
.
.
.
Hari hari berlalu, tanpa terasa pernikahan Rain dengan Melati sudah memasuki bulan kedua. Melati tetap beraktivitas seperti biasa yaitu ke butik dan juga restoran. walaupun ia harus membagi waktu dengan sang suami.
Saat ini keduanya baru selesai shalat subuh, Melati langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, Melati ingin memasak makanan kesukaan suaminya.
Rain datang ke dapur dan langsung memeluk Melati dari belakang.
"Bang gak enak peluk pelukan di dapur." Melati.
"Memangnya kenapa?" tanya Rain.
"Lihat tempat juga bang, kalau dilihat orang gimana? apa gak malu, hmmm?" tanya Melati.
"Kita kan sudah suami istri," jawab Rain tanpa merasa bersalah.
"Suami istri pun ada adab dan sopan santunnya bang. bermesraan pun ada tempatnya juga bukan disembarang tempat." Melati.
Melati sudah selesai memasak dia menyuruh pelayanan untuk menghidangkan masakan tersebut. sedangkan Melati ingin mandi dulu. Rain terus saja mengekor dibelakang Melati, seakan tidak mau jauh dari Melati.
"Abang tidak kerja?" tanya Melati saat ia baru keluar dari kamar mandi.
"Abang rasanya lesu banget, gak tau kenapa badan Abang terasa remuk saking lemasnya." Rain.
"Ya sudah kita sarapan dulu, setelah itu kita kerumah sakit cek kondisi Abang." Melati.
"Gak usah deh, Abang mau istirahat aja, paling Abang cuma kecapean." Rain.
Kemudian keduanya turun menuju dapur, dimeja makan sudah ada Sofia dan Alex.
"Loh, kamu gak kerja, Rain?" tanya Alex.
"Aku mau istirahat dulu pa , badanku terasa sangat lemas." Rain.
"Kalau begitu istirahat ajalah, biar papa yang gantikan pekerjaan kamu." Alex.
Melati menyendok nasi dan lauk untuk suaminya, tapi Rain menolak saat Melati menyerahkannya kepada Rain. Melati heran biasanya Rain suka makanan itu, tapi sekarang malah ditolaknya.
"Kenapa bang?" tanya Melati.
"Entahlah, mencium bau nasi rasanya perutku eneg banget." ucap Rain.
Sofia yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Rain yang sedikit berbeda dari biasanya ikut berbicara.
"Lebih baik periksa ke dokter," saran Sofia.
"Gak usah ma, aku gak apa apa kok." Rain.
__ADS_1
"Tapi kamu harus sarapan bang, kalau tidak nanti semakin parah." ucap Melati cemas.
"Bik ada air asam jawa gak, pengen minum air asam jawa." ucap Rain.
"Ini masih pagi loh bang, nanti lambung Abang bermasalah." Melati.
"Tapi Abang benar benar pengen sayang." ucap Rain merengek.
"Sayang, kamu sudah datang bulan?" tanya Sofia.
"Belum ma, memang Ken...." Melati tidak jadi melanjutkan kalimatnya, dia teringat sudah sebulan ini tidak datang bulan.
"Sayang, apa kamu hamil?" tanya Sofia.
"Gak tau ma, baru aku ingat sudah satu bulan ini aku tidak datang bulan." Melati.
"Rain, lebih baik kamu periksa Melati ke dokter kandungan." Alex.
"memang kenapa ma, pa?" tanya Rain yang masih belum ngeh.
"Kamu ingat waktu William minta buah mangga muda? sampai buah mangga Mama yang jadi korban."
"Jadi maksud Mama, Melati sedang hamil?" tanya Rain.
"Bagaimana kalau kamu beli testpack dulu di apotik?" Sofia.
"Sebentar ma, aku pingin minum air asam jawa dulu, rasanya air liurku sudah meleleh keluar." Rain.
"Ah segernya," ucap Rain tanpa sadar.
Lalu Rain segera berlalu keluar untuk membeli testpack di apotik terdekat.
"Apa benar aku hamil ma? kok aku tidak merasakan apa-apa? bahkan aku baik baik saja?" tanya Melati.
"Karena yang merasakan ngidamnya itu suamimu, papa dulu juga seperti itu." Bukan Sofia yang menjawab pertanyaan Melati, tetapi Alex.
