Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Dilema


__ADS_3

Episode 14


Suasana pagi di Desa...


Riuh angin yang menabuh irama ranting-ranting, daun dan pepohonan.


menggelitik manja dengan usap penuh kelembutan


mengiringi derai-derai roma seraya menghantar getaran pada bibir yang kemudian mencipta sebuah senyuman.


Chia menatap ke arah luar jendela kamarnya, menikmati suasana yang tak asing dipaginya.


Meresapi sisa-sisa serpihan hati yang patah, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang.


"Ya Rab, ampuni aku yang mungkin membuat-Mu cemburu hingga Engkau membuat patah hati ini, ampuni aku yang mungkin lalai mengingat nama-Mu hingga keadaan ini membuatku tersungkur dalam sujud memohon dan menghadap wajah-Mu."


Chia pun merenung dan mencoba mengingat-ingat lagi. Mungkin ia memang terlalu banyak mengingat manusia dari pada mengingat Dia yang yang maha pencipta, air matanya pun meleleh.


"Nak ayo sarapan dulu, ditunggu sama ayah tuh di meja makan" Ucap ibu didepan pintu kamar Chia.


"Iya Bu, Chia segera kesana" jawab Chia dari dalam kamarnya.


Ayah ibu dan Chia pun berkumpul disatu meja lagi, situasi dimana sendok dan garpu mereka beradu mencipta irama mengetuk piring hidang mereka.


"Jadi gimana nak usaha kue nya?" tanya ayah disela-sela waktu makan mereka.


"Alhamdulillah ayah, semuanya bisa Chia tangani dengan baik, ya walaupun butuh sedikit tenaga ekstra, maklum Chia belum bisa merekrut karyawan untuk membantu Chia" jawab Chia menyimpulkan senyum.


"Apa ayah bilang bu, anak ayah itu hebat...hehehe" ayah membanggakan Chia pada ibu.


"Ya jelas dong pak, siapa dulu ibunya" kata ibu tak mau kalah.


Gaduh hangat cengkarama pun hadir di meja makan.


selesai makan kini mereke duduk diruang tamu.


"Ayah sudah sehat kan? Chia bertanya.


"Sudah dong...lihat kan ayah sudah bisa duduk bareng sama anak ayah lagi" kata ayah sambil melayangkan tawa.


Chiapun membalas dengan senyuman penuh lega.


"Nak...kalau ayah punya permintaan boleh" tanya ayah serius.


"Hehe ayah-ayah! ya boleh dong yah, apa sih kok serius banget?" tanya Chia sambil bercanda.

__ADS_1


"Chia kan sudah besar, sudah pantas menikah. ayah mau kamu menikah dengan laki-laki pilihan ayah." jelas ayah singkat.


Seketika Chia tersentak.


"Ayah serius?" kata Chia memastikan.


"Oh iya dong...masa buat anak kesayangan ayah kok main-main." balas ayah lagi.


"Tapi yah, Chia masih....."


Ayah memotong pembicaraan


"Gak ada tapi-tapi lagi nak, keputusan ayah sudah bulat, ayah belum tenang sebelum kamu menikah dengan laki-laki yang tepat." tegas ayah lagi.


Chia hanya terbungkam mengalihkan pandangannya pada ibu seolah meminta pembelaan, namun ibu nya hanya terdiam tanpa sanggahan.


"Bu...."kata Chia.


Suasana yang semula mencair penuh hangatpun seketika menjadi hening dan sedikit kaku.


"Ayah! sudah dong, kasih waktu Chia untuk berpikir dulu. "Kata ibu pada ayah.


"pokoknya...ayah kasih waktu seminggu untuk bersiap!" Keputusan ayah tak bisa ditawar.


Chia menatap kosong, ia berpamitan untuk ke kamarnya.


ayah seolah membaca maksud ibu.


"Sudah bu gak usah dipikir, awalnya saja dia seperti itu, nanti kalau sudah menikah juga sembuh" Kata ayah percaya diri.


"Apa nggak terlalu cepat yah? ibu khawatir anak kita kenapa-kenapa." Kata ibu gundah.


