
Episode 8
Wus wus...hembusan angin kencang meniup hingga tenda-tenda merekapun turut bergerak-gerak.
Namun hal itu tak membangunkan mereka dari tidurnya, seperti nyanyian pengantar tidur, hembusan angin itu justru menambah lelap tidur mereka.
Langit yang bertabur bintang seharusnya menjadi pemandangan menarik dimalam ini. Sayang sekali, sesuatu yang mengganggu aktifitas pun terjadi.
Rupanya Jamal tak pernah benar-benar terlelap, sesekali ia mengintip ke arah luar dari celah-celah tenda.
Samar-samar terdengar suara seperti orang yang sedang berbisik-bisik.
Jamal membangunkan semua orang yang mungkin sedang terbang di langit mimpi-mimpi mereka.
Kali ini Jamal merasa sudah tidak bisa terus berdiam dan tak melakukan tindakan apapun lagi.
Disisi lain, Jamal merasa bersalah pada Chia dan teman-teman karena membuat suasana malam ini begitu menegangkan.
Ia ingin menebus kesalahannya dengan mencari tahu misteri bayangan yang ia lihat.
Semua orang sudah bangun, Jamal perintahkan mereka untuk bersiap mengantisipasi jika sesuatu hal terjadi.
"Kalian pakai perlengkapan, semua diharap siap, kalau memang diperlukan serangan untuk melawan, jangan ragu untuk melakukannya!" terang Jamal.
"Tapi ingat, jangan melakukan serangan jika tidak terdesak dan tidak mendapat serangan dari lawan .
Semua paham?"
"Paham kak" jawab mereka kompak.
Dengan bekal bela diri yang mereka miliki, mereka bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan adanya serangan terjadi.
"Semuanya tetap waspada ya, jangan gegabah!
ingat tujuan kita ke Hutan ini bukan untuk merusak apalagi membuat kekacauan." Tegas Jamal lagi dan lagi.
Semua mengerti dan berjalan sesuai aba-aba yang diberikan Jamal. mereka berjalan dengan formasi empat laki-laki didepan, empat perempuan di tengah dan empat lagi laki-laki dibarisan belakang.
Dengan berjalan ala pendekar di film-film laga, mereka menjalankan misinya untuk memecahkan misteri di Hutan mahoni.
Naluri petualang Chia pun tertantang, alih-alih merasa takut, Chia malah merasa sangat senang. Ia menyembunyikan senyumnya yang sumringah.
"Yeay akhirnya petualangan di Hutan ini benar-benar terjadi, aku rasa aku harus berterimakasih pada apapun penyebab tragedi malam ini ..hihihi" batin Chia mengumpat.
Dari depan Ari memberikan aba-aba untuk berhenti berjalan, semuanyapun mengikuti arahan.
mereka berhenti. Dan benar saja, suara yang semula terdengar samar-samar sebelumnya, kini mulai terdengar semakin jelas.
"Oke, semua nya siap ya." Tutur Jamal.
Dari jarak yang mulai dekat pada pusat suara, bayangan putih dan hitam yang dilihat Jamal sebelumnya itupun terlihat lagi, tapi kali ini bukan hanya Jamal, Chia dan teman-teman yang lainpun turut melihatnya.
Anehnya kali ini sosok bayangan itu tidak bergerak cepat seperti sebelumnya, tampak sosok bayangan misterius itu hanya diam di tempat dan tidak beranjak.
__ADS_1
Perlahan semakin mendekat...terus mendekat...lebih dekat lagi dan..."Tuuutt pesssssss"
Reno buang gas diwaktu yang tidak tepat, hal itu mengganggu fokus teman-temannya.
sambil menutup hidung dengan ekspresi ingin muntah, Chia dan teman-temannya menatap Reno seperti cicak yang sedang mengincar nyamuk.
Reno pun nyengir sambil mengangkat dua jarinya tanda damai.
"Semua kembali fokus" kata Jamal yang sedikit terpancing emosi karena gas alam Reno.
