
Episode 52
Di pekatnya gelap malam yang menyelimuti semesta. Mata Chia tak jua dapat terpejam dengan lelap. Pikiran untuk segera memiliki momongan kini semakin menyeruak dalam dirinya.
"Apa yang terjadi pada diriku? bukankah segala sesuatu telah ditentikan oleh-Nya? mengapa aku jadi begini memaksa?" batin Chia bertanya-tanya.
Sesekali mata Chia menatap pada wajah lelaki baik yang selalu membuatnya bahagia itu. Raut wajah kelelahan tampak di sana, Chia membelainya lembut sembari berkata "mungkin aku terlalu beruntung memiliki kamu Kak."
Perlakuan sempurna Jamal pada Chia memanglah selalu didambakan setiap wanita, termasuk author yang sedang membuat cerita ini. Bagaimana tidak? Jamal selalu memperlakukan Chia bagai seorang ratu yang paling istimewa.
Ya sudah jangan terbawa halu, mari kita kembali ke cerita.
Mata Chia perlahan terpejam dan semakin terlelap seiring jemari tangan yang memberi belaian lembut pada pipi Jamal.
***
Di dalam sebuah kamar mewah dengan warna seprei yang senada dengan warna dinding yang mengelilingi ruangan itu. Nesa sedang menggoda Jamal dengan kalimat-kalimat rayuan yang begitu membuai. Jamal menyambut Nesa dengan pelukan dan belaian yang sama persis selalu ia lakukan pada Chia.
Sampai akhirnya Jamal dan Nesa melakukannya. Yang paling menyedihkan adalah, ketika Jamal berkata 'aku ingin memiliki anak darimu Nesa, karena Chia tak juga bisa memberikan aku keturunan'... kalimat itu sungguh membuat dada Chia sesak dan ngilu.
Kemudian Chia menghampiri Jamal dan Nesa yang sedang asik bercumbu mesra. Chia mengajak Jamal berbicara namun, Jamal tak menghiraukannya, ia malah terus asik bercengkerama dengan Nesa tanpa memperdulikan perasaan Chia.
Chia menangis tersedu-sedu, hingga ia mendengar seseorang memanggil-manggil namanya.
"Chia... sayang... bangunlah! sudah masuk waktu shubuh."
Dengan rasa sedih yang masih memenuhi ruang hatinya, Chia pun terbangun dengan air mata yang membias membasahi pipinya.
"Astaghfirulla... ternyata aku cuma mimpi," ucap Chia.
Jamal merasa heran melihat pipi istrinya yang basah karena deraian air mata.
"Sayang... kamu mimpi apa sampe segitunya?" tanya Jamal.
Tapi Chia hanya diam dan terus mengeluarkan air mata dengan napas yang tersengal menahan sakit.
__ADS_1
Jamal meraih tangan Chia kemudian mendekap Chia ke dalam pelukannya. Setelah cukup tenang Chia menceritakan mimpi buruknya itu pada Jamal. Jamal menasehati Chia, agar Chia berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh dan memicu hadirnya mimpi buruk dalam tidurnya.
"Apa kamu berpikir bahwa manusia itu bisa membuat anak?" tanya Jamal.
Chia hanya menggelengkan kepalanya....
"Berhentilah menyiksa batin dan perasaan kamu sendiri dengan berpikir yang tidak-tidak! Kakak mencintai kamu dengan atau tanpa keturunan sekalipun." ujar Jamal.
"Maafkan aku Kak, aku cuma takut Kakak ngerasa bosan sama aku," ucap Chia.
"Bagaimana Kakak bisa bosan sama kamu, baru berpisah 5 menit aja kakak sudah rindu," kata Jamal.
Chia mengeratkan pelukannya pada Jamal dan Jamal membalasnya sembari mendaratkan sebuah kecupan di kepala Chia.
"Jangan berpikir macam-macam lagi, ya!" tandas Jamal.
Chiapun kembali menganggukkan kepala tanpa bersuara. Suara Chia parau karena terlalu banyak menangis dari mimpi hingga terbangun. Membuat Chia hanya mengisyaratkan kata 'iya' dengan mengangguk atau kata 'tidak' dengan menggeleng.
