
Episode 25
Ting tong ting tong ting tong!
Bunyi alarm membangunkan Chia dari tidurnya, tepat jam 12.00 malam dimana pergantian hari akan segera dimulai menurut perhitungan kalender.
Chia menoleh ke arah Jamal yang tak bergeming meski suara berisik dari alarm tadi menyala. perlahan Chia bergeser ke tepi ranjang dan duduk diujungnya menunggu nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Hoam..." Chia menguap dan menutupkan tangan kemulutnya.
Setelah kesadarannya mulai penuh Chia menuju ke arah lemari dan mengambil sesuatu disana.
"Mungkin hadiah kecil ini sudah saatnya diberikan pada orang yang pantas menerimanya" Chia menggumam sembari membuka kotak kecil yang berisi sebuah jam tangan dan tasbih.
Benda yang sempat ingin ia berikan pada Dio sebelum peristiwa kelam itu terjadi, saat dimana Chia memergoki Dio dan Nesa sedang bercumbu mesra diruangan kerja Dio.
Chia sedikit terkenang saat menggenggam hadiah itu dalam tangannya, namun dengan segera ia menepis pikirannya dan mengalihkan fokusnya pada Jamal yang kini telah menjadi suami sah nya.
Rupanya Jamal berulang tahun pada hari ini, dan Chia memutuskan untuk memberikan jam tangan dan tasbih itu pada Jamal sebagai hadiah ulang tahunnya.
Bukan bermaksud memberi barang bekas, tapi selain masih baru dan Chia menyimpannya dengan baik dan rapi, hadiah itu pernah Chia siapkan dengan segenap cinta dan harapan walau akhirnya semua itu tak tersampaikan.
"Kak bangun" Chia menggoyangkan tubuh Jamal dengan lembut.
Jamal menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Kenapa sayang? jam berapa ini?" Tanya Jamal sambil terkantuk.
"Selamat ulang tahun...cup" Chia mendaratkan ciuman di pipi kanan Jamal.
"Makasih sayang, kakak kira ada apa" Jamal memeluk tubuh Chia erat dan membelai lembut rambut Chia.
"Aku ada sesuatu buat kakak" Chia memberikan hadiahnya pada Jamal.
"Wah apa ni?" Jamal memberi ekspresi terbaiknya pada Chia saat menerima hadiah, semua itu Jamal lakukan semata-mata untuk menghotmati istrinya.
"Buka dong kak" Kata Chia tersenyum senang melihat Jamal yang sangat antusias.
"Maa syaAllah, bagus banget hadiahnya. ini pertama kali dalam hidup kakak, dapet hadiah dari orang paling spesial" Kata Jamal dengan sejujurnya, karena dalam keluarga Jamal memang tidak pernah ada kebiasaan merayakan ulang tahun atau memberi kado.
Maklum ayahnya yang seorang ustadz memang lebih senang mengajak Jamal berbagi, entah pada yatim ataupun duafa, sebagai bentuk syukur saat tiba hari lahirannya.
__ADS_1
Sebenarnya sama saja dengan Chia, hadiah ini tidak sengaja ia persiapkan untuk menghadiahi Jamal, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya, rasanya sekarang boleh juga, begitu pikir Chia.
"Kakak suka gak?" Tanya Chia menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Jamal.
"Pastilah dek, apapun yang istri kakak kasih pasti kakak suka, suka banget malah." Kata Jamal mencium gemas Chia.
"Ah kakak selalu gitu, padahal boleh lho kalau misalnya kakak gak suka atau punya jawaban lain" Kata Chia protes.
"Gak boleh dong sayang, kan kita harus menghargai apapun pemberian orang, supaya hatinya senang dan perasaannya aman, gak tersinggung. apalagi yang ngasih bidadari cantik kayak kamu" Jawab Jamal sambil menggombali istrinya.
"Iya pak ustadz" kata Chia menggoda.
"Karena kamu udah bangunin kakak, sekarang kita ibadah yuk dek" Ucap Jamal.
"Hah! lagi kak?" Kata Chia dengan nada terkejut.
"Iya dong dek, kalau bisa sholat tahajjud itu setiap malam, selama kita mampu mengerjakannya." terang Jamal.
"Oh kirain...hehe" Chia nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ihh emangnya dikira apa? hayo kamu ngeres ya pikirannya" ledek Jamal.
Jamal tertawa geli melihat istrinya yang salah tingkah.
"Gemes banget sih istri kakak kalau lagi malu" lanjut Jamal terus menggoda Chia.
