MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 30


__ADS_3

.


.


.


Tanpa berkata kata lagi, Sonya dan Yoga pulang dengan muka memerah menahan amarah.


Saat di dalam mobil...


" Sial..sial..sial," Yoga memukul setir mobil sambil mengumpat. Sonya jadi semakin heran dengan perubahan sikap suaminya.


Sonya memang tidak tahu dengan perbuatan-perbuatan suaminya selama ini. Sonya mengira suaminya adalah orang baik baik.


"Sepertinya aku harus menghabisi anak itu, aku heran mengapa anak itu bisa selamat dari orang orang yang sudah aku bayar? Kelompok yang sudah ku bayar tidak sedikit, semua berjumlah 40 orang." Monolog Yoga dalam hati.


"Pa, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sonya pada suaminya.


"Tidak ada apa apa, Ma," jawab Yoga.


Kemudian Yoga menjalankan mobil nya menuju rumah sakit tempat anak nya di rawat.


Sementara di mansion keluarga Lemos.


"Rain, ada apa sebenarnya?" Tanya Alex.


"Papa ingat waktu aku di culik sepuluh tahun lalu?" Bukan nya menjawab Rain malah balik bertanya.


Alexander mengangguk.


"Ingat, memang nya kenapa?"


"Dalang di balik penculikan aku waktu itu adalah Om Yoga, Pa."


"Hah!"


Alexander dan Sofia terkejut.


"Apa kamu ada bukti, Nak?" Tanya Sofia.


"Aku hanya memiliki rekaman suara saat Om Yoga menelpon seseorang." Rain.


"Mengapa tidak lapor polisi saja?" Tanya Alex.


"Waktu itu aku masih memikirkan Tante Sonya, biar bagaimanapun Tante Sonya adik nya Mama?" Rain.


"Lalu apa motif Yoga menculik mu?" tanya Alex lagi.


"Semua karena harta, Pa. Om Yoga tau kalau harta Papa akan di wariskan kepada ku, jadi sebelum itu terjadi Om Yoga ingin menyingkirkan aku. Setelah aku mati, maka Papa akan mewariskan harta Papa pada Ardhan. itu tujuan Om Yoga,Pa." Rain.


"Sekarang sudah ada bukti, mengapa tidak lapor polisi saja?" tanya Sofia.


"Kita tidak perlu lapor polisi, biarkan Om Yoga masuk kedalam perangkap sendiri. Dengan begitu kita tidak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan bukti bukti." Rain.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alex.


"Aku tidak akan melakukan apa apa, biar dia yang datang sendiri membuat keonaran, dengan begitu maka dia tidak bisa menyangkal lagi."


"Hhmm.. tidak terlalu buruk." kata Alex.


"Apa tidak berbahaya, Nak?" tanya Sofia.


"Resiko pasti ada, Ma." Rain kemudian menatap Melati.


"Maaf kan aku sayang, bila aku melibatkan mu dalam masalah ini," Kata Rain.


"Aku tidak masalah,Bang. Selama aku bisa membantu." ucap Melati.


Rain pun tersenyum manis, semakin terlihat begitu tampan.


"Ma, Pa aku kekamar dulu ya mau mandi. sayang kamu juga mandi ya, di kamar mu sudah disediakan pakaian ganti. Mari Abang antar kekamar." Rain.


Melati pun di antar oleh Rain kekamar nya, setelah berpamitan pada Sofia dan Alex.


"Ini kamarmu, sayang. masuk lah, pakaian semua sudah di siapkan." Rain.


"Terimakasih Bang.," ucap Melati sambil tersenyum.


Senyuman yang membuat para pria meleleh termasuk Rain. Melati masuk kedalam kamar nya, dan duduk di sisi ranjang.


Sedangkan Rain langsung ke kamar mandi. Ia berendam di bathtub dengan aroma terapi untuk merilekskan tubuh nya.


Melati berjalan perlahan memasuki kamar mandi, satu persatu ia melepas pakaian nya yang menempel di tubuh nya. kemudian ia mengguyur tubuh nya di shower. Selesai mandi, Melati pun berganti pakaian. Saat ia membuka lemari pakaian, matanya terbelalak melihat banyak pakaian yang telah di sediakan oleh Rain. Tidak tanggung tanggung semua jenis pakaian bermerek dengan harga yang fantastis. Dari pakaian gamis lengkap dengan hijab sampai dalaman nya sekalian.


