Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Chia pulang ke kampung halaman


__ADS_3

Episode 13


"Aku bisa apa? bila hadirmu ternyata hanyalah sebuah awal dari kepergian.


Aku bisa apa? bila hati yang ku jaga erat-erat


ternyata harus aku relakan lepas dari genggaman.


Aku bisa apa? bila kenyataan pahit harus membangunkanku dari mimpi-mimpi indahku."


Chia terhanyut dalam patahnya, delapan jam perjalanan menuju kampung halamannya pun telah ditempuh dengan perasaan yang mengambang.


Tiba di rumah Chia.


Ibu sudah menyambutnya didepan, dengan tidak sabar.


Melihat putri kesayangannya menjelma menjadi seorang gadis cantik nan Ayu yang sudah lama ia rindukan, ibu pun tak bisa membendung tangisnya.


"Anak ibu..." katanya sambil memeluk Chia dan menciumi pipi dan kening putri kesayangannya itu.


"Ibu...Chia kangen" Chia menumpahkan kerinduannya pada sosok wanita yang telah melahirkan, merawat dan membesarkannya itu.


Setelah puas saling berpelukan, ibu pun mengajak Chia untuk masuk ke rumah.


Chia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan sambil mengenang masa-masa yang sudah ia lewatkan di rumah sederhana yang sangat nyaman itu.


"Ayah mana Bu? kok gak kelihatan..." Kata Chia.


Ibu masih sibuk menaruh barang bawaan Chia.


"Duduk dulu nak, atau Chia mau makan dulu? ibu sudah masak makanan kesukaan Chia." Kata ibu mengalihkan pembicaraan.


"Wah mau bu, Chia laper banget nih" sambil mengelus-elus perut nya.


"Ya sudah, ayo nak...makan yang banyak ya" Ibu mengambilkan makanan ke piring Chia.


"Hehe pasti dong bu, Chia kangen banget masakan ibu" Chia kemudian berdoa dan segera melahap hidangan yang disiapkan oleh ibunya.


"Alhamdulillah kenyang..." kata Chia usai menghabiskan makanannya.


"Gimana nak? suka sup ayam dan tempe gorengnya?" tanya ibu.


"Pokoknya masakan ibu juara, sup ayam, tempe goreng sama sambalnya juga enak dech" Sambil mengangkat dua ibu jarinya.


"Syukurlah kalau Chia suka, ibu jadi semangat masakin Chia. Tutur ibu senang.


Menyadari ayahnya yang belum juga terlihat, Chia kembali menanyakan pada ibunya.


"Ibu, ayah kemana sih? Chia kan kangen ayah juga bu," rengek Chia.


"A...ayah dirawat di rumah sakit nak, sudah satu Minggu" Kata ibu sambil terbata.


"Sudah satu Minggu? kok ibu gak kabarin Chia bu? kalau ibu cerita kan Chia bisa pulang lebih awal bu" Kali ini tangis Chia pecah.


Hatinya kembali dipatahkan oleh keadaan.


"Sabar nak, ibu sudah mau mengabari Chia waktu itu...tapi ayah menahan ibu, katanya takut Chia khawatir" Jelas ibu pada Chia.


Chiapun menangis dalam dekapan ibunya!


"Ayah sakit apa bu? terus yang jaga ayah di rumah sakit siapa?" Sambil tersedu Chia bertanya.

__ADS_1


"Sepulang dari memetik kelapa di kebun, tiba-tiba Ayah jatuh pingsan, kata dokter tensinya sangat tinggi dan harus dirawat. Bersyukur ada ustadz Hasan dan nak Jamal disana, kami saling bergantian menjaga ayah,ereka sangat baik" tutur ibu Chia.


"Kalau gitu Chia mau menyusul ayah ke sana ya bu." Chia menyeka air matanya dan berniat menjenguk ayah di rumah sakit.


"Gak usah nak, nak Jamal mengabari ibu tadi sebelum kamu datang, katanya ayah sudah boleh dibawa pulang." ucap ibu.


"Alhamdulillah..." Chia menarik napas lega.


"Oya bu, Chia belikan ayah dan ibu sesuatu" Chia meraih tas pakaian dan membongkarnya.


"Nah...ini dia" Kata Chia setelah menemukan sesuatu yang dimaksud.


"Ini untuk ayah dan ini untuk ibu" kata Chia sambil memberikan pada ibunya.


"Apa ini nak?..." Ibu penasaran.


"Buka dong bu..." Balas Chia tertawa kecil.


Ibu membukanya...


"Maa syaAllah, bagus sekali. Makasih ya sayang" Wajah ibu berbinar senang.


"Sama-sama bu, nanti dipakai ya" Ucap Chia menyunggingkan senyum.


"Tentu saja ibu pakai, pasti ini akan jadi baju gamis kesayangan ibu sepanjang masa" Tutur ibu. Mereka berduapun tertawa.


Rupanya Chia menyempatkan diri mampir di toko pakaian muslim untuk membelikan ayah dan ibu baju Koko dan gamis saat masih di kota. Pakaian dengan warna yang senada.


"Jadi ayah pulang jam berapa bu?" tanya Chia lagi.


"Sudah di jalan nak, mungkin sebentar lagi akan sampai. Ibu bersyukur punya kerabat seperti keluarga ustadz Hasan yang baik..." Ibu tersenyum.


"Iya bu! maafkan Chia ya, seharusnya Chia ada saat ayah dan ibu butuhkan..." Chia merasa bersalah.


"Kalau gitu Chia mandi ya bu, badan Chia lengket...ihh bau asem" Kata Chia sambil mencium-cium ketiak nya sendiri menggoda ibu.