"Ah kak Jamal, jangan gitu" Chia menutup wajah dengan kedua tangannya yang membuat Jamal semakin tertawa.
"Iya sayang, biasa aja dong" Ucapnya sembari memeluk Chia lagi.
Merekapun bersiap untuk melakukan tahajjud dan bermunajat pada Allah SWT.
Chia :
"Dulu aku tak mengira bahwa dia yang akan menjadi imam dalam rumah tanggaku, dulu ku kira jalan hidupku akan sesederhana jatuh cinta dan menikah dengan orang yang sama, menyemai dan memupuk benih cinta agar tumbuh dengan baik di lahan yang sudah tersedia."
"Tapi ternyata tidak, aku justru dipatahkan oleh cinta yang ku rawat sendiri dan disiburkan oleh pupuk kasih sayang yang hadir dari tempat yang berbeda, sempat ragu menerima, walau kini akhirnya aku telah benar-benar terbiasa dengan kehadirannya."
"Patah yang ku kira takkan pernah tumbuh kembali, sempat hilang jati diri dan merasa semua tak berarti, bersyukur ada cinta ayah dan ibu yang tak pernah lekang oleh waktu. bahkan tak sedikitpun kadarnya berubah beekurang atau menghilang seperti cinta cinta yang lain."
"Sedih dan kecewa adalah fitrah manusia, seseorang tak dapat memaksakan keadaan meski susah payah berusaha. suka tak suka harus dilalui jua, entah pahit atau manis, entah asin atau masam, dingin atau panas bahkan besar kecil segala sesuatunya masing-masing sudah ada takarannya."
__ADS_1
"Sekarang, sesuatu yang pernah aku takutkan, menjadi sesuatu yang justru sangat aku syukuri, untuk bahagia terkadang kita perlu dicintai karena mencintai saja lebih sering membuat perasaan sakit bila diri tak mampu ikhlas menerima konsekuensi."
"Belajar mencintai orang yang mencintaiku rasanya lebih adil ketimbang harus mengejar cinta seseorang yang terus menciptakan luka dan kecewa." Pikiran Chia berkelana.
Kembali pada Jamal yang terlihat khusyuk berdzikir, dengan butiran tasbih yang Chia hadiahkan padanya.
"Ah perasaan apa ini ya Rabbi? aku didadaku ada bahagia namun mataku tak mampu membendung deras air mata?" Chia membatin kala memperhatikan Jamal memakai tasbih yang ia hadiahkan untuk berdzikir.
Ada perasaan haru yang menyibak dada hingga rasanya menembus sampai ke labirin hati.
Egoiskah bila kisah ini hanya tentang kebahagiaan? tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah yang Chia rasakan saat ini!
Jamal menyudahi dzikirnya, kemudian ia menoleh ke belakang dan memberikan tangannya pada Chia, Chia tersentak menyadari dirinya sedang menangis. dengan segera ia menyeka air matanya dan menyalami tangan suaminya itu.
Jamal merangkul Chia dan membuat Chia semakin terisak.
"Hey sayang, kenapa nangis?" tanya Jamal lembut.
Chia menggelengkan kepalanya dan tak sanggup berkata-kata.
Meski tak dijelaskan, sepertinya Jamal merasakan getaran haru dari diri Chia, tanpa sadar ia ikut menitikkan air matanya.
Chia mengangkat wajahnya menatap lelaki yang turut hanyut dalam harunya, dengan cekatan Chia mengusap lembut pipi Jamal yang telah basah oleh air mata.
"Kalau seandainya bukan aku yang jadi istri kakak, apa kakak masih akan memberikan cinta yang sama seperti sekarang?" Tanya Chia ditengah suasana tangis harunya.
"Kalau memang begitu maka tidak ada kata 'seandainya', kakak gak pernah berpikir untuk menikahi wanita lain selain kamu." jawab Jamal mantap.
Oh tidak, kali ini Chia semakin menangis! ia menempelkan keningnya dikening Jamal dan memegangi kepala Jamal dengan kedua tangannya.
"Dek kakak sayang kamu" kata Jamal.
Chia memagutkan ciuman dibibir Jamal.
"Chia juga sayang kakak." Lalu Chia mengalungkan kedua tangannya ke leher Jamal.
Jamal mengangkat tubuh Chia dan hendak membawanya ke tempat tidur.
"Kakak turunin aku" Kata Chia memohon sambil tertawa, tapi Jamal malah tak mempedulikan ucapan Chia dan malah semakin menggoda Chia dengan menggelitik pinggang Chia yang membuat Chia merasa geli.
Mereka bercengkerama penuh manja.
__ADS_1