
Episode 50
Sesekali tak mengapa bila harus menangis, jangan biarkan dada kita sesak karena memaksa untuk menahan kesedihan yang begitu dalam!
Bibi Dio membuatkan sebotol susu, untuk bayi mungil yang sedang digendong oleh Chia.
"Anak shaliha, mimi susu dulu ya sayang." Tutur Chia memberikan susu yang dibuatkan oleh bibi, pada bayinya Bunga itu.
Melihat putrinya yang malang, Dio berdiri mendekatinya.
"Sini sayang, digendong sama abi ya." Ucap Dio sembari mengambil alih putrinya dari gendongan Chia.
Chia memberikan bayi itu, lalu Jamal datang menghampiri Chia, dan merangkul pundaknya. Namun baru beberapa detik berpindah gendongan, bayi itu menangis dan tak mau berhenti.
Dio yang belum berpengalamanpun kebingungan, lalu bibi Dio mencoba untuk mendiamkan bayi mungil itu dengan menggendongnya, tapi tetap saja ia tak mau berhenti menangis, sampai semua orang kebingungan dibuatnya.
"Sini bi, biar Chia yang gendong." Ucap Chia seraya mengambil si bayi.
Entah ada keajaiban apa, tapi bayi mungil itu langsung terdiam dan berhenti menangis, metika berada dalam dekapan Chia. Ada hal yang membuat Dio mengurai air matanya lagi, sebuah pikiran yang terlintas, bagaimana ia nanti harus membesarkan anaknya sendirian tanpa Bunga.
"Bro jangan khawatir, kita semua ada disini." Ujar Jamal menenangkan Dio.
Dio menyeka air mata dengan tangisan yang masih tertahan, dan pastilah hal itu menbuat dadanya sesak. Jamal mengerti keadaan yang menimpa Dio dan bayinya, bukanlah hal yang mudah untuk diterima.
Terkadang ada yang begitu dekat, namun bukan untuk dimiliki, yang begitu dekat namun tak bisa dijangkau oleh raga, hanya mampu disyukuri melalui panjatan doa-doa.
Yang sudah berlalu tidak mungkin bisa ditolak atau diraih kembali, yang telah berlalu hanya akan menjadi memori yang terkenang indah, atau terlupakan seiring berjalannya waktu.
"Aku kira cukup dirimu saja nak, yang menjadi yatim piatu diusiamu yang masih sangat dini, tapi ternyata anakmu juga harus mengalami keadaan yang sama, semoga Allah menguatkan bahumu untuk menopang beban hidup yang berat ini." Sesal bibi mengingat nasib Dio.
"Apa ada nama yang udah disiapkan untuk tuan putri kita ini?" Ujar Jamal menghibur Dio.
"Iya...Bunga, istriku sudah menyiapkan nama untuk bayi kami jauh-jauh hari. Dia menginginkan nama Aleeza untuk anakku." Tutur Dio mencoba tegar saat menyebut nama almahumah istrinya.
__ADS_1
"Nama yang bagus, itu artinya Bunga ingin putri kalian menjadi alasan untuk sebuah kebahagiaan." Sahut Jamal.
"Bahkan dihari yang sangat mengabungkan duka ini, kamu masih menyisakan satu kebahagiaan untukku, Bunga." Gumam Dio dalam hati kecilnya.
"Cucu Bibi cantik sekali ya, Bi!" Ujar Chia mencairkan suasa yang dipenuhi kesedihan.
Bibi memberikan senyum menahan sedih yang masih membumbung perasaannya.
"Aleeza udah tidur." Ucap Chia sembari tersenyum.
"Nak, boleh bibi minta tolong, untuk malam ini temani Aleeza dulu." Dengan nada sendu bibi menuturkan permohonannya.
Chia menatap Jamal memberikan tanda tanya, tak butuh banyak beralasan Jamal langsung menjawab.
"Boleh dong bi, dengan senang hati." Kata Jamal memberikan izin pada Chia untuk tinggal, sepreti yang bibi Dio minta.
"Bro! Makasih ya." Dio langsung memeluk Jamal sebagai ucapan terimakasihnya.
Jawabannya tentu saja iya, walau tidak ditampakkan, rasa cemburu Jamal tetap ada dalam hatinya, saat melihat istri dan mantan kekasihnya dekat lagi, meski bukan untuk sebuah hubungan terlarang.
Bukan berarti Jamal tidak percaya pada Chia dan Dio, ini lebih kepada mencegah sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Jangan sampai ada peribahasa cinta lama bersemi kembali, cinta yang sedang mekar justru malah gugur dan layu nantinya.
Jamal selalu penuh pemikiran, meski ia mengemasnya dengan rapi, sehingga orang lain tidak meganggap itu sebagai bentuk kecurigaan melainkan kebaikkan yang penuh. Luar biasa bukan?
