
.
.
.
Rain dan Melati keluar setelah selesai pemeriksaan, tak sengaja mereka bertemu dengan Steve dan Putri yang juga akan memeriksa kehamilan nya.
"Wah ketemu bumil disini," Melati.
"Kamu hamil juga?" tanya Putri, Melati mengangguk.
"Selamat ya, nanti anak kita bisa berteman dong." Putri.
"Berapa bulan nih, hampir 4 bulan..! kamu?" Putri.
"Enam Minggu," Melati.
"Kita jalan dulu ya bro," Rain.
Mereka pun pamit pulang, sedangkan Steve dan Putri masuk ke ruangan dokter kandungan.
Rain mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, takut membahayakan janin dalam kandungan istrinya.
"Bang kita kerumah Bunda sebentar ya?" Melati.
"Apapun demi kamu sayangku, calon ibu untuk anakku." Rain.
Melati tersenyum manis mendengar perkataan Rain.
"Aku tidak menyangka bocah yang dulunya lemah kini sudah pandai menggombal," Melati.
"Kok gombal sih sayang?" Rain.
"Apa dong namanya kalau bukan gombal?" Melati.
"Aku serius tau, apa yang aku katakan murni dari lubuk hatiku yang paling dalam." Rain.
"Bang sepertinya ada terjadi sesuatu deh." Melati.
Rain menghentikan mobilnya dipinggir jalan, melihat ada orang yang sedang dikeroyok Rain dan Melati merasa tidak tega.
"Cepat bantuin bang, lihat mukanya sudah tidak berbentuk lagi." Melati.
"Kamu tunggu disini ya, Abang tolongin orang itu." Rain.
Rain turun dari mobil dan berjalan mendekati perkelahian tidak sebanding itu, tujuh lawan satu, lebih tepatnya yang satu orang dikeroyok tanpa perlawanan.
"Ada apa ini?" tanya Rain.
"Kamu siapa? jangan ikut campur urusan kami." ucap pria salah satu dari mereka.
"Saya cuma mau tanya? mengapa kalian mengeroyoknya?" tanya Rain.
"Kamu tidak perlu tau, dan jangan ikut campur urusan kami."
"Oke, saya akan panggil polisi jika kalian masih mengeroyok orang itu."
Mendengar nama polisi, seketika wajah mereka berubah pucat. Rain menghampiri orang yang dikeroyok tadi.
"Bapak tidak apa apa?"
"Tidak apa-apa nak," jawab Bapak itu.
"Bapak boleh pergi dari sini, soal orang itu biar saya yang urus." Rain.
__ADS_1
"Tapi mereka mengambil uang untuk pengobatan istri saya."
"Bapak tenang saja, nanti uang bapak akan kembali."
Bapak itu mundur, tapi ia tidak mau pergi dari tempat itu. sebelum uangnya kembali padanya.
"Kembalikan uang bapak itu, sebelum aku menghajar kalian."
Perampok itu tertawa mengejek, saat mereka asik mentertawakan Rain, Rain maju beberapa langkah dan...
Buugh....Rain meninju salah satu dari mereka,
"Aakkkhh," orang itu menjerit dan langsung muntah darah, yang lain terbengong bengong melihat ketua mereka muntah darah dan terkapar ditanah.
"Mau seperti dia?" tunjuk Rain pada orang itu.
"Ti.. tidak tuan, ini uang nya."
Rain mengambil uang itu dan memberikannya kepada bapak itu, Rain memberikan lagi amplop coklat yang berisi uang. bapak itu pergi sambil mengucapkan terimakasih.
Rain kembali menghajar perampok itu hingga semuanya babak belur lalu iapun menelepon polisi. Rain berjalan menuju ke mobilnya.
"Gimana?" tanya Melati.
"Mereka merampas uang bapak itu, katanya uang itu untuk pengobatan istrinya." Rain.
"Kasihan banget ya bang," Melati, Rain hanya mengangguk.
"Kita lanjut jalan ya?" Rain
Rain pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya di rumah Bundanya mereka turun.
"Assalamualaikum, Bun."
"Waallaikum sallam, tumben kemari? memangnya gak kerja?" Rania.
"Rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Rania.
"Gak ada yang sakit kok Bun, hanya periksa saja." Melati.
"Terus bagaimana hasilnya?" tanya Rania antusias.
"Positif Bun, 6 Minggu." jawab Rain.
