
Episode 34
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" Ucap Chia merasa lega.
Kala itu, Chia tengah menyiapkan makan malam untuk Jamal saat pulang bekerja nanti.
Tak lama berselang, terdengar suara mobil didepan rumah Chia, dengan segera Chia membukakan pintu garasi mobilnya.
"Assalamu'alaykum cantik." Ucap Jamal memberi salam pada istrinya, yang sudah menunggu dirinya sedari tadi.
"Wa'alaykumsalam." Jawab Chia merekahkan senyumnya.
"Wah masak apa nih istriku?" Kata Jamal saat melihat makanan yang terhidang di meja makan.
"Sup kacang merah, ayam goreng sama sambal pastinya." Jawab Chia sambil menaruh piring dan sendok dihadapan Jamal.
"Kakak gak sabar dech, mau makan masakan istri kakak. Pasti enak banget." Tutur Jamal dengan senyuman bahagianya.
"Boleh dong, mau dihabisin semua juga gak apa-apa." Jawab Chia.
"Bener nih? Nanti kakak habisin kamunya nangis lagi." Ledek Jamal.
"Hehehe sisain dikit aja buat aku." Kata Chia sambil tertawa kecil.
Merekapun menikmati makan malamnya dengan suasana penuh kehangatan.
Di tempat berbeda, tampak Nesa yang sedang gelisah.
"Kayaknya gak mungkin dech kalau aku ke rumah Chia sekarang, aku pikir Chia bakalan marah sama suaminya karena kejadian kemarin, eh malah aku yang dibikin mati kutu." Gumam Nesa sembari terus berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Aha, aku ada ide." Ucap Nesa memetikan jarinya, kemudian meraih ponsel yang ia letakkan di meja rias.
"Chia, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin. Apa yang dibilang sama suami kamu itu bener, waktu itu aku hampir jatuh dan suami kamu cuma berusaha bantu aku biar badanku gak kebanting. Kamu jangan salah paham ya." Kata Nesa dalam pesan singkat yang ia kirim kan kepada Chia.
__ADS_1
*Dret dret dret!
Ponsel Chia bergetar, saat itu Chia tengah duduk bersantai bersama Jamal. Kemudian Chia mengambil ponsel yang ia setel dengan mode getar itu.
Sebuah pesan tertera dilayar ponsel Chia, pengirim nya tentu saja adalah Nesa.
Chia kemudian membaca isi pesan yang Nesa kirim padanya.
Dengan senyum getir, Chia seolah menangkap gelagat mencurigakan dari Nesa, seakan Chia telah mengetahui rencana busuk Nesa. Namun Chia pun tak ingin berburuk sangka atau terlalu cepat menyimpulkan, akhirnya ia meneriman saja permintaan maaf Nesa.
"Iya Nes, santai aja, aku tau kok semua itu bukan kesengajaan, suami aku juga udah ceritain kronologinya, hehe." Jawab Chia membalas pesan Nesa.
Nesa yang menerima balasan pesan Chia, dan mengetahui bahwa Chia memaafkan dirinya, langsung senang dan kegirangan. Seolah mendapatkan jalan untuk melancarkan aksi tak terpujinya.
Nesa pun menyampaikan dalam pesannya, bahwa ia ingin menemui Chia seperti biasanya, agar bisa belajar lebih banyak hal lagi.
Tapi Nesa mungkin tidak mengetahui bahwa apa yang Chia lakukan saat ini, bukan serta-merta untuk memberinya kebebasan melakukan apa yang ingin Nesa lakukan.
Justru untuk kali ini, Chia tidak akan segan-segan bersikap tegas pada Nesa, bila sampai terbukti Nesa melakukan hal yang tidak pantas pada dirinya ataupun suaminya.
Andai bisa memilih, sebenarnya Chia tidak ingin melakukan ini pada Nesa. Namun untuk mengantisipasi hal buruk terjadi pada rumah tangganya, Chia tidak ingin lengah meski Nesa dan dirinya kini berteman akrab layaknya sahabat karib.
Kejadian dimasa lalu menjadi pelajaran sekaligus lampu kuning bagi Chia, agar Chia lebih berhati-hati lagi.
