
.
.
.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kerumah," ujar Melati.
Rain membuka bagasi mobil dan menurunkan barang barang bawaan Melati. sedangkan barang bawaannya masih tertinggal didalam mobil.
"Barang barangnya mau ditaruh dimana Nona?" tanya Rain menggoda Melati.
"Biarkan saja dulu disitu Pak, pasti Bapak capek kan?" Melati membalas godaan Rain.
Akting mereka benar benar natural, seolah olah mereka adalah sopir dan majikan.
Lalu keduanya pun tidak tahan lagi untuk tertawa.
"Kenapa Abang tidak jadi aktor saja sih? pasti laris tuh terkenal, populer dan pasti jadi rebutan para cewek cewek. secara Abang itu kan tampan kaya William Franklin Miler." ujar Melati.
"Emang kamu mau kalau Abang di rebutin cewek cewek?" Rain.
"Akan aku patahkan leher nya kalau ada yang berani." ancam Melati sambil tangannya terkepal.
Rain terkekeh pelan. pria tampan itu senang kalau kekasihnya sedang cemburu. Kemudian keduanya pun masuk kedalam rumah.
Tiba diruang tamu...
"Kakek!" teriak Melati sambil berlari menghampiri kakeknya.
"Mengapa berteriak?" tanya Siti neneknya Melati.
"Hehe, Nenek juga datang?" tanya Melati sambil terkekeh.
"Assalamualaikum, Kakek, Nenek," sapa Rain
"Waallaikum sallam. Apa cucu Kakek nyusahin kamu?" tanya Kakek Yusuf.
"Tidak Kek. malah aku senang." jawab Rain.
"Kek, apa yang membuat Kakek datang kemari?" tanya Melati.
"Kakek cuma ingin menemui cucu Kakek, apa tidak boleh?"
"Boleh, tapi biasanya Kakek paling sulit untuk diajak kemari."
"Biasanya Kakek sibuk. sekarang Kakek mau istirahat dulu dari kesibukan Kakek."
"Aku mau mandi dulu, Kek." Melati pun berlari menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Hingga yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Kakek apa kabar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat."
"Syukur lah,Kek.
Alfian dan Rania juga ikut bergabung di ruang tamu.
"Kamu sudah sarapan, Nak Rain?" tanya Rania.
"Sudah Bunda, tadi di restoran dekat pantai." jawab Rain.
"Ada kejadian apa tadi dijalan? Ayah bilang ada kejadian yang menimpa kalian?" tanya Rania to the point.
Rain menatap Kakek Yusuf, dan beralih menatap semua orang yang ada disitu.
"Ceritakan saja, kalau Melati biasanya tidak mau bercerita." Kakek Yusuf.
"Tadi saat pulang dari pantai, kami dihadang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam." Rain.
"Bagaimana ciri-ciri orang tersebut?"
"Pakaian aneh Kek, dan di kepalanya juga diikat dengan kain hitam juga."
"Gagak Hitam."
"Gagak Hitam, kek?" Kakek Yusuf mengangguk.
"Pantas saja Melati membunuh semua orang itu, ternyata kumpulan Gagak Hitam." batin Rain.
"Iya kek, dan Melati menaburkan bunga melati di atas tubuh mereka."
"Hmmm, kau tau? itu bukan bunga sembarangan, itu adalah racun pelumpuh otot dan urat syaraf. siapa pun yang terkena racun itu akan lumpuh dan mati secara perlahan. kecuali orang yang menggunakannya."
"Haah.." Rain terkejut sampai lupa menutup mulut nya yang ternganga. Rain tidak menyangka dari efek bunga itu.
Melati memang tidak membawa senjata tajam atau sejenisnya, Tapi kalau dia mau membunuh tidak akan main-main.
"Ngomongin apa sih, serius banget?" tanya Melati yang tiba tiba duduk dekat Neneknya.
"Kakek tau telah terjadi sesuatu pada kalian, makanya Kakek bertanya kepada Rain," jawab Kakek Yusuf.
Melati pun menceritakan kembali tentang kejadian tadi, dan ciri-ciri orang yang mereka panggil ketua.
"Itu bukan ketua mereka yang sesungguhnya, itu cuma pengikut yang hanya disuruh untuk menangkap mu." Kakek Yusuf.
"Tapi aku telah membunuh mereka semua kek." Melati.
