Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Selimut duka


__ADS_3

Episode 49


"Kak Jamal mana sih? kok belum pulang juga?" Batin Chia gelisah penuh tanya.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.15. malam, namun tak seperti biasanya, Jamal belum juga pulang , ia juga tak memberi kabar pada Chia sekiranya ia akan pulang terlambat hari ini.


Padahal saat itu Chia sudah memasak menu makan malam, dan sudah menghidangkannya di meja makan. Sambil terus mondar mandir kesana kemari, Chia menatap layar ponselnya berharap Jamal akan menelepon atau setidaknya mengirimkan pesan singkat untuk mengabari Chia.


Terlalu lama menunggu, sampai tak terasa Chia tertidur di sofa ruang tamu rumahnya.


Akhirnya tepat pukul 21.00. Jamal datang, ia langsung masuk ke dalam rumah, karena ternyata pintunya tidak dikunci.


"Kasihan istriku." Ucap Jamal yang melihat Chia tertidur di sofa.


Jamal berjalan ke dapur untuk mengambil satu gelas air, karena ia merasa haus. Mata Jamal tertuju ke arah meja makan, dan terlihat diatasnya telah terhidang makanan yang disiapkan oleh Chia.


"Masih utuh? itu artinya istriku belum makan." Gumam Jamal.


"Kakak!" Kata Chia mengejutkan Jamal, Chia bergelayut manja ditangan Jamal dalam keadaan yang masih mengantuk.


"Sayang, kenapa tidur di sofa?" Tanya Jamal sembari merangkul istrinya itu.


"Nungguin kakak, tapi aku ketiduran." Ucap Chia dengan suara lemas.


"Ya ampun maafin kakak ya, tadi kakak ada sedikit lemburan, teman kakak ada yang gak masuk hari ini, terus kakak diminta untuk bantu selesaikan pekerjaannya." Terang Jamal.


"Oh gitu? Tapi kakak gak ngabarin aku, jadinya aku khawatir." Tutur Chia manja.


"Tapi syukurlah kakak udahbpulang dengan selamat." Lanjut Chia lagi.


"Iya maaf, tadi kakak ingin cepat-cepat pulang, jadi gak sempat pegang handphone." Kata Jamal menarik Chia ke dalam pelukannya kemudian memberikan sedikit kecupan dikening Chia


"Laper kak, belum makan." Ucap Chia menengadahkan wajahnya pada Jamal.


"Ya udah kita makan yuk." Gegas Jamal yang langsung menarikan kursi untuk Chia duduki disusul oleh dirinya.


Padahal saat itu, perut Jamal sudah sangat kenyang, karena ia memang sudah makan ditempat kerjanya. Tapi demi menghormati kerja keras istrinya, yang sudah susah payah masak untuk dirinya, Jamal pun berusaha memberi ruang kosong diperutnya dan turut makan bersama Chia.


Setelah ritual pengisian perut selesai, Jamal mengganti pakaiannya. Kini mereka telah duduk bersantai, menunggu makanan yang mereka makan mendarat dengan nyaman perut.


"Capek ya kak?" Tanya Chia, yang langsung berinisiatif berdiri dan memberi pijatan lembut di pundak Jamal.


"Ini sayang sebelah sini" Ucap Jamal menunjukkan bagian dadanya.

__ADS_1


Chia pun berputar dari arah pundak dan kini ia berada dihadapan Jamal.


"Yang mana kak?" Tanya Chia.


"Ini sayang!" Jamal menuntun tangan Chia ke dadanya, terasa sangat degup jantung Jamal.


"Nah iya disitu." Ucap Jamal lagi.


"Ih kakak, mana bisa jantung dipijat!" Protes Chia.


"Biar kamu tau, disetiap detaknya namamu selalu serta." Tutur Jamal membuat rona dipipi Chia.


"Dasar gombal." Chia menarik tangannya dari dada Jamal.


Jamal tertawa geli, dan menarik kembali tangan Chia, hingga Chia jatuh dipangkuan Jamal.


Jamal memulai aksi nakalnya, diawali ciuman dibibir dan menjelajahi seluruh lekuk tubuh Chia dengan cumbuan mesranya.


Chia pasrah tanpa perlawanan, ia membiarkan saja suaminya itu melakukan apa yang diinginkan. Kini Jamal membopong Chia ke dalam kamar, dan melanjutkan tugas rutinnya di ranjang mereka.


Malam berlalu diiringi gemuruh napas dari dua insan yang saling beradu cumbu, dan merekapun tertidur lelap karena kelelahan.


Keesokan hari disebuah Rumah Sakit bersalin, Dio harap-harap cemas menunggu kelahiran anak pertamanya, dengan perasaan gelisah dan hati yang terus berdoa, Dio mondar mandir kesana kemari dan tak bisa dusuk dengan tenang, saat itu ia ditemani oleh bibi kesayangannya, yang turut serta menunggu persalinan Bunga, setelah mendapat kabar dari Dio.


"Nak, tenang ya." Ucap bibi mengusap pundak Dio.


Sepuluh jam menunggu, akhirnya penantiannya berakhir juga, Dio mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin istrinya.


Seorang dokter kandungan lalu keluar untuk menyampaikan kabar gembira itu, dengan wajah senang bercampur sedih.


