
.
.
.
Melati kembali ke kelas, tidak berapa lama dosen pun masuk.
"Melati, kamu di panggil oleh rektor ke ruangan nya. kata Siska, sang dosen.
"Baik Bu," jawab Melati sopan.
Melati pun berjalan menuju ruangan rektorat, sesampainya di tempat itu Melati pun mengetuk pintu.
"Masuk," ucap suara dari dalam. Melati pun membuka handle pintu dan pintu pun terbuka.
Melati perlahan masuk ke ruangan itu. Melati mengedarkan pandangannya, di lihat nya ada dua orang yaitu Pak Santoso dan Valen sebagai tamu Pak Boni. Pak Boni adalah rektor di kampus ini.
"Selamat siang Pak Boni," sapa Melati sopan.
Pak Santoso belum menyadari bahwa yang di panggil adalah Melati, karena posisi Pak Santoso masih membelakangi Melati.
"Siang Melati, silahkan duduk." Kata Pak Boni.
Melati pun duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Kalau boleh tau ada apa ya Bapak memanggil saya?" tanya Melati.
"Saya mendapat aduan, bahwa kamu membully mahasiswi di sini," ucap Pak Boni.
"Mohon di koreksi lagi tentang aduan itu, Pak." kata Melati.
"Hukum saja Pak, bila perlu keluarkan dia dari kampus ini." Kata Pak Santoso dengan emosi.
"Pak, dia memang membully saya, Bapak lihat wajah saya babak belur oleh nya." tuding Valen kepada Melati.
"Bagaimana Pak Santoso? apa perlu saya ajarkan pada Putri Bapak cara membully yang benar?" tanya Melati.
Merasa nama nya di sebut, Pak Santoso menoleh ke arah Melati. Tadi saking emosi nya dia tidak mau melihat wajah Melati.
Deg...
"No... nona Melati putih?" Pak Santoso
"Pak Santoso mengenal Melati?" tanya Pak Boni.
Pak Santoso tidak bisa menjawab, kerongkongan nya terasa tercekat. bahkan untuk menelan ludah pun rasanya sulit.
"Lebih baik, kamu panggil saja orang tua mu datang ke mari." perintah Pak Boni.
"Baiklah pak.," jawab Melati.
Melati pun mengeluarkan ponsel nya untuk menelpon ayahnya. Tidak berapa lama telepon pun tersambung.
"Assalamualaikum ayah," ucap Melati.
__ADS_1
"(..….)"
"Bisakah ayah datang ke kampus?"
"(......)"
"Ada masalah sedikit, ayah. makanya ayah di suruh datang," Kata Melati.
"(..….)"
"Oke ayah, Assalamualaikum," Melati pun menutup teleponnya.
Sedangkan Pak Santoso sudah terlihat pucat. Pak Boni memperhatikan gerak gerik Pak Santoso yang mulai gelisah.
"Pak Santoso baik baik saja? wajah Bapak pucat, apa Bapak sakit?" tanya Pak Boni.
"Sa... saya tidak apa-apa Pak," jawab Pak Santoso gugup.
"Sebaiknya setelah ini, Bapak pergi ke dokter deh, takut nanti Bapak malah serangan jantung." ucap Melati seperti mengejek.
"Heh, lo nyumpahin Papa gue ya," bentak Valen tak terima.
"Bukan nyumpahin, hanya sekedar mengingatkan. sebelum benar benar terjadi." Melati.
Pak Santoso semakin takut, dia takut Melati menarik semua sahamnya di perusahaan xxxx yang dia kelola. Jika Melati menarik semua sahamnya, otomatis yang lain juga akan ikut menarik saham mereka. karena Melati adalah investor terbesar di perusahaan xxxx itu. Jika investor terbesar sudah menarik sahamnya, yang lain pasti tidak akan percaya lagi untuk berinvestasi dengan perusahaan tersebut.
Akhirnya Alfian pun datang dan langsung menuju ke ruangan rektorat.
"Masuk" ucap suara dari dalam.
Alfian memutar handle pintu, dan pintu pun terbuka. Alfian melihat ada Pak Boni, Pak Santoso, Valen dan Melati di ruangan itu.
"Alfian! Itu benar kamu?" tanya Pak Boni.
"Boni, gak nyangka kita bertemu di sini!" ucap Alfian.