Setiap pasangan suami istri tentu punya cita-cita dan harapan bersama untuk membangun rumah tangga yang sejahtera, begitupun dengan Jamal dan Chia. Meski tak dipungkiri terkadang ujian datang mengguncang ketenangan entah dari luar atau dari dalam diri mereka sendiri.
Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab atas hidup Chia, Jamal tidak ingin membuat Chia merasa tak berguna atau sedih dengan kekurangan yang ada padanya. Karena itu sebisa mungkin Jamal akan berusaha membuat Chia merasa tenang dan nyaman saat bersamanya.
Menjaga komunilasi dengan baik juga merupakan salah satu cara yang dilakukan Jamal untuk menjaga hubungannya dengan Chia tetap harmonis.
"Udah ya... jangan nangis lagi," ucap Jamal lalu mengajak Chia untuk menunaikan sholat shubuh.
***
Seberkas cahaya mentari pagi menembus setiap celah dinding rumah Chia saat itu. Seperti biasa, waktu pagi akan mereka habiskan dengan sarapan bersama dan menyiapkan apa saja yang diperlukan oleh Jamal sebelum berangkat kerja.
"Sayang, karena dua hari kemarin Kakak libur bekerja, mungkin hari ini Kakak harus lembur."
"Iya Kak, hati-hati ya kerjanya..." pesan Chia.
"Kalau kangen telepon aja," tutur Jamal sembari tersenyum menggoda Chia.
__ADS_1
Siangnya Chia merasa sedikit bosan di rumah, akhirnya ia meminta izin pada Jamal untuk pergi menyegarkan matanya ke sebuah taman yang tak jauh dari rumah mereka.
Setelah mendapat Izinnya Chia pun pergi ke taman itu. Sesekali terdengar riuh tawa dan celoteh ceria dari anak-anak pengunjung taman itu. Chia menikmati saja apa yang dilihatnya, dengan hati yang terus bersemoga.
Tiba-tiba seorang anak menarik tangan Chia dan membimbing Chia ke suatu tempat.
"Tante... bolaku jatuh di sebelah sana," kata anak itu seraya menuntun Chia ke tempat yang ia tunjuk.
"Sayang, nama kamu siapa? kok main sendirian? nanti orang tua kamu nyariin lho...."
"Aku Amel, mama di sana tante?" ujar anak kecil itu menunjuk pada seorang wanita yang sedang sibuk menatap layar ponselnya.
Akhirnya Chia menghampiri wanita itu dan menyapanya "Maaf mbak, anaknya tolong diperhatikan ya... bahaya kalau main sendirian," ucap Chia.
Namun, wanita itu tak menghiraukan Chia ataupun anaknya hingga Chia merasa geram.
"Mbak!" ulang Chia kali ini dengan intonasi suara yang agak tinggi dan penuh penekanan.
"Eh... iya mbak, ada apa ya?" tanya wanita itu seolah tak berdosa.
"Ini anaknya bukan?" tanya Chia sembari menunjukkan anak kecil yang sedang menggandeng tangannya.
"Iya mbak... kok ada sama mbak sih? mbak penculik ya? tolong... tolong," wanita itu malah menuduh Chia menculik anaknya.
Karena kesal Chia membungkam mulut wanita itu dengan tangannya, kemudian menyuruhnya untuk diam. Setelah wanita itu diam barulah Chia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Denga wajah malu bersemu, wanita itu meminta maaf pada Chia lalu menggendong anaknya.
"Emangnya lagi apa sih mbak? sampai anaknya dibiarin main sendiri?" tanya Chia penasaran.
"Saya lagi baca novel mbak," wanita itu lalu menunjukkan novel yang ia baca berjudul 'Ibu Izinkan Aku Bahagia' karya author Sutihat Basti Wibowo yang masih ongoing.
"Oh, saya kenal nih mbak sama authornya...," tutur Chia membuat wanita itu semakin penasaran.
"Ah, yang bener Mbak?" tanya si ibu satu anak itu.
"Serius mbak, masa saya bohong! makanya mbak jangan lalai lagi ya jaga anaknya, kalau nggak saya akan bilang sama authornya buat gak up date lagi!" ancam Chia.
__ADS_1
"Aduh jangan dong mbak, saya janji dech gak akan lalai lagi jagain anak saya."
Setelah itu Chia pergi dengan perasaan lega.