Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Menaklukan Penjahat


__ADS_3

Episode 42


"Hai cantik." Goda seorang pria sembari mengedipkan sebelah matanya pada Chia, yang kala itu tengah berjalan kaki, sepulang membeli buah-buahan segar, di toko buah yang berada tidak jauh dari rumah Chia.


Sekitar pukul 20.00. Malam, seusai sholat isya, entah mengapa tiba-tiba Chia ingin sekali makan buah-buahan segar, dan kebetulan saat Chia mengecek stok buahnya, ternyata sudah habis.


Mungkin karena saat itu cuaca malam sedang tidak sejuk akibat gumpalan awan mendung disiang harinya, namun hujan tak jua turun. Sehingga udara terasa gersang.


Setelah meminta izin terlebih dahulu pada Jamal, yang saat itu belum pulang dari bekerja karena harus lembur, Chia keluar dengan berjalan kaki karena memang lokasi toko buah itu tidak jauh.


Jamal memberikan izin pada Chia, Jamal pikir hanya keluar sebentar untuk membeli buah, itupun dengan jarak yang sangat dekat dengan rumah.


Jadi tak masalah.


"Hai cantik, sombong banget sih." Kata si pria asing yang terus mengikuti langkah Chia.


Chia tak menyahut ataupun menoleh, hanya terus berjalan mempercepat gerak langkahnya.


"Woy, cantik-cantik dipanggil diem aja. Bisu ya apa tuli?." Ujar pria itu yang terlihat mulai kesal karena tak mendapat respon apapun dari Chia.


Tiba-tiba pria itu semakin mendekati Chia dan menarik tangan Chia, sampai-sampai kantong berisi buah-buahan ditangan Chia terlepas dan berserakan.


Pria itu menodongkan pisau ke leher Chia.


"Jangan teriak, kalau sampai bersuara. Saya habisin kamu." Kata pria itu sembari membungkam mulut Chia dengan sebelah tangannya.


Pria itu menyeret Chia ke sebuah tempat yang sepi dan gelap, tepatnya sebuah perbatasan antara komplek perumahan Chia dengan sebuah pemukiman warga peribumi, yang berada di luar perumahan tersebut.


Meski tidak berjarak terlalu jauh, namun terhalang tembok perumahan yang lumayan tinggi, sehingga tak bisa dilihat oleh orang dari dalam maupun luar komplek perumahan Chia itu.


Chia memgatur nafas dan strateginya...


"Hyat wadezig." Dengan keahlian bela dirinya, Chia menarik kedepan tangan pria yang memegang pisau untuk mengancam Chia tersebut, sampai pisaunya terlempar dan tubuh pria itu jatuh tersungkur.


Lalu Chia menendang bagian sensitif dari pria tersebut sebanyak enam kali, hingga si pria tidak mampu berjalan karena kesakitan.


Dengan terampil Chia mencari apapun benda disekitarnya yang mungkin bisa ia manfaatkan.

__ADS_1


Dalam keadaan meringkuk menahan sakitnya, pria itu sepertinya sudah hilang fokus pada Chia, ia hanya terus meringis dan memegangi bagian sensitif yang mendapat tendangan bertubi-tubi dari Chia.


Mata Chia tertuju pada sebuah sobekan kain disekitarnya, yang entah bekas apa. Chia segera mengambil sobekan kain yang lusuh dan kotor itu, lali mengikatkannya pada kedua tangan pria itu dengan posisi tangan ke belakang.


Setelah itu Chia berlari ke arah pintu gerbang komplek perumahannya, tidak lupa buah yang tadi sempat terjatuh akibat tarikan pria tak berakhlak itu, Chia punguti dan memasukannya kembali ke dalam kantong lalu membawanya.


"Dasar pria tulang lunak, beraninya sama perempuan." Gerutu Chia kesal.


Chiapun melaporkan si pria tersebut pada petugas keamanan kompleknya.


"Yang bener mabak, tapi mbak Chia gak kenapa-kenapa kan?" Ujar sang petugas keamanan yang memang sudah mengenal Chia sebagai warga di komplek perumahan tersebut.


"Ih bapak, ya kali saya bohong. Kalau gak percaya bapak Cek aja sekarang ." Jawab Chia.


Akhirnya dua dari empat petugas keamanan, memastikan laporan Chia tersebut dengan mendatangi tempat kejadian perkara atau TKP.