Padahal yang beli bukan nya Rain, melainkan Sofia. Setelah berganti pakaian, Melati keluar dari kamar bersamaan dengan Rain juga keluar dari kamar nya. Karena kamar mereka bersebelahan.


"Ehh.." Melati kaget melihat Rain juga keluar kamar.


"Kenapa? kaget?" tanya Rain.


"Eee... itu, apa Abang yang beli semua?" Melati malah balik bertanya.


"Gimana, pas kan?" Tanya Rain menggoda Melati.


Tidak tahu lagi seperti apa wajah Melati saat ini? Seandainya ada tong sampah mungkin ia sudah membenamkan wajahnya ke dalam tong sampah itu, supaya Rain jijik melihat mukanya.


( wk...wk...wk... just kidding )


Rain sebisa mungkin menahan tawa nya.


"Ternyata asik juga menggoda Melati, lihat aja mukanya merah gitu," Batin Rain.


"Jadi benar, Abang yang beli semua nya?" tanya Melati memastikan.


"Gimana? pas apa enggak?" kalau tidak di depan Melati, mungkin Rain sudah terpingkal pingkal tawanya.


Melati seketika menutup aset berharga nya dengan kedua tangan nya.

__ADS_1


"Gimana aku bisa tau ukuran dalaman mu?melihat sehelai rambut mu saja aku belum pernah, aku harus berterima kasih pada mama," monolog Rain dalam hati.


"Kenapa di tutupi? kamu kan sudah pakai gamis dan jilbab.?" tanya Rain.


"Abang tuh mesum tau gak," rengek Melati.


"Loh mesum di dari mananya?" tanya Rain.


"Dari mana Abang tau ukuran dalaman ku, kalau tidak mesum? pasti Abang bayangin kan?" tanya Melati blak blakan.


Seketika tawa Rain pecah yang sejak tadi ia tahan. Melati masih dengan posisi bibir di monyong monyongin (cemberut). membuat Rain semakin gemas.


"Sayang, mana mungkin aku tau ukuran dalaman mu? lihat sehelai rambut mu saja aku tidak pernah, apalagi itu tuh?" Rain menunjuk kearah tubuh Melati.


"Tuh kan, Abang mesum, mesum, mesum." kata Melati sambil memukul-mukul dada bidang milik Rain.


"Sudah, sudah Sayang, sebenarnya yang membeli semua pakaian itu adalah Mama." ucap Rain menjelaskan.


Melati menghentikan pukulan nya.


"Benar Mama yang belikan?" tanya Melati memastikan.


"Benar sayang, kamu itu kan calon menantu kesayangan Mama," kata Rain.


"Yuk kita turun." katanya lagi.


Melati dan Rain pun turun melalui tangga, padahal ada lift tapi mereka memilih tangga.


Saat keduanya sampai di lantai bawah, sopir pribadi keluarga Lemos datang menyerah kan kunci mobil.


"Tuan, ini kunci mobil nona Melati dan mobilnya sudah ada di garasi."


"Hmmm, terimakasih paman." Rain memanggil nya paman, karena seumuran dengan Papa nya.


Sopir itu pun beranjak pergi setelah menyerahkan kunci mobil.


"Sayang, ini kunci mobil mu, sudah ada di garasi." kata Rain lalu menyerahkan kunci mobil itu pada Melati.


"Terimakasih kasih Bang."


Sofia datang dari dapur setelah selesai menyiapkan makan malam, walaupun ada banyak pelayan di mansion ini, tapi soal memasak, Sofia lah yang turun tangan. Karena baginya, untuk memanjakan lidah suami harus dari masakan istri. kalau untuk pelayan sudah ada dapur khusus para pelayan. Kalau Sofia sudah selesai memasak, para pelayan hanya menghidangkannya di atas meja makan.


"Mari kita makan, Mama sudah selesai memasak." kata Sofia.


"Baik Ma." jawab Melati.


"Sayang, kamu nginap disini aja ya." ucap Rain.


Melati diam sambil berpikir.


"Nginap aja Sayang, besok berangkat kuliah langsung dari sini." ucap Sofia.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2