
Episode 35
Lamanya waktu tak sedikitpun mengikis perasaan Dio terhadap Chia, meski kini Dio sadar tak bisa melakukan apa-apa.
Dio kini memilih mendoakan kebaikan, bagi pujaan hatinya yang telah menjadi milik orang lain itu.
Dio menyadari, sekuat apapun ia memaksakan kehendaknya, untuk terus bersama atau menginginkan Chia. Hanya akan menambah luka dalam hatinya.
"Woy! Tukang galau, kamu kenapa sih saya panggil-panggil dari tadi gak jawab, coba mana telinga kamu? Periksa dulu takutnya ada batu kerikil yang menyumbat." Tutur Hendra yang gemas karena Dio tak juga menyahut saat dipanggil olehnya.
"Hehe sorry bro, gue lagi asik tadi ngelamunnya, tanggung kalau berhenti." Jawab Jamal tanpa rasa bersalah.
"Aduh, lama-lama kamu bisa hilang dari peradaban." Ucap Hendra lagi.
"Lho kenapa? Kok bisa? " Jamal terkaget.
"Ya bisa, kalau kamu terlalu larut dalam kegalauan nanti kamu hilang, seperti gula yang dilarutkan dalam air." Jawab Hendra sembari tertawa.
"Ah bisa aja loe bro, tapi bener juga sih." Dio pun tertawa mendengar celotehan Hendra yang kini jadi sahabatnya itu.
"Bro, dosa gak sih kalau mencintai istri orang?" Tanya Dio pada Hendra.
"Astaghfirullah, nyebut kamu Dio. Sebenernya saya juga masih tidak tau tentang ini, tapi setau saya, yang tidak boleh itu bukan mencintainya, tapi dihawatirkan kalau sampai rasa cinta itu kamu wujudkan dengan hal yang tidak terpuji." Kata Hendra sambil menggaruk kepala yang tertutup peci.
"Hehe, oh gitu ya." Jawab Jamal.
"Iya atuh, dan ingat! Merusak rumah tangga orang lain itu hukumnya dosa besar. Lebih baik kamu doakan saja yang terbaik buat dia, karena mencintai tidak selalu selesai dengan kata memiliki mungkin kamu bisa akhiri dengan kata mendoakan." Kata Hendra lagi.
"Iya bro, kadang-kadang lurus juga omongan loe." Jamal menepuk pundak sahabatnya itu.
"Ayo buruan, kita sudah telat." Kata Hendra mengajak Dio untuk menunaikan sholat berjamaah bersama santri lainnya.
Beralih pada situasi di Desa.
Ayah Chia tampak sedang duduk termenung, dikursi depan teras rumahnya.
"Yah, ini tehnya diminum dulu, mumpung masih hangat." Ibu Chia datang membawakan secangkir teh untuk ayah.
"Makasih ya bu." Ucap ayah Chia yang langsung meraih cangkir teh kemudian meminumnya.
__ADS_1
"Kenapa sih yah, kok kelihatannya dari tadi ayah melamun terus?" Kata ibu bertanya.
"Ayah kangen anak kita bu." Jawab ayah Chia singkat.
Ibu terdiam sesaat.
"Oalah yah, ya sama kalau gitu, ibu juga kangen sekali sama Chia. Tapi kan sekarang anak kita sudah dewasa pak, sudah jadi istri orang." Timpal ibu.
"Yang penting kita doakan yang terbaik saja buat anak dan menantu kita, semoga mereka selalu dalam rahmat dan lindungan-Nya." lanjut ibu menghibur ayah.
"Iya bu, bapak senang mendengar kabar baik, Chia sekarang sudah cinta beneran sama nak Jamal." Lanjut ayah.
"Lho ayah dapat kabar dari mana?" Tanya ibu penasaran.
"Ya dari mantu kita dong bu." Jawab ayah bangga.
Ibu tertawa geli mendengar hal itu.
"Bener kan apa kata ayah, sama kayak ibu dulu, awalnya aja sok jual mahal. Akhirnya gak mau jauh dari ayah." Tutur ayah percaya diri.
"Ih ayah ini, mesti gitu dech." Kata ibu salah tingkah dan langsung bergegas ke dapur, untuk melanjutkan aktifitas lainnya.
Ternyata selama ini Jamal tak pernah putus mengabari keluarganya di Desa, baik keluarga dari dirinya, ataupun keluarga dari Chia.
Bahkan tak jarang Jamal menceritakan Chia pada mertuanya itu, seperti seorang teman akrab. Hal itu juga yang membuat ayah Chia merasa tenang, meski kerap dilanda kerinduan pada putri kesayangannya, yang kini telah menjadi istri Jamal itu.