Sesampainya disana, terlihat si pria dalam posisi terduduk dan meringis kesakitan.


"Pak tolong saya pak." Kata si pria dengan wajah memelas.


"Oh kamu lagi, dasar penjahat kelamin. Kamu baru keluar dari penjara kan." Kata salah satu petugas keamanan.


"Iya bener. Gak ada kapoknya kamu ya!"


Si pria asing itu rupanya sudah pernah terlibat kasus pelecehan seksual, yang ia lakuakan pada beberapa orang asisten rumah tangga yang biasa berbelanja untuk membeli sayuran dan lainnya.


Biasanya si pria melakukan aksinya dengan berpura-pura membantu membawakan belanjaan korban terlebih dahulu, baru memulai aksi bejadnya saat korban lengah dan tidak curiga.


Sayangnya, kali ini aksinya gagal, karena korban yang ia incar ternyata seorang yang jago bela diri.


Dua petugas keamanan itupun langsung membawa si pria tersebut ke pos, untuk kemudian ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang.


Para petugas keamanan itupun mengucapkan terimakasih pada Chia, atas keberaniannya melawan dan menaklukan si penjahat kelamin tersebut, dan menghimbau seluruh warga untuk tetap waspada dan hati-hati terhadap tindak kejahatan yang bisa terjadi dimana saja tanpa diduga-duga.


Chia telah sampai di rumahnya, dan segera membersihkan tangan, kaki dan membasuh wajahnya.


Chia juga mencuci buah yang ia beli tadi.

__ADS_1


Jamal mendapati kabar tersebut dari petugas keamanan, ketika ia masih dalam perjalanan menuju pulang, Jamal pun panik dan segera meningkatkan laju kecepatan mobilnya.


Beberapa puluh menit berselang, akhirnya Jamal sampai juga di rumahnya.


Ia langsung masuk ke rumah dan memastikan keadaan istrinya.


Terlihat Chia yang sedang santai sembari makan buah apel yang ia beli tadi.


Jamal menghapiri Chia dan memeluknya dengan erat, jamal juga menghujani kening Chia dengan ciuman.


"Alhamdulillah kamu selamat sayang." Kata Jamal.


"Aku selamat kak, tapi buah jeruk sama pir yang aku beli banyak yang rusak, pada penyok." Rengek Chia manja.


"Gak apa-apa sayang, nanti kakak belikan yang lebih banyak lagi." Jawab Jamal.


Chia pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Maafin kakak ya, harusnya kakak gak biarin kamu keluar malam-malam sendirian." Ucap Jamal.


"Gak apa-apa kak, mungkin emang udah seharusnya aku keluar tadi, buat naklukin si penjahat itu." Kata Chia.


"Iya juga sih, tapi kakak gak mau kamu kenapa-kenapa, pokoknya mulai sekarang, kalau stok buahnya habis, nanti belinya harus nunggu kakak pulang atau kita belanja pas kakak libur. Jangan pergi sendirian lagi." Kata Jamal sambil memeluk lagi istri kesayangannya itu.


Jamal tidak bisa membayangkan, entah bagaimana jadinya bila sesuatu yang buruk sampai terjadi kepada Chia. Mungkin Jamal tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Setelah mendapati keadaan Chia baik-baik saja, Jamal segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu kini Chia dan Jamalpun sudah berada di tempat tidur mereka.


Jamal membelai lembut pipi Chia, lalu memberikan kecupan hangat dibibir Chia.


Chia membalasnya dan kini mereka saling berpagut kasih, dalam selimut cinta diatas praduan dengan nyamannya kasih sayang.


Sebagaimana suami istri pada umumnya, Jamal dan Chia menunaikan kewajibannya dengan sangat indah pada malam itu, hingga menghabiskan durasi waktu yang cukup lama sampai keduanya merasa lelah dan tertidur.


Sungguh indah ikatan cinta dalam pernikahan, tak perlu ada ketakukan akan dosa saat melakukannya, justru semua itu masuk dalam kategori ibadah dengan pahala yang besar.


Kehangatan itu telah mampu menepis kekhawatiran didada Jamal, dengan perasaan lega dan bahagia, Jamal tidur dengan mendekap mesra istrinya itu.

__ADS_1


Tetaplah berhati-hati saat bepergian sendiri, karena mata jahat kadang tak pandang bulu saat mulai mengincar korbannya.


__ADS_2