
Episode 45
Nesa langsung tertunduk, ketika mata mereka semua tertuju padanya.
Meski kewaspadaan tetap ada pada Chia, Jamal dan Dio, sebagai orang yang pernah memiliki pengalaman kurang mengenakkan dengan Nesa, Namun tidak serta-merta membuat mereka berburuk sangka.
"Nesa! kamu disini juga." Ucap Chia sembari tersenyum, seolah Chia mengerti kegugupan Nesa.
Nesa hanya memgangguk.
"Aku boleh bicara?" Tanya Nesa yang tampak gemetar.
"Boleh, kamu tenang aja Nes." Kata Chia mengusap punggung Nesa seraya berbisik, agar Nesa merasa tenang.
Entah mengapa, Chia selalu merasa iba ketika melihat wajah-wajah sedih dan ketakutan, meski sudah banyak kepercayaan Chia yang Nesa khianati.
"Makasih Chia." Ucap Nesa dengan suara parau menahan tangisnya.
Sementara Jamal dan yang lain hanya menyimak saja, Namun Bunga sudah mulai terlihat bingung dengan apa yang sedang berlangsung dihadapannya.
Jamal mulai menyadari, bahwa sepertinya Bunga tidak mengetahui apapun tentang Nesa.
"Bro, inget jangan gegabah! Masa lalumu biarlah menjadi milikmu sendiri, lebur semua itu dengan memohon pengampunan kepada-Nya. Istrimu biarlah tidak perlu mengetahui semua yang telah lalu tentangmu." Jamal diam-diam memgirimkan sebuah pesan singkat pada Dio.
Saat pesan itu sampai pada Dio, Dio langsung membacanya, dan ia membalasnya dengan langsung menganggukkan kepala pada Jamal.
"Hampir saja! syukurlah Jamal mengingatkanku" Batin Dio, yang semula tidak terpikir harus berbuat apa.
Nesa masih terisak memeluk Nesa.
"Istri Dio nggak tau apapun tentang masalalu kamu sama Dio, sebaiknya dia gak perlu tau ya!" Bisik Chia ditelinga Nesa.
Nesa memberikan isyarat persetujuan, dengan menganggukkan kepalanya.
Nesa dan Chiapun saling melepas pelukan.
"Eh iya, Bunga kenalin ini sahabat aku, Nesa. Dan Nesa kenalin ini juga sahabat sekaligus saudara aku, Bunga." Kata Chia memperkenalkan dua perempuan yang ada bersamanya.
Seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, Chia benar-benar rapi menjaga rahasia. Ia tak ingin Bunga kepikiran andai mengetahui masalalu yang terjadi diantara Dio dan Nesa.
Dengan senyum sumringah, Bunga pun berjabat tangan dengan Nesa, saling berkenalan, kemudian Nesa hanya menganggukkan kepala pada Jamal dan Dio.
Kedua lelaki itupun membalas dengan mengganggukkan kepala mereka juga.
"Ya udah kita cari tempat duduk dulu yuk." Ajak Chia pada semua orang, termasuk Nesa.
"Em, maaf ya aku gak bisa ikut, kayaknya temen-temenku udah pada nungguin." Tutur Nesa.
"Oh gitu? jadi gak ikut kita makan siang dulu Nes?" Tanya Chia memastikan.
Nesa pun memgangguk.
"Iya soalnya aku kesininya bareng temen-temenku, gak enak kalau kelamaan. Tapi aku boleh ngomong berdua aja gak sih sama kamu?" Sambung Nesa lagi.
__ADS_1
"Iya, boleh kok." Jawab Chia singkat, setelah jamal memberikan isyarat dengan anggukan kepala, tanda mengizinkan.
"Kalian boleh ke mobil dulu dech, atau duduk dulu sambil minum." Kata Chia pada Jamal Dio dan Bunga.
Mereka bertiga bergegas menuju mobil, sementara Chia dan Nesa terlihat sangat serius membicarakan sesuatu.