"Ya memang begitu, dulu ibu juga begitu kan waktu orangtua ibu memilih ayah sebagai jodoh ibu" Ayah tertawa kecil mengisyaratkan kemenangan.


"Ahh ayah ini, selalu saja gitu" Ketus ibu sambil meninggalkan ayah di ruang tamu.


"Huh dasar perempuan. Awalnya saja gak mau, sok jual mahal, lama-lama gak bisa jauh." Ayah menggelengkan kepala sambil menahan tawanya.


Di dalam kamar Chia.


Iya termangu, rasanya seperti ingin menangis tapi air matanya tak bisa keluar.


Sesekali ia menatap nanar, menujukan pandangannya pada sebuah jam tangan dan seuntai tasbih yang semula akan ia berikan pada Dio.


Langkahnya terhuyung ia menuju laci dimana ia menyimpan sebuah kenangan manis yang Dio berikan di hari kelulusan sekolah dulu. Chia kembali membaca surat itu, bendungan air mata yang sudah menggenang pun akhirnya tumpah, deras membasahi secarik kertas yang ia pegang.

__ADS_1


Chia meremas kertas itu dan membuangnya ke tong sampah.


Chiara berkecamuk penuh tanya, benarkah hidup yang tak adil, ataukah memang dirinya yang tak siap menerima keadaan. Namun hebatnya, ia tak bisa marah atau membenci orang tuanya juga tak bisa serta merta menghapus perasaannya pada Dio meski Dio telah membuatnya kecewa.


Chia tengah dilanda dilema!


Chia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, hingga tak terasa ia mulai terlelap.


Ibu Chia yang merasa khawatir menempelkan telinganya dipintu kamar Chia, berusaha mendengar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar anaknya.


Tak ada suara diruangan kamar itu, akhirnya ibu Chia membuka perlahan pintu kamar Chia yang tidak terkunci dan melihat anaknya sedang terlelap. Ibu Chia pun menutup kembali pintu kamar Chia dan melangkah pergi.


Di tempat yang jauh di kota, Dio menunggu kabar dari Chia, dan merasa heran mengapa Chia tak mengabari dirinya, padahal saat berpamitan untuk pulang ke desa, Dio sudah meminta Chia untuk mengabarinya.


Seorang wanita yang tak lain adalah Nesa tiba-tiba duduk dipangkuan Dio dan menggodanya, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Dio dan mencium kening, pipi dan juga leher Dio.


Dio terbawa suasana namun tak lama kemudian Dio segera tersadar dan menepis kan tangan serta mendorong tubuh Nesa.


Nesa yang kaget dengan sikap Dio pun merasa kesal.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Nesa dengan wajah kesal.


"Kamu yang kenapa? mau kamu apa sih hah?..." Dio membalikkan pertanyaan.


Nesapun terbahak mendengar pertanyaan Dio.


"Kamu masih tanya mau aku apa? ya jelas aku mau kamu dong sayang." jawab Nesa sambil mengancingkan kemeja atas Dio yang terbuka.


"Kamu bisa aja menghindar dari aku, tapi aku punya seribu cara untuk selalu dekat dengan kamu. Dan ingat! aku punya bukti video kita sayang". ancam Nesa sambil meninggalkan Dio.


"Ahh...dasar perempuan gila." Teriak Dio sambil mengacak-acak rambutnya.


Dio mengepalkan kedua tangannya, dan menghantam dinding tembok hingga jari-jari tangannya terluka dan berdarah.


Sambil menempelkan keningnya pada dinding tembok itu, Dio meningat-ingat janjinya pada Chia.


Air mata Dio pun tak kuasa ia bendung lagi....


"Maafkan aku tuan putriku"...gumam Dio lirih.


Dilain situasi, ada Jamal yang sedang duduk dan tersenyum sembari menunjukan pandangannya pada sebuah foto.


Terlihat potret seorang gadis sedang antusias berlatih bela diri disana.


Ya, itu adalah potret Chiara. wanita yang diam-diam mampu menaklukan hati Jamal.

__ADS_1


"Dalam jalan takdir yang tidak aku ketahui, semoga kamu ada disana." Jamal berkata dalam hatinya.


__ADS_2