MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 42


__ADS_3

.


.


.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu? Suaminya Yanti kan?" tanya Bu Susi, seorang bidan di desa xxx. Bu Susi sebenarnya bukan warga asli desa sini, ia dari desa sebelah yang bertugas di desa ini.


"Iya Bu, saya mau periksa istri saya." jawab Zahid.


"Kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya Bu Susi pada Yanti.


"Seingat ku bulan lalu, tapi tanggalnya aku lupa Bu." jawab Yanti.


"Baiklah, kita tes dulu pakai testpack, silahkan kekamar mandi dulu," ucap Bu Susi sambil memberikan sebuah testpack pada Yanti.


Yanti pun berlalu dan masuk kedalam kamar mandi, selang sepuluh menit Yanti keluar dengan membawa testpack itu kembali.


Zahid sudah harap harap cemas, antara senang dan kecewa masih 50-50. Yanti menyerahkan testpack itu kepada Bu Susi.


Bu Susi tersenyum melihat hasilnya. dan mengucapkan selamat kepada pasangan suami istri tersebut.


"Sekarang kita periksa lagi ya," kata Bu Susi, Yanti pun berbaring diatas brankar dan diperiksa oleh Bu Susi. setelah selesai Yanti pun disuruh duduk kembali dikursi.


"Selamat ya Tuan, istri anda saat ini sedang hamil empat Minggu, apa ada keluhan?" Bu Susi.


"Saat ini hanya mencium bau masakan yang mengandung banyak rempah membuat ku mual, Bu." Yanti.


"Itu biasa terjadi pada trimester pertama, nanti saya resepkan vitamin untuk menghilangkan mual, dan juga menguatkan kandungan." Bu Susi.


Zahid jangan di tanya, ia begitu bahagia hingga tidak dapat berkata kata. Lidahnya terasa kelu saking senangnya.


"Baik Bu, kalau begitu kami permisi dulu," Yanti.


"Silahkan, sebaiknya periksakan ke dokter kandungan dirumah sakit yang alat alatnya lebih lengkap." ucap Bu Susi.


Yanti dan suaminya pun kembali ke acara pernikahan Ratih. ternyata acaranya masih berlanjut, tapi para tamu undangan sudah ramai yang pulang.


Yanti dan Zahid tiba ditempat itu, dan bergabung kembali dengan teman temannya.


"Sudah diperiksa? bagaimana hasilnya?" tanya Nadia.


Yanti dan Zahid saling pandang lalu tersenyum, tanpa menunggu jawaban dari keduanya, mereka yang ada disitu langsung faham.


"Selamat ya, sudah ada isi rupanya!" Putri.


"Berapa bulan?" tanya Melati, Yanti memperlihatkan jarinya empat.


"Empat bulan?" tentu saja Indah kaget, sedangkan Yanti menikah belum ada empat bulan.


"Empat Minggu, masa empat bulan sih. emang dicetak duluan?" Yanti.


"Ya kali aja udah kebelet," Nadia.


"Ngaco kalian, emang aku cewek apaan, sampai sampai hamil duluan. Ih amit amit, udah nikah baru enak begituan gak takut dosa." Yanti.


"Ehh bro, gimana nasib cewek tadi?" tanya Steve.


"Cewek yang mana?" bukannya menjawab Rain malah balik bertanya.


"Cewek yang nyungsep ketanah, kenapa lu injak jari tangannya?" Steve.

__ADS_1


"Hehe, aku gak sengaja." Rain terkekeh.


"Kenapa gak diinjak mukanya aja?" Steve.


"Kenapa gak ngomong dari tadi?" Rain.


"Hus, kasihan anak orang, kalau diinjak mukanya. mending lempar ke sungai." Melati.


"Kalau ada buaya nya gimana?" William.


"Bagus dong, cewek kaya gitu lebih suka buaya." Frans.


Mereka ngobrol ngalur ngidul sampai pesta pun selesai. Tiba tiba ponsel Frans berdering pertanda panggilan masuk. Frans melihat nama si penelepon.


"Mama?" Frans langsung mengangkat nya.


"Halo ma, Assalamualaikum." Frans.


"Jemput Mama dan Papa, sayang. kami sudah di sampai di bandara." Ucap Marreta, diseberang sana.


"Oke Ma, tunggu ya." Lalu Frans pun mematikan sambungan teleponnya.


"Guys, sorry gua harus menjemput orang tua gua." Frans.


Deg...


