss nya, nanti kalau yang sebelah ngerasa iri gimana." Ucap Jamal sambil menunjuk pipi sebelah kanannya meminta untuk dicium.
"Ah kakak." Ujar Chia tersenyum seraya memberikan satu ciuman lagi di pipi sebelah kanan Jamal.
"Teh nya mau nggak?" Tanya Jamal yang kegirangan dicium oleh istrinya.
"Nggak ah, buat kakak aja." Chia menggelengkan kepalanya.
"Oke" Jawab Jamal singkat.
Mereka pun berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa, sembari Jamal menikmati tehnya.
Beberapa menit kemudian;
"Aku masak dulu ya kak." Tutur Chia beranjak dari sofa tempat ia duduk.
"Iya sayang, kalau kangen kesini aja ya." Goda Jamal sambil menepuk kedua paha yang biasa dibuat bantal saat Chia sedang tiduran manja.
"Ih genit banget sih kak, gombal." Ucap Chia sambil berlalu.
Jamal terkekeh melihat Chia.
Chia pun menyibukkan diri memasak di dapur, hari ini ia memasak menu rendang.
Beberapa waktu kemudian, masakannya sudah siap. Chia langsung merapikan dapur yang berantakan setelah memasak.
Tiba-tiba Jamal menghampiri dan memeluk Chia dari belakang, dengan sebelah tangan yang memegang cangkir kotor bekas minum teh.
"Nitip satu cangkir boleh?" Kata Jamal sambil menaruh cangkir nya.
"Iya kak, nanti Chia cuci." Jawab Chia yang masih fokus mencuci perkakas dapur nya.
"Makasih cantik" Ujar Jamal dan berlalu meninggalkan Chia di dapur.
"Hmm" Jawab Chia.
Seluruh makanan telah siap tersaji di meja makan. Chia menunggu kedatangan Nesa untuk sekalian mengajaknya makan bersama.
"Teman kamu jadi datang gak sayang?" Kata Jamal sembari menarik kursi untuk ia duduki.
"Jadi kak, paling sebentar lagi juga datang." Jawab Chia.
"Kakak udah laper? Tanya Chia pada Jamal.
"Hehe lumayan sih, apalagi lihat masakan kamu yang menggoda. Cacing diperut kakak jadi pada demo nih." Canda Jamal sambil memegangi perutnya.
"Ya udah, kakak makan duluan aja kalau gitu." Kata Chia yang langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih dan daging rendang yang terhidang di meja makan.
"Boleh? kamu gak apa-apa kata tinggal makan duluan." tanya Jamal.
"Boleh dong, masa orang udah laper suruh nunggu." Jawab Chia sambil menyuguhkan makanan yang ia ambilkan untuk Jamal.
Jamal tersenyum senang dan langsung menyantap makanan hasil masakan istrinya itu.
__ADS_1
"Gimana kak? enak gak?" Tanya Chia menunggu tanggapan Jamal.
"Ini setara sama masakan koki profesional, bahkan lebih enak karena dimasak dengan cinta." Jawab Jamal yang tampak lahap menghabiskan makanannya suapan demi suapan.
Jamal memang selalu pandai membuat istrinya merasa senang. Sebenarnya Jamal bisa saja menunggu untuk makan bersama Chia, tapi karena Nesa akan datang, Jamal memilih makan lebih dulu untuk menghindari pertemuan langsung dalam satu meja, dengan wanita selain istrinya.
Setelah selesai makan, Jamal beralasan bahwa dirinya mengantuk dan langsung masuk ke kamar.
"Tumben, biasanya kak Jamal kan paling anti tidur setelah makan." Batin Chia merasa heran.
Lima menit kemudian, seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam. Tidak salah lagi yang datang memang Nesa.
Chia menjawab salam, membukakan pintu dan mempersilakan Nesa masuk.
"Hem harum banget, pasti masakannya enak." Kata Nesa sambil mengendus aroma masakan yang tercium hingga ke ruang tamu.
"Iya dong, yaudah kita langsung makan aja." Ucap Chia mengajak Nesa menuju meja makan.
"Terus ini gimana?" Kata Nesa sembari mengangkat dan menunjukan sebuah paper bag yang ia bawa.
"Taruh di sini aja dulu." Chia mengambil dan menaruh paper bag tersebut di sofa, dan merekapun pergi menuju meja makan.
Seperti biasa, Nesa selalu antusias dan memberi ekspresi yang menunjukkan bahwa ia menyukai masakan teman akrabnya itu.
Makan pun selesai, dan mereka merapikan bersama piring dan sisa makannya. Kemudian kembali ke sofa untuk melihat apa yang Nesa bawakan untuk Chia.
"Apasih isinya?" Kata Chia tak sabar menunggu Nesa yang sedang membuka isi paper bag tersebut.
"Nah ini dia, jadi kemarin aku beli empat buah kerdung, dua warna hitam dan dua lagi warna krem." Kata Nesa yang sudah mengeluarkan barang yang ia sebutkan.
"Iya, terus?" Kata Chia penuh tanya.
"Buat kamu dua, buat aku dua. Satu hitam satu krem, jadi kita samaan. " Jawab Nesa antusias.
Chia masih ternganga, ia tidak percaya. Apa benar temannya itu sekarang akan memakai kerudung? dalam batin Chia bertanya-tanya.
"Kenapa kok bengong." Kata Nesa melihat ekspresi Chia.
"Nggak apa-apa. Aku gak nyangka aja, beneran nih kamu mau pakai kerudung sekarang? " Ucap Chia dengan mata berkaca-kaca.
"Apalagi yang aku tunggu Chia, kamu kan yang ngajarin aku, nasehatin aku untuk lebih menghormati diri sendiri. Sampai akhirnya aku ada dititik ini, dimana aku mulai terbiasa dengan pakaian yang lebih tertutup dan ternyata aku nyaman. Sekarang aku mau kamu ajarain aku, gimana caranya pakai kerudung." Papar Nesa.
"Alhamdulillah. Allah memberikan Taufik dan hidayahnya pada siapa yang Dia kehendaki." Kata Chia, merekapun saling berpelukan dan menangis terharu.
Chia pun segera memakaikan kerudung itu pada Nesa, sembari membagikan pengalaman dan cara memakai kerudung pada Nesa.
Nesa tampak lebih anggun dan cantik dengan hijab dikepalanya.
Masih dalam suasana bahagia dan haru. Chia bersyukur akhirnya Nesa mulai berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dan kabar baiknya lagi, Nesa sudah mulai melupakan masalalu kelam yang pernah ia lakukan dengan Dio.
"Terimakasih ya Allah. untuk setiap kesakitan yang menjadikanku lebih kuat, Untuk setiap taubat yang mengikis kesombongan diri, untuk semua pengalaman buruk yang membawaku pada kebaikan dan untuk satu sahabat yang menemaniku menemukan jati diriku yang sempat hilang." Nesa berdoa dan mengucap syukur dalam hatinya, atas semua pelajaran hidup yang ia dapatkan.
Sekarang Nesa mengerti, bahwa memilih untuk menepi diluasnya harapan, lebih baik dari pada karam dilautan keterpurukan yang dalam.
__ADS_1