Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Permintaan maaf


__ADS_3

Episode 23


Mengetahui bahwa seseorang yang kita cintai berada dalam bahaya yang mengancam, bohong bila kita tidak khawatir.


Begitulah yang dirasakan oleh Jamal setelah mendengar dan mengetahui bahwa istri yang selalu ia jaga, bahkan tak rela walau hanya seekor nyamuk yang menyentuhnya, kini dalam bahaya teror dari orang yang entah siapa.


Meski Jamal selalu berusaha terlihat tenang dihadapan Chia, namun jauh dilubuk hatinya ia menyimpan ketakutan yang besar.


Takut ada apa-apa dengan Chia, takut ia tak bisa menjaganya, takut sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Chia.


Disepertiga malam saat Chia sedang terlelap, Jamal menatap dalam wajah polos Chia, sungguh hanya menatap wajahnya saja membuat hati Jamal sulit berpaling.


Jamal turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk berwudhu, malam itu ia menunaikan tahajjud .


"Ya Allah, segala urusan yang aku kembalikan kepada-Mu, tak pernah membuat pundakku lelah menahan beban, aku titipkan kepada-Mu ya Rab, segala hal yang aku cintai." Tak terasa air mata Jamal membias membasahi pipinya.


"Ya Allah, aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, tolong lindungi orang-orang yang aku sayangi, ya Allah sesungguhnya tak ada yang sulit bagi-Mu." Lega rasanya menumpahkan segala keluh kesahnya diatas hamparan sajadah.


Jamal menyudahi doa-doa panjangnya, ia kembali ke tempat tidur. Menyelimuti Chia dengan pelukan hangatnya.


Saat Jamal mulai terlelap tidur, rupanya Chia sudah bangun sejak tadi dan berpura-pura masih terlelap, Chia mendengar apa yang dilangitkan oleh Jamal dalam doa nya, bahkan Chia menyaksikan setiap tetes air mata yang jatuh ketika Jamal memanjatkan doanya.


Tak pernah Chia melihat Jamal menitikkan air mata sampai sedalam itu.


Chia menggenggam tangan Jamal, menatap wajah lelaki yang selalu memberikan yang terbaik untuknya, dan sebuah kecupan mendarat dikening Jamal yang sudah pulas tertidur.


"Ya Allah, entah kebaikkan apa yang dilakukan ayah dan ibu sampai Engkau kirimkan menantu yang berhati emas seperti Jamal untuk mereka" Chia menggumam.


"Terimakasih ya Allah!" ada yang mendesak dikelopak mata Chia, genangan air mata yang akhirnya jatuh juga.


Wanita mana yang tak bahagia bila dicintai dengan sepenuh hati oleh suaminya, ternyata benar pilihan ayah untuk menjodohkan putri kesayangannya dengan Jamal.


Di penghujung malam, lantunan Al-Quran yang menyayat hati, Jamal menyempatkan waktunya untuk mengaji seusai menunaikan sholat subuh.


Aktifitas pagi hari berjalan seperti biasanya, Hari ini Chia minta izin Jamal untuk belanja keperluan dapur di pasar.


"Kak, nanti kalau kakak udah berangkat kerja, kayaknya aku mau belanja sayur dan lain-lain ke pasar. boleh kan?!" Sambil berlendot manja pada Jamal.


"Boleh dong sayang, tapi hati-hati ya, soalnya kalau hari ini kan kakak masih masuk kerja, jadi gak bisa nemenin." Kata Jamal sambil mencubit manja hidung istrinya.


"Iya kak gak apa-apa, Chia pasti hati-hati kok." Chia nyengir.


"Oke tuan putri, kalau ada sesuatu yang terjadi langsung kabarin kakak ya." Pinta Jamal pada Chia.

__ADS_1


"Iya kak, sebaiknya kakak jangan terlalu khawatir, kan aku jago bela diri! chiaaaat....wa deziiig!" Chia memraktekan gerakan ala pendekar yang sedang melawan musuhnya.


Ia berhasil membuat Jamal terpingkal, dan Jamal pun pergi untuk bekerja.


Seperti biasa Chia memesan jasa ojek untuk menuju ke pasar, saat sampai disana, ia berkeliling mencari dan membeli segala keperluan yang dibutuhkan.


Chia juga membeli beberapa kg buah, Apel, belimbing dan jambu kesukaannya.


Saat hendak pulang, Nesa berdiri dihadapan Chia secara tiba-tiba dan membuat Chia terkejut, rupanya Nesa mengintai setiap gerak-gerik Chia.


"Mbak...ngagetin aja" kata Chia.


"Hai, maaf ya kalau bikin kamu kaget" kali ini Nesa tampak ramah tak seperti biasanya.


"Saya boleh ngomong sebentar gak sama kamu" Nesa memohon.


"Tapi ada apa ya mbak?" tanya Chia penasaran.


"Udah pokoknya saya janji gak akan ngapa-ngapain kamu, tapi gak disini ya ngomongnya. sini aku bantuin bawa belanjaannya." Nesa langsung menuntun tangan Chia menuju mobilnya.


Segera Nesa melajukan mobilnya, beberapa saat sempat hening.