Bunga yang melihat dari kaca jendela mobil pun, ada rasa penasaran, namun akan sangat tidak sopan rasanya kalau ia bertanya, khawatir kalau-kalau pembicaraan itu adalah hal yang rahasia dan tidak perlu Bunga ketahui. Akhirnya Bunga hanya menyimpan sendiri rasa penasarannya itu.
Sekitar sepuluh menit berlalu, Chia dan Nesapun mengakhiri obrolan mereka. Nesa berpamitan untuk pulang dengan memeluk Chia.
"Makasih ya, kalau bukan kamu, mungkin udah gak akan sudi bahkan hanya untuk melihatku didalam mimpi." Ucap Nesa.
"Semua orang punya kesalahan dan dosa Nes, dan sebaik-baik pendosa adalah ia yang mau bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama." Jawab Chia membesarkan hati Nesa.
"Aku beruntung, Allah masih mempertemukan lagi aku sama kamu." Ucap Nesa lagi, sebelum akhirnya mereka berpisah dan sama-sama berjalan ke arah yang berbeda.
"Udah sayang ngobrolnya?" Tanya Jamal ketika Chia sudah masuk dan duduk di kursi mobil.
"Udah kak." Jawab Chia sembari tersenyum, Chia tak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya akan menceritakannya pada Jamal, nanti setelah mereka hanya berdua saja.
Saat itu Dio dan Bunga memang menumpang di mobil Jamal, karena mereka kesini dengan sebuah jemputan yang dikirim oleh panitia penyelenggara kajian. Jadi untuk pulangnya nanti, Jamal yang meminta agar dirinya dan Chia saja yang mengantar Dio dsn Bunga pulang, sekalian ingin menjenguk pakde dan bude di pesantren.
Dio dan Bunga pun mengiyakan permintaan Jamal tersebut, tentunya dengan persetujuan istri tercintanya.
"Tadi sahabat kak Chia? cantik ya, maa syaAllah." Tanya Bunga.
Kedua laki-laki yang duduk dikursi depan kemudi, sudah deg-degan tidak karuan mendengar Bunga yang tiba-tiba bertanya begitu.
"Iya, dia sahabat kakak, udah lama banget gak ketemu...eh ternyata ketemunya malah dimasjid itu." jawab Chia.
"Oh pantes, tadi kayaknya dia kangen banget sama kak Chia, sampai-sampai meluknya erat banget, kayak gak mau lepas hehehe." Sambung Bunga lagi.
"Kamu gak tahu aja perstiwa kelam di masa yang lalu dek." Batin Chia.
"Hehe, ya begitulah." Jawab Chia sambil nyengir.
"Ehem, asik banget sih ngobrolnya, jadi kita mau makan siang diluar apa dirumah aja nih?" Celah Jamal memotong obrolan Chia dan Bunga.
"Sebenernya di rumah juga gak apa-apa sih, aku udah siapin makanan, tinggal manas-manasin sebentar kalau mau, tapi takutnya Bunga sama Dio mau masakan luar." Kata Chia menjawab Jamal.
"Nggak kok." Jawab Dio dan Bunga kompak.
"Duhileee, kompak banget jawabnya." Ledek Chia.
"Hehe, aku mau masakan kak Chia aja kak, kamu juga kan sayang?" Ucap Bunga yang kemudian bertanya pada Dio.
"Iya, kita makan masakan kakak kamu aja." Jawab Dio.
"Ih sejak kapan Dio ikut-ikitan bilang aku kakaknya Bunga." Batin Chia.
"Oke, berarti kita langsung ke rumah aja ya, sekalian Dio sama bunga biar istirahat juga." Timpal Jamal.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas rahmat-Mu." Batin Dio.
__ADS_1
Tak dapat Dio bayangkan, apa yang akan terjadi pada dirinya kalau saja ia tidak kembali ke jalan Allah SWT. Mungkin hidupnya sudah terombang-ambing tanpa arah yang jelas.
