
.
.
.
Waktu pun terus berlalu, Melati pun sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang Melati sudah mempunyai butik sendiri yang diberi nama M P boutique. Pernikahan Melati dan Rain pun akan diadakan dua hari lagi, sahabat Melati semua sudah menikah, Indah dan Frans sudah menikah sebulan setelah mereka bertunangan. William dan Nadia menikah beberapa bulan setelah Frans dan Indah, Steve dan Putri juga sudah menikah sebulan yang lalu.
Yanti sudah melahirkan anak pertama mereka sebulan yang lalu, anak berjenis kelamin laki-laki dan sekarang menetap di negara tetangga. Ratih sekarang sedang hamil Enam bulan, dan Indah juga hamil dua bulan.
Pernikahan Melati dan Rain yang rencananya dua bulan setelah mereka bertunangan ternyata ditunda sampai sampai Melati menyelesaikan kuliahnya, dan sekarang butiknya sudah berdiri dan diresmikan seminggu yang lalu.
"Wah calon pengantin lagi dipingit," goda Indah yang datang kerumah Melati.
"Ya mau gimana lagi sudah menjadi tradisi," jawab Melati.
"Aku pikir hanya orang Jawa yang punya tradisi seperti pingitan, ternyata kita orang Melayu juga ada," ucap Nadia.
"Nad, Indah sudah berisi tuh, kamu sudah ada belum?" tanya Melati lagi.
"Belum ada tanda tandanya nih, mungkin belum rezeki." jawab Nadia dengan wajah muram.
"Sabar, kalian menikah baru beberapa bulan, dapat anak tidak bisa instan loh, aku juga begitu setelah beberapa bulan menikah baru dapat, sekarang baru hamil dua bulan." Indah.
"Tapi aku takut suamiku nanti kecewa," ucap Nadia sendu.
"Aku yakin suamimu orang yang pengertian, dia pasti ngerti lah." Melati.
Pernikahan Melati dan Rain tidak diadakan didesa, karena orang tua Melati ada di ibukota. Kakek dan neneknya juga sudah datang dari seminggu yang lalu.
Sementara di mansion Rain para sahabatnya juga berkumpul, mereka berbincang bincang ringan saja.
"Gimana perasaanmu bro sebentar lagi jadi pengantin." tanya Ronald.
"Yang jelas aku bahagia, penantian yang selama ini membuatku gelisah akhirnya membuat bahagia, awalnya aku pikir Melati tidak mau menikah denganku karena sudah beberapa kali harus tertunda, karena aku terlalu mencintainya jadi kuanggap apa yang kami lalui adalah ujian." ucap Rain sambil matanya menatap kedepan, mengingat yang telah lalu.
"Syukur lah kamu tidak putus asa bro, aku yakin Melati adalah orang yang sangat tepat untukmu." Frans.
Mereka saat ini sedang berada ditaman belakang mansion. William yang sejak tadi hanya diam seperti menahan sesuatu, dan benar saja baru beberapa detik mereka sudah dibuat panik oleh William.
Hueek... hueek. William berlari kekamar mandi yang ada didekat dapur mansion.
Rain, Ronald, Frans dan Steve saling pandang lalu mereka bergegas menyusul William ke kamar mandi. William terus memuntahkan isi perutnya yang baru saja diisi.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Rain yang sedang mengurut tengkuk William, William hanya menggeleng.
"Gak tau, perasaanku gak enak banget dari tadi pengen muntah, tapi kutahan dan sekarang sudah tidak tahan lagi." William.
"Kita ke dokter ya, atau telpon dokter suruh datang kemari." Rain.
William menggeleng, "Aku tidak apa-apa, ada buah mangga gak? setelah muntah pengen makan buah mangga kalau ada yang muda." William.
Merasa ada yang aneh pada sahabatnya itu, Rain, Frans, Ronald dan Steve hanya saling pandang dan merasa bodoh. mereka yang tadi begitu panik, tapi William malah seperti tidak terjadi apa-apa, tapi Rain tetap menelpon dokter untuk datang kemari.
"Di belakang ada buah mangga yang sedang berbuah, tapi buahnya hanya satu." ucap Rain, mata William berbinar mendengar ada buah mangga.
