MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 54


__ADS_3

.


.


.


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan, mereka semua berdecak kagum dengan dekorasi pelaminan tersebut. Nampak begitu mewah dan elegan juga sangat indah.



kira kira seperti inilah ilustrasi dekorasi pernikahan tersebut.


Suasana meriah mulai memenuhi ballroom hotel bintang lima tersebut. Hotel yang menjadi mahar untuk pernikahan Rain dan Melati.


Sementara didalam kamar hotel tepat tempat kedua mempelai, pengantin pria menghampiri pengantin wanitanya, dan benar saja Rain tidak berkedip sama sekali melihat kecantikan Melati. tanpa make-up aja sudah cantik apa lagi dipoles dengan make up ditambah lagi dengan gaun pengantin yang sangat cocok ditubuh Melati.


Pasangan pengantin kini berjalan beriringan keluar dari kamar ganti, menuju kepelaminan. Rain menggandeng tangan Melati berjalan perlahan karena gaun pengantin yang menjuntai kelantai. para tamu undangan sekali lagi dibuat kagum dengan pasangan yang mereka anggap sangat serasi itu, pengantin wanitanya sangat cantik dan pengantin lelakinya sangat gagah dan tampan. Para tamu undangan yang tadinya duduk kini semua berdiri sebagai tanda hormat ketika pasangan pengantin menuju singgasananya. Kini pasangan pengantin telah naik keatas pelaminan. Melati langsung duduk di singgasana itu.


"Lihatlah pengantinnya sangat serasi," ucap tamu A.


"Benar, yang satu cantik yang satunya tampan," ucap tamu B.


"Gimana nasibnya orang jelek ya, kalau pasangan harus cantik dan tampan?" kata tamu C.


"Udah gak usah ngerumpi terus, acara sudah mau mulai,"Jawab tamu D.


"Selamat malam para hadirin sekalian para tamu undangan yang hadir di acara pesta pernikahan Tuan Rain Alexander Lemos CEO dari perusahaan Lemos company, dan istrinya Nona Melati putih pemilik perusahaan M P cosmetic, M P restaurant dan pemilik M P boutique. tepuk tangan untuk pasangan CEO termuda tahun ini. sekarang kita merasa berbangga hati karena bisa menghadiri pesta pernikahan beliau. Dengan ini acara pesta pernikahan resmi dimulai, bagi para tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat dipersilahkan untuk naik keatas panggung, tapi dengan syarat harus tertib untuk menjaga keamanan dan kenyamanan demi berlangsungnya acara ini. dan bagi yang ingin makan di persilahkan semua sudah tersedia disisi kanan ruangan ini. Baiklah, saya selaku MC mohon undur diri karena acara resmi dimulai. terimakasih."


Para wartawan juga tidak ketinggalan untuk meliput acara pernikahan tersebut, suatu keberuntungan bagi mereka bisa meliput berita pernikahan dua CEO yang sangat fenomenal ini. walaupun M P cosmetic telah Melati serahkan kepada sang ayah, tapi orang tidak tahu kalau perusahaan itu sudah diserahkan dan berganti pemiliknya. Disudut lain ruangan itu seorang wanita dengan tatapan penuh dendam memandang kearah Rain dan Melati.


"Kita lihat saja, sampai dimana kebahagiaan kalian, karena sebentar lagi saya akan menghabisimu cewek sialan." ucap Veronica.


Ya wanita itu adalah Veronica, sudah lama ia ingin mencoba menyingkirkan Melati, tapi selalu gagal. kali ini ia sangat yakin bahwa rencananya pasti akan berhasil, Veronica tidak peduli dengan resiko yang akan dia tanggung, yang penting dia bisa menyingkirkan Melati dan Rain akan menderita, begitulah pikirnya.

__ADS_1


"Acara sudah dimulai, para tamu undangan pun mulai berbaris untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Melati dan Rain pun berdiri dari duduknya. Melati terus tersenyum menyambut uluran tangan dari para tamu undangan. sedangkan Rain hanya berwajah datar saja. ia sangat jengkel melihat Melati terus tersenyum kepada tamu pria.