"Selamat ya pak, bayinya perempuan. Dia sehat dan cantik seperti ibunya." Kata dokter itu menyampaikan.


"Alhamdulillah...terus istri saya gimana dok?" Tanya Dio dengan wajah yang sedikit memucat karena melihat ekspresi wajah sang dokter yang seperti menyembunyikan sesal.


"Mohon maaf pak, untuk istri bapak kami sudah melakukan upaya terbaik tapi..." Kata-kata dokter itu terhenti.


"Tapi apa dok? Istri saya selamat kan dok?" Tanya Dio dengan mata berkaca-kaca.


Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya, dan menghela nafas dalam.


"Istri bapak tidak bisa diselamatkan."


"Innalillahi wa innailaihi roji'un." Dio segera berlari menuju pembaringan terakhir istrinya, begitupun dengan bibi yang turut masuk bersama Dio.

__ADS_1


"Sayang...bangun sayang! Lihat anak kita udah lahir. Dia cantik seperti kamu." Tutur dio mengajak istrinya yang sudah tak bernyawa itu bicara.


Dio memegang dan menciumi tangan Bunga dengan butir air mata yang bercucuran, para perawat dan bibi yang ada di ruangan itupun ikut menangis menyaksikan semua itu.


"Sayang! Jangan tinggalkan kami, kami masih butuh kamu sayang, anak kita dan aku butuh kamu sayang." Bibir Dio bergetar mengatakan kalimat itu.


Rasanya seluruh tubuh Dio lemas bagai tak bertulang, meski disadari bahwa semua itu merupakan jalan takdir dan ketentuan Tuhan, namun sangat berat bagi Dio ditinggalkan oleh istrinya dalam keadaan seperti itu.


Bibi tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menangis dan mengusap-usap punggung Dio. Bibi sangat mengerti, betapa terpukulnya perasaan Dio, sekali lagi Dio harus menyaksikan orang yang ia cintai pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini, setelah dulu saat ia masih kecil ditinggal kedua orangtuanya menghadap Ilahi.


"Bi...istriku bi, lihat dia sudah berhasil melahirkan anakku bi, dia hebat kan bi?" Kata Dio sembari memeluk bibinya.


"Iya sayang, dia luar biasa." Tak banyak kata yang bibi ucapkan, karena saat itu bibi harus menerima bayak luka sekaligus. Ditinggalkan oleh Bunga yang menjadi istri dari keponakannya, dan melihat Dio yang dirundung duka dan nestapa.


Terisir rasa hati bibi kala itu, belum lagi saat ia melihat wajah bayi mungil yang harus kehilangan ibunya.


Rasanya lebih sakit daripada sebilah pedang yang menghujam jantungnya, namun Bibi tetap berpura-pura tegar, ia tahu saat ini hanya ada dirinya tempat bagi Dio menumpahkan kesedihannya.


Singkat cerita, jenazah Bunga telah di kebumikan, kini yang tersisa hanyalah duka mendalam dari Dio dan keluarganya. Bahkan ibu Bunga tak sadarkan diri saat mendapat kabar bahwa putrinya telah tiada, bak suara petir memecah bumi, ibu Bunga pingsan berulang kali saat melihat wajah putrinya untuk yang terakhir kali.


Ibu Bunga merasa menyelasal tidak bisa menemani persalinan istrinya, karena saat itu ia sedang menjenguk keluarganua yang sedang sakit kritis, siapa hang menyangka Bunga akan pergi mendahuluinya.


Meski meratapi kematian bukanlah hal yang diperbolehkan dalam keyakinannya, namun kesedihan memang tak dapat dipungkiri.


Dengan tegar Dio melepas kepergian istri tercintanya, saat itu Jamal dan Chia pun hadir dipemakaman Bunga.


"Selamat jalan Bungaku, istri terbaikku, bidadari surgaku. Aku ikhlas melepasmu, mekar dan harumlah disana, semoga kau mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Seindah namamu yang akan selalu ada dibenakku dan menetap dalam hatiku." Dio melepaskan cintanya dengan ikhlas, dan berusaha untuk menerima semua ini, sebagai takdir terbaik yang Allah berikan padanya.


Beribu ucapan bela sungkawa Dio terima, dari santri maupun teman dan kerabatnya.


"Ikhlaskan ya nak." Ucap pak Kyai seraya menepuk bahu murid kesayangannya itu.


Dio mengangguk dan berusaha tersenyum, meski hatinya tarasa ngilu terkoyak derita.


"Selamat jalan sahabatku, adikku, tugasmu di dunia ini telah usai." Ucap Chia dengan air mata yang tertahan, menggenang dikelopak bawah matanya.


"Selamat jalan wanita shaliha, semoga amal baikmu membawamu ke jalan yang terang menuju jannah-Nya." Ucap Jamal.


Jamalpun memberikan pelukan pada Dio.


"Kalian orang-orang hebat bro." Ucap Jamal menguatkan Dio.


Kini mereka kembali ke rumah, Chia menggendong bayi mungil Bunga sembari menatapnya lekat.

__ADS_1


"Cantik." Ucap Chia yang disusul dengan jatuhan bulir bening dari sudut-sudut matanya.


Suasana berkabungpun menyelimuti, dihari yang seharusnya menjadi saat yang sangat membahagiakan bagi Dio.


__ADS_2