Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Pertemuan Dio dan Chia


__ADS_3

Episode 9


Tiga hari dua malam di dalam hutan pun berlalu dengan sangat cepat. Chia, Jamal dan kawan-kawan telah menyelesaikan misi nya. banyak pelajaran yang mereka dapatkan disana.


Selain dapat berlatih bela diri dengan lebih leluasa, juga bisa sekaligus menjaga untuk lebih mencintai alam.


Beradaptasi dengan lingkungan sekitar, menikmati alam secara alami tanpa campur tangan manusia, mengenal lebih dekat teman-teman, melepas penat dan meresapi suasana hutan yang penuh kejutan.


Bagi Chia ada pengalaman khusus yaitu,


mencoba bertahan selama jauh dari ayah dan ibu.


Setiap orang telah pulang dan kembali ke rumah dengan selamat.


Menjadi dewasa terkadang memang sedikit menguras energi dan pikiran. Cita-cita dan harapan yang mungkin bisa berubah dalam perjalanan, tak jarang membuat seseorang menjadi pribadi yang lain.


Kesadaran akan adanya sang pengatur takdir harus benar-benar dimaknai.


Tiga tahun berselang,


Di sebuah kedai kue, tampak seorang gadis berparas ayu sedang asyik menata display kuenya. Tak terlihat seperti sedang bekerja, tapi lebih terlihat seperti sedang melakukan sebuah hobi. Sambil tersenyum dan sesekali berbicara sendiri gadis itu terlihat begitu menikmati pekerjaannya.


Terlihat juga para pembeli yang datang dan pergi silih berganti.


pelayanan yang ramah dan rasa kue yang memenuhi harapan, cukup beralasan untuk para pelanggan menetapkan pilihan.


"Emm ini enak" Ujar para pembeli kue yang langsung menikmatinya di tempat.


"Terimakasih ya kak, silakan datang lagi" kata gadis itu ramah. Para pembeli itu ada yang membalas dengan senyuman, ada yang tidak mempedulikan keramahan si gadis karna asyik menikmati kue nya.


Ada juga yang membalas dengan keramahan yang sama.


"Alhamdulillah, ternyata resep kue ibu ini benar-benar sempurna, semua orang menyukainya." Sambil begumam gadis itu mulai merapikan pekerjaan di kedai kue nya.


Dagangannya hari ini sangat laku keras, seperti biasanya para pembeli kebanyakan kembali lagi dan menjadi langganan.


"Assalamu'alaykum..." terdengar seseorang meberi salam.


"Wa'alaykumsalam..." gadis itu mejawab salam dan seperti terhipnotis. Saat memandang ke arah tamunya, ia melihat seorang laki-laki berwajah manis, berperawakan lumayan tinggi dan maskulin. Membiaskan senyum dibibirnya.


"Maaf saya ingin membeli kue, apa masih ada?"

__ADS_1


Ujar laki-laki itu.


Si gadis kedai kue itu masih diam terkesima, membuat lelaki itu mengulangi ucapannya.


"Halo...saya ingin membeli kue, apa masih ada?"


Seketika si gadis pun segera tersadar.


"Iya tentu saja masih ada kak, tapi maaf tinggal ini saja." Si gadis menunjukan dua jenis kue yang masih tersisa.


Tanpa penolakan laki-laki itu langsung mengiyakan dan membeli kue itu.


Tapi anehnya, alih-alih pergi setelah selesai membayar kue, ia malah memberikan satu kue itu pada si gadis dan meminta untuk duduk dikursi yang memang tersedia untuk pembeli yang ingin menyantap kue langsung di kedai nya.


Bak dayung bersambut si gadispun menerimanya, mereka mulai memakan kue nya bersamaan.


"Gimana? Sudah dibaca belum isi suratnya?"


disela-sela menikmati kuenya laki-laki itu memberi tanya.


Sontak air mata si gadis langsung jatuh, membias membasahi pipi ayunya.


"Dio..."


Sambil tersenyum laki-laki itu menyodorkan beberapa lembar tisu pada si gadis. Ya benar, Gadis itu adalah Chiara, gadis konyol si petualang itu memutuskan untuk pergi ke kota setelah sebelumnya merasa tidak ingin jauh-jauh dari ayah dan ibunya.


