Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Mandi bersama


__ADS_3

Episode 51


Setelah sehari semalam Chia dan Jamal menemani bayi Aleeza, kini waktunya mereka berpamitan untuk pulang. Meski berat rasa hati meninggalkan bayi Aleeza namun, Jamal yang masih memiliki tanggung jawab pada pekerjaannya tetap harus pulang. Begitupun dengan Chia yang pastinya harus mendampingi Jamal.


"Bro... Insya Allah, aku dan Chia, akan sering berkunjung ke sini," ucap Jamal menghibur Dio.


Dio memeluk Jamal dan mengucapkan rasa terimakasih padanya. Sedang Chia hanya berdiri dan sesekali tersenyum melihat dua laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Bi... Chia tinggal dulu ya, kalau Bibi sudah kembali ke Kota tolong kabari Chia dan Jamal," pamit Chia pada Bibi Dio.


"Terimakasih ya nak Chia, nak Jamal... maaf kami merepotkan," ucap bibi seraya menahan tangis.


Chia langsung memeluk Bibi dan berkata bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kini tinggalah Dio dan Bibi yang sedang berunding akan tinggal dimana, mengingat kini Bunga sudah tiada tetapi Dio tetap ingin merawat putri kecilnya itu.


Dio dan Bibi saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Walau duka masih menyelelimuti hati mereka namun, sekuat tenaga mereka akan berusaha untuk melewati semua ini dengan lapang dada.


"Ya sudah, Nak. Kamu istirahat dulu, Aleeza sudah Chia mandikan sebelum ia pulang tadi, dan sekarang dia sedang tidur," tutur Bibi yang langsung di turuti oleh Dio.


Dio membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, walau pikirannya masih berkecamuk, namun Dio berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya.


*************


Chia dan Jamal sedang dalam perjalanan pulang, tak seperti biasanya kali ini sepasang kekasih halal itu hanya diam sepanjang perjalanan mereka. Hanya sesekali mata mereka saling bertemu tatap dan menyunggingkan senyum simpul.


Mulut boleh diam tak bersuara, namun mata tak bisa menyembunyikan cerita terlalu lama. Ada perasaan yang mengusik gelisah di hati Chia, seperti perasaan bersalah pada Jamal, karena di hampir tahun ke dua lebih usia pernikahan mereka, Chia belum juga hamil.


Padahal hal itu sudah mereka bahas sebelumnya, bahwa mereka memang tidak menunda untuk memiliki momongan, tapi juga mereka tidak terburu-buru untuk itu. Namun, setelah melihat bayi Aleeza, ada rasa seperti ingin segera memiliki anak.


Mungkin Chia hanya terbawa suasana saja, sementara Jamal yang saat itu hanya diam, bukan karena memikirkan hal yang sama seperti Chia, tapi karena ia merasa agak lelah dan kurang tidur. Jamal berusaha untuk fokus dalam mengemudi, mencegah sesuatu yang buruk terjadi.


Hati yang gelisah memang senang menerka-nerka. Jamal yang diam tak banyak bicara, membuat Chia merasa diabaikan olehnya. Rasa ingin menangis pun ada, bagaimana tidak? orang yang biasa memanjakan dirinya kini hanya diam seolah melupakan kebiasaannya.


Beberapa jam waktu mereka tempuh,kini mereka sampai di kediaman mereka. Chia langsung membantingkan tubuhnya ke sofa dengan wajah sedikit ditekuk.


"Sayang...," kata Jamal seraya meraih jemari tangan istrinya itu.

__ADS_1


Tapi, Chia yang salah paham malah menepis tangan Jamal. Seketika Jamal mengerutkan dahi merasa heran. Ada apakah gerangan dengan istrinya itu?


Jamal mendekat lagi dan Chia terus menjauh, semakin Jamal mendekat semakin Chia berpindah dan menjauh lagi dari Jamal. Hal itu dilakukan Jamal berulang kali, sengaja untuk memancing Chia agar bicara.


Bukannya bicara Chia malah menangis sangat sedih. Karena bingung harus bagaimana, Jamal berinisiatif untuk memberi pelukan saja pada istrinya yang sangat manja itu.


"Kenapa sayang?" tanya Jamal seraya membelai lembut sang istri.