"Aaaa... senangnya sebentar lagi aku punya cucu." ucap Rania kegirangan.
"Bun ayah kemana?" tanya Melati.
"Ayahmu kerja, sekarang dia lebih sibuk sejak meluncurkan produk terbaru dari M P cosmetic, semua berkat bantuanmu, Mel." Rania.
"Syukurlah kalau begitu." Melati.
"Dan ayahmu berencana akan membuka cabang di negara D, tapi bukan ayahmu yang mengelolanya." Rania.
"Terserah ayah deh, asalkan orang itu dapat dipercaya." Melati.
"Bang kamu kenapa?" tanya Melati
"Pengen makan rambutan dan durian dari desa xxx." jawab Rain.
"Hah," Rania tercengang mendengarnya.
Melati langsung menelpon kakek Yusuf di desa, dan menanyakan apakah ada buah yang diminta. Kebetulan buah yang diminta ada, tapi tidak banyak.
Detik ini juga kakek Yusuf terbang ke ibukota dengan membawa rambutan dan durian, kakek Yusuf membungkus buah durian dengan rapi dan kedap udara agar tidak berbau dibawa naik pesawat.
__ADS_1
Sore hari kakek Yusuf bersama istrinya dan juga kakek Taufik sudah datang kerumah Rania, bersamaan dengan datangnya Alfian dari kantor.
"Wah ternyata ramai ya, ayah kapan sampai kemari?" tanya Alfian.
"Baru beberapa menit yang lalu, ini bawakan cicitku buah durian dan rambutan, untung ada." kakek Yusuf.
"Cicit? berarti Amel sudah hamil? tapi kok bukan yang lagi hamil yang makan buahnya?" tanya Alfian.
"Justru yang ngidam itu ayahnya," Rania.
"Bang Rain tidak mau makan nasi, Nek. katanya lihat nasi perutnya jadi eneg." Melati.
Rain yang menjadi topik perbincangan mereka tidak peduli malah dengan asiknya makan durian dan rambutan.
"Ah leganya," ucap Rain setelah selesai makan durian.
"Masih ada tuh kok gak diabisin?" nenek Siti.
"Sudah kenyang Nek, lega rasanya." Rain.
"Ada rasa mual mual gak?" tanya Nenek Siti.
"Tidak Nek, hanya pengen makan yang aneh aneh gitu," Rain.
"Maksudnya?" nenek Siti.
"Ya pengen makan aja, dan itu harus ada kalau tidak ada rasanya sangat kecewa." Rain.
"Amel gimana? ada mual atau muntah gitu?" tanya Nenek Siti.
"Gak kok Nek, rasanya biasa saja." Melati.
"Berarti suamimu yang nanggung ngidammu, beruntung banget, waktu Bundamu hamil kamu, ngidamnya parah sampai mau bangun pun seperti tidak berdaya." nenek Siti.
"Kata dokter Rastiwi, kalau suami yang ngidam berarti ikatan batin anak dan ayah sangat kuat." Melati.
"Terkadang memang begitu, tapi yang namanya anak pasti ikatan batin dengan orang tuanya sangat kuat." nenek Siti.
"Sayang kita nginap disini aja ya, nanti aku bilang Mama." Rain.
"Baiklah. kalau perlu ajak Mama sama Papa kesini biar ramai." Melati.
"Boleh juga tuh, nanti kita makan malam sama sama." Rania.
Rain pun menelpon Mamanya menyuruhnya datang kemari bersama Papanya. Sofia pun langsung mengiyakan ajakan itu.
"Bagaimana?" tanya Rania.
"Mama sama Papa akan kesini, Bun." Rain.
"Kalau begitu Bunda sama nenek masak dulu, kalian istirahat dikamar, ajak Amel istirahat." Rania.
"Bun nanti bikinkan sambal terasi dengan tempe goreng, aku pengen makan itu." Rain.
"Baiklah, sekarang istirahat dulu, mandi dulu jangan mandi waktu Maghrib, bilang sama Amel." Rania.
Rain dan Melati pun istirahat dikamarnya, sedangkan diruang tamu kakek Yusuf, kakek Taufik dan Alfian sedang berbincang bincang.
"Bagaimana tinggal di desa, Paman?" tanya Alfian.
"Alhamdulillah rasanya menyenangkan, Paman juga ikut berkebun disana. kebun jagung, sayur dan lain lain, untuk dijual kepasar." kakek Taufik.
.
.
__ADS_1
.