Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Hasrat


__ADS_3

Episode 32


Pekatnya gelap malam melarutkan sisa-sisa lelah Chia dan Jamal, yang tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan yang mereka habiskan seharian.


Namun, disisi lain ada yang sedang gelisah tentang cinta dan takdir hidupnya. Didalam bilik-bilik pondok yang sederhana, seorang laki-laki tengah merenung, mengingat-ingat akankah dirinya menemukan sesuatu yang ia cari diujung pencariannya kelak.


"Dio!" Sapa seseorang yang tidur bersebelahan dengannya.


"Kok kamu gak tidur? Jam berapa ini?" Tanya seorang temannya yang bernama Hendra.


Hendrapun bangkit dari tidurnya, dan melihat jam sendiri, ketika ia mendapati pertanyaannya tak dijawab oleh Dio.


"Hah! Dio, ayo mau sholat tahajjud gak?" Ajak Hendra dengan sedikit terkejut saat ia melihat jam menunjukan pukul 03.00 dini hari.


"Hemm." Jawab Dio singkat.


"Ayo buruan." Lanjut Hendra sembari menarik tangan Dio, untuk mengambil air wudhu.


"Iya ah, lebay loe kayak cewek." Ucap Dio mendecakkan mulutnya.


"Yee, kamutuh yang kayak cewek. Galau terus, seperti gak percaya sama gusti Allah saja." Olok Hendra pada Dio.


"Ah leo Hen, loe belum pernah aja ngerasain ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." Ucap Dio membela diri dari olokan temannya itu.


"Memangnya secantik apa sih wanita itu? lagi pula kamu kan belum halal sama dia. Mangkanya jangan pacaran atuh, biar hati kamu teh dijaga dari kata patah sebelum tumbuh, hahaha." Ledek Hendra.


"Mau wudhu apa mau ceramah?" Balas Dio yang membuat Hendra segera sadar dan merekapun bergegas untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat sunnah tahajjud.


Dalam kata lain, bahwa pria laki-laki yang Chia lihat saat hendak pulang dari pondok pesantren pakdenya Jamal, adalah benar seseorang yang ia kenali.


Ternyata sudah beberapa bulan, Dio menjadi salah seorang santri di pondok pesantren yang diasuh oleh pakdenya Jamal tersebut.


Dalam pelariannya menghindari masalah yang ia hadapi, Dio memilih menenangkan diri dengan menjadi seorang santri di pondok tersebut.Guna mendalami pengetahuan ilmu agamanya.


Dio berharap usahanya untuk menguraikan banyak perasaan yang masih menggumpal, dapat ia raih dengan mendalami ilmu agama, dan lebih mendekatkan diri pada sang maha pemilik takdir.


Beralih ke ruang lain disebuah rumah mewah, dengan fasilitas lengkap dan kamar yang begitu nyaman.


Ada Nesa yang juga merasa kacau dengan kemelutĀ  pikirannya.


"Arrgh." Kesal Nesa pada diri dan pikirannya sendiri.


"Pleas Nesa, jangan mengulangi kebodohan yang sama." Tuturnya dalam gelisah.


"Ah masa bodo, emang suami Chia ganteng dan berwibawa. Jadi bukan salah aku dong kalau aku suka sama dia." Tutur Nesa membenarkan apa yang ia rasakan.


Rupanya pertemuan pertamanya dengan Jamal di kafe tenda saat itu, membuat Nesa diam-diam jatuh hati.


Setan memang tidak pernah berhenti membisikkan usaha-usaha kejinya dalam menjerumuskan manusia.


Nesa yang semula bersemangat memperbaiki diri, setelah banyak belajar pada Chia tentang banyak hal termasuk agama. Kini mulai goyah dan lagi-lagi semua itu tentang laki-laki.


Walau dalam sadarnya Nesa sempat berpikir, mengapa dirinya terkesan selalu memaksakan cinta seorang laki-laki.


Namun sisi lain diri Nesa segera menepis pikiran itu, dan hasrat Nesa untuk mendapatkan Jamal pun semakin menggebu.


