MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 39


__ADS_3

.


.


.


Hari hari pun berlalu, kini mereka semua sudah berada di desa xxx. Karena dua hari lagi adalah hari pernikahan Ronald dan Ratih.


Mereka sangat senang bisa kembali lagi ke desa ini. Dan malam ini rencananya pertunangan Rain dan Melati akan diadakan, walaupun acaranya sederhana tapi mereka begitu antusias melaksanakan nya.


"Jam berapa nanti acaranya?" tanya Sofia.


"Setelah shalat isya. Hanya tinggal memasangkan cincin saja. Dan makan makan bagi tamu yang di undang." Rania.


"Memangnya berapa ramai yang diundang?" tanya Margaret.


"Tidak ramai, hanya beberapa orang saja, tetangga dekat dekat rumah saja,termasuk Pak Kades dan Pak RT.


Sementara di rumah kakek Yusuf, para pria ternyata berkumpul di sana. mereka tidak ingin mengganggu istri istri mereka yang sedang sibuk memasak dan membuat kue untuk nanti malam.


"Saya tidak akan bosan bosannya berada di desa ini. Kalau saja ada orang yang mau menjual tanahnya disini, saya mau membelinya untuk membangun villa disini." Martin.


"Aku juga pengen, membangun villa di desa ini desa yang damai dan tenang." Alexander.


Pak Yusuf yang mendengar pembicaraan mereka hanya mampu tersenyum saja. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang kota terkadang lebih suka kedesa hanya untuk melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kebisingan kota. tapi terkadang juga sebaliknya, orang desa pengen hidup di kota karena ingin mencari pekerjaan dan sebagainya. karena mereka menganggap kehidupan di kota lebih terjamin daripada di desa. Mereka tidak tahu betapa kerasnya kehidupan di kota. Hingga banyak yang jadi gelandangan, pemulung, pengemis, pengamen dan banyak lagi.


Namun Melati sangat bernasib baik, dengan pergi ke ibukota hidupnya malah berubah menjadi orang sukses.


"Pak, sekarang tidak lagi musim buah buahan ya?" tanya Martin.


"Musim buah sudah habis, dulu waktu kalian datang, sangat beruntung sekali pas musim buah." jawab Pak Yusuf.


"Ehh, itu buah apa?" tunjuk Martin pada salah satu pohon yang sedang berbuah.



"Itu namanya buah rambai. Buahnya menjuntai jadi disebut rambai." Pak Yusuf.


"Boleh dimakan gak Pak?" tanya Martin lagi.


"Dasar bule, dari tadi banyak tanya," Aleksander.


"Dih sirik, bule teriak bule." Martin.


"Sudah, sudah tidak perlu berdebat. kalau mau panjat aja," Pak Yusuf.


"Hehe, saya tidak bisa manjat pohon Pak, suruh menantu Bapak saja deh." Martin.


"Ye enak aja, tuh suruh si Alex aja dia pandai memanjat. Jangankan manjat pohon, manjat gunung kembar aja dia sanggup." Alfian.


"Cih, kaya sendiri gak aja." Alex mencebikkan bibirnya.


Begitulah kalau mereka sudah berkumpul, lupa kalau mereka hampir punya menantu. sudah kaya anak anak remaja saja.


"Sudah, sudah biar Bapak saja yang panjat."


Akhirnya Pak Yusuf memanjat pohon rambai itu, tidak butuh waktu lama Pak Yusuf sudah membawa buah itu kehadapan mereka.


"Nih dimakan, tapi jangan banyak banyak nanti bisa mencret kalian." pesan Pak Yusuf.

__ADS_1


Martin langsung menggigit buah itu tanpa mengupas kulitnya terlebih dahulu.


Tiba tiba...


"Aakkkhh, masam." Teriak Martin.


Yang lain malah tertawa terbahak bahak melihat tingkah Martin dengan muka yang tidak bersahabat.


Lalu Pak Yusuf membantu Martin mengupas kulit buah rambai itu.


"Nih, cobalah." Pak Yusuf menyerahkan kepada Martin.


Martin tentu saja menggeleng cepat. merasa tertipu dengan rasa buah itu.


"Coba makan isinya jangan makan kulitnya." Alfian.


Perlahan lahan Martin mengambilnya dari tangan Pak Yusuf, dan memakannya.