Chia yang masih bingung akan dibawa kemana, akhirnya Chia bertanya pada Nesa.


"Maaf mbak, saya mau dibawa kemana sih?" tanya Chia sambil meringis ngeri, karena ia punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Nesa yaitu saat Nesa datang melabrak dan menyiramkan air pada Chia.


"Oh ok" jawab Chia singkat, lagipula Chia tak ada aktifitas apa-apa dirumah, bosan juga. pikir Chia!


Sampai di sebuah taman, Nesa memarkirkan mobilnya dan merekapun turun.


Disebuah kursi panjang mereka duduk.


"Oh iya, sebelumnya kenalin nama saya Nesa" Kata Nesa menyodorkan tangan.


"Chiara!" Chia menjabat tangan Nesa seperti layaknya orang yang berkenalan.


"Mungkin kamu merasa aneh, heran atau apapun itu, tapi ya...saya harus sampaikan ini ke kamu" Ucap Nesa sambil menunduk.


Chia masih mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.


"Saya minta maaf karena udah ngasih kesan gak baik sama kamu, semua yang saya lakuin dulu, pasti bikin kamu sedih dan marah, sebenarnya waktu itu saya memang sedang cemburu" Nesa tersenyum getir.


"Kamu berhak marah sama saya, tapi boleh gak saya minta sesuatu sama kamu?" Nesa mengangkat pandangannya menatap Chia.

__ADS_1


Chia menangkap kesedihan di raut wajah Nesa!


"Saya udah boleh ngomong?" kata Chia bertanya.


Nesa menganggukkan kepalanya.


"Pertama, saya dengan tulus sudah memaafkan mbak dan saya tidak dendam, jadi mbak tidak perlu bersedih tentang hal itu, saya memakluminya" kata Chia bijak.


"Yang kedua, sebenarnya saya tidak terlalu paham dengan apa yang mbak lakukan, dan saya juga minta maaf...tapi kalau memang saya bisa membantu maka saya tidak keberatan untuk membantu mbak Nesa." Lanjut Chia lagi.


"Satu lagi, saya gak tahu untuk kali ini, kamu masih bisa memaafkan saya atau nggak. kejadian tempo hari, ada dua laki-laki suruhan saya yang datang ke rumah kamu, dan juga telepon yang meneror kamu, itu juga dari saya" Nesa memberi tahu semuanya, sambil menunduk dan memainkan jemari tangannya tanda gerogi.


Chia sempat ternganga mengetahui semua itu ulah Nesa, tapi Chia menghargai kejujuran Nesa dan Chia tetap memberi maaf pada Nesa.


"Sekarang saya tahu kenapa Dio sangat mencintai kamu, ternyata hati kamu bersih seperti malaikat." Nesa memuji Chia dan tak terasa bendungan air mata Nesa mendobrak Palung pertahanannya.


Nesa menangis tanpa suara, dan percayalah itu membuat sesak di dada.


"Maaf mbak, mbak terlalu memuji, lagian Dio hanya masa lalu saya, dan saya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa yang berarti. saya juga sudah menikah dengan suami saya mbak, jadi mbak gak perlu takut atau cemburu sama saya" jelas Chia coba memberi pengertian pada Nesa.


Meski telah banyak hal tidak menyenangkan yang dilakukan Nesa padanya, namun sebagai sesama wanita dan prinsip untuk tidak menyimpan dendam pada siapapun membuat Chia tetap memaafkan dan justru merasa iba pada Nesa.


"Saya memaafkan mbak, dan saya menghargai kejujuran mbak Nesa!" Chia menggenggam tangan Nesa untuk menenangkannya.


"Boleh saya peluk kamu!" Kata Nesa memohon sambil merentangkan kedua tangannya.


Chiapun tersenyum dan memberikan pelukan pada Nesa.


"Makasih ya" ucap Nesa lirih


Chia menepuk pundak Nesa menyemangati.


"Dalam hidup memang terkadang ada hal-hal yang tidak mampu kita jangkau, karenanya kita butuh tangan orang lain. tentu saja dengan berdoa dan memohon pertolongan Allah, agar terbuka jalan keluar yang luas untuk setiap masalah yang kita hadapi!" Chia meyakinkan Nesa bahwa setiap masalah pasti ada solusinya.


"Saya benar-benar gak tahu harus bilang aplagi sama kamu!" kata Nesa sambil menyeka air matanya.


Chia tersenyum.


"Kalau gitu saya antar kamu pulang ya!" Nesa menawarkan.


"Gak apa mbak saya bisa pesan ojek kok, takutnya mbak ada urusan lain" balas Chia.


"Please jangan nolak ya, saya bisa ngerasa bersalah lagi kalau kamu nolak" Nesa sedikit memaksa.

__ADS_1


Akhirnya Chia bersedia diantarkan pulang oleh Nesa, Nesa juga meminta izin untuk bertukar nomor ponsel dengan Chia, ya meski sebenarnya Nesa sudah punya, tapi Nesa ingin kali ini menyimpan kontak Chia sebagai seorang teman.


Dan Chia pun menerima ya dengan senang hati.


__ADS_2