
.
.
.
"Cantik sekali," puji Rain.
"Harus dong, ini akan menjadi gaun pengantin spesial untuk sahabat ku." jawab Melati.
"Bukan gaun nya!" ucap Rain.
"Terus?" tanya Melati tanpa menoleh karena dia masih sibuk menggambar.
"Gak peka banget!" kata Rain.
Melati mengangkat wajah nya menatap Rain sambil mengernyitkan dahinya.
Melati tidak mengerti apa yang di maksud Rain mengatakan bahwa dirinya tidak peka.
"Aku memuji orang nya bukan gaun pengantin nya, gitu aja gak peka!" Rain mengulangi kata kata nya.
"Abang mau di cium nih kayanya," ucap Melati kembali menunduk menyelesaikan desain nya yang hanya tinggal memberi warna.
Mendengar kata cium, seketika jiwa kelelakian Rain berontak.
"Emang boleh cium sekarang?" tanya Rain bersemangat.
"Boleh, cium tembok," jawab Melati enteng.
Rain kembali menciut sambil mengerucut kan bibir nya.
"Mengapa bibir nya begitu? mau di cium?" tanya Melati. Melati sekarang bertindak seolah olah wanita penggoda. Padahal dalam hati nya ingin tertawa sekeras kerasnya. karena berhasil ngerjain Rain.
"Tadi aja di suruh cium tembok, daripada cium tembok mending cium....." Rain tidak meneruskan kata kata nya karena keduluan di potong oleh Melati.
"Apa? mau cium apa?" Melati melotot kan matanya.
"Galak banget sih, untung cinta!" kata Rain.
Melati menutup buku nya karena sudah selesai.
"Abang mau cium?" tanya Melati.
Rain mengangguk angguk, dalam hati nya sudah berbunga bunga.
"Sini, dekat sedikit," Rain pun mendekat kan pipi nya dan tak sabar menunggu selanjutnya.
Setelah Rain mendekat kan pipi nya.
__ADS_1
"Yang boleh mencium aku hanya lah suamiku, tidak boleh lelaki lain," kata Melati lagi sambil berbisik di telinga Rain.
Rain yang merasa kan hembusan nafas dari mulut Melati seketika bulu kuduk nya meremang, bukan karena horor, tapi karena ada hawa panas mengalir di sekujur tubuhnya, bagai tersengat aliran listrik.
Melati setelah mengatakan itu pun berlalu meninggalkan Rain yang masih diam mematung.
Rain sadar kalau ia hanya di kerjain oleh Melati, tapi ia tidak marah malah tersenyum senang. senang karena Melati sangat menjaga dirinya. Rain tersadar, tapi Melati sudah tidak ada lagi di dekat nya.
Rain hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tampan.
"Mengapa aku tidak bisa berkutik bila di dekat Melati," Gumam Rain dalam hati.
"Ah, Melati lama lama aku bisa gila karena mu," monolog Rain.
Rain pun menyusul Melati, ketempat biasa mereka berkumpul. Rain melihat para karyawan wanita dengan tatapan memuja, tapi Rain tidak peduli sama sekali. Yang terpenting baginya adalah Melati, yang selalu di hatinya.
Ratih, Indah, Putri, dan Nadia sudah selesai bekerja, dan di gantikan dengan yang lain. Di restoran ini di sediakan kamar mandi dan ruang ganti pakaian. Jadi para karyawan kalau selesai bekerja ada yang yang langsung mandi dan berganti pakaian, setelah itu baru pulang. tapi ada juga yang langsung pulang.
Rain tiba di meja taman belakang restoran. Ia langsung duduk di samping Melati. sebelum nya Melati sudah bicara sama karyawan nya untuk di sediakan makanan kalau mereka sudah berkumpul.
Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 sudah waktunya makan malam.
"Suami kalian belum datang?" tanya Rain pada empat cewek yang ada di depan nya.
"Mungkin masih di jalan," jawab Ratih.
"Sorry, telat. banyak kerjaan soalnya," kata Ronald basa basi.