Pak Boni bangkit dari duduknya, dan memeluk Alfian ala laki laki.
"Jadi Melati itu putri mu?" tanya Pak Boni.
"Iya dia putri ku," jawab Alfian singkat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alfian.
"Kami mendapatkan aduan, kalau Melati ini membully mahasiswi di sini." jawab Pak Boni.
"Apakah ini baru pertama kalinya terjadi?" tanya Alfian lagi.
"Sebenarnya sudah sering terjadi, tapi tidak ada yang berani mengadu." Boni.
Pak Santoso sudah tidak berani lagi untuk bersuara. Sedangkan Valen nampak gelisah karena kalau ketahuan yang salah sebenarnya dia, ada kemungkinan ia bisa di DO.
Melati masih santai santai saja, toh dia merasa tidak bersalah.
"Bapak bisa mengambil kesimpulan, saya di sini baru dua hari, sedangkan pembullyan sudah sering terjadi. Kalau memang saya tukang bully, saya siap di hukum Pak." Melati.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita periksa cctv? Di kampus ini ada cctv kan?" tanya Alfian.
Pak Boni mengangguk setuju. Lalu mereka semua pergi menuju ruang cctv. Saat tiba di rumah cctv, Pak Boni menyuruh petugas cctv memutar rekaman video tersebut. Pak Santoso terbelalak saat melihat rekaman cctv itu, di sana terlihat Valen terlebih dulu menampar Melati lalu Melati membalas nya.
"Jadi sekarang terbukti kan, siapa yang benar siapa yang salah?" tanya Alfian.
"Kasus pembullyan bukan baru kali ini terjadi, Pak. Dalam setahun ini sudah banyak kasus pembullyan, dan pelaku nya orang yang sama," kata petugas cctv itu.
Pak Santoso yang mendengar itu menjadi kalap. Ia tidak menyangka kalau anak nya yang jadi tukang bully.
PLAAK...
PLAAK...
Dua kali tamparan mendarat di pipi Valen.
"Anak kur**g a**r, selama ini Papa selalu percaya kepada mu, selalu menuruti apapun mau mu, ternyata begini balasan mu?" bentak Pak Santoso.
"Pa, maaf kan aku pa, aku janji tidak akan berbuat lagi." ucap Valen sambil memohon dengan di sertai isak tangis.
"Maaf kan saya Pak Santoso, dengan berat hati saya harus mengeluarkan anak Bapak dari kampus ini, dan saya juga akan memberikan blacklist kepada putri Bapak karena ini sudah termasuk kasus kriminal." kata Pak Boni.
Sekarang masalah nya sudah selesai, tapi tatapan mata Valen begitu dendam kepada Melati. Melati cuek cuek saja, seolah itu adalah tantangan buat nya.
Sedangkan Pak Santoso, kini dia tidak bisa apa apa, setelah Melati meminta ayahnya untuk menarik kembali saham dari perusahaan miliknya itu.
Para mahasiswi merasa senang melihat Valen di keluarkan dari universitas tempat nya kuliah. karena tidak ada lagi yang akan membully mereka.
"Kita harus berterima kasih kepada Melati," kata mahasiswi 1.
"Benar, karena dia yang berani menentang Valen dan Ardhan." mahasiswi 2
Begitu lah kata kata yang terdengar dari mulut para mahasiswi yang merasa lega terbebas dari pembullyan. Melati kini telah kembali ke kelas.
Sedangkan Alfian masih berada di ruang rektorat, sedang reunian bersama teman lama. Teman sewaktu kuliah dulu.
"Gak nyangka, ternyata kamu punya putri yang sangat cantik," kata Boni.
Alfian terkekeh, mendengar kejujuran sahabat nya itu.
"Kamu sendiri gimana?" tanya Alfian.
"Aku punya putra yang sekarang sedang mengurus perusahaan ku. Gimana kalau kita jodohkan mereka?" tanya Boni.
Alfian semakin tertawa terbahak bahak.
"Kamu terlambat, kawan! Putri ku sudah ada yang melamar." Alfian.
"Siapa?" tanya Boni.
"Anak dari Alexander Lemos,"Jawab Alfian.
"Bule kampret itu? Ternyata bule itu selalu unggul dari ku." Boni.
"Hahaha, hanya kamu yang selalu kalah, aku tidak," Alfian.
__ADS_1