Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Kunjungan rahasia


__ADS_3

Episode 30


Pagi menyapa dengan penuh keramahan kala itu. Secangkir teh dan coklat panas pun sudah bertenggeng di meja. Dengan mengenakan setelan yang rapi, tampaknya Chia dan Jamal telah siap untuk pergi.


"Kakak mau ajak Chia kemana sih? kok tumben banget, pagi-pagi udah nyuruh aku sia-siap pakai baju rapi." Tanya Chia yang belum tahu akan diajak Kemana oleh Jamal.


"Ada dech, penasaran ya?" Jawab Jamal sengaja menggoda istrinya seolah sengaja membuatnya semakin penasaran.


Chia mendesis kesal, sedangkan Jamal merasa puas karena berhasil menjaili istrinya itu.


"Habisin dulu minumanya." Ucap Jamal sambil memberikan cangkir berisi coklat panas yang sudah mulai mendingin milik Chia.


Chiapun mengambil dan menegukanya hingga habis.


"Apa sudah siap untuk pergi tuan putri?" Tanya Jamal sambil berdiri.


Chia tertawa dan menganggukan kepalanya, Jamal membungkukkan badannya dan mempersilakan Chia Berjalan dengan memberikan tangannya untuk digandeng, bagai seorang pangeran dan putri sungguhan.


"Apaan sih kak, berlebihan." Kata Chia yang terkekeh melihat aksi Jamal yang dinilai kocak itu.


"Gak ada yang berlebihan untuk orang yang spesial." Jawab Jamal sambil terus berjalan tanpa melepas gandengan tangannya pada Chia.


"Huuh gombal." Kata Chia salah tingkah.


"Tapi suka kan?" Goda Jamal lagi.


Wajah Chia merah padam karena gerogi, padahal Jamal sudah sering melakukan gombalan-gombalan yang kreatif seperti itu untuk menggoda Chia, namun Jamal tak pernah gagal meluluh lantakkan pertahanan Chia yang selalu salah tingkah saat digoda olehnya.


Jamal segera bergegas melajukan mobilnya, menuju ke suatu tempat, yang masih dirahasiakan itu.


Setelah menempuh kurang lebih tiga jam perjalanan, mereka pun tiba disuatu tempat.


Sebuah pesantren yang terdiri dari beberapa bangunan pondok untuk para santri.


Chia merasa heran mengapa Jamal mengajaknya kesana. Tak ingin banyak bertanya, Chia ikut saja kemana Jamal membawanya.


"Assalamu'alaykum pakde, bude!" kata Jamal menyalami seorang laki-laki dan seorang wanita paruh baya yang belum pernah Chia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Wa'alaykumsalam warahmatullah." Jawab kedua orang tua tersebut.


"Ya Allah, Jamal. Gimana kabarmu nak?" Tanya kedua orang tua itu sambil memeluk Jamal bergantian.


"Alhamdulillah pakde, bude. Jamal sehat walafiat, pakde dan bude juga sehat kan?" Ucap Jamal.


"Seperti yang kamu lihat nak, ya beginilah pakde dan budemu." Jawab Pakdenya Jamal.


"Ini siapa kok ayu sekali?" Tanya bude mengarahkan pandanganya pada Chia yang hanya berdiri terdiam dibelakang Jamal.


"Ini dia, istri Jamal yang akan Jamal kenalkan pada pakde dan bude." Jawab Jamal bangga.


"Saya Chiara pakde, bude." Tutur Chia mengulurkan tangan untuk menyalami pakde dan bude seraya menyebutkan nama memperkenalkan dirinya.


"Oalah ini rupanya, gadis yang membuat Jamal menolak banyak perempuan di pesantren ini." Kata bude keceplosan.


"Hus ibu ini." Kata pakde sembari menyenggol tangan istrinya.


Bude pun terseyum salah tingkah karena merasa tidak enak.


"Pak de minta maaf ya, kami sekeluarga tidak bisa hadir menyaksikan pernikahan kalian. Waktu itu keadaan pesantren tidak memungkinkan untuk ditinggalkan." Tutur pakde disela-sela obrolan mereka.


"Gak masalah pakde, Jamal paham kok bagaimana reportnya mengurus pondok dan para santri yang banyak, hanya dengan beberapa tenaga." Jawab Jamal memaklumi.