Jarak mereka sudah sangat dekat, tapi karena tragedi buang gas sembarangan, sosok bayangan misterius itu hilang tak terlihat lagi. Namun suara obrolan masih terdengar samar-samar.
Terbesit untuk saling menyalahkan diantara mereka.
Namun seperti cenayang yang mampu membaca pikiran, Jamal langsung berkata;
"Fokus! sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Ayo semua, lanjutkan misi kita." Lagi, Jamal memberi Ultimatum.
"Sebentar lagi memasuki waktu sholat shubuh, kalau misteri ini belum terpecahkan juga sampai waktu shubuh. Mungkin kita harus menunda misi sejenak, tapi ingat semuanya jangan lengah. Contoh lengah yang hakiki adalah perhatian kita teralih hanya karena ada yang buang gas sembarangan." Hardik Jamal.
"Oke, lima belas menit lagi masuk waktu shubuh. Mungkin lebih baik kita kembali ke tenda dan bersiap wudhu untuk sholat, semoga setelah ini tidak ada kejadian yang tidak diharapkan lagi." lanjut Jamal.
"Aamiin" Sahut Chia dan teman-teman.
"Kak, ambil wudhunya tetap ke Sungai gitu? kata Chia bertanya dengan sangat hati-hati" khawatir Jamal akan marah padanya.
"Kenapa tuan putri? takut kalau berwudhu di Sungai ?" Tanya jamal meledek Chia.
"Kak bisa gak, kalau pertanyaan aku dijawab dengan jawaban, bukan dengan pertanyaan lagi?" ketus Chia.
Mereka semua bergegas ke Sungai untuk mengambil air wudhu, sesampainya di Sungai alangkah terkejutnya mereka melihat sosok bayangan putih dan hitam berada disana. Merasa persiapannya tidak matang karena misi ditunda, Jamal Chia dan teman-teman pun tak ingin ambil pusing.
Mereka yakin tetap bisa menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Dengan keberanian dan tekad seadnya, mereka langsung menyergap kedua sosok bayangan misterius itu yang ternyata bukan bayangan lagi.
"Ampun-ampun, lepaskan kami." kata dua orang misterius itu.
Reno dan Ari yang sudah gemas sejak tadi pun langsung memberondong mereka dengan pertanyaan.
Sambil melipat tangan keduanya kebelakang, Reno bertanya;
"Siapa sebenarnya kalian? juga apa alasan kalian memata matai aktifitas kami?" Cecar Reno.
Namun anehnya Chia dan Jamal tidak bergeming sama sekali, seperti sebelum sebelumnya.
"Lepasin Ri, Ren" kata Jamal.
Ari dan Reno merasa heran mengapa Jamal berubah pikiran.
Situasi pun menjadi hening sesaat, sebelum tawa Chia memecah sepi.
"Ayah, ustadz Hasan!" kata Chia.
"Ngapain sih yah? mau main petak umpet? atau ngajak main ninja ninjaan?" Canda Chia pada kedua orang misterius yang ternyata adalah ayahnya dan juga ustadz Hasan yang berarti ayahnya Jamal.
__ADS_1
Chia dan Jamal rupanya mengenali suara ayah mereka, karna itu mereka tidak meggebu-gebu lagi setelah berhasil menangkap sosok misterius yang mereka cari.
"Yah gak jadi perang nih?" KataTina dengan ekspresi malas yang membuat mereka semua tertawa.
"Sudah sudah! Sebentar lagi waktu adzan shubuh berkumandang, ayo semuanya berwudhu dulu." Kata ayah dan ustadz Hasan. Belum sempat bertanya apa alasan ayah dan Ustadz Hasan berada disana, Waktu sholat shubuh sudah lebih dulu masuk,
Mereka pun menunaikan sholat shubuh berjamaah.
Setelah selesai sholat, mereka menyalakan api untuk merebus air, membuat beberapa cangkir teh dan kopi untuk mereka nikmati bersama.