Deras rindu tak bisa dibendung, mungkin selama ini Chia tak pernah mengira bahwa akan bertemu lagi dengan seorang yang sudah mengisi hatinya sejak masa sekolah, meski tak pernah ada kata cinta diantara mereka tapi perasaan itu ada.


Kedai kue Chiara pun tutup karena memang sudah habis terjual, hari ini sangat ramai pembli.


Dio kemudian mengajaknya ke rumah makan sederhana yang berada tidak jauh dari kedai kue Chiara.


Obrolan pun semakin intens dari yang semula saling bertanya kabar hingga tentang keputusan Chiara yang terbilang jauh diluar dugaan. Dio yang mengetahui bagaimana Chia di masa sekolahnya pun berdecak kagum atas keberanian Chia mengambil keputusan itu.


Mungkin untuk sebagian besar orang, hal itu biasa bahkan mungkin bukan apa-apa. Tapi untuk seorang Chia, keputusan yang ia ambil sangatlah besar dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan diri bahwa ia bisa jauh dari ayah dan ibu.


Tanpa mengurangi rasa cinta dan kasih sayang pada orangtuanya, Chia paham bahwa hidup harus berkembang, karena bertahan saja tidak akan menambah warna baru dalam lembaran hidupnya.


Ya, seiring bertambah usia kedewasaan itu datang membersamai.


Meski rasa rindu pada ayah dan ibu kerap kali membuat hari-harinya terasa panjang. Chia menerima jika perasaan itu harus datang pada dirinya.

__ADS_1


Dio mengantar Chia pulang ke rumah kos nya.


"Baiklah tuan putri. Aku pamit dulu, kalau tidak keberatan tolong untuk menyimpan nomer ini di kontakmu." Dio menggoda Chia dengan memberikan secarik kertas bertuliskan nomer ponselnya.


Chia mengambilnya sembari tersenyum.


Di kamar kosnya Chiara membaringkan tubuhnya, sambil menatap langit-langit kamarnya, ia masih tidak menyangka, seseorang yang lama ia rindukan hadir kembali mengembalikan perasaan yang sama.


Rasa lelah setelah seharian bekerja di kedai kue pun seolah sirna. Chia terperanjat bangun dari tempat tidurnya, ia harus mandi agar tubuhnya segar.


Malam ini Chia tidur dengan perasaan bahagia.


Keesokan harinya, seperti biasa ia melakukan aktifitas nya, tiba-tiba datang seorang wanita cantik dengan pakaian yang seksi.


Rambut tergerai panjang dengan warna kulit khas wanita Asia, berdiri tepat di depan Chia.


Tak ada perbedaan, Chia menyapanya dengan ramah seperti menyapa pembeli-pembeli yang lain.


Namun kali ini keramahan Chia tak mendapat respon yang wajar, wanita itu malah menyirampakan sebotol air mineral pada Chia.


Chia yang merasa tak pernah melakukan kesalahanpun hanya diam pasrah, dengan perasaan yang bingung Chia bertanya-tanya.


"Maaf mbak, salah saya apa ya?" Tanya Chia yang sudah basah kuyup.


"Oh mau tahu salah kamu apa? heh gadis kampung, harusnya kamu bercermin ya sebelum mendekati kekasih orang." tuturnya penuh amarah.


"Maaf mbak, tapi saya gak pernah melakukan apa yang mbak tuduhkan. Mbak gak bisa dong main hakim sendiri!" tutur Chia membela diri.


Wanita itu kemudian mengambil ponsel dan menunjukan potret dirinya dengan Dio yang sedang makan.


"Sekarang udah paham kan?" hardik wanita itu.


Chia berkecamuk tak bisa berkata apa-apa, ia tak menyangka, kalau memang yang dikatakan wanitu itu benar, berarti Dio berbohong?


Ingin rasanya Chia menangis sejadi-jadinya tapi ia masih bisa mengendalikan diri.


Wanita itupun pergi setelah mempermalukan Chia.


Chia segera membersihkan dirinya yang basah kuyup karena ulah wanita yang bahkan baru ia temui hari ini. Sambil berkata pada dirinya sendiri;


"Oke Chia ini bukan apa-apa, hanya sedikit rintangan kecil yang akan mampu dilalui."

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja Chia." katanya membesarkan hatinya sendiri.


Sementara di tempat berbeda Dio terus menatap layar ponselnya berharap ada pesan masuk dari Chia.


__ADS_2