"Jujur saja, kakak marah kan sama aku?" tanya Chia ketus.


"Lho, bukannya istri kakak yang lagi marah?" timpal Jamal merasa bingung.


"Sepanjang perjalan pulang tadi kakak cuma diam aja, gak seperti biasanya," tutur Chia sembari tersedu.


"Oh, rupanya dia sedang merasa diabaikan," batin Jamal.


"Sayang... kamu masih ingat gak apa yang kita lakukan semalaman?" tanya Jamal dengan nada lembut dan sangat berhati-hati.


"Menjaga Aleeza," jawab Chia singkat padat dan jelas.


"Sedikit tidur dan banyak bergadang," jawab Chia lagi.


"Nah! pintar istri kakak... karena itulah kakak mencoba untuk mengemudikan mobil dengan sangat fokus dan hati-hati, karena semalaman bergadang membuat kakak agak mengantuk," terang Jamal.


"Jadi, kakak diam bukan sedang marah sama aku karena aku belum bisa kasih kakak anak?" berondong Chia.


Jamal tertawa geli mendengar alasan Chia bersedih, dan mengira Jamal marah karena hal yang ia pikirkan.


"Kamu dapat bisikan dari mana?" ledek Jamal sembari menengadahkan wajah istrinya dan menatap dua bola mata indah itu.


"Mana aku tau? yang aku rasakan kakak berubah sejak mau pulang tadi!" tegas Chia.


"Maka dari itu kamu gak boleh menduga-duga, karena menduga-duga itu sifatanya...,"


"Setan!" sambung Chia sembari menyeka air matanya dan tertawa bersama Jamal.

__ADS_1


Jamal menciumi pipi dan kening istrinya itu, lalu meminta maaf karena telah membuatnya bersedih. Sungguh indah dicintai oleh orang yang tepat, andai bukan Jamal mungkin sikap Chia sudah memicu sebuah pertengkaran.


"Mau mandi dulu atau mau makan dulu?" tanya Jamal.


"Mandi aja dulu kak, badan Chia rasanya sudah sangat lengket," jawab Chia.


"Seperti cintaku padamu, lengket tak terpisahkan," sambung Jamal.


"Ih kakak, gombal."


"Dasar wanita, dirayu salah, gak dirayu katanya marah," batin Jamal.


"Apa? pasti kakak sedang bicara dalam hati kan?" tanya Chia yang melihat Jamal diam.


"Wah... istriku ini sudah seperti seorang cenayang rupanya," goda Jamal.


Chia berlari menuju kamar mandi sambil menertawai Jamal. Dan Jamal mengekor di belang Chia.


"Mau apa?" ketus Chia yang sudah berada di dalam kamar mandi dan melihat Jamal mengekor di belakangnya.


"Jangan ditutup dong sayang, Kakak mau mandi bareng kamu," mohon Jamal yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Gak mau! kakak ganjen," sahut Chia dari dalam.


"Sayang... please buka pintunya, Ya udah dech kalau kakak gak boleh masuk, kakak langsung tidur aja," Jamal menggerak-gerakan kakinya seolah sedang berjalan.


Chia yang mendengar langkah kaki Jamal menjauh dari pintu, mengira Jamal benar-benar sudah pergi. Akhirnya Chia membuka pintu kamar mandi itu dan menyembulkan kepalanya, dengan sikat gigi dalam mulutnya.


"Kena kamu," ucap Jamal menerobos masuk dan akhirnya berhasil mandi berdua bersama Chia.


Sepertinya untuk kali ini Jamal yang memenangkan permainannya. Terdengar suara gaduh dari balik bilik kamar mandi itu.


Beberapa saat kemudian, Jamal dan chia keluar dalam keadaan sudah bersih dan wangi. Saatnya menyiapkan makanan, setelah itu mengambil sedikit waktu untuk istirahat dan bersantai.


Bahagia itu sederhana, cukup mengukir senyuman di wajah seseorang yang kita cinta, tentunya dengan cara yang benar dan menyenangkan.

__ADS_1


Ingat kalimat sederhana ini 'Setiap wanita adalah seorang ratu saat ia hidup bersama laki-laki yang tepat. Kalian setuju bukan???


__ADS_2