"Sayang hari ini kamu jangan bekerja dulu ya, Mama gak mau kamu kenapa kenapa?" Sofia.
"Baiklah ma, aku akan menemani Abang Rain dia butuh istirahat." Melati.
Rain datang dengan membawa beberapa buah testpack dan menyerahkannya kepada Melati. saat ini mereka sedang berada di ruang tamu.
"Di coba dulu sayang, kalau positif atau garis dua berarti kamu hamil." Sofia.
"Baik ma, aku kekamar dulu ya Ma," Melati.
Melati bangkit dan berjalan menuju kamar, Rain dengan setia mengikutinya dari belakang. Melati langsung masuk kedalam kamar mandi, dan menampung air seninya kedalam wadah khusus berbentuk gelas kecil. Perlahan Melati mencelupkan benda itu kedalam wadah tersebut, perasaannya tidak menentu lebih mendominasi rasa takut takut. Takut hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Selang beberapa menit Melati keluar dari kamar mandi, ternyata Sofia sudah menunggu didalam kamar mereka bersama Rain.
"Ma, bang aku hamil hasilnya positif." ucap Melati pelan, tapi masih bisa didengar oleh telinga mereka.
__ADS_1
"Benarkah sayang, kalau begitu aku akan jadi ayah," Rain.
"Dan aku akan menjadi nenek," ucap Sofia senang, lalu memeluk Melati.
"Sayang sebaiknya kita periksa lagi ke rumah sakit. biar kita tau pertumbuhan calon bayi kita, sehat atau tidaknya kita bisa tahu." Rain.
"Baiklah sekarang kita kerumah sakit." Melati.
Keduanya pun pergi kerumah sakit dengan mengendarai mobil, Rain begitu telaten menjaga Melati takut kenapa kenapa.
Rain yang tadinya kurang fit menjadi lebih segar setelah meminum air asam jawa, padahal sebelumnya ia tidak pernah menyukai air asam jawa itu.
Rain mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ditengah tengah perjalanan Rain menghentikan mobilnya didepan penjual kebab.
"Sebentar ya sayang, aku pingin makan itu," ucap Rain sambil menunjuk penjual kebab.
Rain pun membeli satu dan memakannya dengan lahap, setelah habis barulah Rain melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. setibanya di rumah sakit, Rain dan Melati langsung menuju ruang dokter obgyn.
Ternyata disana sudah ada beberapa orang sedang mengantri, Rain terpaksa ambil nomor antrian dulu. satu jam menunggu akhirnya tiba giliran nama Melati dipanggil.
"Selamat pagi Dok," sapa Rain.
"Pagi, silahkan duduk," jawab dokter itu.
"Tante bekerja disini?" tanya Melati.
"Iya, sudah lama Tante kerja disini." Rastiwi.
Melati dan Rain duduk saling berhadapan dengan dokter kandungan tersebut.
"Kami ingin melakukan pemeriksaan Dok," ucap Rain.
"Kita langsung saja ya," dokter Rastiwi.
Melati berbaring diatas brankar rumah sakit, perlahan dokter Rastiwi mengangkat pakaian Melati sebatas perut yang sebelumnya ditutupi kain. dokter Rastiwi mengolesi perut Melati dengan gel lalu meletakkan probe keperut Melati.
"Ini adalah calon bayi kalian, bentuk nya masih terlalu kecil dan baru berusia 6 Minggu, calon bayinya sehat dan kuat," ucap dokter Rastiwi sambil menunjuk kearah monitor didepan mereka.
Rain melihat itu matanya berkaca-kaca, tidak menduga Allah memberikan mereka kepercayaan untuk punya anak secepat ini.
"Terimakasih Ya Allah atas kepercayaan Mu menitipkan anak dirahim istriku." batin Rain.
"Apa ada keluhan?" tanya dokter Rastiwi setelah ia mengelap gel dari perut Melati.
Melati duduk kembali didekat suaminya, "tidak ada Tan, bahkan aku tidak tahu kalau aku hamil, tapi suamiku yang mengalaminya."
"Hal itu bisa saja terjadi pada calon ayah, biasanya kalau hal seperti itu ikatan antara ayah dan anak begitu kuat.
.
.
__ADS_1
.