Kita tidak bisa menebak, akan seperti apa hidup kita nantinya, tapi kita bisa mempersiapkan diri, dengan terus berbuat baik diiringi doa-doa pada sang maha pemilik segala.
Bukan manusia namanya jika hatinya tidak berubah, karenanya perlu merundukkan sujud lebih lama lagi, untuk memohon ketetapan hati pada hal-hal yang baik, dan juga memohon sebuah perubahan pada hal-hal yang tidak baik agar menjadi baik.
Di tempat lain, lagi-lagi Nesa sedang menyusun rencananya untuk mengusik rumah tangga Chia dan Jamal, demi mewujudkan obsesinya untuk mendapatkan Jamal.
Entah apa yang ada dipikiran Nesa, sehingga ia tak pernah merasa lelah dan kapok mengejar seseorang yang tidak mencintai dirinya.
Bukankah seharusnya ia memilih untuk mencintai laki-laki yang juga mencintainya, bukan malah memaksakan cinta seorang laki-laki yang tidak mencintai dirinya, terlebih jika itu adalah suami orang lain.
Bukankah sesuatu yang dipaksakan dengan sangat, tanpa landasan yang jelas, hanya akan menyakiti perasaan? Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kecuali bila alasan yang mendasar demi sebuah kebaikan atau hal lainnya, bukan karena nafsu semata.
Ya, mau bagaimanapun. Pada akhirnya setiap orang punya jalannya sendiri. Sekuat apapun akal sehat menahan, bila nafsu menguasai diri, semuanya akan terasa sulit bahkan sia-sia.
__ADS_1
Di sebuah bathup, Nesa menenggelamkan tubuhnya sembari memejamkan mata, dan pikiran liarnya mulai berkelana. Ia membayangkan bagaimana bila tubuhnya dijamah oleh Jamal.
Sampai bunyi ponsel membuyarkan khayalannya.
"Halo bos, target sudah ada didepan mata." Ucap seseorang yang berbicara disambungan telepone Nesa.
"Oke, kalian sekap dia. Tapi ingat, jangan sampai terluka. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia, awas ya! Saya gak akan bayar kalian sepeserpun." Kata Nesa menjawab telepon itu dan langsung mematikannya.
Terlihat Jamal yang sedang mengemudikan mobilnya menuju tempat kerjanya, tepat di sebuah jalanan yang sepi, mobil Jamal dihadang oleh dua orang tak dikenal, mereka menodongkan pistol ke kepala Jamal.
Jamal yang terkejutpun tak bisa berbuat apa-apa, salah seorang dari mereka membius Jamal hingga ia tidak sadarkan diri.
Setelah Jamal sadar, ia sudah berada disebuah tempat yang asing baginya. Seperti sebuah gedung tua yang tidak terurus dan tidak berpenghuni.
Kedua tangan Jamal sudah diikat ke belakang, dengan mulut yang tertutup sebuah lakban.
Jamal menyapukan pandangannya ke sekitar, ia tak melihat apapun kecuali dua orang yang menjaganya dengan ketat.
Jamal mencoba memberontak, tapi hal itu membuat tangannya kesakitan, akhirnya Jamal mencoba pasrah dan mencari waktu yang tepat untuk melarikan diri dari sekapan orang yang tidak ia kenal itu.
Tiba-tiba seorang wanita datang, sepertinya tak terlalu asing bagi Jamal, ia mengenakan pakaian yang kasual dan memakai hijab.
Perlahan wanita itu membuka lakban yang merekat dimulut Jamal.
"Kamu Nesa kan, temennya Chia? Kata Jamal merasa risih karena melihat Nesa yang melepaskan hijabnya.
Sementara Nesa tidak menjawab sepatah katapun.
Dengan kedua tangan yang masih terikat, Jamal menundukan pandangannya.
"Lihat sini dong sayang." Kata Nesa sembari mengangkat dagu Jamal, berusaha mengarahkan pandangan Jamal pada dirinya.
Tapi Jamal menggeleng dan menepis usaha Chia semampunya.
"Kenapa? Kamu gak mau lihat aku? Oke, aku akan memaksa." Kata Chia, sembari memberi kode pada kedua anak buah suruhannya, untuk meninggalkan Nesa dan Jamal berdua saja.
Saat pintu ruangan itu ditutup, Nesa melanjutkan aksi kejinya, Nesa mulai membuka satu buah kancing bajunya.
Jamal masih diam, mencari strategi yang tepat untuk kabur dari wanita biadab itu.
__ADS_1
Akhirnya Jamal mendapatkan ide yang menurutnya akan mampu membantunya melepaskan diri.