"Jangan senyum terus, kamu terlalu cantik." ucap Rain, Melati hanya menanggapi dengan senyuman.


"Berapa banyak tamu yang hadir?" tanya Melati.


"Mungkin ada ribuan orang." jawab Rain santai.


Tamu undangan yang belum masuk juga masih ramai, sebenarnya ballroom hotel ini sangat luas bisa menampung ribuan orang, hanya saja mereka mau antri. ada yang masuk langsung menuju tempat makanan, ada juga yang langsung memberi ucapan selamat kepada pengantin. Alfian terlihat sangat bahagia mereka berbincang bincang dengan kolega bisnis dari luar negeri.


"Jadi Melati itu anak Tuan Alfian?" tanya kolega itu.


"Benar Tuan Bram,"jawab Alfian.


"Anda sungguh sangat beruntung Tuan, punya putri yang cantik dan juga jenius. saya tidak menyesal bekerjasama dengan anak Tuan, walaupun sekarang telah diserahkan kepada Tuan Alfian."


Sedangkan Rania bersama dengan Sofia, saling berbincang juga dengan para istri istri kolega suaminya, Marreta dan Margaret juga ikut bergabung.


Sedangkan para sahabat Melati sedang dikawal oleh suami mereka masing-masing, tidak diperbolehkan pergi jauh karena terlalu banyak orang. hingga mereka pun merasa jengkel, tapi tetap menurut saja karena mereka sedang hamil, alasan suami mereka menjaganya takut istri mereka kenapa kenapa. Dokter Rastiwi juga datang bersama suami dan anaknya, tapi mereka belum menyapa pengantin, dan masih duduk dikursi tamu undangan.


"Iya, aku juga malas berdesakan begitu." jawab Anton suami Rastiwi.


"Itu kak Nia bang, apa kita mau menyapanya?" tanya Rastiwi.


"Boleh, yuk." lalu Anton menggandeng tangan anaknya yang baru berusia 10 tahun.


"Kak Nia!" Merasa namanya dipanggil Rania pun menoleh karena posisinya membelakangi.


"Tiwi, aaa lama tidak bertemu," jerit Rania, lalu memeluk Rastiwi.


"Apa kabar kak Nia?" tanya Rastiwi.


"Seperti yang kamu lihat, aku sehat. kamu makin cantik aja." Rania.

__ADS_1


"Kak Nia bisa aja, kak Nia juga masih tetap cantik." Rastiwi.


"Bagaimana kamu bisa datang? sedangkan kami tidak tahu alamat rumahmu disini?" Rania.


"Kemarin aku ketemu Nadia di rumah sakit, kebetulan Nadia memeriksakan kandungan. jadi Nadia yang undang aku." Rastiwi.


"Oh syukurlah, kami sudah kesulitan untuk mengundangmu." Rania.


"Iya keberuntungan menyebelahiku, masih ingin melihat pernikahan Melati." Rastiwi.


"Kamu benar, itu Aldo anakmu? wah sudah besar sekarang." Rania.


.


.


Disudut lain Sinta sedang menggendong seorang bayi laki-laki sedangkan Ryan menggendong Nabila.


"Apa kamu tidak capek mas? Nabila sudah berat loh mas," Sinta.


"Tidak apa-apa, dari pada nanti berpencar susah mencari nya." Ryan.


"Ryan kini sudah tidak lagi menjadi asisten pribadi Alfian, Ryan sudah mengelola perusahaan cabang M P cosmetic. sejak Sinta menikah kehidupannya kini banyak berubah, dari segi berdandan segi pakaian, juga wajahnya selalu terlihat berseri seri dan memancarkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Berkat memakai produk M P cosmetic wajah Sinta tidak lagi kusam.


Acara masih terus berlanjut, para tamu undangan pun mulai berkurang. karyawan Melati sudah sejak tadi mereka pulang, setelah selesai makan dan memberi ucapan selamat mereka langsung pulang. karena besok mereka sudah mulai bekerja kembali.


Sedangkan Veronica masih menunggu, mencari kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksinya.


"Mengapa para tamu masih juga ramai sih? pokoknya aku tidak boleh gagal malam ini. aku akan buat Rain menderita karena telah menolakku." gumam Veronica.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2