
Episode 40
Chia dan Jamal sudah berada di rumahnya kini, setelah dua hari sebelumnya sempat di pondok pesantren, untuk membantu diacara pernikahan Dio dan Bunga.
Terlihat Chia yang begitu santai, merebahkan tubuhnya di sofa, tempat biasa Chia dan Jamal menghabiskan banyak waktu bersama.
Dari celah pintu kamar, Jamal mengintip keluar. Mencari-cari dimana kiranya istri tercintanya itu berada. Namun mata Jamal tak jua menemukan apa yang ia cari.
Akhirnya Jamal bergegas keluar untuk mencari Chia. Benar saja, Chia sedang terkapar nampak masih ada sisa-sisa lelah pada diri Chia.
Jamal tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu polos, gemas rasanya ingin sekali Jamal menggigit pipi itu dengan keras, namun khawatir istrinya akan kesakitan.
Jamal pergi ke dapur untuk membuat sesuatu.
"Cantik! minum coklat panasnya dulu nih, kasian istri kakak. Capek ya?" Kata Jamal membawakan satu cangkir coklat panas untuk Chia, dan juga satu cangkir teh hangat untuk dirinya sendiri.
Dengan sedikit malas karena lelah, Chia bangun dan ia tampak sumringah .
"Wah coklat panas, makasih ya kak." Ucap Chia senang.
"Iya sayang." Jawab Jamal sembari tersenyum dan mengelus kepala Chia.
Sambil menunggu coklat panasnya menghangat, agar mudah diterima lidah ketika diminum, Chia menghirup-hirup aroma coklat kesukaannya itu.
"Hem...enaknya." Kata Chia setiap kali menghirup aroma coklat itu.
"Suka banget ya?" Tanya Jamal yang menyaksikan tingkah istrinya.
"Sukaaaa bangeeeet." Jawab Chia sambil menyunggingkan senyuman.
"Kalau sama kakak?" Jamal mulai menggodai istrinya.
"Cup, cup, cup." Chia menaruh cangkir minumannya, dan mendaratkan tiga kecupan, dikening, pipi dan bibir Jamal.
Jamal terperangah senang.
"Satu lagi." Kata Jamal seraya menunjuk ke pipi kanannya.
"Cup." Chia memberikan satu kecupan lagi tanpa protes terlebih dahulu.
"Makasih cantik." Kata Jamal tersenyum puas.
"Sama-sama ganteng." Balas Chia sembari tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
Coklat panas Chia pun sudah hangat, dan sudah bisa Chia minum dengan nyaman.
"Ih ada kumisnya tuh?" Ucap Jamal menunjuk bagian sisi bibir Chia, yang ada sisa coklatnya.
"Mana?" Kata Chia.
__ADS_1
Tiba-tiba Jamal menyapukan lidahnya ke bagian bibir Chia, dan membersihkan sisa coklatnya.
"Manis ya ternyata." Celetuk Jamal.
"Apanya?" Kata Chia yang masih sedikit tertegun.
"Bibirnya." Jawab Jamal tanpa beban.
"Tuh kan kakak, nyebelin." Kata Chia sembari memukul manja dada Jamal.
Jamal tertawa puas seperti biasanya.
"Awas ya kalau macem-macem." Ancam Chia sembari cembrut.
"Gak apa-apa dong, kamu kan istri kakak." Jawab Jamal tak mau mengalah.
"Ih kakak, bisa ngalah gak sih sama perempuan." Teriak Chia manja yang justru membuat Jamal semakin gemas.
"Nggak bisa." Kata Jamal sembari terus tertawa dan meledek Chia dengan gerakan bibirnya.
Chia memalingkan wajahnya kesal.
"Iya sayang iya, kakak minta cium ya udah godain kamu.
"Kok cium?" Protes Chia.
"Eh salah, kakak minta maaf ya sayang." Kata Jamal meluruskan kata yang salah ucap dengan sengaja.
"Tapi sayang kan?" Kata Jamal lagi, seolah tak henti-hentinya menggodai istrinya itu.
"Kakaaak!" Chia langsung naik ke pangkuan Jamal, dan menghujani Jamal dengan ciuman yang bertubi-tubi, mulai dari kening pipi dan bibir berulang kali, berharap Jamal akan berhenti menggodainya.
"Ampun gak? ampun gak?" Kata Chia yang masih terus menciumi suaminya itu.
Jamal tak diberi kesempatan untuk menjawab, karena setiap kali Jamal ingin mengucapkan sebuah kata, Chia langsung memberi ciuman dibibir Jamal.
Sampai akhirnya Jamal merasa kewalahan dengan istrinya.
Melihat Jamal yang sudah tidak berkutik, Chia menghentikan ulahnya.
"Iya sayang, kakak minta ampun." Kata Jamal dengan napas tersengal.
Chia pun merasa bangga karena telah memenangkan babak keusilan kali ini.