Setelah saling berbalas pesan, seakan semuanya sudah baik-baik saja, Nesa mulai berani lagi meminta Chia untuk mengajari dirinya ini dan itu.
"Aku memang sedang berhati-hati terhadap kamu Nes, tapi aku juga tidak ingin menjadi angkuh dan memandang pada satu titik hitam yang ada sama kamu." Gumam Chia dalam hati.
"Tapi kalau sampai terbukti apa yang aku curigai, meski masih mungkin untuk sebuah kata maaf, tapi rasanya sudah tidak mungkin untuk aku menerima kamu sebagai teman akrab seperti sekarang." Lanjut Chia dalam gejolak hatinya.
"Siapa sih sayang? Serius banget." Kata Jamal mengomentari Chia yang tampak sibuk berbalas pesan.
"Hehe ada dech." Kata Chia, yang membuat Jamal penasaran.
__ADS_1
"Kok ada dech, hayo siapa?" Jamal kemudian mengintip layar ponsel Chia dan mendapati nama Nesa tertera disana.
"Oh temen kamu." Ucap Jamal menunjukkan raut wajah tak senang.
"Iya kak, kenapa?" Tanya Chia menatap wajah Jamal.
"Ya gak apa-apa sih, kakak cuma mau ingetin kamu aja, kalau misal berteman akrab sama dia bikin hati istri kakak ini was-was dan gak nyaman, lebih baik berteman sewajarnya aja." Kata Jamal menasehati Chia seraya membelai lembut kepala rambut Chia.
Chia diam sesaat dan semakin menatap dalam mata Jamal, Chia mencoba untuk mencari, adakah kebohongan Dimata suaminya itu. Tapi Chia tidak menemukannya.
"Ih kenapa cantik, Kok liatin kakak kayak gitu?" Jamal salah tingkah mendapat tatapan dalam dari istrinya itu.
Chia tidak bergeming, tapi kemudian Chia memberi sebuah ciuman di pipi Jamal.
Jamal merasakan ada kekhawatiran dalam diri Chia, yang tampak dari sorot matanya. Jamal pun memberi pelukkan yang sangat erat pada istrinya itu dan mencoba meyakinkan Chia, bahwa kekhawatiran Chia tidak akan terjadi.
"Untuk orang yang kakak perjuangkan dengan doa-doa, dalam waktu yang panjang. Mana mungkin kakak dengan gegabah menyakiti apalagi mengkhianati kepercayaannya." Ucap Jamal lirih.
Mendengar itu Chia membalas pelukan Jamal dengan erat.
"Untuk melati yang aku kenakan diujung harapan, dalam penantian cinta setelah patah yang berulang, mana mungkin aku akan rela melepaskan apalagi kehilangan." Tutur Chia sembari terisak.
Jamal pun turut menitikkan air mata mendengar perkataan istrinya itu, ia terharu mendengar penuturan Chia sekaligus masih belum percaya, bahwa doa-doa dan penantiannya akan berbalas manis seperti saat ini.
"Kakak janji kan, gak akan khianatin kepercayaan dan cinta aku?" Ucap Chia.
"Iya sayang, kalau kamu ragu boleh periksa hati kakak." Goda Jamal seolah ingin menyudahi tangis haru mereka.
Chia pun tersenyum dalam tangisnya. Mereka melewati malam, berselimut kasih sayang yang sangat tebal.
Kasih sayang dan kesabaran Jamal dalam menghadapi Chia, membuat Chia jatuh cinta lagi, dan lagi. Wajar saja bila sekarang Chia tak rela bila harus ada yang merusak atau mencoba menghancurkan rumah tangganya.
Ternyata benar, seorang ayah tidak mungkin melepaskan anak gadisnya begitu saja pada laki-laki yang tidak baik. Untuk saat ini, ayah dan ibu pasti senang mengetahui putrinya telah bahagia dengan laki-laki pilihan mereka.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang memiliki tanggung jawab, dan juga cinta yang begitu besar pada putri kesayangannya itu.
Semoga selamanya, paling tidak mereka dapat melewati masa-masa sulit dan senangnya bersama.