"Iya pakde, bude. Gak masalah, lagian Chia dan kak Jamal hanya menggelar resepsi pernikahan yang sederhana saja, bahkan tidak mencetak surat undangan untuk dibagikan. Kami hanya mengundang beberapa kerabat, keluarga serta tetangga yang memang sudah kenal saja pakde, itupun secara langsung. Gak melalui surat undangan." Kata Chia memaparkan, agar pakde dan bude nya berhenti untuk merasa tidak enak padanya dan Jamal.


"Ya ya ya, Alhamdulillah kalau begitu, kecil dan besar pesta yang digelar yang penting ikhlas dan khidmad. Yang lebih penting lagi adalah kehidupan setelah berumah tangga." Jawab pakde sembari mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memberi nasehat.


"Betul sekali pakde." Jawab Chia.


"Oalah pak, Jamal beruntung punya istri yang sangat pengertian." Bude menimpali pembicaraan.


"Jadi kesibukanmu apa sekarang?" Tanya pakde pada Jamal.


"Jamal masih bekerja di perusahaan milik pakde Santoso pakde." Jawab Jamal.


Pakde Santoso adalah kakak dari ibunya Jamal, sementara pakde dan bude yang mengasuh pondok pesantren adalah kakak dari ustadz Hasan atau ayahnya Jamal.

__ADS_1


"Alhamdulillah, apapun pekerjaannya yang penting halal dan berkah." Ucap pakde.


"Berarti cah ayu ini mengurus rumah saja?" Tanya bude pada Chia, yang langsung dijawab oleh Jamal.


"Kalau istri Jamal malah sudah jadi bos bude, dia punya kedai kue sendiri dan Alhamdulillah sudah punya beberapa pekerja. Jadi dia gak perlu repot-repot nunggu kedai kecuali untuk mengontrol aja, biar fokus ngurusin Jamal aja. Gitu bude." Jawab Jamal panjang kali lebar.


"Ah kakak! apa sih kak, selalu aja berlebihan." Kata Chia dengan raut wajah tersipu.


"Iya bude, usaha kecil-kecilan. Tadi kak Jamal gak bilang kalau ternyata perginya ke tempat pakde dan bude. Padahal kalau bilang, kan Chia bisa bawain kue buat pakde dan bude." Jawab Chia sambil mencubit Jamal, dan Jamal pun meringis kesakitan.


Hal itu membuat pakde dan bude tertawa melihat dua pasangan muda yang menggemaskan itu.


Obrolan menjadi semakin hangat dan dalam, suasana yang sedikit kakupun kini terasa lebih mencair.


Sampai tiba waktu akan pulang, Jamal menitipkan amplop berisi uang pada pakdenya.


"Apa ini nak?" Tanya pakde.


"Sedikit rejeki pakde, semoga bisa dimanfaat kan untuk kepentingan santri atau pondok."


Pakde hanya mengangguk dan mengucapkan banyak terimakasih. Jamal memang sudah biasa seperti itu, sejak dulu saat ia masih membantu pakdenya di pondok untuk mengajar.


Bukan bermaksud apa-apa, tapi Jamal sangat paham keadaan para santri di pondok. Terkadang ada beberapa santri yang bertahun-tahun tidak pulang dan tidak dijenguk oleh keluarganya, karena mereka datang dari luar kota yang sangat jauh.


Karena alasan itulah Jamal berinisiatif menabung dan menyisihkan sedikit penghasilannya, agar bisa dimanfaatkan oleh para santri sebagai modal untuk menghasilkan kreatifitas yang bisa menghasilkan uang, entah membuat kerajinan atau berdagang makanan dan lain-lain.


Jadi para santri yang kehabisan bekal dan belum sempat dijenguk oleh keluarganya, bisa mengambil dari hasil karya mereka secukupnya, sesuai kebutuhan yang mereka perlukan.


Uang yang Jamal sisihkan kali ini sebesar delapan juta rupiah saja, tapi semoga bisa memberikan manfaat yang besar bagi pondok dan para santri.


Chia semakin mengagumi sisi lain yang baru ia ketahui dari suaminya itu.


Sesaat setelah berpamitan pada pakde dan bude, Jamal dan Chia masuk ke mobil dan bertolak menuju arah pulang.


Sambil membuka kaca jendela mobil, mereka melambaikan tangan pada pakde dan bude, tapi pandangan mata Chia tertuju pada seorang santri yang datang menghadap pakde.


Sepertinya Chia mengenali laki-laki itu, namun Jamal yang fokus pada kemudinya tidak terlalu memperhatikan laki-laki yang di duga salah seorang santri di pondok pesantren pakdenya itu.

__ADS_1


__ADS_2