Walau Nesa sadar, Jamal adalah suami dari sahabatnya, yang sudah begitu baik dan menerimanya sebagai teman dengan tulus, setelah apa yang dirinya lakukan pada Chia.

__ADS_1


Sepanjang malam itu dijadikan Nesa untuk menyusun siasat, bagaimana caranya agar ia bisa mendekati Jamal yang punya sikap dingin, dan justru membuat Nesa semakin penasaran ingin mendapatkannya.


Andai ia bisa memutar waktu lebih cepat, rasanya Nesa ingin segera pagi, agar ia bisa berkunjung lagi ke rumah Chia dan melancarkan aksinya. Walau saat itu sudah mendekati penhujung malam.


Entah usaha setan yang terlalu kuat menggoda, atau mungkin iman Nesa yang lemah sehingga ia mudah goyah.


Kembali ke dalam rumah Chia dan Jamal.


Di dalam kamar, Jamal tidur dengan posisi memeluk Chia bak sedang memeluk seorang bayi.


Perlahan Jamal mulai terbangun karena saat itu waktu shubuh hampir tiba, mungkin sekitar tiga puluh menit lagi akan memasuki waktu sholat.


Jamal membuka matanya dengan posisi tubuh yang masih sama, memeluk erat istrinya.


"Sayang! bangun yuk, sebentar lagi shubuh." Ucap Jamal sembari mengusap gemas pipi Chia.


Namun Chia yang tampak sangat lelah, tak juga bergeming dan masih tetap lelap tertidur. Sepertinya Jamal butuh usaha lebih keras untuk membangunkan istrinya itu.


Dengan nakal, tangan Jamal mulai menggerayangi tubuh istrinya itu, perlahan ia membuka kancing piyama istrinya itu mulai dari atas hingga bawah, hingga tampaklah semua yang ada dibalik piyama itu.


Jamal membelai dan mencumbu lembut istrinya yang masih terlelap itu.


Jamal terus melakukan cumbuannya pada Chia, sesekali ia menciumi bibir, mengecup kening dan pipi serta leher Chia.


Pergerakan tubuh Chia pun mulai terlihat.


Chia melenguh merasakan getaran yang tak asing saat ia mendapat cumbuan dari suaminya itu.


Perlahan Chia mulai membuka matanya dan mendapati suaminya sedang asyik menjelajahi setiap jengkal tubuhnya.


Chia tak punya pilihan lain selain menikmatinya, ia mulai terpengaruh cumbuan nakal suaminya itu dan merekapun melakukannya dengan penuh cinta dan hasrat yang dalam, kemudian berakhir di kamar mandi.


"Ah kakak, Kaka aja yang kenafsuan sama aku." Jawab Chia sambil menutup wajah dengan kedua tangannya dalam keadaan tubuh yang terbalut handuk.


"Hahaha ya gak apa-apa dong, kan nafsunya sama istri sendiri jadi gak ada dosa." Jawab Jamal sambil tertawa geli.


"Kenapa mukanya ditutupin, buka dong kakak gak bisa lihat muka cantik istri kakak nih jadinya." Kata Jamal seraya menurunkan tangan Chia yang sedang menutupi wajahnya.


"Kakak sih ledekin aku kayak gitu, kan aku jadi malu." Ucap Chia.


"Uh sayang, jangan malu dong kan Kakak suami kamu." Hibur Jamal sembari memeluk istrinya itu.


"Mau lagi nggak." Bisik Jamal ditelinga Chia.


"Ah kakak, nakal banget sih." Chia melepaskan pelukannya dan bergegas mencari baju untuk ganti di lemari pakaiannya.


Sementara Jamal tertawa puas, seperti biasa, Jamal selalu senang menggoda istrinya sampai membuatnya tersipu malu dan salah tingkah.


Selesai berganti pakaian mereka bersiap untuk menunaikan sholat subuh. Kemudian melanjutkan aktifitas lain seperti hari-hari biasanya.


Menjalani hari-hari penuh cinta dengan istrinya, adalah sebuah pinta dan doa yang selalu Jamal langitkan setiap saat didalam doanya.