"Gak apa apa kita juga belum makan," jawab Rain.
Lalu mereka semua pun duduk. Riska hanya memperhatikan interaksi mereka, ingin rasanya ia ikut gabung tapi tidak punya pasangan, bisa bisa jadi nyamuk.
"Udah jangan di lihatin terus, nanti jiwa jomblo kita berontak," kata salah satu karyawan wanita yang juga sudah akrab dengan Riska.
Riska betah bekerja disini, selain bos nya baik, gaji nya juga lumayan dan teman teman di sini semua ramah tidak ada yang ngebully.
"Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Melati.
"Alhamdulillah, yang di sini sudah 60 persen, yang di desa xxx sana sudah 80 persen." jawab Ronald.
pernikahan di dua tempat berbeda, semua keluarga dari pihak lelaki yang bertanggung jawab. karena Ronald hanya anak tunggal, jadi keluarga nya mau mengadakan pesta meriah.
"Kalau soal gaun pengantin, Insya Allah aku akan siapkan, semoga di H nya semua siap." ujar Melati.
"Benarkah?" tanya Ratih berbinar senang.
"Bagaimana dengan gue?" Tanya Ronald.
"Tenang, ada gaun pengantin wanita pasti ada juga jas untuk pengantin pria nya," jawab Melati.
__ADS_1
"Berapa yang harus gue bayar?" tanya Ronald lagi.
"Gak usah bayar, gaun itu adalah hadiah pernikahan kalian dariku." jawab Melati.
"Wah, terimakasih banyak, teman," ucap Ratih penuh haru.
"Aku tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikan mu, Amel." Ratih.
"Doa kan saja supaya kami cepat menyusul," Bukan Melati yang jawab, tapi Rain.
"Ye, itu maunya elo," William.
Yang lain jadi tertawa mendengar nya. akhirnya makanan pun terhidang dimeja tempat mereka duduk.
"Yuk makan, udah lapar nih," ajak Rain.
Mereka pun makan malam dengan hikmat tanpa ada yang berbicara lagi. Saat mereka lagi asik makan, terdengar keributan di dalam restoran itu. seorang pelanggan wanita sedang memarahi pelayan karena ada lalat mati di makanan nya.
Melati yang mendengar keributan itu, segera menyusul ketempat gaduh tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Melati sopan.
"Nih lihat, masa restoran ini jorok banget sih," kata wanita itu.
"Maaf ya mbak, restoran kami di jamin higienis." jawab Melati.
"Lalu ini apa? masa ada lalat mati di makanan yang saya makan."
orang orang yang sedang makan di meja lain malah tidak peduli, karena selama mereka makan disini baru kali ini ada kejadian seperti ini. lalu ada seorang ibu ibu mendekat ke arah keributan itu.
"Kalau mau makan gratis tidak perlu begitu caranya," kata ibu itu begitu menohok.
"Saya sudah sering makan disini baru kali ini ada yang ngadu ada lalat mati di makanan," ucap ibu itu lagi.
"Benar tuh, kalau mau makan gratis datang aja setiap hari Jumat, pasti di kasih gratis oleh pemilik restoran ini," ujar si A yang ada di meja sebelah nya.
Wanita yang tadi membentak bentak pelayan, seketika wajah nya merah menahan malu bercampur amarah. malu karena ia ketahuan curang dan marah karena di singgung langsung oleh ibu ibu tadi.
"Begini saja, di restoran ini kami memasang cctv tersembunyi, jadi kalau benar itu kesalahan dari pihak kami, kami bersedia membayar ganti rugi. tapi kalau kesalahan ini dari pihak anda, jadi anda harus membayar denda sebesar seratus juta, kalau tidak sanggup membayar maka saya bisa menuntut anda dengan tuduhan palsu dan pencemaran nama baik." ujar Melati tetap tenang.
Seketika wanita itu pucat pasi.
"Saya hanya di suruh," kata wanita itu ketakutan.
.
.
.
__ADS_1