"Ah kamu ini...sudah mandi sana ckckck desis ibu.


Chia bergegas untuk mandi. Setelah selesai, ia memasuki tempat ternyaman di dunia selain pelukan ayah dan ibunya.


Apalagi kalau bukan kamar dan tempat tidurnya.


Sambil membanting kan tubuh nya ke tempat tidur, Chia melompat bersorak bak anak kecil yang kegirangan saat diberi permen atau mainan.


Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa kembali merasakan lagi kamar tidur penuh kenangan ini.


Apalagi kamarnya masih terlihat bersih dan rapi karena ibu rajin membereskannya.


Selama Chia tidak ada di rumah, setiap kali ibu merindukan Chia, ibu datang ke kamar Chia untuk sekedar melihat barang-barang Chia. Bagi ibu, semua itu cukup menghibur hatinya dan merasakan bahwa Chia selalu berada dekat dengannya.


Lelah di perjalanan pulang pun terbayar lunas dengan posisi nyamannya dia atas tempat tidur.


dan Chia tertidur pulas.


Tak berselang lama kemudian, Ayah datang diantar Jamal. Ustadz Hasan telah lebih dulu pulang dan tidak bisa mendampingi, karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.


Ayah kini nampak lebih segar setelah seminggu mendapat perawatan, ia pun kini lebih sehat dan bugar.


"Ayah istirahat ya" kata Ibu menuntun.


"Mana anakku bu? apa gadis konyol itu tidur sekarang?" Kata ayah menebak sambil tertawa.

__ADS_1


"Ah ayah bisa saja, Iya yah Chia tidur sehabis mandi tadi, kayaknya kecapekan" balas ibu.


Sementara Jamal hanya duduk terdiam menyaksikan celotehan kedua orangtua Chia.


entah mengapa mendengar nama Chia, jantungnya mulai bergerak dengan detak yang sangat kencang.


"Dag dig dug dag.....ser" darah Jamal berdesir.


"Nak Jamal terimakasih banyak ya, ibu gak tahu bagaimana harus membagi diri ibu yang satu ini, seandainya tidak ada yang membantu ibu untuk bergantian menjaga ayahnya Chia.


"Hehehe pasti ibu sudah tidak pernah mandi di rumah karena tidak bisa pulang kan Bu" ledek ayah Chia.


Merekapun tertawa...


"Sama-sama bu. Sudah kewajiban kita untuk saling menolong dan membantu sebisanya. Lagian gak banyak yang bisa kami lakukan, hanya itu saja." kata Jamal dengan rendah hati.


"Itu sudah lebih dari cukup" kagum Ayah Chia pada Jamal.


Samar-samar suara obrolan mereka terdengar ke kamar Chia dan membuatnya terbangun. Chia sadar ia mendengar suara ayah ada disana, tanpa pikir panajang Chiapun segera berlari menuju ayah.


"Ayah...." Katanya berlari seperti anak kecil.


Ia pun menghamburkan diri ke dalam pelukan ayahnya.


Chia hanya mengenakan pakaian tidur rumahan dan tidak memakai hijab, karena sebelumnya Chia tidak mengetahui bahwa Jamal pun ada disana.


menyadari dirinya yang tidak mengenakan hijab...ia berteriak kencang.


"Aaaaaaaaaa! buaya" Kata Chia sambil berlari kembali ke kamarnya untuk mengambil kerudung.


Jamal yang melihat itu langsung tertunduk, antara malu karena sempat melihat Chia tanpa hijab, ia juga tergelitik tawa menyaksikan tingkah Chia yang ternyata masih seperti dulu, meski mungkin sudah banyak yang berubah.


"Lho lho...kan bu, lihat kan gadis konyol itu sudah mulai lagi" Kata ayah menunjuk ke arah kamar Chia.


"Maaf ya nak Jamal, sepertinya Chia lupa kalau yang mengantar pulang ayahnya itu nak Jamal Maklum tadi dia sempat nangis mengkhawatirkan ayahnya, mungkin dia jadi gak fokus." Ibu Chia menjelaskan.


"Gak apa-apa bu, sudah biasa" kata Jamal.


"Lho bu...gak salah lagi kan, Jamal sudah terbiasa dengan sikap calon istrinya" sambar Ayah Chia membuat Jamal semakin tersipu.


Chia yang sudah selesai berganti baju dan memakai hijab pun kaget karena tidak sengaja mendengar kata-kata ayah.


"Calon istri siapa yah?" tanya Chia dengan wajah bingung.


belum sempat menjawab Chia tiba-tiba Jamal memotong pembicaraan.


"Oya bu, pak kalau gitu Jamal pamit pulang ya, sebentar lagi harus mengajar anak-anak mengaji" Jamal menyalami ayah dan ibu Chia dan melipatkan kedua tangan seraya membungkukkan badan pada Chia.


Chia yang merasa ada yang aneh pun bengong keheranan.


Walau sudah saling mengenal sebelumnya, Jamal dan Chia entah mengapa kali ini merasa ada yang berbeda, seperti tidak sanggup berkata-kata.


Untuk membuang rasa geroginya Jamal segera bergegas pulang setelah berpamitan.


"Assalamu'alaykum...." Ucap Jamal.


"Wa'alaykumsalam...hati-hati nak. Oya ini ada sedikit oleh-oleh dari Chia, tolong sampaikan pada ibu dan ayahmu." Kata ibu Chia berpesan.


"Baik bu...nanti Jamal sampaikan..." Jawab Jamal.


Dan Ngeeeng...Jamal langsung tancap gas.

__ADS_1


Napas Jamal sudah tidak beraturan lagi.


__ADS_2