MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 18


__ADS_3

.


.


.


Hari sudah sore, suara Adzan ashar berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari tempat tinggal Melati.


" Abang mau shalat di masjid atau di rumah?" tanya Melati pada Rain.


" Masjid aja deh, mereka juga mau shalat, " jawab Rain.


" Baiklah kalau begitu, lagi pula masjid juga dekat dari sini, jalan kaki hanya beberapa menit."


Rain dan para lelaki lain nya pun berangkat ke masjid hanya berjalan kaki, dengan memakai baju Koko dan sarung serta peci menambah kadar ketampanan mereka.


Sedangkan para wanita hanya sholat di rumah, selesai shalat Melati pergi kedapur untuk membuat kue di bantu oleh Rania, Sofia dan Margaret juga tidak mau ketinggalan.


Sampai para pria sudah kembali dari masjid , namun para wanita masih sibuk di dapur. Setelah berganti pakaian, para pria kemudian bersantai di teras rumah, hanya Martin yang berjalan ke arah belakang rumah. tiba-tiba Martin berteriak heboh karena melihat pohon rambutan yang berbuah lebat.


" Wow itu, lihat itu," teriakannya sampai terdengar oleh mereka yang duduk santai di depan rumah. mengira ada sesuatu yang terjadi, para pria berlari kearah teriakan.


Sesampainya di bagian belakang rumah ternyata Martin hanya meneriaki buah rambutan yang sedang matang.


" Ada apa?"tanya Alfian yang belum menyadari situasi nya, sedang yang lain sudah tau kalau Martin hanya meneriaki rambutan.


" Kamu belum tau itu buah apa?" tanya Alex yang hanya di jawab oleh gelengan kepala oleh Martin, "dasar orang bule, buah rambutan aja gak tau," kata Alex lagi.


" Cih, bule teriak bule gak nyadar banget."


" Kalau saya bule Indonesia, karena istri saya orang Indonesia."


" Memang kamu doang yang punya istri orang Indonesia, kamu pikir istriku orang mana?" yang pada ketawa mendengar perdebatan mereka yang seperti bocah saja.


" Ayo siapa yang mau panjat?" mereka saling dorong satu sama lain, tapi tidak ada yang mau mengalah karena tidak bisa memanjat. padahal pohon nya tidak terlalu tinggi dan juga banyak dahan serta ranting ranting nya.

__ADS_1


" Awas jangan panjat," teriak Melati, mereka semua saling pandang mereka pikir itu punya orang lain. lalu Melati menghampiri mereka sambil membawa sebatang bambu.


" Nih pakai ini, kalau pakai panjat kalian gak akan mampu banyak semut nya."


Melati pun memetik buah rambutan itu dengan menggunakan galah. mereka melongo seperti orang bodoh saja. Tak berapa lama buah rambutan pun sudah memenuhi keranjang yang terbuat dari bambu.


" Nah kalau itu bisa di panjat," ucap Melati sambil menunjukkan pohon manggis. mereka dengan bodohnya mendongak ke atas melihat pohon manggis yang cukup tinggi.


" Tinggi banget," kata Rain bergidik ngeri.


" kalau mau makan manggis tunggu kakek aja yang panjat, mungkin sebentar lagi kakek akan ke sini. Saat mereka sedang asyik makan buah rambutan, BUUG, mereka menoleh ke arah suara ternyata buah durian jatuh. Ryan dan Alfian berlari seperti lomba di acara 17an. yang lain pada tertawa terbahak bahak, memang kelakuan mereka saat ini seperti anak kecil.


" Saya dapat, saya dapat. ye ye saya dapat. " Ryan melompat lompat kegirangan. sungguh sikap nya tidak menunjukkan seorang asisten pribadi yang selalu berwibawa di depan kliennya. Tapi kini berbanding terbalik 360 derajat. Para wanita juga tertawa terbahak bahak, sambil memegangi perut. Kakek Yusuf datang tergopoh-gopoh karena ingin memanjat pohon manggis. Satu persatu buah manggis yang sudah masak jatuh ketanah. merasa sudah cukup, kakek Yusuf segera turun. mereka berebut mengutip buah itu dan memasukan nya kedalam keranjang yang terbuat dari bambu.