Indah yang mendengar Frans mau menjemput orang tuanya, jantungnya langsung berdegup kencang.


"Kok aku deg degan ya!" gumam Indah dalam hati.


"Sayang, aku mau jemput Mama sama Papa di bandara, kamu mau ikut?" Frans.


"Ya udah deh, aku pergi dulu ya." Frans.


"Hati hati ya!" Indah.


"Pakai mobil ku saja," kata Zahid, lalu melemparkan kunci mobil miliknya ke Frans.


Frans pun berjalan menghampiri mobil Zahid, setelah ia masuk, mobil pun melaju dengan kecepatan diatas rata rata.


"Kita pulang aja yuk." Ajak Melati.


Mereka pun pulang kerumahnya masing masing tanpa berpamitan pada kedua mempelai. karena mereka tidak mau mengganggu keduanya yang lagi asik mesra mesraan.


Dirumah Sinta...


"Sayang, sepertinya rumah ini perlu direnovasi deh." ucap Ryan.


"Kayanya gak usah deh mas, soalnya kita juga jarang kembali ke desa. anak anak sepertinya lebih senang di kota."Sinta.


Ya mereka juga ikut pulang untuk menyaksikan pernikahan Ratih dan Ronald. Saat ini keduanya sedang duduk diteras rumah. Sedangkan kedua anaknya lagi tidur siang. mungkin mereka kelelahan.


"Sayang, dulu waktu aku datang kemari, pas musim buah buahan. tapi sekarang sudah tidak ada lagi." Ryan.


"Ada tapi buah yang ada di hutan." Sinta.


"Memangnya bisa dimakan?" Ryan.


"Ada yang bisa ada juga yang tidak."


"Bagaimana cara membedakan buah yang bisa di makan dan tidak?"

__ADS_1


"Dari tupai atau binatang yang lain."


"Maksudnya?"


"Kalau buah yang dimakan tupai atau binatang lain, itu artinya buahnya tidak beracun. Pak Yusuf sering masuk kehutan mungkin beliau ada dapat buah buahan dari hutan."


Obrolan mereka terus berlanjut tidak terasa hari sudah sore, suara Adzan ashar berkumandang di masjid menandakan waktu shalat.


"Kita shalat dulu yuk." ajak Ryan.


Lalu keduanya pun melaksanakan shalat ashar berjamaah.


Orang tua Frans sudah sampai kerumah Melati. Marreta tertegun melihat kecantikan Melati.


"Apakah itu calon menantu Mama?" tanyanya pada Frans sambil berbisik.


"Bukan, itu tunangannya Rain. calon mantu Mama tidak kalah cantik kok." Frans.


Marreta adalah adik dari Margaret. dan suami Marreta bernama Mario, anak mereka cuma satu yaitu Frans. setelah melahirkan Frans, Marreta tidak bisa hamil lagi karena rahimnya terpaksa harus diangkat.


"Mama sama Papa gak apa apa kan punya menantu dari kalangan biasa?" tanya Frans.


"Kalau Mama gak masalah, yang penting dia gadis baik baik, dan tidak menyia nyiakan anak Mama."


"Papa juga begitu, yang penting kalian bahagia dan dia tulus mencintaimu."


"Terimakasih Ma, Pa, kalian lah yang terbaik." ucap Frans dengan mata berkaca-kaca.


"Loh anak Mama kok mewek sih, udah mau jadi tunangan orang masih mewek." goda Marreta.


"Aku terlalu bahagia Ma, kalian merestui hubunganku dengannya."


"Mama sama Papa sudah mempersiapkan semuanya, walaupun mendadak tapi kami bergerak cepat."


Frans pun memeluk kedua orang tuanya."


"Cih, drama banget sih." Rain.


"Iri bilang bos." Frans.


"Tante sama Om sudah makan?" William.


"Belum, dari tadi belum sempat makan." Mario.


"Kalau begitu makan dulu Om, Tante. Melati sudah menyiapkannya tuh." Rain.


Mereka pun berjalan menuju dapur, dimeja makan sudah terhidang masakan ala ala desa.


"Siapa yang masak?" tanya Marreta.


"Melati, tunangannya Rain." jawab Frans.


Marreta menyendok nasi untuk suaminya, barulah untuk dirinya sendiri. Awalnya Mario sedikit ragu dengan masakan itu. Namun saat mencobanya, matanya terbelalak.


"Kenapa Pa?" tanya Marreta, sebab Marreta belum mencicipi makanan itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2