Tak sampai satu jam, mereka pun sampai di rumah Chia dan Jamal.
"Assalamu'alaykum." Kata mereka memberi salam sebelum memasuki rumah.
"Silakan duduk-duduk dulu, atau kalau mau istirahat di kamar tamu aja. Kasian nih bumil, takutnya kecapekan." Ucap Chia.
"Hehe, makasih kak." Jawab Bunga seraya mengelus perut buncitnya.
"Oya, kalian santai dulu ya, jangan sungkan-sungkan, anggap aja rumah sendiri, aku mau bantuin Chia nyiapin makanan dulu." Tutur Jamal.
"Makasih bro." Jawab Dio.
Empat insan yang pernah berada di lingkaran cinta yang sama, Chia dengan Dio, dan Bunga juga pernah menginginkan Jamal untuk menikahinya, Namun takdir berkata lain.
Meski kini, mereka teramat bersyukur dengan apa yang mereka jalani saat ini, karena ternyata mereka justru berteman dekat bahkan sudah seperti saudara, tidak ada permusuhan, benci ataupun dendam diantar mereka.
Sekitar lima belas menit kemudian, makanan yang Chia siapkan dibantu oleh suami tercintanya Jamal, kini telah tersaji di meja makan, dan siap untuk dinikmati.
"Jamal segera memanggil Dio dan Bunga yang berada diruang tamu, untuk menuju meja makan dan menikmati hidangan yang sudah disuguhkan dengan penuh ketulusan oleh sang tuan rumah.
"Ehem jadi ganggu nih." Kata Jamal sembari memalingkan wajah, karena tak sengaja melihat Dio sedang membelai lembut perut Bunga yang buncit sambil memeluk tubuh Bunga.
Dio dan Bunga pun terperanjat kaget.
"Tenang aja, aku gak lihat apa-apa kok." Kata Jamal menyembunyikan senyumnya.
"Makanannya udah siap, yuk kita makan." Kata Jamal melanjutkan, karena Jamal tak ingin berlama-lama menyaksikan Dio dan Bunga yang salah tingkah.
Merekapun menikmati hadangannya.
"Oh iya, kalian gak mau nginep dulu aja disini? kasian lho Bunga kan lagi hamil, takutnya kecapekan kalau pulang pergi dengan jarak yang cukup jauh." Kata Chia.
"Ah gak usah, gak apa-apa kok. Gak enak kalau terlalu merepotkan kalian." Jawab Dio.
"Aku terserah suamiku aja kak." Timpal Bunga.
"Bener juga bro kata istriku, kalau mau nginep dulu disini gak apa-apa, urusan sama pakde biar aku yang handle nanti." Kata Jamal.
"Bener banget sayang, rencananya aku juga mau ke kedai kue dulu, sekalian bawa buat buah tangan pas ke pondok nanti." Lanjut Chia.
"Sebenarnya aku juga lelah, apalagi istriku, pasti dia juga sangat lelah. Tapi aku khawatir akan merepotkan Chia dan Jamal. Ya bolehlah nginep dulu untuk satu malam." Batin Dio bingung.
"Gimana sayang? kalau emang kamu capek, ya udah gak apa-apa, kita nginep dulu." Kata Dio pada Bunga.
"Ya udah kalau gitu." Jawab bunga tersenyum.
"Nah gitu dong, kan gak tiap hari juga kalian kesini." Ucap Chia.
Merekapun menghabiskan waktu yang berkualitas bersama.
Chia segera merapikan lagi kamar tamu, yang akan dipakai oleh Dio dan Bunga.
__ADS_1
Sampai malam hari tiba, kini mereka berada dikamarnya masing-masing.
"Saat yang tepat, buat ceritain apa yang Nesa omongin ke aku tadi siang." Gumam Chia setelah ia hanya berdua di dalam kamarnya bersama Jamal.