William pun bergegas menuju pohon mangga itu, pohon nya tidak terlalu tinggi jadi bisa dijangkau dengan tangan. dan benar saja buahnya hanya satu, padahal buah mangga itu kesayangan Sofia, tapi sudah terlanjur diambil oleh William.
"Wah aku sudah tidak sabar ingin memakan buah mangga." monolog William.
Saat William mengupas kulit buah mangga tersebut, Sofia datang melihat William sedang mengupas kulit mangga.
"Dimana kamu dapat buah mangga itu?" tanya Sofia.
"Dibelakang Tante, kebetulan buahnya hanya satu." jawab William santai.
"Oooh buah mangga ku...." teriak Sofia.
Rain dan yang lain mendengar teriakkan Sofia terus menghampiri Mamanya.
"Itu buah mangga Mama satu satunya dimakan oleh William." tunjuk Sofia kearah William, sedangkan sang pelaku nampak bahagia karena dapat memakan buah yang diinginkannya. Sofia memperhatikan hal itu seperti tidak wajar yang terjadi pada William.
"Tunggu...kamu ngidam ya?" tanya Sofia.
Rain, Steve, Ronald dan Frans terkejut mendengar Sofia mengatakan William ngidam.
"Memang ada lelaki ngidam Ma?" tanya Rain.
"Bisa jadi istrinya sedang hamil, coba lihat cara dia makan buah mangga muda." Sofia.
Rain memperhatikan dengan seksama saat William memakan mangga itu. begitu juga dengan para sahabatnya.
"Tuan muda dokter sudah datang." lapor pelayan di mansion ini.
"Hmmm" hanya itulah jawaban dari Rain.
"Kamu memanggil dokter kemari?" tanya Sofia.
__ADS_1
"Iya Ma, tadi William muntah muntah kupikir dia lagi sakit." Rain.
"Ya sudah periksa dia sekarang, setelah itu suruh William kedokter kandungan untuk memeriksa istrinya." Sofia.
"Aneh, baru kali ini aku mendengar pria ngidam." batin Rain.
William pun diperiksa oleh dokter yang sudah mereka suruh datang tadi. mereka menceritakan keluhan yang baru saja dialami oleh William. sang dokter pun mengernyitkan alis nya karena hasil pemeriksaan tidak mempunyai tanda tanda orang sakit.
"Kondisinya baik baik saja, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia sakit. apakah dia punya istri?" tanya dokter itu.
"Ada dok, mereka menikah beberapa bulan yang lalu," jawab Rain.
"Ini saya resepkan obat anti mual, dan coba istri anda dibawa ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut. karena menurut analisa saya, saat ini istri anda sedang hamil." dokter menjelaskan.
"Apa Dok istri ku hamil? aaaaaakkh Alhamdulillah Ya Allah." teriak William kegirangan.
"Ini baru dugaan saya saja, untuk lebih jelasnya coba bawa istri anda ke dokter kandungan." jawab dokter itu.
"Iya dok iya, sekarang juga saya bawa istri saya untuk diperiksa." William.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Dokter.
"Aku harus menjemput istriku dan membawanya ke rumah sakit." ucap William.
Tanpa pamit William terus berlari pelan keluar dari mansion keluarga Lemos.
"Bagaimana dengan buah mangga kesayangan Mama?" tanya Rain.
"Sudah biarkan saja Mama sudah ikhlas saat tau kalau William itu tengah ngidam." Sofia.
"Bro aku baru tahu kalau ada lelaki ngidam." kata Rain.
"Itu bisa saja terjadi, tapi jarang kita temui. biasanya hanya wanita yang merasakan seperti itu," Ronald.
"Istri kalian kan lagi hamil, apakah kalian juga merasakan seperti William?" tanya Rain.
"Tidak semua orang bisa begitu bro, saat istri kami ngidam kasihan melihatnya muntah muntah badannya sampai lemas. aku pengen juga merasakan seperti William, tapi aku tidak merasakan ngidam bro." Frans.
"Aku juga pengen seperti itu nanti kalau Melati hamil, aku ingin menggantikan posisinya dan merasakan ngidam." Rain.
"Kalau bisa diatur kita pengennya juga gitu bro." Ronald.
.
__ADS_1
.
.