"Untung aku juga masih capek, kalau nggak habis kamu dek." Batin Jamal yang merasa gemas dan terpancing gairah oleh istrinya itu.
"Chiara dilawan." Kata Chia sembari menggerak naikkan sebelah alisnya kemudian turun dari pangkuan Jamal.
Jauh dilubuk hati Jamal, ia sedang melangitkan syukur nya pada sang maha cinta, karena telah senantiasa menorehkan bahagia dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Kakak, aku laper." Rengek Chia seperti anak kecil.
Tak perlu menunggu waktu lama atau bertanya, Jamal langsung pergi ke dapur untuk membuatkan Chia makanan.
Itulah mengapa kita perlu sedikit selektif dalam memilih pasangan yang tepat, tentu saja teriring doa dan restu orangtua. Karena pasangan hidup bukan sekedar seorang pendamping saat di tempat tidur saja, lebih dari itu, pasangan hidup adalah ia yang mampu mengisi setiap ruang hampa yang ada pada diri pasangannya, melengkapi setiap kekurangan dan juga mampu memperbaiki ketika ada keadaan-keadaan yang mungkin tidak baik bahkan mungkin buruk.
Pasangan hidup adalah ia yang mampu memberikan kesejukan digersangnya perasaan, menanamkan benih cinta bahkan disempitnya lahan jiwa, menyirami dikeringnya tanah hati, agar benih cinta dapat tumbuh dengan akar yang kokoh, dahan yang kuat, daun yang rindang, bunga yang senantiasa mekar dan buah cinta yang terasa manis dan menyegarkan mata, hati dan juga pikiran.
Jamal memanggil istrinya untuk datang ke meja makan, yang ternyata disana sudah terhidang piring saji berisi capcay dan telur dadar buatan Jamal sendiri.
Tak harus selalu istri yang memasak, jika suami bisa melakukannya, tentu saja dengan ikhlas tanpa sebuah paksaan. Mengapa tidak?
Konsep hidup Jamal dan Chia adalah tentang menghadirkan kebahagiaan, bukan sekedar tentang mencarinya.
"Memang suami idaman." Kata Chia lirih.
Chia pun segera melahap makanan yang dimasak oleh suaminya dengan penuh rasa cinta itu, tentunya setelah ia berdoa terlebih dahulu.
Terasa beda memang, makanan yang dimasak dengan rasa cinta, akan menghadirkan cita rasa yang lebih dari sekedar enak, sesederhana apapun makanannya.
Dengan setia Jamal menemani istrinya makan, dan sesekali mereka saling bersuapan.
"Alhamdulillah, makasih kakak sayang. Perut kenyang hati pun senang." Kata Chia setelah menghabiskan makanannya.
"Sama- sama sayangku." Balas Jamal dengan senyuman dibibirnya.
Jamal dan Chia kemudian berpindah dari meja makan, kembali ke ruang tamu rumah mereka.
Disela-sela obrolannya Chia menanyakan beberapa hal pada Jamal.
"Kakak, kenapa sih kita harus ikhlas?"
"Karena ikhlas adalah ruh segala amalan, selain itu keikhlasan itu melegakan." Jawab jamal.
"Terus kenapa kita harus sabar?" Tanya Chia lagi.
"Karena selain merupakan amalan yang sangat Allah sukai, kesabaran juga menguatkan." Kata Jamal kembali menjawab.
"Kalau gitu kenapa harus pasrah setelah berdoa dan berikhtiar?" Chia kembali bertanya.
"Karena selain sebagai bentuk tawakkal pada Allah, pasrah juga bikin nyaman, asalkan pasrahnya tepat, kalau selagi kita masih bisa berjuang, berusaha dengan sekuat tenaga dan doa, ya lakukan! sisanya baru pasrah, serahkan semuanya kepada Allah yang maha mengurus segala urusan." Jamal menuturkan jawabannya dengan penuh kasih sayang.
Chia menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum dengan sinar mata yang memancar.
"Satu lagi kak, kenapa kita gak boleh suudzon atau berprasangka buruk, baik kepada Allah ataupun makhluknya? Chia terus bertanya seperti selalu ingin tahu.
"Karena Allah itu sesuai prasangka hambanya, karenanya berprasangka baik terhadap Allah merupakan satu jalan keselamatan bagi seorang hamba, dan prasangka baik kita terhadap makhluk Allah itu mencerahkan. Tapi jangan gegabah juga, kewaspadaan sewaktu-waktu tetap diperlukan." Jamal tetap memberikan jawabannya dengan penuturan yang penuh kelembutan.
"Kalau gitu, sekarang aku tau kenapa aku semakin jatuh cinta sama kakak." Ucap Chia menatap Jamal dengan sorot mata penuh cinta.
__ADS_1
"Atas izin Allah." Timpal Jamal seraya menarik Chia kedalam dekapannya, dan mendaratkan ciuman sayangnya di kening Chia.