" Ayo angkat, berat nih," perintah Rain pada Ronald.


" Angkat aja masa gitu aja gak mampu."


" Tolongin dong, gak mampu angkat sendirian." Akhirnya mereka pun mengangkat keranjang itu dan membawa ke dalam rumah.


" Eh ada jagung?" Steve.


" oke juga tuh," Frans.


" Kek di sini ada jual ayam gak?" tanya Rain pada kakek Yusuf.


" Ada tapi ayam hidup, kalau mau masak harus potong sendiri. Atau suruh Amel aja pesan pada penjual nya dan meminta di hantar ke mari. minta yang sudah di potong dan di bersihkan." kakek Yusuf.


" emangnya bisa kek?"


" Bisa mau berapa ekor?"


" Sepuluh, " Frans tiba tiba menyela. Melati pun menelpon penjual ayam tersebut dan memesan ayam yang sudah di potong dan di bersihkan untuk di antar sore ini juga.


" Sayang, teman teman mu gak di ajak?"

__ADS_1


" Sudah pasti di ajak bahkan dengan keluarga nya sekali."


" Hmmm, aku pengen lihat reaksi mereka bertemu orang tua pacar mereka," gumam Rain dalam hati sambil manggut-manggut.


"Kenapa lo? kesambet ya?"Tanya Ronald melihat Rain senyum senyum.


" Ah gak... gak ada apa apa kok."


Ayam yang mereka pesan pun akhirnya sampai, Melati segera membayar nya. penjual ayam itu melongo melihat ada bule di rumah Melati. Setelah menerima uang pembayaran dari Melati, penjual ayam itu pun kembali ke rumah nya.


" Loh kenapa jadi 20 ekor? bukan nya pesan cuma sepuluh ekor?"


" Di tambahin takut nanti gak cukup."


" Tanpa terasa jam sudah menunjukkan 17:30 , mereka pun bersiap siap untuk mandi. karena setelah shalat Maghrib mereka akan mulai Barbeque. Teman teman Melati sudah di ajak lewat chat grup mereka. hanya mereka berlima anggota nya.


Menit terus bergerak hingga mereka sudah selesai shalat Maghrib, para lelaki sudah mengumpulkan kayu bakar untuk memanggang dan menyalakan api nya. sedangkan para wanita, membubui ayam yang sudah dipotong potong 4 bagian dalam satu ekor.


" Ternyata seru ya kalau kumpul begini," Ryan membuka topik pembicaraan.


" Itu karena kamu gak pernah kumpul kumpul, cuma kerja, kerja dan kerja, " Alfian.


" Kan tuan sendiri yang ngasih banyak kerjaan, hingga saya tidak ada waktu." Ryan jadi sewot.


" Itu sesuai dengan gaji kamu sebagai asisten pribadi ku."


" Tapi tuan....,"


" jangan panggil aku tuan di sini, kita kesini bukan urusan pekerjaan." Ryan menggaruk kepalanya yang memang gatal.


Lain dengan para Bapak Bapak, lain pula dengan para anak muda. mereka sedang asyik mengipasi jagung jagung yang mereka bakar, karena bakar ayam urusan orang tua mereka.


" Sayang udah matang nih," Rain menjepit jagung yang sudah matang memasukkan nya kedalam piring dan menyerah kan nya kepada Melati.


" Sayang aku juga mau," pinta indah, Frans yang mendengar kata sayang dari bibir Indah pun melonjak kegirangan, seperti mendapat durian runtuh.

__ADS_1


" Sayang aku mau punya mu," kata Ratih pada Ronald.


" Hahaha... Hahaha" sontak mereka tertawa terbahak bahak. Maksud Ratih jagung yang ada di tangan Ronald. tapi yang mendengar nya mengartikan kearah lain (sensitif) Ratih hanya melongo belum menyadari apa yang baru saja ia katakan? sedangkan Ronald jangan di tanya, mukanya merah menahan malu.


__ADS_2