"Manis," satu kata lolos dari mulut Martin.


"Kalau sudah masak rasanya manis, tapi jangan makan kulitnya, karena kulitnya rasanya sangat masam." Pak Yusuf.


Martin pun manggut-manggut. Lalu Pak Yusuf pun masuk kedalam rumah. Tak berapa lama ia membawa beberapa buah dan meletakkannya didekat mereka kumpul.



"


"Wah buah durian." Martin bertepuk tangan layaknya anak kecil.


Kemana wibawanya sebagai seorang pemimpin di perusahaan dan sebagai seorang yang terhormat. Semua seakan hilang hanya karena terlalu bersemangat sewaktu berada di desa.


"Tapi kok mirip durian?" tanya Martin.


"Hai, norak banget sih bule yang satu ini." ejek Alex.


"What ever, saya tidak peduli." jawab Martin ketus.


"Iya buahnya memang seperti durian, dan ini didapat dari hutan." Pak Yusuf.


"Itu buah apa?" tanyanya lagi.



"Itu buah keledang, juga didapat dari hutan."


Alfian dan Alex hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Martin.


"Kemana wibawamu yang selalu kamu junjung tinggi, bro?" tanya Alex.


"Jangan bicara soal wibawa, kita nikmati aja masa masa di desa ini. disini kita belajar hidup selayaknya rakyat biasa. bukan sebagai pemimpin atau bos besar di perusahaan. Udah nikmati aja, simpan saja wibawa kita dalam saku celana. nanti bila tiba di ibukota baru kita pergunakan lagi." kata Martin dengan bijak.


Alex terdiam mendengar nya. tidak tahu mau ngomong apa lagi? Akhirnya dia juga ikut ikutan dengan tingkah Martin, hingga menular juga pada yang lain nya.


Malam hari...


Semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan jalannya proses pertunangan antara Melati dan Rain. Senyum yang manis tidak pernah luntur dari bibir Rain.


Sedangkan Melati masih didalam kamar sedang dirias oleh teman teman nya. Beruntung teman nya juga pandai mengkreasikan makeup. Tidak ketinggalan juga Yanti.

__ADS_1


"Maafkan kita kita ya Yan, karena tidak bisa menghadiri pernikahanmu." kata Indah mendramatis.


"Gak apa apa, tapi hari ini aku senang bisa menyaksikan hari pertunangan Amel." Yanti.


"Gimana sudah ada isi belum?" tanya Melati.


"Ish, baru juga menikah masa langsung berisi." Yanti tersipu malu.


"Ya, mana tau pas masa subur, langsung jadi deh." goda Nadia.


"Kalian..." Yanti tidak dapat meneruskan kata katanya.


"Cie cie malu dianya." Putri.


"Makanya kalian cepat cepat menikah," Yanti.


"Kalau kita sudah menikah, kita akan ikut suami." Melati.


"Benar tuh," Ratih.


"Gak apa apa, yang penting acara pernikahan nya di desa ini, biar aku bisa menyaksikan pernikahan teman teman ku." Yanti.


"Pastinya. tapi nanti akan diadakan lagi acara resepsinya di Ibukota juga." Ratih.


"Aku yakin, pernikahan kalian pasti sangat megah dan mewah. Secara kan, suami kalian orang kaya semua." Yanti.


"Baru calon kale," Indah.


"Ish. Anggap saja suami." Yanti.


"Beda dong, emang suami kamu gak kaya? aku dengar dari Wiliam, suami kamu juga pengusaha." Nadia.


"Iya tapi dia mungkin besok baru bisa datang. soalnya dia menyelesaikan pekerjaan nya dulu, baru dapat cuti." Yanti.


"Kamu ikut suami juga kan?" Indah.


"Pastilah, masa aku disini dia disana, sama saja dengan tidak punya suami kalau tinggal terpisah." Yanti.


Percakapan mereka terhenti saat mendengar pintu diketuk.


Tok...


Tok....


Tok...


Ceklek, pintu pun terbuka.


"Sudah siap? Acaranya sebentar lagi mulai." Rania.


"Iya Bunda." jawab mereka serentak.


Baik Melati maupun teman teman nya, memanggil Rania dengan sebutan Bunda.


"Mari kita keluar, semua sudah pada menunggu." Rania.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2