Jamal memahami sejak awal, bahwa segala aktifitas dalam rumah tangga adalah ibadah, yang penilaiannya langsung dari Allah, termasuk bila ia memberikan rasa cemburu pada istrinya, sebagai bentuk rasa cintanya, tentu saja sesuai porsi. Tidak berlebihan namun juga tidak membuatnya menjadi suami yang dayyuts (tidak memiliki rasa cemburu pada ahlinya atau istrinya). Karena dalam ajaran dan keyakinannya dayyuts juga merupakan bentuk maksiat kepada Allah.
Lebih dari itu, aktifitas dalam rumah tangga tersebut merupakan ladang amal dan pahala untuk setiap pasangan. Tak heran kalau Jamal begitu menjaga dan selalu melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, agar rumah tangganya dengan Chia tetap harmonis.
Meski sempat berdesir dihati Jamal, keinginan untuk segera memiliki momongan, setelah melihat bayi mungil Aleeza. Namun tentu saja hal itu takkan ia sampaikan pada Chia, demi menjaga perasaannya.
Jamal selalu memegang teguh apa yang menjadi janjinya saat ia mengucap ijab qobul didepan penghulu, bahwa perannya bukan hanya sebagai suami yang memberi nafkah lahir dan batin semata, melainkan sebagai imam yang mampu membimbing Chia, mengayomi, dan memgambil alih tugas orang tua Chia, untuk mendidik dan memberikan kasih sayangnya secara utuh.
Malam itu, bayi Aleeza tak kekurangan apapun kecuali ibu yang melahirkannya, namun cinta dan kasih sayang yang ia dapatkan dari orang-orang yang menyayanginya, tidak membuatnya kekurangan sedikitpun, meski mungkin tidak akan mampu menandingi megahnya cinta dari seorang ibu yang melahirkannya.
__ADS_1
Saat semua orang terlelap tidur, Chia masih setia memperhatikan raut wajah bayi Aleeza dan sesekali membelai pipinya dengan lembut.
"Kalau sudah besar nanti, jadi anak yang shaliha ya nak." Tutur Chia sembari mengembangkan senyum, mengajak bayi yang tengah tertidur pulas itu bicara.
Jamal terbangun dan melihat istrinya tengah asik berbicara pada bayi Aleeza, Jamal mendengarkan saja celotehan istrinya itu tanpa mengganggunya.
"Ya Allah aku berdoa dengan yakin bahwa Engkau akan mengabulkannya, semoga suatu saat, aku dan Chia dapat merasakan seperti apa menjadi orang tua." Bisik hati Jamal mengalunkan sebuah doa.
Tiba-tiba Dio mengintip mereka, dari pintu kamar yang sengaja tidak ditutup, agar bibi dan Dio yang tidur di kamar terpisah, sewaktu-waktu tetap bisa melihatnya tanpa harus masuk atau mengetuk pintu, mengingat ada Jamal dan Chia di kamar itu.
"Lihatlah sayang, anak kita disayangi banyak orang baik. Semoga kamu tenang disana." Batin Dio, seolah memberitahukan hal itu pada istrinya yang sudah tiada.
Jamal masih setia melihat pada Chia dan bayi Aleeza, tiba-tiba air mata haru jatuh membasahi pipinya. Isakan pun terdengar mengiringi tangisnya, hingga Chia menoleh ke arah Jamal.
Dio yang melihat itu dari luar, langsung menyembinyikan badannya ke balik dinding.
"Kakak! kok bangun?" Tanya Chia lalu menghampiri Jamal, dan menyeka bulir bening yang membasahi pipi jamal.
"Tak usah menjelaskannya kak, aku tau apa yang kakak rasakan." Ucap Chia dalam hati.
Jamal kemudian meraih tangan Chia yang sibuk menyeka air matanya dan menggenggam, kemudian mencium tangan Chia dengan menarik napas dalam.
"Tidurlah sayang, biar kakak yang jaga Aleeza." Ucap Jamal lirih.
"Chia pun menuruti kata-kata Jamal, lalu Jamal bergantian menjaga Aleeza.
Dio yang mendengar hal itu dari balik dinding, bergeser lagi ke arah pintu untuk melihatnya, dan air matanya sudah tak terbendung lagi. Perlakuan Jamal dan Chia pada putrinya, sungguh membuat Dio terharu.
"Ya Allah, berikanlah kebaikan yang tak terhitung nilainya pada Chia dan Jamal." Doa Dio dalam hati.
Andai disadari betapa nikmat Allah begitu luar biasa, tentu akan ada syukur yang tak terukur sekalipun keadaan duka sedang menimpa seorang hamba.
Belajar untuk mensyukuri apa yang masih tersisa, ketimbang harus meratapi apa yang telah hilang dan pergi, yang sejatinya manusia memang tak pernah memiliki apa-apa, semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
__ADS_1