MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 48


__ADS_3

.


.


.


Melati memandang lurus kearah mereka, sedangkan Rain berusaha untuk mengendalikan emosinya agar tidak dikuasai amarah.


"Sekarang menyerahlah kau Melati, maka aku akan membebaskan Rain kekasih kesayanganmu itu." ucap Ardhan dengan nada mengejek.


Melati tersenyum sinis, "aku Melati putih, tidak ada kata menyerah dalam kamusku."


"Serang mereka," perintah Yoga, orang suruhan Yoga pun maju menyerang mereka.


Satu orang menendang Melati, tapi Melati menghindar jadi tendangan itu hanya mengenai angin. Satu orang lagi juga menendang kearah Melati, dengan gesit Melati menangkap kaki orang tersebut dan memelintir nya hingga orang itu berputar dan jatuh terjerembab ke aspal. Kemudian orang orang itu menyerang Melati dan Rain secara bersamaan dengan senjata tajam ditangan nya. Rain yang belajar dengan kakek Yusuf tentu saja ilmunya sudah semakin tinggi.


Melati menendang meninju dan memukul orang tersebut dengan kekuatannya, membuat orang orang itu ada yang langsung pingsan, hanya dalam sekejap keduanya berhasil mengalahkan 10 orang suruhan Yoga, kini hanya tinggal 6 orang yang tersisa.


"Gila nih cewek cantik banget, tapi kekuatannya seperti monster." batin salah satu dari mereka.


"Kali ini lawan kita terlalu tangguh, seperti bukan manusia." bisik salah satu orang itu kepada teman temannya.


"Kamu benar, lebih baik kita mundur saja,"


"Ehh bagaimana dengan bayaran kita? kalau kita gagal kita tidak dapat bayaran."


"Persetan dengan bayaran, aku masih ingin hidup dan aku mau berhenti dari pekerjaan ini aku mau tobat keluargaku menunggu dirumah," mereka saling berbisik satu sama lain, "aku tidak ingin menerima nasib seperti mereka," ucapnya lagi sambil menunjuk kearah temannya yang sudah terkapar. lalu iapun pergi.


Melihat temannya pergi, akhirnya yang masih tersisa pun ikut pergi, mereka memasuki satu buah mobil.


"Hei mau kemana kalian?" tanya Yoga dengan nada tinggi penuh amarah karena anak buahnya malah pergi. Namun pertanyaan itu tidak digubris oleh mereka, mereka langsung saja tancap gas dan pergi dari tempat itu.


"Aku tidak mau mati konyol, biarlah aku dibilang pengecut." teriak orang itu yang katanya mau tobat.


Kini hanya tersisa dua orang anak dan ayah, yang lain sudah terkapar diaspal sudah dipastikan mereka semua patah tulang. Rain diam diam menelpon polisi.


"Sekarang tinggal kalian berdua, majulah kita satu lawan satu." ucap Melati.


Ardhan yang baru sembuh dari patah tangannya merasa was-was, tadi ia begitu berani karena ada 16 orang yang bisa ia andalkan. Merasa tidak ada pergerakan, Melati berinisiatif untuk maju duluan, Yoga lalu mengeluarkan pistol dari sakunya bajunya dan mengacungkan nya kearah Melati. Namun tidak ada raut wajah takut sekalipun dari diri Melati. ia terus maju hingga berjarak beberapa meter saja.


Dor... Satu tembakan melesat kearah Melati, dengan gesit Melati mengelakkan peluru itu, merasa tembakannya tidak mengenai sasaran, Yoga pun menembak sekali lagi. Tapi belum sempat Yoga menembak, dengan secepat kilat Melati menendang tangan Yoga hingga pistol itu terlempar kearah samping. Tangan Yoga gemetar akibat tendangan dari Melati.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa perempuan ini? mengapa begitu kuat sekali? tanganku rasanya patah." batin Yoga.


"Sedangkan Rain yang emosinya sedari tadi ia tahan, karena sepupunya itu merendahkan tunangannya, terus menghajar Ardhan walaupun Ardhan sempat melawan, tapi kekuatannya jauh dibawah Rain. Kini Ardhan sudah babak belur dihajar oleh Rain dan sudah terkapar. Yoga masih memegang tangannya yang gemetar, ia benar benar kesakitan.


"Aku kasih bonus ya Paman," ucap Melati dengan nada sinis.


Dengan tanpa hati Melati memelintir tangan yang satunya lagi hingga terdengar suara kraak.


