Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Bahagia


__ADS_3

Episode 55


Chia masih dengan rasa curiganya. Meski Jamal sudah menjelaskan dan mencoba meyakinkannya berulang-ulang. Hati yang terlanjur berprasangka setara dengan kejadian yang sedikit tak terduga memang membuat Chia sulit percaya sekalipun Jamal berkata jujur.


"Sayang, udah dong ngambeknya" bujuk Jamal pada Chia yang sedari tadi menghindari Jamal setiap kali Jamal hendak menyentunya. Semua itu benar-benar menguji kesabaran Jamal. "Tolonglah Chia, jangan menghukum Kakak untuk kesalahan yang sama sekali nggak Kakak lakukan" mohon Jamal.


Chia diam merenungi kata-kata suaminya itu "Astaghfirullah, kenapa aku jadi seperti ini" batinnya. Ia lalu menoleh pada Jamal yang nyaris putus asa karena tak juga dapat meyakinkan Chia. "M-Maaf, Kak ... Chia terlalu takut Kakak tinggalin" ucap Chia lirih.


Jamal langsung memeluk Chia yang menangis tersedu-sedu. "Sayang, kita punya anak atau nggak semua itu sudah kehendak Allah" tutur Jamal menghibur Chia. "Rasanya terlalu egois kalau kita memaksa menuntut untuk mendapatkan semua kebahagiaan," lanjut Jamal lagi.


"Maafin aku, Kak" kata Chia tersendat-sendat. "Iya, Sayang ... Jangan menyiksa diri sendiri dengan berprasangka buruk pada takdir dan ketentuan-Nya. Ingat, boleh saja kita membenci sesutu padahal sebenarnya ada banyak kebaikan untuk kita."


Jamal adalah definisi yang tepat untuk seorang imam yang baik. Ia selalu berusaha menguatkan iman Chia, meneguhkan hatinya dan mengajak untuk selalu mengingat-Nya. Sehingga Chia selalu kembali berpegang pada tali yang kukuh.


Di dalam pelukan asa, Jamal dan Chia menyatukan cinta dan kekuatannya untuk selalu bersama. Biarlah doa-doa menjadi cara mereka untuk senantiasa mengisi kesepian atas ketidak hadiran sang buah hati. Semuanya kini mereka terima dengan ikhlas tanpa perlu menawar lagi keadaan.


Tak henti-hentinya Chia bersyukur atas Jamal sebagai pendamping hidupnya. Menyambut segala kekurangannya dengan penerimaan yang sempurna. Memberi ruang pada Chia untuk selalu merasa damai dan kecukupan.


***************

__ADS_1


3 tahun kemudian ...


Takdir dan pertobatan Nesa membawa dirinya kembali ke pelukkan Dio. Menjadi ibu sambung bagi Aleeza dengan tanpa mengurangi sedikitpun kasih sayangnya. Meski tak bisa sepenuhnya melupa namun, perlahan Dio mulai bisa mengikhlaskan Bunga dan menerima Nesa dalam hidupnya.


Di dua tenpat berbeda dalam waktu yang sama ...


Jamal memilih berhenti bekerja dari perusahaan Pakde nya dan kini ia menyibukkan diri bersama Chia, mengurus kedai kuenya. Tak pernah Jamal biarkan sesaatpun Chia merasa sepi. Akalnya tak pernah habis untuk mencari cara agar Chia tetap bahagia.


"Sayang, gimana kalau kita mengunjungi Chia dan Jamal?" ajak Nesa pada Dio yang beberapa bulan ini telah resmi menjadi suaminya yang sah. "Boleh juga, sepertinya Aleeza juga rindu pada Paman dan juga Bibinya itu," jawab Dio menyetujui. Lalu mereka menyiapkan semuanya dan pergi bersama Aleeza untuk menemui Chia.


Beberapa jam kemudian ...


Tampak Nesa dan Chia saling berpelukan begitupun dengan Jamal, dan juga Dio. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan mencoba bermacam-macam kue yang di ambil dari kedai kue Chia. Aleeza si balita cantik itu pun turut meramaikan riuh tawa dan hangatnya senda gurau di antara mereka.


"Kamu cantik seperti Bunga, setulus melati di ujung harapan. Aku merasakan hadirmu di sini, Bunga" Batin Chia sembari tak melepaskan tatapan matanya pada wajah Aleeza. Dio menyadari hal itu dan hatinya turut berdesir merasakan hal yang sama.


Jamal meraih tangan Chia lalu menggenggamnya dengan erat. "Tidak untuk sebuah tangisan lagi," ucap Jamal lirih lalu mencium tangan Chia. Chia tersenyum dalam uraian air mata yang perlahan menetes dari kedua sudut matanya.


"Bro Jamal, Chia ... Sudah sore sepertinya kami harus pulang" ucap Dio. Chia dan Jamal mengangguk. Nesa menggendong Aleeza penuh kasih sayang lalu mereka melangkahkan kaki untuk pulang.

__ADS_1


"Kami akan sering berkunjung, toh sekarang kami sudah kembali tinggal bersama Bibiku," terang Dio sebelum melajukan mobilnya. "Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," jawab Jamal. Nesa membimbing tangan Aleeza untuk melambai pada Jamal dan Chia sebagai tanda perpisahan.


Tinggalah Chia bersama Jamal saling menautkan jemari tangannya. Mengisi setiap ruang sepi di dada keduanya. meresapi hakikat cinta yang hakiki ada padanya.


Cinta yang tidak ditentukan oleh kehadiran maupun kepergian. Cinta yang senantiasa mengalir dan tak pernah kering. Cinta yang selalu segar dan takkan pernah layu.


Begitulah kiranya cinta Jamal pada Chia yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya hanya karena kekurangan yang Chia miliki. Jamal hadir dalam tawa dan tangis Chia. Jamal selalu dalam setiap rasa yang dibutuhkan oleh Chia.


Kini Jamal dan Chia hidup bahagia dengan saling melengkapi satu sama lainnya. "Masuklah sayang, sebentar lagi waktu maghrib tiba" ajak Jamal. Mereka pun bergegas masuk meninggalkan awan senja yang merah menawan dengan sejuta keindahannya.


TAMAT.


Terimakasih sudah membaca karya author hingga tamat. Mampir juga ke karya baru author ya.


Blurb :


Ditinggalkan oleh sang Ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang Ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba Ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang Ayah menorehkan pilu dalam dada sang Ibu.


Di tengah deruan rasa rindunya pada sang Ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang Ayah telah menceraikan Ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat Ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang Ibu tak berdaya. Di sisi lain sang Ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.

__ADS_1


Akankah kerinduan Shaka pada sang Ayah berakhir dengan sebuah pertemuan???



__ADS_2