"Biarkan saja, mereka pantas mendapatkannya. Tapi kedepannya kalian harus berhati-hati." pesan Kakek Yusuf.
"Baik kek," jawab Melati dan Rain serentak.
"Dan untuk kamu, Rain. Kamu harus menambah ilmu, Kakek akan mengajarkan ilmu itu kepadamu, kamu adalah pelindung Melati. walaupun ilmu Melati sudah sempurna, tapi kamu sebagai pria sejati harus bisa melindungi wanitanya. Jangan nanti malah terbalik." sindiran pedas Kakek Yusuf.
"Baik, Kek aku akan berlatih dengan Kakek." Rain.
__ADS_1
"Kakek disini selama dua Minggu, nanti Kakek akan pulang sebelum hari pernikahan teman Melati." Kakek Yusuf.
"Iya Kek, kami juga akan pulang ke desa untuk menghadiri pernikahan teman kami." Rain.
"Baiklah, mulai malam ini kamu akan menginap disini dan berlatih disini." Kakek Yusuf.
"Baik kek, tapi aku juga harus izin kepada kedua orang tuaku." Rain.
Hari semakin siang, para wanita pun sekarang sibuk di dapur memasak untuk makan siang. Rain pun pamit kekamar untuk membersihkan diri. Setelah makan siang ia akan kembali ke mansion nya untuk mengambil pakaian selama dia menginap disini. Tekadnya makin kuat karena tujuannya untuk melindungi Melati. walaupun Melati gadis yang tangguh, tapi Rain merasa punya kewajiban untuk melindunginya. Rain masuk kekamar mandi yang ada di kamar tamu. Dan berendam dalam bathtub, setelah setengah jam ia pun selesai, sudah dengan tubuh yang terasa segar. Beruntung Rain membawa baju ganti lebih. jadi dia tidak begitu kesulitan untuk berganti pakaian.
Rain keluar dari kamar dengan pakaian santai, namun tetap rapi. kemudian bergabung kembali dengan Alfian dan Kakek Yusuf.
"Gimana kabar papamu?" tanya Alfian.
"Papa baik-baik saja kok, ayah." jawab Rain.
"Sekarang papamu sudah senang, sudah ada yang membantunya mengurus perusahaan. Dan juga selama kamu yang memegang perusahaan menggantikan papamu, kemajuan perusahaan kalian meningkatkan pesat." Alfian.
"Alhamdulillah ayah, akhirnya aku bisa menunaikan janjiku kepada Melati untuk meminangnya kalau aku sudah menjadi CEO." Rain.
"Tapi Melati, minta waktu sampai dia berusia 20 tahun," Alfian.
"Tidak apa-apa ayah, aku berencana ingin melamar Melati biar kami bertunangan saja dulu. Biar hubungan kami ada kejelasan." Rain.
"Sebaiknya masalah ini kamu bicarakan dulu kepada orang tuamu. Biar bagaimanapun ini bukan masalah main main." Alfian.
"Sebelumnya memang aku sudah berbicara dengan Papa, Mama. Tapi kata beliau, harus ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Kalau aku rencananya, mau melamar Melati saat kita pulang ke desa." Rain.
"Berarti bertepatan dengan pernikahan sahabat kalian?" tanya Alfian.
Rain pun mengangguk sebagai jawaban. pulang dari sini nanti, Rain akan kembali membicarakan masalah ini kepada kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, sebaiknya orang tuamu suruh datang kemari malam ini, untuk membahas rencana tentang pertunangan kalian."
"Siapa yang akan bertunangan Bang?" tanya Rania yang sedang membawa minuman dan kue yang baru saja mereka buat. sedangkan Kakek Yusuf sejak tadi pergi ketaman belakang.
"Rain mau melamar Melati, setidaknya bertunangan lebih dulu, biar hubungan mereka ada kejelasan. setidaknya ada ikatan." jawab Alfian.
"Kalau sudah begitu, kapan acara lamaran nya?" tanya Rania.
"Rencana akan diadakan di desa, bertepatan dengan pernikahan Ratih dan Ronald." jawab Rain.
"Bagus juga kalau begitu, berarti kita pulang ke desa bersama sama." Rania.
"Nanti malam, Abang menyuruh Rain mengajak orang tuanya kesini untuk membincangkan masalah ini."Alfian.
"Masalah apa, Ayah? kayanya serius sekali?" tanya Melati.
.
.
.
__ADS_1