"Aakkkhh," Yoga berteriak kesakitan kedua tangannya sudah patah. Yoga menoleh kearah Ardhan yang sudah terkapar diaspal.


"Ka...kau bukan manusia, kau iblis." maki Yoga.


"Kalau aku iblis, Paman sendiri apa? Raja iblis?" jawab Melati masih dengan nada tenang.


"Paman sebentar lagi polisi akan datang, aku sudah mengumpulkan bukti bukti kejahatan Paman, termasuk penculikan sepuluh tahun lalu." Rain.


Deg...


Tidak berapa lama, mobil polisi pun datang ketempat kejadian, polisi langsung bergerak cepat menangkap mereka yang sudah terkapar tak berdaya. Yoga juga dibawa ke kantor polisi.


"Semua buktinya nanti akan saya kirim kekantor polisi," ucap Rain.


"Sama sama Pak."


Rain menghela nafas lega, akhirnya ikan besar masuk kedalam perangkap juga. Dengan kejahatan yang baru, Yoga tidak dapat mengelak lagi.


"Kita pulang," ajak Rain, Melati mengangguk.


Kini mobil mereka sudah melaju dijalan raya. Sekarang giliran Rain yang menyetir.


"Kamu ternyata hebat ya menyetir, sudah seperti pembalap profesional." Rain.


"Terkadang pujian dengan ejekan sulit dibedakan." ucap Melati, Rain mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Tidak ada maksud sih, tapi terkadang pujian terdengar seperti ejekan, begitu juga sebaliknya."


"Ah pusing, omongannya dibolak-balik," Melati pun tertawa ngakak.


"Abang mau kekantor lagi?"

__ADS_1


"Tidak, sudah sore juga. kita ke mall aja."


"Abang mau beli sesuatu?"


"Iya, beli baju, setelah itu kita langsung ke restoran aja."


"Gak usah beli baju deh Bang, aku ada baju ganti untuk Abang baju gamis keluaran terbaru. masih baru banget bahkan bandrol harganya pun belum dilepas."


"Iya sekalian aja Abang jadi transgender," jawab Rain sewot.


"Cie si babang tampan merajuk." goda Melati sambil mengelus pipi Rain.


"Kamu menggodaku sayang?"


"Tidak, siapa juga yang menggoda Abang? Emang aku cewek penggoda?"


Rain semakin gemas dengan tingkah Melati, makin kesini Melati terlihat manja. Tidak seperti dulu sebelum mereka bertunangan. Akhirnya mereka pun sampai keparkiran mall terbesar dikota ini. Melati dan Rain turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mall tersebut. Keduanya langsung menuju toko pakaian, saat Rain sedang sibuk memilih pakaian casual, Rain dikejutkan oleh seseorang yang tiba tiba memeluknya dari belakang. Rain refleks berontak hingga pelukan itu terlepas. Rain berbalik dan melihat kearah wanita itu, ternyata wanita itu anak dari rekan bisnisnya yang hendak diperkenalkan kepada Rain.


PLAAK....


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna dipipi wanita itu. Itulah kekejaman Rain kalau ia sudah merasa terganggu tidak peduli laki laki atau perempuan tetap dihajar juga.


Melati seketika menoleh kearah Rain dan wanita yang ditampar oleh Rain.


"Mengapa kau tega sekali menamparku? mengapa kau tidak menghormati wanita? apakah kau bukan terlahir dari seorang wanita?" cecar wanita itu, ya dia adalah Veronica yang ditolak Rain waktu di restoran hari itu.


Melati tetap terdiam melihat cara Rain menyingkirkan wanita itu.


"Aku memang terlahir dari seorang wanita, tapi tidak dari wanita sepertimu, kau ingin dihormati sedangkan dirimu sendiri merendahkan harga diri sebagai wanita. wanita yang telah melahirkan aku seorang wanita yang mulia dan patut aku hormati. Tapi kamu, wanita seperti kamu hanya akan mencoreng nama baik seorang wanita."


Melati tertegun mendengar tutur kata Rain yang terdengar tegas, begitu juga para pelayan dan pengunjung yang kebanyakan adalah wanita.


"Dalam dunia ini, hanya tiga wanita yang paling aku hormati, pertama ibu yang telah melahirkanku, kedua mertuaku, yang ketiga adalah istriku. dan kamu tidak termasuk didalamnya." ucap Rain sambil menunjuk wajah Veronica yang sudah memerah.


"Pergilah sebelum aku bertindak lebih, dan satu lagi jangan pernah menampakkan wajah plastikmu didepanku kalau tidak ingin perusahaan orang tuamu bangkrut." Rain.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2