Waktu yang tepat untuk bertanya apa alasan ayah Chia dan ustadz Hasan sebenarnya.
Sebelum ada yang sempat bertanya, Ustadz Hasan sudah mendahului memberi penjelasan.
Tujuan mereka adalah mengawasi anak-anak mereka kalau-kalau melakukan sesuatu yang melampaui batas atau melanggar norma-norma.
Mengingat antara laki-laki dan perempuan dikhawatirkan ada sesautu hal yang mengarah pada fitnah. Ayah Chia dan ustadz Hasan pun meminta maaf karena sudah mengganggu aktifitas dan membuat mereka tidak nyaman.
Para muda mudi itupun mengerti dan berjanji untuk tidak melanggar dan merusak apapun yang sejatinya memang harus dijaga.
Ayah dan ustadz Hasan percaya, bahwa anak-anaknya adalah anak-anak yang baik dan bisa bertanggung jawab.
Tak lama kemudian ayah Chia dan ustadz Hasan pamit pulang. Setelah memberi pesan-pesan, wejangan dan mewanti-wanti para muda mudi itu.
"Ya sudah kami pamit ya! Assalamu'alaykum." Tutup Ayah Chia dan ustadz Hasan.
"Wa'alaykumsalam." Jawab mereka kompak.
Tak lama setelah itu, Tina mendadak izin untuk tidak ikut kegiatan hari ini, ia memutuskan untuk tetap berada didalam tenda dan beralasan tidak enak badan. Chia dan teman-temanpun merasa heran karena sebelumnya Tina tampak baik-baik saja.
Chia yang tidak yakin dengan alasan Tina pun menyusul ke dalam tenda, tampak Tina yang memeluk kedua lutut sambil menundukkan kepalanya.
Chia menepuk perlahan bahu Tina, yang direspon dengan pelukan oleh Tina.
Tina menangis. tapi untuk menjaga adab, Chia tidak langsung menanyakan mengapa Tina begitu, ia hanya mencoba menenangkan Tina dengan menepuk-nepuk punggung Tina dengan pelan.
Tinapun merasa sudah cukup tenang, ia menatap Chia dan menyunggingkan senyum tipis.
Chia tidak mengerti apapun, ia hanya mencoba memahami kondisi Tina.
Sampai akhirnya Tina sendiri yang berkisah. bahwa ia iri melihat orangtua Chia yang begitu peduli dan perhatian, sementara Tina untuk seumur hidupnya sampai detik inipun, belum pernah merasakan yang namanya perhatian dari seorang ayah.
"Ayahku gak pernah pulang, aku dan ibu ditinggalkan sejak aku masih berumur 2 bulan. Katanya ayah merantau untuk membuatkan aku dan ibu istana kecil, tapi ternyata ayahku bohong. Sudah menjelang 19 tahun umurku. Ia belum juga pulang." Tina bercerita.
"Aku rindu ayahku Chia, aku juga ingin disayangi seperti layaknya anak-anak lain." Sambil terisak, Tina menceritakan kisah hidupnya pada Chia.
Chia kembali memberi pelukan pada Tina.
Sembari berkata, bahwa tidak ada ayah yang tidak menyayangi anaknya, tidak ada ayah yang tega membiarkan putrinya disiksa rindu karena tak pernah betemu dan menghabiskan waktu bersama.
"Kamu harus yakin bahwa suatu saat ayah kamu akan datang mengetuk pintu dan memanggil putri kesayangannya, jangan bosan untuk mendoakan ayah dan ibu kita." Tutur Chia bijak.
"Dimanapun mereka berada, alasan apapun yang saat ini tidak kita ketahui, jangan pernah terbesit untuk membenci mereka oke." Bujuk Chia meyakinkan Tina yang direspon dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Makasih Chia, sekarang aku lega." balas Tina.
Mereka pun tersenyum dan Tina pun akhirnya mengubah keputusan untuk ikut kegiatan lagi dengan teman-temannya.