Dengan hati dan perasaan yang berbunga-bunga, Jamal meneguk secangkir teh yang telah disiapkan oleh Chia dengan penuh cinta dan bakti sebagai seorang istri.


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.


"Kak bagusan yang mana? yang ini atau yang ini?" Tanya Chia menunjukkan dua buah busana muslimah, berwarna krem dan merah marun.

__ADS_1


"Hem" Jamal berpikir sejenak.


"Kakak bingung harus menentukan yang mana?" Ucap Jamal dengan wajah bingung.


"Kakak! Ihh nyebelin banget sih, aku serius lho." Kata Chia dengan wajah kesal.


"Habisnya semuanya bagus sayang, selama kamu yang pake." Jawab Jamal.


"Bisa gak kakak jawabnya gak usah pake perasaan kakak yang lebay itu?" Kata Chia semakin menunjukkan kekesalannya.


"GAK BISA!" Jawab Jamal seraya berdiri dan terus melangkah maju, sementara Chia terus mundur sampai ia tersudut ke tembok.


Jamal menaruh kedua tangannya di tembok, disisi samping kanan dan kiri kepala Chia.


Melihat ekspresi Jamal yang tidak biasa, Chia tersentak dan hanya bisa diam pasrah.


Dengan tatapan yang datar dan ngeri, Jamal menatap Chia seoalah ingin menerkamnya, Chia merasa takut karena sebelumnya Jamal tidak pernah bersikap demikian.


Saat Jamal mendekatkan wajah


pada wajah Chia, Chia langsung menutup kedua matanya, dan Jamal mendaratkan banyak ciuman di kening,pipi dan bibir Chia. Chia tertunduk sembari menangis tersedu.


Jamal yang melihat istrinya berurai air mata itupun langsung berhenti menciuminya.


"Kenapa sayang? Kok kamu nangis?" Kata Jamal heran.


Chia tidak menjawab dan hanya terus menangis.


Jamal kemudian menarik tubuh Chia ke dalam pelukannya.


"Kakak jahat banget sih?" Ucap Chia sembari terus menangis.


"Jahat kenapa?" Tanya Jamal.


"Chia takut kak, aku pikir kakak mau ngapain aku, muka kakak serem." Ucap Chia suara yang sangat pelan.


"Ya ampun sayang, kamu nangis karena ketakutan?" Tanya Jamal.


Chia menganggukan kepalanya.


Sebenarnya Jamal ingin tertawa mendengar alasan Chia menangis, karena sebenarnya Jamal tidak sedang berusaha membuat istrinya ketakutan, namun hasrat lelaki Jamal tengah terpancing dengan kecantikan istrinya, yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Sayang! Kakak lagi gemes sama kamu, bukan lagi nakutin kamu. Kok kamu polos banget sih?" Tutur Jamal sembari mengelus punggung Chia agar lebih tenang.


"Tapi muka Kakak serem." Kata Chia menyembunyikan dirinya dalam pelukan Jamal.


"Kalau takut kenapa semakin kenceng meluknya." Batin Jamal.


"Ya ampun, kasian banget sih sayangnya kakak. Ya udah kakak minta maaf ya cantik." Lanjut Jamal.


Jamal menarik napasnya dalam, sembari menahan tawanya. Disisi lain ingin tertawa namun ia khawatir akan membuat keadaan semakin rumit bila ternyata tawanya itu ternyata menyinggung perasaan istrinya yang sedang ketakutan.


"Udah nangisnya?" Tanya Jamal lembut, yang dibalas anggukan kepala oleh Chia.


"Bajunya bagus semua kok, tapi Kakak lebih suka banget yang warna krem." Lanjut Jamal meghibur Chia.


Chiapun tersenyum dan segera mengembalikan satu baju yang tidak dipilihnya.

__ADS_1


Tak lama suara ketukan pintu terdengar dari arah luar, karena istrinya sedang sibuk mengambil dan menaruh pakaiannya. Jamalpun segera bergegas untuk membukakan pintu.


__ADS_2